Kekasih Ku Bukan Manusia

Kekasih Ku Bukan Manusia
25


__ADS_3

Melihat reaksi Liza yang memang tidak wajar itu ,timbul rasa takut dalam diri pandi .Tapi dia masih perlu bertanggung jawab dengan gadis ini.


"aku harus membawa Liza pulang dari sini jika tidak ini akan menjadi kesalahanku"pikir pandi di dalam hatinya.


Tangan dan kaki Pandi sudah tidak stabil lagi tapi pandi masih saja berpikir tentang Liza, keselamatan Liza tepat nya.


Pandi sebenarnya merasakan ke sebuah ketakutan yang amat besar di dalam dirinya tapi dia segera sadar dan menggenggam buku jarinya dengan kuat.


Seolah-olah itu akan mampu memberikan dia semangat juang.


"Liza tunggu dulu ,Liza. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, ayo pulang" teriak pandi dengan keras.


Dia tidak peduli lagi dengan penampakan Liza yang sekarang benar-benar menyeramkan.


Intinya Liza keluar dari rumah untuk mengikutinya jadi adalah tanggung jawabnya untuk membawa liza kembali dalam keadaan selamat.


Saat ini Liza sebenarnya masih sadar tapi dia hanya tidak menyadari jika dirinya berubah dari pandangan pandi.Dia juga terkesan tidak peduli dengan dirinya sendiri.


Ketika pandi berteriak, Liza segera membalikkan badan dan membalas teriakan itu dengan sama keras nya.


"sudah jangan ikuti aku ,pulang kamu .aku nggak mau bertengkar sama kamu lagi pandi. pergi pulang aja sana, biarkan aku sendiri"


Setelah berteriak seperti itu Liza langsung berlari masuk ke dalam rumah tua.


Pandi yang masih tidak nyaman terus saja mengejarnya dan mencoba menyadarkan Lisa jika pergi ke dalam rumah tua itu adalah sesuatu yang buruk.


"liza!!" Pekik pandi yang tidak di pedulikan oleh Liza.


Tiba-tiba saja pandi berkeringat dingin "kenapa bulu romaku jadi merinding ya? angker banget rumah ini ,takut juga aku kalau sendiri di sini "pikir pandi yang berjalan lagi memandang sekeliling area.


Tempat ini memang benar-benar tidak selamat Liza harus dibawa pulang.


Sementara itu Liza yang sudah menjauh dari pandi menghentikan langkahnya. Dia membalikkan tubuh dan tidak melihat pandi di manapun.Di sini Liza beranggapan jika pandi sudah pergi karena takut.


"Pulang juga dia akhirnya, cemen sih hehehe "katanya pada dirinya sendiri.


Menurutnya pandi hanya bertubuh besar tapi sama sekali tidak berguna ,dia hanyalah seorang penakut.


"Tampang aja bagus tapi nyalinya ciut "pikirnya lagi.


Tapi baru beberapa langkah pada akhirnya Liza berubah pikiran.


Bagaimana jika sesuatu terjadi pada pria pengecut itu dan liza akan disalahkan oleh kedua orang tuanya.


Padahal memang liza yang sudah melanggar peraturan desa dan juga permintaan kedua orang tuanya.


Dengan begitu Liza langsung berjalan lagi ke arah tadi .Tidak lama kemudian dia melihat jika pandi berdiri mematung satu tempat.


"Kenapa pula pandi tidak bergerak di situ" pikir Liza yang pada diri sendiri.


Sementara itu pandi yang berdiri seperti patung memperlihatkan wajahnya yang pucat sama sekali tidak berdarah.


"Pandi ngapain kapun di situ?" sapa Liza dari belakang.


Pandi sama sekali tidak menjawab tapi tangannya menunjuk ke satu arah.


Tentu saja Liza penasaran apa yang ingin dikatakan oleh pandi .Lagi-lagi dalam hati liza, jika pandi ini memang bukan orang yang pantas mendampinginya secara dia adalah pria yang pengecut.


"Masak pria dengan tubuh sebesar itu kalah nyalinya sama aku yang hanya seorang gadis hehehe" pikir Liza lagi.


Namun begitu Liza tetap maju untuk melihat apa yang membuat pandi tidak bisa bergerak.


