
Jauh dari kebahagiaan liza dan raja, Ruang makan penjara internasional terlihat lebih tertata dan steril dibandingkan penjara sebelumnya. Dindingnya dilapisi dengan cat putih bersih, dan meja-meja serta kursi-kursi terbuat dari logam yang terlihat kokoh. Meskipun demikian, suasana tetap tegang dengan aura ketidakbebasan yang menyelimuti.
Di tengah ruangan, terdapat meja besar yang dipenuhi dengan menu makanan harian penjara. Para tahanan duduk di sekitar meja dengan sikap berjaga-jaga dan hati-hati.
Menu makanan hari itu tampak lebih bervariasi, menunjukkan standar yang lebih baik dari penjara internasional. Mereka disajikan dalam piring porselen putih yang tampak bersih dan terawat. Beberapa hidangan antara lain nasi putih yang lembut, irisan ayam panggang dengan bumbu rempah yang menggugah selera, sayuran rebus yang segar, serta salad buah-buahan segar sebagai penutup.
Penghuni lapas, dengan tatapan tajam dan sinis, berdiri di dekat Joko yang duduk sendirian di salah satu meja. Mereka mencoba mengintimidasi Joko dengan postur tubuh yang mendominasi dan tawa menghina.
Para penjaga penjara internasional tampak lebih serius dan profesional. Mereka berjaga-jaga di sekitar ruangan, mengawasi setiap gerak tahanan, dan siap untuk mengatasi situasi apapun yang terjadi.
Joko sedang duduk sendirian di salah satu sudut ruangan makan penjara internasional ini. Wajahnya tampak tegang dan penuh ketakutan. Rambutnya yang dulu lebat dan wajah yang tegas kini terlihat kusut dan pucat. Bekas luka dan tanda kekerasan di tubuhnya menjadi saksi bisu dari pengalaman buruk yang dia alami di dalam penjara.
Beberapa tahanan berpostur tegap dan memancarkan aura kekuatan mendekati Joko. Mereka memiliki tatapan tajam dan senyum sinis di wajah mereka. Seperti predator yang mengintai mangsanya, mereka memenuhi ruangan dengan kehadiran yang mengancam.
Joko merasakan desiran ketakutan yang menggelitik di dalam dirinya. Meski dia pernah memiliki kemampuan gaib yang kuat, kekuatannya kini terasa surut di tengah penjara ini. Ia merasa kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri dan meragukan kemampuannya untuk melindungi diri.
Setiap gerakan tahanan-tahanan kuat itu semakin mendekat, membuat Joko semakin gelisah. Ia merasakan tekanan psikologis yang begitu besar, seperti dinding-dinding penjara yang menghimpit keberadaannya. Ia menggigit bibirnya untuk menahan ketakutan yang memenuhi hatinya.
"Joko hehehe...
Pria yang memiliki badan besar dan bertubuh tato itu, memaksa Joko untuk bangkit dari kursinya karena dia ini duduk di situ.
Tapi belum sempat Joko bangkit dia sudah ditendang oleh pria tadi dengan alasan jika pergerakannya begitu lambat.
Brak...
Dalam sekejap saja,ruang makan penjara tampak kacau dan hancur akibat perkelahian yang tak seimbang. Meja dan kursi terguling dan pecah berserakan di lantai. Lantai yang dulunya bersih kini dipenuhi dengan pecahan piring dan sisa-sisa makanan yang berceceran. Dinding ruangan dipenuhi dengan goresan-goresan dan noda darah.
Para penghuni lapas yang kejam dan kuat mengelilingi Joko, menyeranginya dengan kejam tanpa ampun. Joko mencoba untuk melawan, tetapi kekuatan dan kemampuan gaibnya telah menghilang, membuatnya tidak berdaya.
"Kau bukan lagi pria kuat seperti dulu, Joko. Mana kehebatanmu sekarang?"
Joko berusaha merangkak mundur, tetapi ditendang kembali oleh seseorang yang dia tidak lihat wajahnya sama sekali.Dia berlutut di lantai, wajahnya dipenuhi rasa sakit dan keputusasaan.
"Kemampuan gaibmu tidak berguna di sini, ya? Kau hanyalah sampah seperti kami yang harus hidup dalam penjara ini.
Joko mencoba berbicara, tetapi suaranya terputus karena serangan serangan yang terus menerus. Dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk berkata apa pun.
