Kekasih Ku Bukan Manusia

Kekasih Ku Bukan Manusia
23


__ADS_3

Pagi itu seperti biasanya Lisa sudah bangun lebih awal dan seharusnya pergi berlari-lari kecil di jalan. Tapi karena masalah tadi malam Liza jadi tidak nyaman dan tidak berniat untuk pergi.


Saat bangun tidur Liza hanya membuka jendela dan menghirup nafas panjang untuk menikmati segarnya udara pagi.


Liza tersenyum senang tapi beberapa detik kemudian dia langsung muram lagi. ketika mengingat tentang kejadian tadi malam.


Dengan malas Liza berbaring lagi di ranjang nya dengan menatap langit-langit kamar.


Liza mulai diresapi dengan rasa bersalah pada pandi yang sebenarnya tidak memiliki kesalahan yang besar.


Ini jugalah yang membuat Liza bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang membuatkan dia marah terhadap pandi.


Bukan hanya pandi tapi beberapa pria yang pernah mencoba mendekatinya juga bernasib sama.


Alih-alih menganggapnya sebagai teman.liza malah akan menganggapnya sebagai musuh padahal itu semua adalah naluri di dalam diri sendiri tanpa dikehendaki oleh Liza sama sekali.


Seperti sekarang jika Liza sedang berpikiran jernih, tentu dia akan merasa menyesal karena sudah bertindak tidak wajar.


Menyesal memang menyesal tapi perasaan itu akan datang lagi setiap kali melihat pelakunya.


Pada saat itu Liza tidak lagi merasa rasional dan pikirannya diselimuti oleh sesuatu yang berkata agar dia menolak hubungan dekat dengan pria manapun.


Sampai sekarang Liza tidak tahu mengapa itu bisa terjadi.


tok ...tok... tok.. tok..


"Liza Liza sayang ayo bangun, turun sarapan "kata mamanya.


"baik mah tunggu sebentar"jawab Liza yang enggan bangun dari ranjangnya.


Jika mama sudah memanggilnya untuk sarapan mungkin ini sudah sekitar jam 07.00 pagi. Betapa telatnya Liza bangun kali ini.


Secara tidak sengaja Liza melihat bangunan tua yang misterius itu lagi. Kali ini perasaannya semakin kuat dan rasa tertariknya ke arah itu juga semakin kuat.


Tapi kejadian terakhir kalinya dalam pertemuan dengan ular putih. Membuat liza menekan segalanya dan berpikir jika rasa penasaran itu bisa membunuhmu.


Dengan cepat Liza bangun dan pergi mandi gosok gigi dan sebagainya. Setelah selesai mengganti pakaian liza turun lagi untuk bertemu dengan kedua orang tuanya di meja makan.


"Selamat pagi Mama Selamat pagi Papa" sapa Liza secara bergantian mencium pipi mama dan papanya dengan lengket.


"Selamat pagi sayang ayo duduk kita sarapan bersama. kok kali ini kamu telat sih .biasanya kan jalan-jalan dulu jogging gitu "kata papanya seraya bercanda.


"hah hari ini nggak mood aja pah pengen di rumah aja seharian"jawab Lisa sekenanya.


Sarapan pagi ini hanya ada roti panggang yang dimakan dengan telur ceplok. Ada juga selai dan Meises jika ingin.


Liza segera mengambil dua keping roti panggang dan mengolesinya dengan selai coklat.


"kok kamu seharian di rumah seperti ini,pergilah jalan-jalan sama pandi sana "kata papanya lagi. Arnold pura-pura tidak mengetahui kejadian tadi malam. Dia tidak ingin liza kepikiran tentang itu.


Liza hanya menarik nafas panjang dan diam tanpa menjawab perkataan papanya itu.


Melihat putrinya tidak menjawab dini tiba-tiba bertanya"Liza bagaimana hubunganmu dengan pandi sejauh ini?"


Liza mengurutkan keningnya dan memandang papa dan mamanya secara bergantian. sepertinya Liza sedang mengalami firasat buruk atas reaksi kedua orang tuanya pagi ini.


