
... Naga menjelaskan analisisnya dimana ketika teman - temannya memeriksa keadaan Vivi dan bertanya kepada Yoshua tentang apa yang terjadi. Naga memeriksa dua senapan yang tergelatak saling menghadap satu sama lain dimana senapan milik Yoshua kehilangan beberapa peluru sedangkan senapa Ilham masih memiliki peluru yang utuh. Jika mengikuti arah noda darah ke pantai masih ada bagian pasir pantai yang membentuk dua garis ke arah laut menunjukan tumit seseorang yang diseret....
... Jika bola alien yang menyeret Ilham maka hanya akan ada satu garis besar yang menunjukan tubuh seseorang di seret. Mendengar penjelan tersebut membuat semua siswa pleton 2 tidak percaya atas pembunuhan yang dilakuak Yoshua kepada Ilham. Beberapa diantara mereka ada yang marah dan hendak menyerang Ilham tapi Naga memberi kode untuk mereka tetap tenang dan menyerahkannya kepada dirinya....
“Kamu pasti melihat Vivi yang memberitahu kami semua tentang kamu yang telah membunuh Ilham benarkan?” tanya Naga sambil menatap Yoshua dingin.
“Maafkan aku, tapi aku harus berkuliah.” kata Yoshua sambil menangis penuh penyesalan.
“Ini semua gara - gara Vivi!” kata Yoshua yang tiba - tiba menjadi marah.
“Kamu benar - benar harus mati disini Yoshua!” kata Naga dingin.
“Tidak Naga!” pinta Jihan yang langsung menghentikan langkah Naga dan membuat Naga melihat ke arah Jihan.
... Naga menjelaskan bahwa psikologi Yoshua sedang terganggu akibat dirinya tidak bisa menerima kenyataan tentang seleksi ujian masuk perguruan tinggi. Jika mereka membiarkannya ataupun meninggalkannya halusinasi yang ada di kepalanya akan menguasai dirinya membahayakan semua orang yang berada di sekitarnya. Yoshua bisa ditolong dengan membawanya ke rumah sakit jiwa tapi kondisi saat ini tidak mendukung untuk melakukan hal itu....
“Kalian dengar sendiri dari Yoshua bahwa dirinya melihat Vivi memberitahu kita semua jika Yoshua telah membunuh Ilham. Faktanya Vivi tidak mengatakan apapun kepada kita, tapi halusinasinya telah menguasai pikirannya dan itu akan membahayakan semua orang yang ada di sekitarnya.” jelas Naga sambil melihat ke arah teman - temannya.
“Biar aku yang melakukannya!” pinta Raka kesal yang langsung mengambil senjata api miliknya lalu berjalan ke depan kelas.
“Hentikan! Jangan kotori tanganmu!” pinta Naga sambil memegang laras senapan yang dibawa oleh Raka.
__ADS_1
... Tiba - tiba Yoshua langsung bangkit sambil mengambil sebuah gunting yang ada di sampingnya berusaha untuk menusuk Naga. Dengan santai Naga menangkap tangan kanan Yoshua lalu menusukan gunting yang dia pegang ke pinggang kanan Yoshua. Kemudian Naga mengambil belati miliknya dan langsung menusukannya ke dada Yoshua sambil menekan tubuh Yoshua hingga menempel ke salah satu dinding....
“Aku menusuk belatiku tepat di aortamu, jika ditarik kamu akan berdarah dan mati. Anggap saja ini penghormatan terakhirku kepadamu karena kamu salah satu teman sekelasku karena jika bukan aku akan membunuhmu dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya.” kata Naga sambil menekan belati miliknya hingga membuat Yoshua kesakitan tanpa bisa bersuara sedikitpun.
... Melihat hal itu membuat siswi pleton 2 mulai menangis tidak percaya atas yang dilakukan oleh Yoshua tapi juga terpaksa menyetujui yang dikatakan oleh Naga karena mereka menyaksikan langsung Yoshua yang berusaha membunuh Naga dengan menembakinya. Ingatan Vivi juga langsung pulih dan menambahkan bahwa Yoshua berhalusinasi hingga mencoba menyerang dirinya yang membuat dirinya jatuh pingsan. Setelah membunuh Yoshua, Naga lansung mengambil kantung tidur milik Yoshua untuk membungkus jasad Yoshua sebelum di makamkan....
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Raka sambil melihat ke arah Naga.
“Meskipun dia telah membunuh Ilham bukan berarti kita boleh memperlakukan mayatnya dengan seenaknya.” jawab Naga sambil menatap Raka.