"Lihatlah dia, begitu lemah dan hampa. Apa gunanya hidup jika tidak memiliki kekuatan?"
Para penahanan lainnya tertawa kejam, merayakan kemenangan mereka atas Joko. Sementara itu, ruang makan penjara semakin hancur karena perkelahian tak berperikemanusiaan yang terjadi.
Joko mencoba untuk bangkit, tetapi tubuhnya begitu lemah dan luka-luka, dia terhuyung dan jatuh kembali. Raut wajahnya mencerminkan penderitaan dan keputusasaan yang mendalam.
"Tolong... berhentilah...!"bisik Joko dengan permohonan yang amat sangat.
Namun, para penahanan tidak peduli dengan permohonan Joko. Mereka terus menghujani pukulan dan tendangan ke arahnya, mengabaikan seruan-saruannya untuk berhenti.
Para penjaga penjara mendengar keributan dan kekacauan yang terjadi di ruang makan. Mereka bergegas mendekati tempat kejadian untuk mengatasi situasi tersebut.
"Hei, berhenti! Apa yang sedang terjadi di sini?"
Mereka tiba di ruang makan dan melihat para penahanan yang berkerumun mengelilingi Joko yang terluka parah. Para penjaga mengenali Joko dan terkejut melihat kondisinya.
"Astaga, itu Joko... apa yang terjadi?"
Seorang penjaga penjara berkata sambil mencibir,"Dia pasti sudah memancing masalah lagi"
Namun, beberapa penjaga lainnya yang mengenal Joko sejak dia pertama kali tiba di penjara merasa kasihan melihatnya. Mereka menyaksikan betapa banyak darah yang mengalir dari tubuhnya dan melihat betapa lemah dan rentannya dia.
"Kasihan, dia tampak benar-benar terluka"
"Mungkin kita harus memeriksanya di klinik penjara"
Namun, sebagian besar penjaga tetap cuek dan bahkan mencibir Joko yang terluka. Mereka hanya melihatnya sebagai narapidana yang pantas mendapatkan apa yang dia dapatkan.
"Dia pantas mendapatkan hukuman setimpal atas tindakannya"
"Benar, biarkan dia merasakan akibat dari perbuatannya"
Para penjaga yang merasa kasihan mengangkat Joko dengan hati-hati dan membawanya ke klinik penjara untuk mendapatkan perawatan medis.
Joko di pindah dan dibawa masuk ke ruang gawat darurat rumah sakit penjara dengan brankar oleh beberapa perawat dan penjaga penjara. Ruangan ini dipenuhi dengan sinar neon yang terang, dan terasa dingin dan bau obat yang khas. Para dokter dan perawat sedang sibuk melakukan pemeriksaan dan memberikan perawatan darurat kepada para pasien.
Para dokter segera mengecek kondisi Joko dengan cermat. Mereka mengganti pakaian kotor dan robek Joko dengan seragam rumah sakit. Darah mengalir dari luka-lukanya, dan mereka dengan sigap mengepulkan perban dan memberikan infus untuk menstabilkan kondisinya.
__ADS_1
"Berikan saya laporan mengenai kondisinya secepatnya"kata dokter yang menangani pasien dengan nama Joko.
"Terdapat beberapa luka serius dan pendarahan yang cukup parah. Tampaknya dia kehilangan banyak darah"kata seorang perawat ketika dia membaca catatan yang berada di tangannya.
"Segera lakukan transfusi darah. Pastikan kita memiliki stok darah yang cukup" kata dokter dengan wajah serius.
Seorang perawat bergerak untuk menghubungi bagian darah."Saya akan segera mengatur itu"
Joko masih tidak sadarkan diri, dan perawat juga melakukan tindakan resusitasi untuk memastikan pernapasannya tetap stabil.
"Saya membutuhkan bantuan di sini! Bantu saya mempertahankan pernapasannya"
Para perawat bergerak dengan cepat, memberikan perawatan intensif dan perhatian penuh kepada Joko. Mereka membawa alat-alat medis dan monitor keadaannya dengan cermat.
Sementara itu, dokter lain melakukan beberapa tes dan pemindaian untuk mengetahui adanya cedera internal. Mereka bekerja sama untuk menyelamatkan nyawa Joko dengan usaha maksimal.
