
... Setelah komandan PLK UI datang ke ruang kerja profesor Rio, Leta Karen dan dua orang detektif dari POLRI menjelaskan hipotesis serta dugaan mereka sebelum PLK UI bekerja sama dengan mereka. Setelah selesai komandan PLK UI meminta lima belas anggota PLK UI untuk berkumpul di FISIP untuk melaksanakan tugas darurat. Tidak lama kemudian PLK UI dan dua orang detektif langsung pergi sesuai dengan tugas jaga mereka masing - masing yang dibentuk enak kelompok kecil berisikan tiga orang....
... Kelompok pertama berjaga di jalan menuju stasiun UI dari pertigaan FIB (Fakultas Ilmu Budaya) dan FISIP UI. Kelompok kedua berjaga di daerah kukusan teknik, kelompok ketiga berjaga di jalan antara halte Vokasi UI dan gedung Vokasi UI, kelomopk keempat berjaga di jalan setapak antara halte Teknik UI dan halte Vokasi UI. Kelompok lima berjaga di jalanan menuju rektorat UI dari FIB UI yang biasanya memang jalanan sepi sementara dua detektif bersama komandan PLK berjaga di jalanan dari Rektorat UI menuju Balairung UI....
“Ada apa Naga?” tanya Leta Karen penasaran ketika melihat Naga yang gugup tidak seperti biasanya.
“Apakah ada jalan antara kukusan Teknik dan kukusan Kelurahan di luar area kampus?” tanya Naga memastikan yang tiba - tiba ingat sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
“Ada, itu merupakan area rumah kost yang biasa digunakan oleh mahasiswa UI juga.” jawab Leta Karen yang langsung menyadari maksud pertanyaan Naga.
“Jalanan itu bukan tanggung jawab PLK UI lagi.” kata Naga yang langsung berlari mencari Nara diikuti oleh Leta Karen dan profesor Rio.
“Nara!” panggil Naga terburu - buru yang membuat Nara langsung menatap Naga dengan sigap penuh perhatian.
“Apa kamu masih ada kelas lagi?” tanya Naga memastikan.
“Tidak ada Naga, apa yang bisa aku bantu?” tanya Nara sigap.
“Tolong tetap bersama profesor Leta dan profesor Rio serta pastikan handphone kamu tetap standby, aku akan segera menghubungimu!” pinta Naga lemah lembut sambil menatap Nara.
“Aku mengerti Naga.” jawab Nara sambil mengangguk paham.
“Apa kamu perlu tim PLK Naga?” tanya Leta Karen memastikan.
__ADS_1
“Tidak biar aku sendiri yang mengurusnya!” jawab Naga penuh percaya diri.
“Nyawa manusia bukanlah mainan yang bisa dengan seenaknya dijadikan mahkota untuk seseorang!” kata Naga dingin sambil melihat se arah dengan kukusan Teknik.
“Naga!” panggil Nara yang menghentikan langkah Naga.
“Kendalikan dirimu, jangan biarkan usaha kak Yuri sia - sia!” pinta Nara sambil menatap Naga penuh kasih sayang yang membuat Leta Karen terkejut dan langsung melihat ke arah Nara.
“Aku mengerti Nara.” jawab Naga penuh percaya diri dan langsung berlari ke arah kukusan Teknik ditengah hujan deras.
... Di kukusan Teknik menuju arah kukusan kelurahan ada seorang mahasiswi yang sedang berjalan pulang menuju rumah kostnya dan berpapasan dengan seorang pria. Pria tersebut berjalan biasa saja dan tidak tampak mencurigakan sehingga sang mahasiswi berjalan pulang dengan tenang tanpa rasa waspada sedikitpun. Tiba - tiba pria tersebut melemparkan payungnya dan berganti menggunakan jas hujan lalu berlari ke arah sang mahasiswi yang baru saja dia lewati....
... Ketika mahasiswi tersebut menengok ke arah belakang karena ada suara orang berlari sang pria tersebut langsung memukul kepala mahasiswi dengan kunci inggris yang membuat mahasiswi tersebut terjatuh sambil mengerang kesakitan. Sang pria langsung menarik rambut mahasiswi tersebut lalu menyeretnya ke tampat yang dia inginkan untuk membunuhnya. Setibanya di tempat yang pelaku inginkan, pelaku langsung menyimpang kunci inggris yang dia pegang dibalik jas hujan yang dikenakan sambil mengeluarkan sebuah pisau yang telah dimodifikasi....
“Jika aku ingin mengampunimu aku tidak akan memukulmu!” jawab sang pelaku datar sambil menatap sang mahasiswi dingin.
... Ketika pelaku hendak menusukan pisau yang dia bawa ke tubuh sang mahasiswi Naga langsung datang menendang sang pelaku hingga membuat pelaku terpental cukup jauh dan terpaksa melepaskan pisau yang dia bawa. Naga langsung mengangkat tubuh pelaku dengan menarik kerah bajunya dan langsung menghajar wajah sang pelaku beberapa kali hingga tidak berdaya. Terakhir Naga mematahkan empat jari selain jempol di tangan kanannya lalu menginjak pergelangan kaki kanannya hingga bergeser yang membuat sang pelaku menjerit kesakitan....