"Pandi mau ngapain kamu di sini, kalau nggak suka ayo pulang dulu. Aku nggak apa-apa kok kalau ditinggal sendiri"kata Liza lagi yang semakin tidak senang dengan pandi.


Rapi anehnya pandi masih juga tidak bergerak dan tangannya masih menggigil-gigil menunjuk ke satu arah.


Mau tidak mau Liza mengalihkan pandangannya ke arah tersebut.


"ular?ular putih!"seru Liza tertahan.


Tepat di depan pandi sebenarnya ada sosok ular putih dengan kepala tegak sedang berhadapan dengan pandi.


Segera saja Liza terpana.


Bisa dibilang ini adalah kali kedua Liza bertemu dengan ular itu. Tapi bukankah seharusnya Liza merasa takut. Entah kenapa tidak ada rasa takut di dalam hati Liza tapi ada sebuah kegembiraan tersembunyi di sana


"jadi ular putih ini bukanlah mimpi ku saja, dia sebenarnya benar-benar nyata?"gumam Liza.


Liza menatap ular itu dan berlama-lama di sana. Anehnya ular itu juga balas menatap Liza.

__ADS_1


Mereka seperti sosok yang saling merindukan satu sama yang lain. Jadi pada saat ini wajah Liza yang semula cantik tersenyum menyeramkan.


Di sisi lain pandi sama sekali tidak melihat reaksi apa yang ditampilkan oleh liza saat ini.


Dirinya hanya berpikir tentang ular tersebut dan menganggap ular ini memiliki maksud yang tidak baik pada dirinya.


"kenapa ular ini menghalangi aku apakah dia marah dan ingin mencelakai aku? tapi aku sama sekali tidak mengganggunya bukan?"


Pandi ingin berteriak dan meminta Liza untuk pergi dari dari tempat itu secepat mungkin .Tapi tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya.


Baru sekarang pandi menyadari rumor itu memang benar. Rumah tua ini memang benar-benar ada penunggunya.


Siapapun yang melihat penunggu ini biasanya tidak akan memiliki usia yang panjang.Kebayakan dari mereka mengalami musibah yang langsung membuat mereka mati mengenaskan.


inilah yang membuat pandi takut.


"aku tamat ,aku akan mati?"pikir pandi di dalam hati berkali-kali.


Sekarang pandi menyesal sudah mengikuti Liza. Jika saja dia membiarkan gadis ini pergi sendirian mungkin dia tidak perlu berhadapan dengan ular putih ini secara langsung.


Jadi semuanya gara-gara Liza Hanim.


Entah berapa lama waktu yang dihabiskan oleh dua manusia dan seekor ular putih ini. Waktu sepertinya berhenti dan membeku di tempat , tiga makhluk yang berbeda jenis ini sebenarnya tidak bergerak sama sekali.


Tanpa di ketahui siluman ular putih mengeluarkan tekanan aura yang memanipulasi gravitasi bumi.Ini lah yang sekarang menekan pandi.


Tapi kemampuan ular putih tidak bisa menahan gravitasi bumi lebih dari sepuluh menit saja.


Pandi tidak tahu ,yang jelas tekanan yang tadinya ada tiba-tiba mengendur dan pandi sudah bisa menggerakkan tubuhnya lagi seperti semula.


Setelah terbebas dari tekanan aura, pandi sudah bisa berbicara sesuatu setidaknya dia berusaha berbicara.


"Liza ayo kita pulang ,kita tidak boleh mengganggu penunggu di sini oke "bisik Panji yang mundur ke belakang. Dia takut tapi juga ingin pergi dengan cepat. Suara pandi menelan ludah terdengar asing di tengah kesunyian.


Glek...


Begitu pandi mundur satu persatu pada akhirnya dia bisa menggapai Liza. Di sini pandi benar-benar tidak ingin tinggal dan akan menarik gadis itu bersamanya jika nekat.


Tapi dia sendiri tahu, mereka tidak bisa buru buru bergerak takutnya si ular putih akan mengejar mereka.


Jadi pandi hanya bisa mundur secara pelan.


Saat ini Liza merasa jantungnya berdebar-debar dan pikirannya berkecamuk .Ada banyak perasaan yang tidak bisa dijelaskan di hatinya saat ini.