"Segera siapkan ruang operasi, kami mungkin perlu melakukan tindakan darurat" kata dokter dengan keras.
Perawat mengangguk dan berlari keluar dengan cepat."Saya akan mengatur semuanya!"
Para dokter dan perawat bekerja tanpa lelah untuk menyelamatkan Joko, sementara suasana rumah sakit dipenuhi dengan bunyi alat-alat medis yang berderak dan berdetak.
Ruang operasi sudah terang benderang dengan sinar lampu operasi yang menyilaukan. Para dokter dan perawat telah siap untuk melakukan operasi pada Joko. Mereka mengenakan pakaian steril dan sarung tangan yang cermat.
Ada dua dokter yang memimpin tim bedah dalam upaya mereka untuk menyelamatkan Joko. Perawat-perawat yang berpengalaman membantu dalam setiap langkah prosedur operasi.
"Mari kita mulai operasi. Sediakan alat-alat dan sterilkan area ini"kata seorang dokter yang memandang ke semua asisten bedah yang hadir.
Ada dua asisten dokter dengan cermat menyiapkan alat-alat bedah yang diperlukan. Mereka menjaga kebersihan dan sterilisasi ruangan dengan seksama.
Tim bedah ini mempersiapkan Joko untuk operasi. Mereka memasang alat pemantau, menghubungkan infus, dan mempersiapkan obat-obatan yang diperlukan.
Dokter kepala bedah berbicara dengan tenang kepada asisten dokter."Sediakan pisau bedah dan lakukan pembiusan umum"
"Saya akan segera menyiapkannya, dokter "
Asisten dokter yang lain dengan cepat menyiapkan pisau bedah yang steril, sedangkan perawat lainnya mempersiapkan obat pembiusan dan memasang alat pembiusan.
Saat Joko sudah siap, dokter-dokter tersebut mulai melakukan operasi dengan hati-hati. Mereka bekerja dengan presisi dan keahlian, berfokus pada menghentikan perdarahan dan memperbaiki luka-luka dalam tubuh Joko.
Setelah beberapa jam yang melelahkan, proses operasi mulai mencapai tahap akhir. Pada akhirnya Tim bedah ini berhasil menghentikan perdarahan dan memperbaiki luka-luka dalam Joko.
"Kita berhasil. pasien sekarang akan memerlukan waktu untuk pemulihan"
"Mari kita pasang alat bantu pernapasan untuk memastikan pasien bernapas dengan baik"
Para perawat segera membantu dalam memasang alat bantu pernapasan dan memindahkan Joko ke ruang pemulihan. Mereka tetap mengawasi kondisinya dengan cermat, memberikan perawatan intensif yang dibutuhkan.
***
beberapa jam kemudian , di kamar pemulihan Joko terbaring lemah dan tidak sadarkan diri di tempat tidur rumah sakit. Wajahnya pucat, dan terlihat tanda-tanda pemulihan setelah operasi yang intensif. Tangannya terikat dengan perangkat medis untuk memantau detak jantung dan tekanan darahnya.
Cahaya lembut dari lampu ruangan memancar ke ruang pemulihan yang tenang. Bunyi mesin medis terdengar pelan di latar belakang, menciptakan suasana yang tenang dan penuh harap.
Perawat dengan cermat mengawasi Joko, memastikan alat-alat medis terpasang dengan baik dan kondisinya stabil. Mereka memeriksa catatan medis dan memastikan semua parameter vital tetap dalam batas yang normal.
Wajah Joko terlihat tenang dalam tidurnya yang dalam. Ekspresi kelelahan dan sakit tampak pada wajahnya yang lemah. Namun, di balik kelemahan itu, ada keberanian yang tampak dari matanya yang terpejam.
Terkadang, tangan Joko bergerak sedikit, menandakan aktivitas bawah sadar yang lemah. Dia mungkin mengalami mimpi-mimpi yang tak terjangkau, mungkin tentang masa lalunya atau masa depan yang tak pasti.
Di permukaan Joko sepertinya sedang tertidur karena pengaruh obat bius setelah mengalami pembedahan yang mengancam nyawa. Tapi sebenarnya Joko saat ini sedang mengalami apa yang disebut tentang mimpi tanpa akhir.