... Mendengar hal itu Diki dan Kevin saling bertukar pandangan lalu maju ke depan untuk membantu Naga membungkus jasad Yoshua. Meskipun terpaksa semua siswa pleton 2 pergi menguburkan jasad Yoshua di halaman sekolah tempat mereka beristirahat saat ini. Setelah selesai Naga dan Diki bertugas untuk berjaga di depan kelas 12-2 tempat mereka beristirahat dan tengah malam giliran Jonathan dan Julian yang bertugas untuk berjaga....
... Semua siswa pleton 2 tidur berbaring setelah meja dan kursi di ruang kelas 12-2 ditumpuk di masing - masing sisi kelas. Para siswa tidur di sisi kanan sedangkan para siswi tidur di sisi kiri, tapi Naga tidur di sisi kiri dekat pintu depan kelas tersebut sambil duduk dan memegang belati miliknya. Ketika jam 3 dinihari Nara yang terbangun melihat Naga tidur dalam kondisi duduk yang membuat dirinya berpikir untuk menyelimuti tubuh Naga dengan selimut miliknya yang lain....
“Kamu tidak apa - apa Nara?” tanya Naga lemah lembut.
“Apa yang terjadi?” tanya Jihan sambil melihat ke arah Naga dan Nara.
“Maaf aku hanya terkejut.” jawab Naga sambil melihat teman - temannya.
“Naga percayalah tidak ada satupun dari kami yang berusaha menyakit Nara.” kata Jonathan yang mengerti keadaan Naga dan membuat semua orang terkejut mendengarnya sambil melihat ke arah Naga dan Nara.
__ADS_1
“Ah tentu aku mempercayai kalian.” jawab Naga canggung.
“Apa maksudnya?” tanya Rani keheranan.
“Beberapa hari terakhir aku suka melihat Naga tertidur sambil duduk di dekat asrama wanita sambil memegang belati. Pada awalnya aku tidak berpikir macam - macam, tapi setelah tahu bahwa Naga adalah keluarga Gensai generasi ketiga aku mengerti bahwa Naga akan tertidur dalam keadaan siap siaga karena ada seseorang yang ingin dia lindungi.” jelas Jonathan yang membuat Naga tertunduk malu.
“Woooo!” kata semua siswa pleton 2 kompak dengan penuh senyuman termasuk Nara.
... Melihat senyuman Nara kala Nara memandang Naga membuat Kevin semakin yakin orang yang disukai Nara waktu akan menjawab perasaan Charlie adalah Naga. Tidak lama setelah itu semua siswa pleton 2 kembali tertidur dengan pulas hingga pagi hari. Sebelum mereka pergi melanjutkan perjalanan ke Jakarta mereka kembali ke tepi pantai ketika mereka menolong Vivi dan meminta Naga menunjukan jejak yang dia lihat saat Yoshua membunuh Ilham....
... Seperti yang disampaikan oleh Naga jasad Ilham ditemukan di laut tidak jauh dari pantai dengan beberapa batu di dalam bajunya sebagai pemberat. Melihat hal itu sontak para siswa pleton 2 langsung menangis meratapi kepergian Ilham termasuk Raka sahabat terdekat Ilham. Mereka semua langsung membungkus jasad Ilham dan menguburkannya tidak jauh dari area pantai tempat Ilham ditemukan....
... Setelah menguburkan jasad Ilham semua siswa pleton 2 kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan mereka semua hanya terdiam masih tidak percaya bahwa Yoshua tega membunuh Ilham karena Ilham tahu bahwa Yoshua melecehkan Vivi yang sedang pingsan. Dua jam berlalu mereka melihat sebuah markas militer yang membuat mereka saling bertukar pandangan dengan penuh senyum bahagia....
... Mereka semua berjalan menuju pangkalan militer tersebut dengan penuh semangat. Setibanya mereka di pangkalan tersebut Jihan dan Julian langsung melaporkan kedatangan pleton 2 ke komandan batalion satu yang membuat pleton 2 bisa beristirahat di markas militer tersebut. Semua siswa pleton 2 langsung bersantai di kasur pilihan mereka masing - masing dalam satu tenda khusus pleton mereka seperti kala mereka di pangkalan militer pertama kali....
...Pada sore hari Jihan dipanggil oleh komandan batalion satu untuk segera menghadap kepadanya. Naga yang menyampaikan pesan tersebut akhrinya menemani Jihan untuk menghadap sang komandan batalion satu. Sesuai dengan permintaan pleton 2 sang komandan batalion satu akan membebas tugaskan pleton 2 dari operasi pembersihan dan memulangkan pleton 2 kepada orang tua mereka masing - masing....
“Benarkah? Besok kita akan pulang ke orang tua kita masing - masing?” kata Sarah sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
“Iya betul, aku sudah menanda tanganinya.” jawab Jihan yang tersenyum lega sambil melihat semua teman - temannya.
__ADS_1
“Akhirnya kita bisa pulang juga.” kata Raka sambil tersenyum lega.