Apalagi saat memandang ular putih yang gemuk itu. Ular itu juga tidak bergerak sama sekali seolah-olah dia adalah sebuah patung lilin.


Ketakutan dan kengerian yang seharusnya ada pada Liza sama sekali tidak tampak di permukaan. Yang ada hanyalah perasaan penasaran yang harus dipenuhi saat ini.


Jadi liza berkata pada pandi,"kau pulang saja duluan biarkan aku di sini oke" kata Liza seraya menarik nafas panjangnya .Dia terus saja menatap ular itu tidak mau melepaskan pandangannya walau sedetik pun.


Liza harus mencari jawabannya saat ini juga. Apakah perasaan aneh ini ada sangkut pautnya dengan si ular putih.


Di sini sebenarnya akal pikiran Liza tertutup dengan sesuatu sehingga dia tidak bisa berpikiran jernih. Liza seperti dituntut untuk memenuhi rasa penasaran itu. Sehingga Lisa sendiri pun tidak bertanya pada diri sendiri kenapa dia memiliki perasaan semacam ini.


Perasaan yang tidak seharusnya ada pada seseorang yang melihat siluman ular untuk pertama kalinya.


Orang-orang normal mungkin akan bereaksi persis seperti pandi.Takut dan khawatir juga ingin bergegas pergi dari lokasi.


Tapi kenapa Liza merasakan hal sebaliknya. Tidak takut sama sekali dan tidak ada rasa kekhawatiran bahkan tidak ingin pergi juga dari lokasi ini.


Ini aneh tapi Liza tidak pernah merasakan jika itu adalah aneh.Bagi Liza ini adalah sebuah rasa penasaran saja. Setidaknya itulah yang dia pikirkan saat ini.


Ular putih yang awalnya tidak bergerak itu tiba-tiba menggerakkan kepalanya tapi memindahkan pandangannya pada pandi.


Mungkin dia juga berharap jika pandi segera pergi meninggalkan rumah tua


Tapi pandi tidak begitu dia ,adalah seorang laki-laki yang tidak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya hanya karena ada sebuah kecemasan.


"tidak Liza aku tidak bisa membiarkan kau di sini. jika aku pulang kau juga harus pulang" bisik Panji yang terus saja mundur tapi mencoba meraih tangan Liza.


Mendengar jawaban pandi itu Liza tidak senang apalagi si ular putih. Dia langsung mendesis beberapa kali dan menatap pandi dengan matanya yang merah menyala.


Dengan sedikit mengancam ular ini merayap mendekati pandi perlahan-lahan.


Tentu saja pandi merasa semakin takut ular ini benar-benar bisa berpikir dan mulai menganggapnya sebuah ancaman.


Tapi pandi tidak bisa meninggalkan Liza sendirian apalagi jelas-jelas ada ular putih.


"hehehe pandi dia jelas tidak menyukaimu jadi pergilah"kata Liza yang tidak memiliki rasa takut.

__ADS_1


"Liza,kau...


Liza terkekeh-kekeh dia merasa mengerti apa yang ingin disampaikan si ular putih itu. Setidaknya Liza dan si ular putih itu posisinya sama sekarang.


Mereka berdua sama-sama tidak menyukai pandi.


Jarak antara Liza dan pandi sekarang hanya tinggal 1 meter saja.


Tapi Liza malah mundur yang memperpanjang jarak di antara mereka.


"Liza?"


"berapa kali aku harus bilang manusia bodoh pergilah dari sini hihihi" Liza tertawa lagi menyeringai dia memandang ular putih itu yang masih mendekati pandi.


Sekarang pandi sama sekali tidak memiliki pilihan lain. Dia menyukai Liza tapi tidak mungkin menyerahkan nyawanya untuk gadis ini. Apalagi kondisi Lisa sekarang sudah tidak pasti.


Bagi pandi dia merasa Lisa sudah kemasukan sesuatu.


Tidak ada waktu lagi untuk berpikir, ular semakin dekat dan mendekat saja.


Sebenarnya si ular putih sama sekali tidak ingin menyakiti pandi. Dia hanya ingin pandi pergi dari rumah ini meninggalkan liza sendirian.