Joko merasa seakan-akan dia sedang terdampar di dalam suatu dimensi yang tidak diketahui. Segalanya terlihat abu-abu dan samar, seolah-olah dia berada di alam semesta yang aneh dan tak dikenal. Tanpa disadari, dia terhanyut dalam mimpi yang menakutkan.
Joko merasa dirinya berada dalam siklus kehidupan yang tak berujung. Dia melihat dirinya dilahirkan lagi dan lagi, mengulangi perjalanan hidupnya yang penuh dengan kesedihan dan penderitaan. Setiap kali dia lahir, rasa sakitnya merayap masuk ke dalam dirinya seperti pukulan berulang yang tidak pernah berakhir.
Dia melihat dirinya dalam berbagai bentuk kehidupan, sebagai seorang anak kecil yang malang, seorang pemuda yang dihantui kegagalan, dan seorang pria tua yang sendirian dan terluka. Namun, tidak peduli bentuk mana pun yang dia ambil, rasa penderitaan selalu menghantui dirinya.
Setiap kali dia mencoba mencari kebahagiaan, mimpi itu membawanya ke kegagalan dan kehancuran. Teman dan orang-orang yang dicintainya menghilang begitu saja, meninggalkannya dalam kesendirian dan keputusasaan.
Mimpi itu membuatnya merasa seperti terjebak dalam lingkaran kehidupan yang mengerikan dan tidak ada jalan keluar. Dia merasakan penderitaan yang mendalam, kesedihan yang tak terucapkan, dan ketakutan yang melumpuhkan.
Joko mencoba untuk berteriak, meminta mimpi ini berhenti, tapi suaranya terdengar bergetar dan hilang ditelan oleh angin hampa. Dia merasa tak berdaya, tidak memiliki kendali atas hidupnya, seperti boneka yang dikendalikan oleh takdir yang kejam.
Tatapan Joko dipenuhi dengan air mata keputusasaan saat dia merasa dirinya hancur dan lemah. Dia merasakan rasa sakit fisik dan emosional dengan begitu nyata, seolah-olah itu adalah kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
Namun, di tengah-tengah keputusasaan itu, ada juga kilau harapan yang samar-samar. Sebuah cahaya kecil yang tersembunyi di antara bayang-bayang gelap. Mungkin, dalam mimpi ini, ada kesempatan untuk mencari arti yang lebih dalam dan mencari jalan keluar dari siklus yang tanpa akhir.
Mata Joko terpejam tapi di dalam dirinya, dia terjaga dalam mimpi yang mengerikan. Dia merasakan kegelapan dan kesepian yang melingkupi dirinya, dan perasaan benci terhadap diri sendiri semakin mendalam.
"Apa yang aku lakukan? Mengapa aku harus terjerat dalam dunia gelap ini? Aku membenci diriku sendiri karena telah memilih jalur yang salah, dan sekarang aku harus menerima konsekuensinya."
Joko merasakan perasaan putus asa yang membelenggunya. Penghuni lapas yang lain sering membullynya, mempermalukannya, dan memperburuk kondisinya. Dia merasa sendirian dan tidak ada tempat untuk berlindung.
"Mengapa mereka harus menyiksa ku seperti ini? Apa yang salah dengan hidupku? Aku ingin lepas dari segala beban ini. Aku merasa tidak punya harapan lagi."
Rasa penyesalan mulai menyusup ke dalam pikiran Joko. Dia menyesali keterlibatannya dalam dunia gaib yang menyebabkan dia berada di posisi ini.
"Aku telah mengabaikan nilai-nilai hidup yang sebenarnya. Aku terbuai oleh janji-janji dunia gaib dan berpaling dari kehidupan nyata. Sekarang, aku harus menanggung akibatnya."
Joko mengenang Dewi, perempuan yang selalu ada dalam setiap langkah kejahatan Joko .Dia merasa bersalah karena membawa Dewi ke dalam hidupnya yang penuh dosa ini.
"Apakah Dewi mengalami hal yang sama dengan diriku? Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya setelah aku masuk penjara. Aku berharap dia baik-baik saja, jauh dari kesialan yang kualami."
Joko sekarang pandangannya terfokus pada kondisi kamar di sekitarnya. Kamar ini mencerminkan suasana yang steril dan tenang.
Kamar ini terang dan terasa dingin. Dinding putih bersih mengelilingi ruangan dengan jendela besar yang membiarkan sinar matahari masuk dengan lembut. Cahaya yang memancar memberikan sedikit kehangatan pada ruangan yang sejuk.
