
... Pleton 2 berhasil memusnahkan semua bola alien yang terdapat di area tersebut dan tidak lama kemudian Lintang meminta semuanya untuk berkumpul kembali. Nara yang hendak turun dari posnya melihat Naga di salah satu atap rumah sedang melakukan pendinginan sambil memegang belati yang dibawanya dengan penuh keringat. Melihat teman - temannya sedang berjalan hendak berkumpul Naga bergegas turun dari atap tempat dia berdiri, begitupun dengan Nara yang langsung turun dan berjalan menghampiri Naga....
“Naga, apa kamu menyukai kegiatan outdoor?” tanya Nara penasaran.
“Eh?” kata Naga yang terkejut mendengar pertanya tiba - tiba dari Nara yang muncul dari belakangnya sambil melihat ke arah Nara dan terus berjalan bersama Nara menuju teman - temannya yang lain.
“Kemampuan parkur milikmu bukan kemampuan seorang amatir.” jawab Nara sambil tersenyum menatap Naga.
“Ah, iya aku menyukai banyak kegiatan outdoor dan parkur adalah salah satunya.” jawab Naga ramah sambil terus berjalan di samping Nara.
“Selama di sekolah kamu tidak banyak berbicara, tapi ketika mendengar perkataanmu kepada Yoshua saat kita hendak menjemput teman - teman dari truk 1 hingga melihat aksimu hari ini. Kamu menyadarkan aku bahwa kita tidak boleh menilai orang dari luarnya saja.” kata Nara sambil tersenyum ramah menatap Naga.
“Aku hanya menjaga lisanku selama di sekolah karena terkadang ucapan kita lebih tajam daripada pedang.” jawab Naga sambil tersenyum ramah menatap Nara.
“Aku mengerti.” jawab Nara sambil mengangguk paham.
“Naga apa kamu sudah gila membunuh para bola alien dengan belati?” tanya Ilham sambil menatap Naga kagum ketika Naga dan Nara baru tiba di hadapan teman - teman yang lain.
__ADS_1
“Lebih menyenangkan membunuh mereka dengan belati karena mereka berpikir bisa membunuhku dengan tentakel mereka tanpa mengetahui bahwa aku bisa lebih dulu membunuh mereka sebelum mereka menyerang.” jawab Naga yang tersenyum santai sambil memperlihatkan belati yang dia bawa lalu memasukannya ke dalam sarung belati di belakang pinggangnya sendiri.
... Rupanya pleton 2 berhasil menemukan 3 orang penyintas dari pasukan cadangan siswa SMA lain teman - teman dari mayat yang bergelimpangan di area tersebut. Tiba - tiba salah satu penyintas berteriak histeris meminta untuk tidak menginjak teman - temannya yang sudah mati hingga akhirnya jatuh pingsan. Kevin yang berada di dekat penyintas histeris tersebut dengan sigap menangkap penyintas tersebut dengan kedua tangannya....
... Pleton 2 langsung pergi ke area penampungan di kota tersebut yang menjadi tujuan mereka bersama para penyintas. Jihan dan Jonathan langsung memastikan area penampuangan tersebut bebas dari para bola alien dengan detektor bola alien yang mereka pegang. Setelah terkonfirmasi aman mereka semua langsung masuk dan memeriksa area penampuangan dengan seksama dan tetap bersikap waspada....
... Mereka semua hanya menemukan mayat yang bergelimpangan dan barang - barang yang berserakan di area penampungan tersebut. Melihat hal itu tidak sedikit dari siswa pleton 2 yang mulai mencemaskan keadaan keluarga mereka di luar sana. Setelah memeriksa area penampungan dengan seksama semua siswa pleton 2 saling bahu membahu mempersiapkan area tersebut sebagai markas sementara untuk mereka dalam menjalankan operasi pembersihan....
“Naga apa kamu sudah minum?” tanya Nara ramah sambil memberikan botol minumnya kepada Naga yang membuat Naga langsung menatap Nara.
“Aku sudah minum Nara, terima kasih.” jawab Naga sambil tersenyum ramah menatap Nara yang dijawab anggukan penuh senyuman oleh Nara.
... Sang penyintas histeris langsung melihat ke arah Lintang dengan tatapan tajam ketika Lintang pergi meninggalkan ruangan. Naga yang merasakan hal itu langsung melihat dan memperhatikan sang penyintas histeris karena menyadari akan hal buruk yang mungkin terjadi akibat penyintas tersebut. Setelah pleton 2 beristirahat sejenak, mereka semua bahu membahu membawa para pasukan cadangan siswa untuk di data dan diberikan tempat peristirahatan yang layak....
