Kekasih Ku Bukan Manusia

Kekasih Ku Bukan Manusia
75


__ADS_3

semua orang sedang merencanakan banyak hal matang-matang tapi pada akhirnya tetap akan ada kecelakaan di luar prediksi.


entah bagaimana hari ini Eliza berniat untuk turun pergi ke kamar mandi tapi siapa tahu dia tiba-tiba jatuh dan menjerit kesakitan


mamanya memerintahkan seseorang harus selalu ada di tidak jauh dari kamar putrinya itu jadi suara jeritan itu benar-benar mengundang perhatian semua orang.


Kebetulan sekali Dini ada di dapur dan dia juga mendengar jeritan itu. Dengan cepat Dini berlari ke kamar dan terkejut sampai merasa ingin pingsan di tempat.


Bagaimana tidak Liza yang sedang hamil 7 bulanan ini sedang berbaring di kamar mandi dengan posisi yang tidak bagus .Apalagi ada banyak darah yang keluar dari sela-sela roknya


Jelas saja putrinya ini menangis kesakitan dan berteriak jika dia sudah tidak tahan lagi.


"Mama sakit mah ...hiks.tolongin liza mah ini sakit banget" teriak Liza yang benar-benar seperti ingin pingsan.


Seorang pembantu rumah tangga tidak perlu diperintahkan lagi dia tahu apa yang harus dilakukan. jadi orang pertama yang diteleponnya tentu saja adalah Pandi sebagai seorang suami.


"halo tuan, ada kabar buruk tuan tadi nona jatuh di kamar mandi dan dia pendarahan tuan Jadi gimana ini?" Tanya nya gugup.


Pandi yang ada di seberang telepon sedang tidak pergi ke Denpasar dan dia berbicara dengan seseorang di kota.


Walaupun hatinya diliputi dengan rasa kekesalan yang teramat sangat tetapi liza masih tetap istrinya dan anak yang dikandungnya adalah anak yang paling berharga.


Tidak sekalipun dia berpikir anak itu akan mengalami kecelakaan padahal dia baru hamil selama 7 bulanan.


"baik kasih tahu dengan nyonya jangan membawanya ke rumah sakit. Aku akan mengirimkan bidan kampung yang bagus"kata pandi.


"Oh ada sesuatu di kamarku itu disimpan di lemari pakaian di sisi kanan. ikatkan benda itu di lengan nona mu dan usahakan dia tidak pingsan. aku akan nak buru-buru pulang sekarang juga"kata Pandi yang seperti ini juga khawatir.


setelah menutup telepon pelayan itu buru-buru masuk lagi ke kamar dan mencari sesuatu yang dikatakan oleh Pandi tadi. Setelah mendapatkannya dia langsung lari lagi ke kamar mandi dan melihat bagaimana Liza dalam kondisi pendarahan yang hebat.


Di sisi lain Dini tidak bisa membantu karena dirinya semakin pusing dan mual ketika melihat darah. Bukan itu saja trauma masa lalu tiba-tiba menguak dan dia tidak bisa menghentikan dari tubuhnya menjadi menggigil.


Liza baru hamil 7 bulanan dan dia dalam kondisi seperti ini. Bagaimana Dini tidak khawatir dan menjadi seperti itu.


Dia khawatir sekali jika Liza juga mengalami apa yang sudah dialami dulunya.


Untung saja para pembantu rumah tangga ini ada orang-orang yang cakep. mereka dengan sopan meminta Dini untuk minggir terlebih dahulu dan berebutan untuk membawa tubuh Liza ke atas kasur.


Tentu saja sebelum liza diletakkan di atas ranjang itu, kasurnya sudah dilapisi dulu dengan sesuatu yang bisa menahan banyak darah nantinya. ada juga beberapa kain yang bisa meresap seperti spon. Kain-kain itu diatur di bawah tubuh Liza agar darah itu terserap kesana.


