Kesucianku Hilang Di Malam Tahun Baru

Kesucianku Hilang Di Malam Tahun Baru
BAB 1


__ADS_3

"Tolong.. Ku mohon jangan lakukan ini" isak ku semakin pilu, namun pria itu semakin menjadi


"Aku mohon jangan lakukan ini" jeritku yg terakhir kalinya. Pada akhirnya pria itu benar-benar sudah hilang kendali karena meminum minuman haram itu.


Pada akhirnya hanya deraian air mata yg membawa ku kedalam kehidupan menderita yg sesungguhnya setelah pria yg sama sekali tak ku kenali itu merenggut hal paling berharga yg ku miliki. Pria itu merampas dengan tega seolah sesuatu yg tak bernama.


Bajingan memang, bahkan kata bajingan terlalu bagus untuk dirinya


Ia anggap sesuatu yg tak berarti merampas dengan keji hingga meninggalkan luka yg amat pedih.


Setelah itu ia pergi, tak peduli semakin membuat sakit hati. Tapi percayalah ada dendam yg menanti siap di balaskan.


Dengan derain air mata segera mengenakan pakain lalu pergi dari tempat laknat ini secara dalam diam, semoga tak ada yg melihatnya.


.


"Akh .. Aku mohon jangan lakukan ini"


Dengan nafas memburu aku terbangun dari mimpi yg terasa nyata namun kenyataan nya memang sesuatu yg nyata seolah bayang bayangan itu terus menggangu ku masuk kedalam mimpi.


Dengan sekejap air mata telah membasahi aku benar benar telah depresi. Gegas ku ambil segelas air putih di atas meja nakas.


Mimpi nyata itu kembaki menghantui ku lagi mengingatkan kejadian malam itu berhasil mengoyak rongga d4d4 memberikan sakit yg tak ada taranya.


Malam tahun baru, tiga kata itu berhasil membuat dunia ku serasa runtuh mengingat peristiwa keji malam itu.

__ADS_1


"Nduk ada apa?" kulihat wajah teduh ibu masuk lalu duduk disampingku


"Coba jujur sama ibu, belakangan ini kau sepertinya sangat sters, ada apa?" tanya ibu lembut dengan mengusap punggungku.


Sekuat tenaga menahan isak tangis namun air mata sudah dari tadi turunya. Untunglah ruangan ini minim cahaya, membuat ibu tak bisa melihatku sedang menangis.


"Ngak ada apa-apa buk.. Mungkin kecapean kali" jawabku pelan menahan isak tangis agar tak keluar, setidaknya aku harus kuat didepan ibu. Meski dibelakangnya tak ubah dari kayu yg lapuk ratusan tahun siap untuk roboh. Yah aku serapuh itu.


"Yasudah sana wudhu dulu sholat tahajud.. Ibu keluar dulu, belum siap cerita sama ibu setidaknya mengadu pada sang pencipta" ibu pun keluar seolah paham apa yg dirasakan oleh putrinya.


Maaf bu, ini terlalu sakit untuk digambarkan dengan kata-kata.


Secuil penyesalan tiba-tiba datang ketika ibu melarang ku untuk tidak datang malam tahun baru itu bersama Selina temen ku, namun nasi telah menjadi bubur.


Tiba sampai disana Selina meninggalkan ku entah kemana. Aku yg tak tau seluk bekuk pantai dermaga itu tentu membuat pikiran ku buntu.


Sampai akhirnya seorang pria muda mungkin sebaya mengajak ku duduk didepan bangku warung yg sudah tutup.


Awalnya hanya berbicara saja, pun banyak muda mudi berpacaran bercanda tawa. Namun pria itu terus memerikanku minuman namun aku menolak dengan halus sedangakan dia terus meminumnya.


Hingga suasana berubah ketika angka jam menunjukkan 02.12 keadaan mulai sepi bahkan para dua sejoli terang terangan mereka bercium4n tanpa rasa malu padahal aku tau mereka bukan muhrim.


"Kok masih diam, ayo wudhu sana" ucap ibu tiba-tiba datang membuyarkan lamunanku.


Melengkahkan kaki ke kamar mandi lalu memutar kran hingga mereka berlomba lomba ingin keluar.

__ADS_1


Disana aku menumpahkan tangis sejadi jadinya, menjambak rambut dengan kasar hingga rontok beberapa helai di tanganku.


Bohong, jika mereka mengatakan menangis bisa mengurangi sesak didada, nyatannya sesak didada ku semakin mengila.


Sampai akhirnya aku kembali ke kamar memasukkan diri kedalam selimut, rasanya lelah jika hanya bersimpuh diatas sajadah seperti dulu yg kulakukan namun hidup semakin menderita.


Kitab suci itu pun masih rapi seolah tak tersentuh beberapa hari, benernya memang gitu aku sudah malas membaca dan mengamalkannya hidupku terlanjur tak punya arah.


Biarlah kotor berdebu sebab tak tersapu rasanya diriku terlanjur kotor. Jika pun aku kembali bersujud mengamalkan kitab itu siang dan malam apa bisa mengubah malam itu. Malam tahun baru merengut masa depanku.


Memejamkan mata namun tak lama mimpi itu kembali datang. Membuatku menangis tak bersuara untunglah jarak kamarku dan ibu cukup jauh. Hingga akhirnya pandanganku menangkap benda diatas nakas. Sepertinya seru menggunting leher ku dengan itu. Jika pun aku mati, balas dendam dulu baru aku kembali kealam ku.


Aku tertawa hampar.. Peristiwa itu memang telah membuat akal sehatku hilang bahkan menyedihkan menjauhi sang pencipta.


Aku memang bukan anak paham agama tetapi malam itu aku masih mengenakan jilbab tapi mengapa pria itu semakin tertarik.


Namun apa diriku yg terlanjur kotor sekotor kotornya, kurasa semesta selalu tak adil untuk ku


Dari kecil hidup tanpa kasih sayang seorang ayah, bekerja menghidupi sekolah dan makan. Setelah keduanya aku dan ibu mampu tapi kenapa masalah kembali datang tanpa ku tahu jalan keluarnya.


Mencoba menepis wajah teduh ibu, aku terlanjur malu pada bidadari tak bersayap ku. Mengakhiri hidup adalah jalan terbaik bagiku.


Selamat tinggal rasa sakit dan malu...


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2