
Liza kembali ke rumahnya sekitar jam 09.00 pagi. pada saat itu Arnold tidak ada di rumah dia sudah pun pergi ke tempat kerjanya lebih awal.
sebenarnya tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Arnold saat ini tapi dia adalah seorang pekerja yang sangat berdedikasi tinggi pada pekerjaannya.
Dia akan tetap pergi setelah sarapan dan kembali sebelum makan siang. Tapi setelah itu dia bisa santai lagi dan menikmati kebersamaannya bersama keluarga ataupun sekedar bercanda bersama para tetangga di desa.
Sedangkan dini benar-benar mendedikasikan dirinya sebagai seorang ibu rumah tangga tanpa pernah bekerja keras di luar.
Dengan dibantu oleh para pekerja di rumah Dini jadi lebih santai sepanjang hari.
Kepergian Liza kali ini sudah diketahui sebelumnya. Jadi tidak ada yang mengkhawatirkan liza. meski demikian Dini tetap saja menunggu putrinya kembali dengan perasaan yang khawatir seperti biasanya.
Lisa berjanji pada seseorang pria yang baru dia kenal satu hari. Bukan tidak mungkin pria ini adalah seseorang yang berniat buruk. Secara putrinya bisa disebut sebagai gadis yang cantik.
Setelah melihat mobil yang biasa dikemudikan oleh Liza mendekat. Barulah Dini menghilangkan rasa khawatirnya itu.
Namun begitu dia tetap saja duduk di kursinya di teras seraya menunggu putrinya turun dari mobil.
Dari teras dia bisa melihat wajah Liza yang terlihat lebih cerah daripada biasanya.
"Mama apa kabar udah sarapan belum?"sapa Liza pada mamanya. Sebuah ciuman dari pipi kiri dan pipi kanan diberikan untuk mama tercinta.
"tentu aja udahlah sayang ini udah jam berapa sih. oh ya kamu sepertinya bahagia banget. gimana jalan-jalannya sukses apa nggak?"tanpa ditanya pun dini tahu jika putrinya ini pasti sukses.
Ini sudah melihat ke belakang bahkan mengintip ke dalam mobil. Namun tidak melihat sosok yang disebutkan dengan nama raja tersebut.
"apa sih mama liat ke gr-an deh"kata Liza tersenyum. Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui isi hati mama nya ini.
"ya sayang kan mama cuma pengen liat gimana sih sosok raja yang bisa bikin Putri Mama ini bahagia. kamu tuh seharusnya bahwa dia kemari biar mama liat"
"Mama kita itu baru temenan kok. kenal juga baru 2 hari malah udah dikenalin sama orang tua. kan nggak lucu"kilah Liza yang duduk di samping mamanya mengambil segelas air untuk diminum.
"emangnya kalau masih teman enggak boleh dikenalin sama mama. Mama juga pernah muda ,pernah bawa temen ke rumah kok. masa iya hanya pacar aja yang boleh dibawa ke rumah. jelas kamu yang lucu sayang"kata Dini yang tertawa kecil.
"iya juga sih mah tapi ntar deh jangan sekarang oke"
"baiklah Mama mengerti .tapi kamu beneran udah sarapan. kalau nggak nanti Mama panggil Bibi untuk bikinin khusus untuk kamu"
Mendengar pertanyaan itu Lisa jadi tersenyum sendiri dan mengingat bagaimana suasana sarapan paginya hari ini. Tiba-tiba saja wajahnya memerah mengenang itu.
"lo sayang kok wajah kamu merah kayak gitu kamu nggak sakit kan?"dini tidak sensitif tapi menganggap perubahan wajah putrinya yang memerah itu sebuah gejala demam.
Dia buru-buru menempelkan punggung tangannya di dahi liza. Untung saja tidak ada reaksi panas apapun jadi dini bisa menarik nafas lega lagi.
"Mama apa-apaan sih orang kan baru saja dari luar tentu sajalah agak gerah mah"kata Liza beralasan.