Liza terus saja menangis dan meraung karena sakit yang dia derita saat ini. walaupun demikian dia sempat berpikir dirinya sudah seperti sekarang tapi kenapa masih tidak dibawa ke rumah sakit.


Seseorang datang dan mengikatkan sesuatu di lengannya. Entah apa itu tapi tenaganya berangsur surut dan datang secara tiba-tiba.


"Tuan Pandi mengatakan dia akan pulang sebentar lagi, nona bersabar dulu katanya"kata pelayan itu dengan nada yang khawatir.


Dia juga seorang wanita dan tahu rasa sakit macam apa yang dialami oleh Liza saat ini. Tapi Pandi bukan saja tidak berinisiatif untuk segera mengirimkannya ke rumah sakit tapi berkata ingin mengirimkan seseorang bidan desa untuk menangani masalah ini.


Padahal lebih selamat untuk melahirkan di rumah sakit daripada melahirkan di rumah. Apalagi kondisinya masih 7 bulanan dan itu sangat di khawatirkan sekali. Tapi dirinya masih seorang pembantu yang tidak memiliki kekuasaan apapun jadi terserah majikan saja asalkan dirinya jangan dipecat.


"Apa , Pandi bilang jangan bawa Liza ke rumah sakit apa-apaan gitu. panggil sopir dan bilang dia kita harus bersiap pergi ke sana saat ini juga. nanti aku akan menjawab Pandi"kata dini yang tiba-tiba bangkit dalam keterpurukannya.


Liza adalah putri satu-satunya dan saat ini kondisinya berada di antara hidup dan mati. Tapi Pandi membuat keputusan semena-mena apakah Pandi ingin membalaskan dendamnya karena pikirannya berkata Liza sedang selingkuh.


Lupakan dulu masalah Pandi dan fokus saja pada Liza dan anaknya.


Pelayan itu menganggukkan kepala dan dia bergegas pergi untuk menyampaikan hal ini pada sang supir tapi baru beberapa langkah dia masuk lagi ke kamar dengan seorang wanita tua di belakangnya.


" nyonya, ini adalah ibu Katim, dia adalah bidan desa kami. Tuan Pandi memintanya untuk datang dan mengurus persalinan sekarang"

__ADS_1


Dini marah bukan main tidak menganggap serius tentang nyawa putrinya saat ini. apa itu bidan desa.


Jika ada sesuatu yang terjadi pada putrinya bisakah bidan desa ini bertanggung jawab.


"maaf nenek Katim saya bukannya menolak. Tapi ini adalah masalah hidup dan mati putri saya saya pikir akan membawanya ke rumah sakit saja kami tidak bisa menunggu sekali lagi maaf"kata dini langsung menolak perawatan wanita tua itu.


Bukannya dirinya tidak percaya tapi nyawa adalah hal yang tidak bisa diganti.


Tapi pengusiran dengan cara lembut itu membuat wanita tua itu melotot dan berkata"pak Itam sudah menyebutkan masalah ini padaku jauh-jauh hari. putrimu tidak hamil dengan cara biasa. jadi dia akan melahirkan dengan cara yang tidak biasa. kalau kau buru-buru membawanya ke rumah sakit maka kau akan menanggung akibatnya sendiri. tapi aku bisa menjamin dengan nyawaku putrimu bahkan tidak akan melewati malam jika kau pergi ke rumah sakit"


"Tidak mungkin, ini pak hitam lagi? hah Aku sudah muak dengan pak Itam apa-apa pak hitam ,apa-apa pak hitam. aku tidak peduli dengan kata-kata kalian minggir" kata Dini yang bersikeras.


"Tidak putrimu bahkan dalam bahaya dan cucunya juga begitu. siluman ular putih pasti datang tadi membuat dia tergelincir kau tahu siluman itu akan mengambil cucumu lebih awal melalui kejadian ini. jika kau masih ingin cucu dan putrimu baik-baik saja maka dengarkan apa kata ku"


ini menggigil dan dia seolah-olah terpana di tempat. wanita tua itu mendorongnya ke samping dan masuk langsung ke kamar di mana Liza saat ini sedang berteriak kesakitan.


