
... Keesokan paginya semua siswa pleton 2 sarapan bersama dengan wajah penuh senyum kebahagiaan menatap satu sama lain kecuali Naga. Mereka menikmati sarapan sambil mengobrol santai serta bercanda hingga membuat suasana sarapan begitu hangat dan ceria. Nara yang sejak tadi melihat teman - teman laki - laki pleton 2 tidak kunjung melihat Naga....
“Kevin, Naga kemana?” tanya Nara penasaran.
“Sejak aku bangun aku belum melihat Naga, aku pikir akan bertemu saat sarapan tapi belum ketemu juga. Aku akan mencarinya setelah selesai sarapan.” jawab Julian sambil melihat ke arah Nara.
... Tiba - tiba Nara langsung berdiri cemas dan hendak pergi tapi di tahan oleh Jihan dengan memegang tangan kiri Nara. Nara menceritakan bahwa kemarin sore dirinya melihat Naga sedang mempersiapkan senjata api dengan unit lain dan Nara yakin Naga sudah berangkat kembali menuju medan perang. Jihan mengatakan bahwa Naga sudah di bebas tugaskan bersama dengan pleton 2 kemarin oleh komandan batalion satu sama seperti mereka....
... Namun Nara yakin itu hanya cara Naga agar bisa menyelamatkan teman - teman pleton 2 agar tidak terseret tanggung jawabnya sebagai keluarga Gensai. Mendengar ucapan Nara, Raka berpendapat bahwa itu hal yang wajar karena sejak awal Naga memang berencana kembali ke medan perang. Jihan berusaha membujuk Nara agar tetap bersama mereka karena Jihan yakin Naga juga menginginkan hal itu....
“Bagiku ini terasa seolah - olah aku mencampakan Naga dan aku tidak ingin mencampakan Naga dengan alasan apapun. Aku akan terus bersama Naga dalam situasi dan kondisi apapun karena aku tidak ingin kehilangan Naga.” kata Nara sambil melihat semua teman - temannya dengan penuh tekad.
“Aku akan ikut bersamamu Nara!” kata Resa yang langsung bangkit dari duduknya.
“Resa!” kata Hana yang berusaha mencegah Resa.
__ADS_1
“Sebelum kami pergi menjemput truk 1 tempo hari Naga pernah berkata jika meninggalkan teman - temanku tanpa kabar hanya untuk bisa tetap mengikuti ujian seleksi masuk perguruan tinggi, maka lebih baik aku tidak pernah berkuliah sama sekali. Ucapan Naga itu sangat membekas bagiku dan menyadarkan aku betapa pentingnya rasa kemanusiaan dan berharganya kalian semua untuk hidupku.” jawab Resa sambil melihat semua teman - temannya penuh percaya diri.
“Aku juga akan ikut bersama kalian!” kata Julian penuh tekad yang langsung berdiri diikuti oleh Jonathan, Teguh, Kevin, Diki, Jihan, Rani, Vivi, dan Deby.
“Aku tidak akan ikut kalian, aku ingin pulang.” kata Sarah sambil tertunduk.
“Benar menurutku Naga menginginkan kita semua pulang dengan selamat jadi aku tidak ingin mengecewakan Naga dengan kembali ke medan perang.” tambah Raka penuh percaya diri.
“Tidak apa, ini misi sukarela jika kalian memang ingin pulang itu tidak masalah.” jawab Jihan ramah sambil melihat teman - temannya yang masih terduduk.
“Mendengar Naga mengatakan bahwa setelah melalui semua ini teman - teman kelas 12-2 adalah keluarganya, aku sepakat dan aku tidak ingin kehilangan anggota keluargaku.” kata Yuna yang langsung ikut bangkit.
... Nara, Yuna, Julian, dan Jonathan bergiliran berusaha membujuk Lust agar membiarkan mereka pergi untuk membantu Naga tapi Lust tetap tidak bergeming dan meminta mereka tetap di markas batalion satu. Resa yang jengkel dengan Lust akhirnya berusaha melewati Lust dengan paksa tapi dengan cepat Lust memelintir tangan Resa ke belakang pinggang Resa sambil memegang leher Resa bagian depan. Lust berkata bahwa dirinya diizinkan untuk mengambil tindakan jika salah satu dari siswa pleton 2 memaksa pergi dari markas batalion satu oleh Naga....