__ADS_1
Tapi dini juga pikir itu adalah hal yang masuk akal. Liza keluar pagi-pagi dia bahkan belum mandi juga.
"Hen kalau gitu pergilah istirahat di atas,ya.Hem hari ini Mama nggak lihat si pandi apa kalian nggak ada janji?"tanya Dini pelan
Mendengar pertanyaan ini itu tiba-tiba saja suasana hati ini bisa jadi menurun drastis. Tapi dia tidak akan menyebutkan rasa tidak sukanya pada sosok pandi,ini tidak etis.
"Nggak ada kok ma, tapi mah hari ini aku sepertinya capek deh. nanti aku nggak akan keluar makan siang minta dianterin aja ke kamar ya. kalau pandi datang dan ngajak jalan-jalan bilang aja aku sedang istirahat hari ini"kata Liza yang tidak ingin tinggal lagi di sini.
Dini hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Dia pikir Liza memang dalam kondisi buruk ,sudah untung suasana hatinya lebih baik sejak bertemu dengan raja.
Liza buru-buru bangkit dan pergi ke kamarnya. dengan begitu dia tidak perlu pergi bertemu pandi hari ini. Pandi sangat lihai menghancurkan suasana hatinya yang sedang baik.
Hari ini Liza bener-bener tidak berencana untuk keluar dari kamarnya sama sekali dia ingin terus mengingat detik-detik bahagianya bersama raja.
Meskipun sebentar tapi rasanya akan abadi selama ribuan tahun.
Sementara itu di tempat yang berbeda. Arnold dihubungi oleh ayahnya pandi, dia bilang pak itam ingin bertemu dia secepat nya.
"Andi bawa aja pak item ke rumahku, kita bisa berbincang di sana seraya makan siang?"kata Arnold enteng.
Pak itam adalah sosok yang sudah membantunya terakhir kali ,jadi wajar jika ingin mengajaknya makan siang bersama-sama di rumah. Hitung-hitung sebagai balas budi.
"kata pak itam dia belum membicarakan sesuatu tanpa kehadiran putrimu. ini sangat penting dan tidak bisa ditunda-tunda"kata ayahnya pandi dari seberang sana.
Mendengar itu Arnold yang awalnya santai tiba-tiba menegang .Dia tidak berpikir akan ada masalah baru untuk putrinya lagi.
" Andi kenapa pak hitam bilang begitu apakah ada sesuatu yang terjadi lagi. kupikir ini sudah selesai. kami bahkan sudah menanam segala sesuatu yang disebutkan oleh pak hitam terakhir kalinya sebagai sihir"kata Arnold yang jadi khawatir secara tiba-tiba.
"aku juga tidak mengerti aku hanya diminta untuk menyampaikan aja kok"
anak sekolah merenungkan sesuatu dan berkata"gimana kalau kita ketemu di rumahmu aja nanti aku akan bawa istriku sekalian untuk mengunjungi rumah mu. kupikir gini pasti akan senang secara dia sudah lama tidak keluar dari rumah"
"Hem ide bagus, aku akan pada katakan pada istriku untuk menjamu tamu siang ini hahaha"
"Oke katakan alamatnya aku akan jemput pak itam sekarang?"
"tidak perlu repot aku akan menyuruh pandi untuk menjemputnya kau hanya tinggal datang ke rumahku aja untuk makan siang setelah itu kita akan berbicara panjang lebar"kata Ayah nya pandi lagi.
"oke, sekali lagi terima kasih ya karena udah bantuin. aku udah banyak nyusahin kamu sebelum ini"kata Arnold sungguh sungguh.
Sebenarnya Arnold dan ayahnya pandi ini masih sepupu jauh. tapi mereka sudah lama tidak saling berinteraksi sejak Arnold membutuhkan untuk pindah ke Jakarta. Terlebih lagi setelah dia menikah dan memiliki seorang putri.