"hubungan apa yang ada antara Liza dan pandi. Kami nggak ada hubungan apa-apa kok selain berteman"kata lisa yang memberikan jawaban.


Jawaban ini tidak memuaskan bagi kedua orang tuanya.


"Mama lihat kalian berdua sudah begitu akrab kok seperti tadi malam. Jalan-jalan berduaan iya kan, masa sih nggak ada apa-apanya?" kata mamanya yang mengirimkan roti panggang dengan meses dan mentega pada suaminya.


"nggak ada kok mah, mama jangan pikiran macam-macam kami itu cuma berteman tapi kalau pandi sih aku nggak tahu" kata Liza yang menyembunyikan ungkapan cinta pandi tadi malam.


"tapi dari yang Papa liat pandi ini memiliki perasaan kok sama kamu. Papa juga suka kalau dia jadi mantu papa"kata Arnold secara tiba-tiba.


Sikap santainya yang berbicara sambil menggigit roti panggang. Membuat liza tidak berpikir jika mereka berdua sudah memiliki rencana khusus untuk dirinya.


"nggak ada pah tapi pandi ada bilang kalau dia suka sama aku, tapi aku nggak punya rasa sama sekali sama dia "kata liza yang sudah menghabiskan roti pertamanya.

__ADS_1


Liza tidak pernah berbohong pada kedua orang tuanya bahkan tidak memiliki rahasia sampai sekarang. rahasia yang pernah dia simpan adalah mengenai perasaannya tentang rumah tua itu dan pertemuannya dengan si ular putih.


Selain daripada itu Liza tidak menyembunyikan apapun lagi termasuk dengan perasaannya terhadap pandi.


Awalnya dini sangat senang mendengar pandi sudah mengatakan perasaan sukanya pada Putri semata wayang. Tapi wajahnya menjadi redup lagi dan penuh kekecewaan ketika Liza mengatakan jika dia sudah menolak ungkapan itu secara mentah-mentah.


Dengan alasan tidak ada rasa suka sedikitpun pada pandi sebagai lawan jenis.


Ini benar-benar mengecewakan sekali.


Arnold dan dini saling pandang dan mereka melakukan atraksi aneh. seolah-olah saling dorong untuk siapa yang maju lebih dulu.


"kenapa sih kalian jadi aneh seperti ini apa ada sesuatu yang disembunyikan dari Liza?"tanya Liza dengan khawatir.Tapi dia melihat reaksi aneh dan senyuman ambigu pada keduanya.


"kenapa sih kalian senyum-senyum kayak gitu?" tanya Liza lagi.


"tadi malam mama dengar kalian berdua bertengkar ya?" tanya dini lagi alih alih menjawab pertanyaan Liza.


Liza mengangguk sambil terus makan roti panggang. Lagi-lagi kedua orang tuanya itu tersenyum satu sama lain.


"Ada apa sih dari tadi Liza lihat kalian berdua ini senyum terus .ada apa sih Mama?" tanya Liza manja yang langsung berhenti menggigit rotinya. Dia langsung mengalihkan perhatian pada kedua orang tuanya yang memang gelagatnya sudah aneh sejak awal.


"kenapa bertengkar sih apa masalahnya serius?" kata mamanya lagi.


"nggak serius sih mah tapi ada apa. kenapa kalian nanya seperti ini ?"kata Liza yang balik bertanya.


"Mama kan nanya siapa tahu kalian bertengkar itu artinya cinta. Misalnya kamu cemburu sama pandi atau marah tanpa sesuatu yang jelas. Mama kan pengen tau aja"kata Mama lagi yang masih tersenyum manis.


Mendengar itu Liza jadi ikutan tersenyum juga.


"Mama ,Mama .kenapa sih mah? kenapa Liza harus cemburu sama pandi .sedangkan Liza itu nggak ada perasaan apa-apa sama dia. Masalah kami itu cuman sepele. Liza hanya emosi sesaat kok, ini juga mau minta maaf lagi sama Pandi nanti "jawab Liza tenang yang kembali fokus pada roti panggangnya kali ini dia makan bersama telur ceplok yang ketika digigit kuning dari telur itu mengalir dan menambahkan rasa spesial pada rotinya.