"Mama tolong aku mama, ini sangat sakit akhhh mama"


baru kemudian Dini tersadar dan dia buru-buru masuk lagi. Saat ini kamar sudah pun berbau amis darah yang sangat memuakkan. ini sempat membuat Dini hampir muntah tapi dia menahannya karena ini adalah putrinya sendiri


Tidak tega melihat penderitaan putrinya itu dia langsung ingin menarik wanita tua yang tidak tahu malu dan bergegas membawa putrinya ke rumah sakit.


Tapi sekarang kondisi Liza tidak baik-baik saja dia bahkan tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.


"Lihatlah darah yang keluar tidak merah tapi berwarna hitam. sekarang kau percaya padaku?"katanya.


"ini...


kain bagian bawah Liza sebelumnya sudah dilucuti. perut besarnya jelas terlihat dari sisi ini berdiri.


Ada benjolan benjolan kecil yang jelas bergerak-gerak di dalamnya.


"wanita ini akan melahirkan dengan cara yang tidak normal jadi, dia tidak bisa melahirkan kamar ini Ayo pergi ke kamar yang paling dekat dengan pintu keluar"katanya yang memberi perintah pada pelayan di rumah ini.


Dini yang mendengar jika putrinya sedang siap dalam proses melahirkan secara mendadak lututnya menjadi lemah.


Dirinya jadi tidak bisa berpikir apapun, sekarang dia pasrah meletakkan liza di tangan wanita tua itu.


Seorang pelayan membantunya untuk duduk ruang tamu dengan segelas air teh agar dia lebih rileks.


sementara beberapa pelayan lagi bergegas untuk membawa Liza turun ke kamar bawah. kamar bawah ini posisinya lebih dekat ke pintu keluar dari belakang. entah apa maksudnya untuk memindahkan kamar pada sesi melahirkan seperti ini.


Tapi seperti katanya bisa sedang hamil dalam kondisi yang tidak normal dan perlu melahirkan dalam kondisi yang tidak normal pula.


Ini menatap kosong pada arah di mana putrinya ini menjadi kesakitan namun tetap patuh dibantu untuk turun ke bawah. Dari lantai atas ke lantai bawah ada beberapa anak tangga yang harus dilewati.


Bayangkan saja bagaimana menderitanya Liza pada saat itu.


"auuu mama..


Dini buru-buru membantu putrinya untuk turun dan mengikat rambut panjangnya dengan karet gelang. Liza sudah berkeringat banyak dan sepertinya tidak memiliki tenaga lagi.


Darahnya menetes dari anak tangga satu ke anak tangga yang lain. Seperti baskom air yang bocor.


"sabar sayang kau harus baik-baik saja, Mama tidak bisa membantumu nak mama hanya bisa bantu doa"kata Dini gugup.


Liza hanya meringis dan mengeluh kesakitan setiap saat tapi dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh mamanya ini.


Seekor ular ketika bertelur bahkan tidak akan pernah merasakan sakit karena telur mereka itu cenderung lembek dan lebih mirip agar-agar.

__ADS_1


Tapi manusia melahirkan kenapa harus menjadi menderita seperti ini.


dengan cara ini Liza juga memandang mamanya dengan pandangan yang takjub. Dini mengalami ini berkali-kali dan sama sekali tidak pernah melihat calon bayinya.


Ada kesempatan melahirkan Liza tapi sebenarnya itu adalah karena pengaruh jiwa lain yang masuk ke dalam calon bayi yang sudah mati.


Tapi walau bagaimanapun Dini adalah wanita hebat yang bisa melalui kesakitan seperti ini berkali-kali.