... Tidak sedikit siswa pleton 2 yang meneteskan air mata kala sedang mengkafani para pasukan cadangan siswa yang telah gugur sambil membayangkan bagaimana jika mereka berada di posisi para peyintas. Lintang dan Bima mulai menyadari bahwa penampungan posisi mereka saat ini seperti mendapatkan serangan kejutan dari para bola alien. Mereka memikirkan beberapa kemungkinan yang terjadi hingga penampungan ini bisa di serang oleh para bola kala sepanjang perjalanan mereka tidak menemukan jejak bola yang jatuh di sekitar area penampungan....
... Lintang dan Bima mempertanyakan bagaimana mungkin para bola mengetahui hingga memutuskan untuk menyerang penampungan yang penuh dengan manusia. Menyadari bahwa kondisi mereka mungkin tidak aman Lintang menugaskan beberapa siswa 2 untuk mengawasi perimeter dari atap penampungan secara bergantian. Kala hari mulai gelap mereka semua makan bersama dengan ransum militer yang mereka bawa tapi penyintas yang histeris tiba - tiba bangkit dan pergi meninggalkan yang lainnya....
__ADS_1
... Jihan yang melihat hal itu langsung mengikuti sang penyintas histeris hingga dia menemukan bahwa sang penyintas histeris memegang senapan yang langsung diarahkan ke kepalanya sendiri. Jihan menyadari bahwa sang penyintas histeris berusaha bunuh dari sambil menceritakan alasannya untuk bunuh diri kepada Jihan. Setelah mendengar cerita sang penyintas histeris, Jihan berusaha membujuknya agar tidak bunuh diri dengan penuh kelembutan....
“Itu bukan salahmu, aku juga sama ketika teman - temanku mati aku malah sibuk untuk melarikan diri. Tolong letakan senapannya!” pinta Jihan lemah lembut sambil menatap sang penyintas histeris dengan mata berkaca - kaca.
... Ketika sang penyintas histeris hendak meletakan senapan yang dia pegang tiba - tiba Lintang datang dan membuat sang penyintas langsung mengarahkan senapannya ke arah Lintang. Lintang berusaha membujuk sang penyintas histeris agar tenang dan tidak perlu takut lagi karena dirinya akan melindunginya. Namun tiba - tiba sang penyintas histeris kembali menceritakan pengalamannya dengan komandannya dan tiba - tiba menembakan senjata ke arah Lintang....
... Naga yang sejak tadi mengawasi sang penyintas histeris sudah berada di balik rak buku tempat sang penyintas mengobrol dengan Lintang dan Jihan. Ketika sang penyintas histeris menembakan senapannya ke arah Jihan dengan sigap Naga menangkis tembakan tersebut menggunakan belati yang dia bawa. Suara tembakan tersebut membuat semua siswa yang sedang makan malam, beristirahat, dan berjaga langsung pergi ke arah sumber suara....
... Sang penyintas yang mengira telah membunuh Lintang langsung meletakan senjatanya di lantai. Semua siswa terkejut melihat sang penyintas histeris baru saja menembakan senjata ke arah Lintang. Namun sang penyintas histeris kembali menunjukan gejalan traumanya hingga terduduk sambil menangis dan meracau tidak jelas yang membuat semua siswa menjadi iba melihat sang penyintas histeris....
... Naga langsung mengamankan senapan yang digunakan sang penyintas histeris untuk menembak dengan penuh ketenangan. Setelah kejadian tersebut para siswa kembali ke tempat tidur mereka yang telah mereka siapkan sebelumnya di area penampungan tersebut. Sementara Lintang berusaha melaporkan kejadian tersebut ke markas tapi alat komunikasi yang mereka bawa sedang dalam gangguan....
... Melihat kejadian tersebut para siswi pleton 2 mulai memahami dampak perang yang mungkin akan mereka terima setelah apapun yang mereka alami. Tidak lama kemudian Jihan datang dan memberitahu semua siswa untuk berkumpul karena Lintang ingin mereka semua berkumpul. Lintang memberi tahu semua siswa bahwa besok setelah matahari terbik mereka akan mundur dan kembali ke markas setelah mempertimbangkan berbagai macam situasi dan kondisi mereka saat ini....
“Memangnya bisa? Bagaimana dengan misinya?” tanya Rani memastikan.
“Aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian disini, terlebih kita tidak tahu ada berapa banyak bola alien diluar sana dan komunikasi ke markas juga sedang dalam gangguan. Jika mereka menyerang secara bersama seperti mereka menyerang penampungan ini besar kemungkinan kita tidak mampu menghadapinya.” jawab Lintang ramah sambil melihat seluruh siswa yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
“Para penjaga harus tetap waspada dan sisanya harus segera tidur karena kita akan berangkat tepat saat matahari mulai bersinar, itu saja!” intruksi Lintang tegas lalu pergi meninggalkan para siswa.