“Naga!” panggil Nara ketika Naga menelpon Nara.
“Tolong berikan kepada profesor Leta!” pinta Naga dingin yang membuat Nara langsung memberikan handphone miliknya kepada profesor Leta.
... Naga meminta profesor Leta untuk memanggil kedua detektif beserta PLK untuk mengamankan pelaku dan membawanya ke kantor polisi. Naga juga meminta satu unit ambulan dikirimkan ke kukusan Teknik karena ada mahasiswi yang membutuhkan pertolongan dengan segera. Mendengar hal tersebut Leta Karen dan profesor Rio langsung membagi tugas dimana Leta Karen menghubungi Hasan beserta komandan PLK UI sedangkan profesor Rio menghubungi rumah sakit UI untuk segera mengirimkan ambulan ke kukusan Teknik....
__ADS_1
... Setelah sang pelaku dibawa ke kantor polisi dan sang mahasiswi dibawa ke rumah sakit UI, Naga langsung kembali ke FISIP dengan keadaan basah kuyup. Naga berganti baju dengan pakaian formal yang selalu siap sedia di mobilnya sebelum bertemu kembali dengan Nara. Nara langsung memeluk Naga dengan penuh kehangatan ketika Naga kembali sambil memastikan keadaan Naga baik - baik saja tidak terluka sama sekali....
“Prof Leta apa kamu akan pergi ke kantor polisi?” tanya Naga memastikan sambil melihat ke arah Leta Karen.
“Iya Naga.” jawab Leta Karen sambil menatap Naga bangga.
“Tolong minta pelaku di interogasi oleh perwira tinggi sambil tunjukan bahwa polisi selama ini sudah mengetahui tentang pelaku dan pemberitaan di media yang menyatakan bahwa pelaku terdiri lebih dari tiga orang merupakan umpan agar pelaku lengah!” pinta Naga sambil melihat ke arah Leta Karen dengan penuh hormat.
“Aku mengerti Naga.” jawab Leta Karen sambil mengangguk paham.
... Setelah Leta Karen pergi bersama profesor Rio ke kantor polisi untuk melihat proses interogasi sang pelaku Naga langsung pergi menghabiskan waktu bersama Nara sebelum mengantarkan Nara pulang. Nara mengajak Naga untuk makan yang hangat - hangat agar Naga tidak demam setelah hujan - hujanan tapi bagi Naga menghabiskan waktu bersama Nara sudah lebih dari cukup untuk memberikannya kehangatan. Malam itiu juga Naga menceritakan tentang pelaku pembunuh berantai mulai dari awal Naga memeriksa kasus tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk membantu pihak kepolisian....
... Satu Minggu kemudian Naga pergi bersama Leta Karen untuk menemui pelaku pembunuhan berantai di penjara Nusa Kambangan sebelum dia dieksekusi mati berdasarkan keputusan hakim saat persidangan. Semua dugaan Naga ketika menangkap pelaku benar adanya sehingga proses interogasi berjalan lancar karena Leta menyampaikan apa yang diminta Naga kepada pihak kepolisian. Pelaku juga mengakui semua kejahatannya meskipun tidak ada raut penyesalan diwajahnya termasuk ketika sedang berada di dalam pengadilan....
“Aku tahu siapa dirimu! Kamu salah satu ahli psikologi terbaik negeri ini bukan profesor Leta?” kata pelaku yang tersenyum penuh percaya diri sambil menatap Leta Karen yang duduk dihadapannya.
“Dan kamu polisi yang membuatku seperti ini!” lanjut pelaku sambil melihat ke arah Naga kesal menunjukan telapak tangan dan pergelangan kaki kanan yang ditutupi gips.
“Kedatanganmu kesini untuk memeriksa psikologiku bukan? Negara ini belum pernah bertemu dengan pembunuh sepertiku bukan?” tanya pelaku sambil tersenyum penuh kemenangan menatap Leta Karen.
“Tidak, karena aku pernah bertemu dan berbicara dengan seseorang yang membunuh manusia jauh lebih banyak daripada wabah penyakit paling mematikan sepanjang sejarah manusia dalam satu malam.” jawab Leta Karen sambil tersenyum ramah yang membuat sang pelaku terkejut dan langsung duduk menyandarkan punggungnya.
“Kedatanganku karena aku penasaran kenapa orang pengecut sepertimu harus repot - repot membunuh untuk mengumpulkan darah manusia? Seberapa banyakpun kamu membunuh kamu tidak akan pernah diakui oleh pihak manapun terlebih yang kamu lakukan hanyalah sebuah tindakan pengecut semata!” lanjut Leta Karen sambil menatap pelaku dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
“Tidak! Aku bukan seorang pengecut!” teriak pelaku yang menatap Leta Karen kesal sambil mengepalkan tangannya.