“Aku tidak bisa diam saja disini sementara Naga berusaha memusnahkan para bola alien di luar sana demi semua orang. Peperangan ini membuatku takut tapi setiap kali bersama Naga ketakutanku hilang dan saat ini aku takut jika Naga mati. Saat ini bagiku Naga jauh lebih berarti dan aku ingin hidup bersama Naga karena aku sangat mencintainya. Jadi aku mohon biarkan kami pergi!” pinta Nara yang menangis tersendu - sendu sambil menatap Lust penuh harap.
__ADS_1
... Melihat Nara yang memohon kepadanya mengingatkan Lust pada masa lalunya kala ayahnya dibunuh tapi kasus tersebut di tutup dengan dalih bahwa ayahnya bunuh diri. Hal tersebut menghancurkan keluarganya hingga membuat ibunya jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Lust berjuang menuntut keadilan dengan memberikan bukti - bukti yang dia miliki tapi tidak ada satupun orang yang mempercayainya dan tidak ada yang peduli kepadanya....
... Lust memutuskan untuk melatih dirinya sendiri agar bisa membalaskan dendam ketidak adilan yang dia dapatkan. Namun sebelum berhasil membalaskan dendamnya Lust dijebak hingga menjadi kambing hitam dari kejahatan yang tidak pernah dia lakukan dan membuat dirinya dipenjara atas kasus tersebut. Naga yang mengetahui hal tersebut setelah Lust mendekam di penjara dan tertarik dengan kemampuan Lust mengunjungi Lust unutk memberikan tawaran....
... Naga berhasil menguak ketidak adilan yang dialami Lust beserta keluarganya dan membuat Lust akhirnya terbebas dari penjara. Setelah itu Lust memutuskan untuk menerima tawaran Naga dan bergabung dengan klan Gensai yang tidak lama kemudian Naga meminta dirinya menjadi salah satu pengawal pribadinya. Sejak saat itu Lust berkomitmen untuk melayani Naga dengan sepenuh hidupnya dan Naga memperlakukan Lust selayaknya keluarga hingga membuat Lust sangat bahagia....
“Kalian tidak bisa membantu Naga tanpa senjata dan batalion satu tidak akan memberikan apa yang kalian butuhkan. Persiapkanlah diri kalian semua dalam satu jam dan serahkan perlengkapan yang kalian butuhkan kepadaku. Dengan kecepatan Naga beserta 6 pengawal pribadi lainnya Naga akan tiba di markas batalion dua malam hari dan akan menjalankan misi keesokan harinya. Jika kita pergi satu jam dari sekarang aku yakin kita bisa bertemu Naga keesokan paginya sebelum Naga menjalankan misi.” kata Lust tegas dan langsung meninggalkan kantin batalion satu.
... Mendengar hal itu Nara, Resa, Julian, Jonathan, Teguh, Kevin, Diki, Jihan, Rani, Deby, Vivi, dan Yuna langsung pergi ke tenda pleton 2 untuk mempersiapkan barang - barang mereka masing - masing. Satu jam kemudian Lust datang ke tenda pleton 2 dan meminta siswa pleton 2 yang ingin membantu Naga untuk ikut bersamanya. Lust meminta mereka membawa senapan serta membawa beberapa megazine yang mereka butuhkan ketika tiba di ruang senjata atas nama klan Gensai di markas batalion satu....
... Setelah semuanya siap Lust bersama para siswa pleton 2 langsung pergi menuju markas batalion dua untuk menyusul Naga dan 6 pengawal pribadinya. Pada awalnya semua siswa pleton 2 yang pergi hendak membantu Naga berjalan mengikuti Lust tanpa bersuara sama sekali. Sesekali mereka hanya saling bertukar pandang satu sama lain tanpa berani berkata apapun termasuk ketika mereka butuh beristirahat....
“Terima kasih karena telah membantu kami untuk bisa pergi menyusul Naga.” kata Nara yang mendekati Lust dari samping sambil melihat ke arah Lust.
“Melihat dirimu memohon kepadaku mengingatkanku ketika aku kesulitan hingga akhirnya Naga membantuku dan memperlakukanku selayaknya keluarga. Aku mengerti perasaanmu dan aku juga mengerti kenapa Naga ingin aku mencegah kalian pergi dari markas batalion satu.” jawab Lust yang melihat Nara sambil tersenyum.
__ADS_1
“Apa kalian kelelahan? Kenapa kalian tidak bilang?” tanya Lust ketika melihat beberapa siswa pleton 2 yang berjalan perlahan.
“Mari kita beristirahat dulu!” ajak Lust yang membuat semuanya langsung terduduk untuk beristirahat dengan lega.