Hanya ketika dia kembali ke desa ini saja Arnold dan Andi bertemu lagi. Untung saja pandi tidak pernah berpikiran buruk tentang dirinya.
padahal jika dipikir lagi Andi ini lebih memiliki hak untuk kepemilikan rumah itu dibanding dengan dirinya yang sudah tidak pernah menampakkan kaki di desa selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Berbeda dengan Andi yang memang tidak pernah meninggalkan desa sama sekali. Jika tidak karena pandi yang keluar dari desa mencari rezeki.Mungkin dia masih akan menjadi seorang petani miskin saat ini.
Pekerjaan pandi lebih condong ke arah wisatawan. Gajinya cukup besar ditambah dengan beberapa tips membuat kehidupan keluarga mereka jadi berubah total.
Bisa dibilang keluarga ini adalah keluarga yang paling kaya di desa karena hanya mereka yang memiliki mobil di sini.
Setelah menutup telepon arnold segera menghubungi istrinya di rumah.
bersama dini dia hanya mengatakan jika ayahnya pandi mengundang mereka untuk makan siang bersama.
" tapi pah Liza bilang dia nggak akan turun untuk makan siang. sepertinya dia nggak bisa ikut deh pah. jadi gimana kalau kita menggantikan jadwalnya besok atau untuk makan malam i?"kata dini yang merasa tidak enak hati.
Dia berpikir undangan makan siang ini tentu mengharapkan kehadiran putrinya .tapi sayang Liza sudah mengatakan jika dirinya kelelahan. Mengingat kejadian terakhir kali liza dini tidak ingin memaksakan Liza. Lagi pula Liza hanya ingin beristirahat saja.
beda lagi dengan Arnold yang memang ingin mengatakan tidak perlu membawa gadis itu. sekarang dia hanya tinggal membuat alasan kecil lagi.
"nggak apa-apa mah, biarkan liza istirahat oke kita akan pergi berduaan saja .toh kita berdua sudah lama nggak jalan-jalan kan?"
"Tapi pah kasihan kan di kerjanya ditinggal mama jadi nggak enak nih"
"sayang, putri kita itu udah besar.
lebih baik dia di rumah daripada dia jalan-jalan nggak tahu tujuannya kan seperti di akhir kali. jadi biarkan dia istirahat dan ikut Papa ke rumah Andi untuk makan siang "bujuk Arnold lagi pada istrinya.
"kalau Papa udah bilang gitu ya udahlah nanti aku akan siap-siap dulu "kata Dini.
"Ya dandan ya rafia sayang nanti aku jemput kita langsung berangkat ke rumah Andi"ujar arnold di telepon.
"Hem baik pah,mama tunggu ya"kata Dini sebelum menutup teleponnya.
Dini melirik jam pada telepon genggamnya ini sudah sekitar jam jika dia bersiap-siap belum terlambat untuk pergi makan siang di rumah pandi.
Tapi sebelumnya dini pergi melihat situasi Liza.
kebetulan sekali pintu kamarnya tidak dikunci. dengan demikian dia bisa langsung melihat Liza. benar saja Putri semata wayangnya itu berbaring dan tertidur. mungkin dia benar-benar kelelahan sampai segitunya.
Tidak memikirkan waktu lama dini langsung bersiap-siap mengganti pakaian dan memakai riasan ringan. Setengah jam kemudian Dini sudah duduk lagi di teras dengan kondisi yang sudah rapi.
"bi nanti kirimin liza makan siang ya, kami nggak makan siang di rumah. kalau non Liza nya bangun bilang aja kami pergi sebentar"kata dini pada pembantu tuanya.
wanita separuh baya itu hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.
Tapi dia tidak bergerak sama sekali. Dia tetap berdiri di samping Mama Liza sampailah mobil yang dikemudikan oleh Arnold datang untuk menjemput.
Sebelum meninggalkan rumah mama Liza lagi-lagi berpesan kepada pembantunya ini.Untuk tidak lupa mengirimkan makan siang bagi liza yang saat ini sedang tertidur lelap.
__ADS_1
Setelah itu mobil bergerak meninggalkan kediaman Arnold menuju ke rumah pandi.