"masalah sepele bagaimana?"kata papanya menimpali ,sejak tadi dia cuma dia mendengarkan percakapan ibu dan anak.


Walaupun tahu mengapa liza marah tapi dia ingin mendengar langsung dari orangnya.


"jadi pandi tidak bohong tentang masalahnya. hanya saja kan itu bukan masalah besar kenapa bisa jadi marah ?"pikir mamah dan papanya.


Anak ini aneh.


" Liza anakku sayang, ckckck gimana sih kamu ,orang memuji kok dimarahin .Biasanya kalau di mana-mana cewek itu paling senang dipuji. Apalagi sama pria tampan seperti pandi. Cuman masalah dipuji aja sampai bertengkar seperti sekarang "kata mamanya sambil tertawa geli diikuti oleh arnold yang juga tersenyum masam.


Liza yang merasa tersudutkan juga memandang perilaku kedua orang tuanya tapi sebenarnya apa yang disebutkan oleh mamanya tadi masih masuk akal.


Secara lisa sendiri juga bingung kenapa dia bisa marah hanya karena dipuji.


"Liza pandi itu anak yang baik kok. Mama dan Papa suka sama dia. jadi kamu jangan sering berantem ya. seharusnya kalian itu akur saling memahami satu sama lain. lagian pandi juga bisa menjaga kamu kalau ada apa-apa di sini. jadi jangan berantem lagi ya apalagi jika hanya masalah kecil"pesan mamanya pada Liza


Liza menganggukkan kepalanya tanda mengerti tapi dia juga tidak mendengar perkataan itu secara jelas.


"kalau kalian akur kan kalian bisa baik seperti mama dan papa ini loh. Apa kamu suka kalau mama dan papa ini bertengkar seperti kamu dan pandi?" kata mama lagi


"Beda mah ,kami cuman berteman sedangkan kalian itu suami istri ya beda lah"Liza yang masih belum mengerti.


Liza memandang dan mengingat bagaimana kedua orang tuanya ini mesra sepanjang hari. Di sini Liza juga merasakan iri tentang kemesraan kedua orang tuanya.


"apakah suatu hari aku akan mendapatkan pasangan seperti mama dan papa. lisa benar-benar beruntung mendapatkan orang tua seperti kalian, rasanya Liza tidak ingin berpisah lagi "pikir Liza di dalam hatinya seraya tersenyum.


"tuh kan kamu ngelamun lagi" kata mamanya yang mencubit tangan Liza sehingga gadis itu menjerit kaget.


Mamanya memiliki kebiasaan aneh yang suka mencubit Putri bahkan Arnold pun terkadang tidak terlewati. Tapi yang dia lakukan bukanlah bentuk KDRT melainkan wujud dari rasa kasih sayangnya.


Jadi Liza tidak marah bahkan tersenyum senang.


"oke mama nanti Liza akan baikan dan minta maaf sama dia. ini memang kesalahan Liza kok "kata Liza yang bangkit dari kursinya dan memeluk dini.


"gitu dong Putri Mama yang baik hahaha"seru dini senang.


Selagi mereka berdua bersenda gurau sambil menikmati sajian pagi, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah besarnya.

__ADS_1


Segera saja seorang pembantu menyambut tamu yang datang. Siapa lagi kalau bukan pandi pria yang memang berkulit tebal.


"Pagi den pandi" tegur pembantu tua itu ramah.


"pagi juga Bibi ,eh lizanya ada nggak di dalam?"tanya pandi.


"ada tuh lagi sarapan sama orang tuanya, silakan masuk" kata pembantu tua itu lagi yang mempersilakan pandi untuk masuk ke dalam.


Sementara dia berlari cepat masuk memberitahukan kedatangan pandi pada Arnold dan dini.


Mengetahui jika Pandi datang bertemu, tentu saja kedua orang tua Liza senang dan meminta pandi untuk segera masuk .


Pandi langsung masuk mengikuti pembantu yang mengatakan jika keduanya sedang menunggu di ruang makan.