Di sebelah tempat tidur, terdapat meja kecil dengan lampu baca, beberapa buku, dan alat-alat medis yang tersusun rapi. Alat monitor vital berdetak dengan lembut, menghasilkan bunyi monoton yang menenangkan. Jendela di dekatnya memiliki tirai putih yang menambah kesan tenang dan privasi.
Di seberang tempat tidur, terdapat wastafel kecil dan cermin yang menggantung di atasnya. Botol dan tabung infus tergantung di sekitar tempat tidur, menyediakan obat dan nutrisi yang dibutuhkan oleh pasien.
Joko menatap sekeliling dengan tatapan kosong, merenungkan situasi yang sedang dialaminya.Kamar itu, meski steril dan tidak berlebihan dalam dekorasi, memberikan rasa ketenangan yang tak terelakkan.
Joko menyadari bahwa kamar ini menjadi tempat perlindungan sementara baginya, tempat untuk penyembuhan dan pemulihan. Meskipun situasinya mungkin menakutkan, ada sedikit harapan yang muncul di benaknya, memperlihatkan jalan keluar dari kegelapan yang sedang dia hadapi.
Clang...
tidak ada yang menduga sama sekali juga pasien yang awalnya terbaring tidak sadarkan diri ini memiliki keinginan untuk menarik jarum infus pada lengannya.
Segera saja darah menyembur dari luka kecil akibat jarum infus tersebut. Tidak sampai di situ Joko langsung menancapkan jarum infus itu kepada lehernya sendiri.
Tas....Tas..tas...
Bukan sekali tapi dia menusuk lehernya sendiri berkali-kali sampai dia tidak lagi mengalami apa yang disebutkan dengan rasa sakit.
Bagi Joko rasa sakit ini adalah sebuah kelegaan tersendiri. katanya siklus kehidupan itu tidak akan terjadi , jika pelakunya melakukan tindakan bunuh diri.
Hehehe itulah yang sedang dilakukan oleh Joko sekarang.
Siapa yang ingin mengalami siklus kelahiran secara terus-menerus hanya untuk mengalami penderitaan dan rasa sakit yang tidak pernah berakhir.
Siapapun boleh menginginkan itu tapi Joko tidak.
Dr. Lisa, seorang dokter muda dan beberapa perawat sedang berjaga di ruang perawatan pasien . Mereka memantau monitor vital beberapa pasien dengan cermat.
Tiba-tiba, monitor vital Joko menunjukkan gejala yang tidak biasa. Denyut jantungnya mulai melemah dan tekanan darahnya menurun dengan cepat. Dr. Lisa segera menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
"Ada sesuatu yang tidak beres dengan pasien Joko! Cepat, panggil bantuan!"
Para perawat berhamburan keluar dari ruangan dan membawa peralatan tambahan untuk menyelamatkan pasien. Dr. Lisa dan perawat lainnya berusaha melakukan resusitasi dan memberikan perawatan darurat sesuai prosedur.
Luka tusukan jarum di leher Joko benar-benar berakibat fatal padanya kali ini.
Namun, meskipun upaya mereka dilakukan dengan sigap, kondisi Joko terus memburuk. Mereka merasa frustrasi karena tidak dapat menyelamatkan pasien dari kondisi yang memprihatinkan.
"Sudah terlambat... kita tidak bisa menyelamatkannya...
Perawat lain mengangguk, sedih dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, saat mereka menatap wajah Joko yang sudah meninggal, mereka terkejut melihat ekspresi senyumannya yang tenang.
"Dokter, lihatlah! Wajahnya... dia sedang tersenyum"panggil seorang perawat.
"Tapi bagaimana mungkin? Dia baru saja mengalami kondisi yang kritis...
Dr. Lisa juga merasa heran, melihat senyuman di wajah pasien yang telah meninggal membuatnya bingung.
"Aku tidak tahu... mungkin dia menemukan kedamaian di akhir hidupnya?"
Keheningan mengisi ruangan saat para dokter dan perawat mencoba memahami fenomena aneh yang baru saja mereka saksikan. Meskipun tidak dapat menyelamatkan Joko, senyuman di wajahnya memberi mereka rasa keajaiban dan kebingungan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Aneh kan.
__ADS_1