Liza hanya mengalaminya sekali tapi merasa tidak akan mau mengalaminya lagi di masa depan.


tiba di kamar bawah semuanya sudah dipersiapkan oleh pelayan lain Liza langsung berbaring di sana dan ditinggalkan dengan wanita tua bidan desa itu.


Sementara Dini tentu saja tidak akan kuat melihat perjuangan putrinya ini jadi dia tidak masuk namun memilih untuk duduk di ruang tamu saja.


Pada saat duduk dia selalu saja melafaskan kata-kata doa agar putrinya bisa melewati ini dan selamat melahirkan cucunya.


Setiap kali mendengar suara jeritan Liza, dia juga ikut merasa kasihan dan menitikkan air mata yang tidak bisa ditahan lagi.


Seandainya rasa sakit ini bisa dipindahkan saja


Sementara itu di sisi lain Pandi buru-buru mencari pak Itam dan mengabari jika istrinya akan melahirkan.


Pak itam memang sedang menunggu kondisi ini tapi dia tidak menduga akan ada kejadian mendadak. tapi walau bagaimanapun ini tetaplah kabar yang baik.


"Baiklah, pulang dan rapikan hal-hal yang aku inginkan kemarin. aku akan membantumu dari sini. setelah ini selesai maka tidak akan ada kendala lagi hehehe "kata pak Itam dengan nada yang penuh arti.


Seharusnya dia perlu menunggu 2 bulan lagi tapi kejadian hari ini benar-benar melipat waktu 2 bulan lebih awal.


"Baik lah "kata Pandi yang langsung terbang pergi ke arah rumah Liza dengan mobilnya.


Apa yang diperintahkan oleh pak hitam itu sebenarnya adalah duri dari tujuh macam bunga yang berduri.


Jumlahnya tidak sedikit mereka ada banyak sekali. Hal-hal ini sudah dikumpulkan Pandi sejak awal dan disimpannya di gudang belakang.


Bukan saja Pandi malah Arnold sendiri mengetahui kegunaannya.


Pada saat pandi sedang mengemudikan mobilnya .Detik itu juga dini baru menyadari jika masalah Liza belum dikabari dengan sang suami.


dia buru-buru menelpon Arnold dan Arnold tercengang tapi langsung kembali ke desa.


Sayangnya arnold saat ini sedang berada di Denpasar. Jika dia memang sedang terburu-buru dan membawa mobil dalam kelajuan tercepatnya paling cepat dia akan tiba di malam hari


Tidak peduli sama sekali dan dia langsung berangkat dengan mobilnya sendirian.


Hanya saja dalam mobil dia menelepon,pak Din tukang kebun. dia meminta pak Din membantu Pandi dengan duri-duri yang sudah mereka simpan sebelumnya.


Pak Din sempat heran dan baru mengetahui keberadaan duri-duri itu. Tapi dia adalah pegawai yang harus melakukan apa yang diperintahkan oleh bagikan.


Tiba di rumah Liza dia sudah ditunggu oleh pak Din di depan halaman. Pak Din langsung mengatakan perintah dari Arnold yang saat ini dalam perjalanan kembali ke desa.


Pandi mulai memerintahkan pak hitam untuk mengeluarkan duri-duri itu keluar dari gudang belakang.


sementara dia mempersiapkan segala sesuatunya. rupanya duri-duri ini ditempatkan di mana kamar lama Liza berada.


Walaupun Liza tidak ada di sana tapi kamar itu mulai dipenuhi dengan duri-duri itu. baik itu di atas ranjang di dalam kamar mandi ataupun di sela-sela pintu dan jendela.


juga kamar di mana Liza saat ini sedang dalam proses melahirkan.


Tapi mereka melakukannya dari sisi luar, mungkin akan berguna jika ada ular nakal yang mencoba memanjat melalui dinding dengan celah itu.

__ADS_1


Adanya duri-duri ini pasti siluman ular tidak akan nekat


__ADS_2