Di sana pandi melihat keluarga kecil 3 orang ini sedang bergurau senda sambil makan sarapan pagi


Pandi langsung saja ke sana karena sudah akrab dan sudah terbiasa juga.


"Pagi Paman pagi Tante" ucapnya ramah seolah-olah tidak ada kejadian tadi malam.


Liza Arnold dan adini sama-sama memandang ke arahnya Dan tersenyum lebar.


"pagi juga nak pandi ,mari duduk kita sarapan bersama yuk. Bibi tolong ambilkan satu piring lagi "katanya pada pandi


"terima kasih Tante tapi tadi aku udah sarapan kok di rumah sama mama dan papa" jawab pandi tersenyum ramah.


"ayolah pandi jangan sungkan gitu, ayo duduk dan makan sama kami, anggap saja rumah sendiri" kata Arnold yang mempersilakan pandi duduk lagi.


Dengan begitu pandi yang sudah tampan ini tidak bisa menolak ajakan tuan rumah. Dia duduk bersama mereka dan berbicara tentang hal-hal yang umum.


Sementara berbicara sebenarnya pandi sempat melirik Liza dari ujung matanya. Dia ingin melihat reaksi apa yang dibuat oleh gadis ini.


Apakah ada rasa jijik ,marah menyesal atau bagaimana.


Tapi yang pandi lihat adalah hanya Liza yang tersenyum ramah seperti kemarin-kemarin ketika mereka tidak ada masalah.


Dengan begitu pandi bisa menarik lapas nafas lega dan berharap Liza segera melupakan kejadian tadi malam.


Memang aneh jika dipikir lagi , kenapa Liza bisa marah dengan hal yang sekecil itu. Tapi mengingat Lisa yang memang tidak pernah memiliki kedekatan istimewa dengan seorang pria manapun .Di sini pandi berpikir mungkin Liza s


tidak berpengalaman saja dan memang belum belum benar-benar mengembangkan perasaan untuk dirinya.


Reaksi yang dibawa oleh Liza tadi malam itu adalah reaksi alami yang spontan tanpa dipikir panjang terlebih dahulu.


Jadi pandi juga merasa bersalah karena dia terlalu terburu-buru menekan perasaan itu dan memaksakan diri agar Lisa bersetuju.


Ada kursi kosong di sebelah Liza dan Pandi berinisiatif untuk duduk di sana. Arnold dan Dini sama-sama saling pandang dan mereka menyengir tanpa menghentikan pandi.


Tidak lama kemudian membantu datang lagi membawakan piring dan beberapa menu tambahan untuk pandi.


"ayo pandi silakan makan jangan dilihat aja memang sih kami itu terbiasa makan seperti ini kalau di pagi hari nanti kalau makan siang baru deh yang berat-berat"ungkap Mama Liza.


Pandi mengangguk dan mulai menggigit roti panggang yang baru keluar dari pemanggangannya. Agak memalukan sih pagi-pagi sudah numpang sarapan di rumah orang.


Tapi jika sudah menyangkut Liza pandi tidak akan memikirkannya.


"Pandi.aku..


"Pandi setelah makan bawa Liza jalan-jalan ya sepertinya dia belum pernah ke arah timur deh. pastikan membawa Liza keliling desa tapi usahakan pulang sebelum makan siang oke"kata Arnold buru-buru sebelum liza berbicara.


Walau bagaimanapun Arnold harus memberikan kesempatan untuk pandi mencuri hati putrinya.


Liza yang mendengar kata-kata Arnold itu tiba-tiba merengus tidak senang. dia hanya ingin meminta maaf dan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja. Namun tidak ada niatan untuk pergi mengikuti Arnold untuk jalan-jalan di sekeliling desa.


Di sisi lain Arnold malah senang dengan begini dia yakin jika mama dan papah Liza sebenarnya mendukung pendekatan ini.


Paling tidak dia sudah mendapatkan lampu hijau dari calon mertua.


Sementara Liza sendiri dia akan menaklukkannya seiring waktu.

__ADS_1


__ADS_2