Pandi yang melihat kondisinya tidak bagus ditambah Liza yang sepertinya sedang kemasukan sesuatu. Langsung menggunakan jurus langkah seribu.


Walaupun pandi berlari cepat tapi si ular putih masih bisa mengejarnya sampai ke pintu gerbang.


Pandi masih saja menggigil dan hampir saja tidak bisa membuka pintu mobil.


Bagaimana jika ular putih itu masih mengejarnya dan tidak membiarkan dirinya masuk ke dalam mobil.


Satu kali kunci mobil jatuh ke tanah dan buru-buru diambil lagi oleh pandi. Tangannya yang menggigil membuat dia kesulitan untuk memasukkan kunci ke lubangnya.


Begitu berhasil memasukkan kunci, pandi langsung masuk ke dalam mobil dan menstater mobilnya secara langsung. Dia tidak lagi berpikir tentang Liza tapi berpikir untuk menyelamatkan dirinya terlebih dahulu.


Tanpa disadari oleh pandi sebenarnya si ular putih sama sekali tidak mengejarnya, dia hanya berhenti di depan pintu gerbang.


Si ular putih masih menatap mobil pandi yang berlari dengan kecepatan tercepat nya.


Saat itu pandi bisa melihat ular putih pada kaca spionnya.


"dia benar-benar tidak mengejar aku? syukurlah sekarang aku selamat"pikir pandi yang mengurut dadanya dengan lega.


"tapi Liza, bagaimana dengan dia apa yang harus aku lakukan sekarang? sebaiknya aku pergi untuk mengabari masalah ini pada mama dan papa Liza"pikir pandi lagi.


Setelah jauh meninggalkan lokasi rumah tua itu pada akhirnya pandi juga menyesali kenapa dia bisa kabur.


Seharusnya dia mencoba untuk membawa Liza bagaimana sulitnya itu.


"gadis itu sudah dimantrai siluman putih jadi dia tidak mungkin mendengarkan kata-kata aku lagi, jadi ini bukan benar-benar salahku, paman dan tante tidak mungkin menyalahkan aku juga"pikir pandi yang semakin tidak tenang.


Mama dan papa Liza menyerahkan liza padanya untuk diajak jalan-jalan. Sekarang kenyataannya pandi meninggalkan nya sendirian dalam posisi yang berbahaya.


Jadi pandi sama sekali tidak akan tidak bisa mengelak jika orang tua Liza menyalahkannya di kemudian hari.


Sementara itu Lisa yang ditinggal pergi sekarang tidak melihat lagi di mana sih ular putih. Dia benar-benar sendirian di dalam rumah tua


Semakin aneh dan semakin misteriusnya kejadian hari ini.Liza malah semakin berani dan merasa tertantang untuk masuk ke dalam rumah tua.


Seketika Liza mendengar lagi suara musik yang mendayu-dayu. Sebuah suara yang membuatkan dia berdiri dan mendengarnya dengan khusyuk.


Liza begitu menikmati alunan nada sehingga memejamkan matanya rapat-rapat.


"suara ini lagi, jadi suara ini benar-benar berasal dari rumah misterius ini?" pikir Liza saat itu.


"suaranya begitu lembut dan menenangkan, tapi benarkah ini berasal dari dalam rumah?"pikir Liza di dalam hatinya.


Tidak lama kemudian baru lah Liza menyadari jika si ular putih benar-benar sudah menghilang.


Liza mencoba melihat ke sekeliling halaman, dia ingin melihat apakah si ular putih masih ada. Tapi beberapa menit berlalu Liza sama sekali tidak melihat keberadaannya di manapun.


Sepertinya ular itu benar-benar sudah pergi.


"kenapa aku berpikir jika ular itu hanya datang untuk membantuku mengusir pandi?"kata Liza.


Ini memang aneh tapi sebenarnya itulah yang dirasakan oleh Liza saat ini. Ular itu tidak bisa berbicara hanya bisa mendesis beberapa kali tapi Liza sepertinya mengerti apa yang diinginkan oleh si ular putih.


inilah yang dikatakan oleh insting atau naluri Liza. siluman ular putih benar-benar tidak jahat, dia hanya ingin membantu Liza menjauhkan pandi.


Itu saja.

__ADS_1


__ADS_2