
.....
"Ingin mengunjungi tahanan bernama Selina Anatasya" Ucap ku pada Polwan hijab berwajah tegas dan cantik itu.
"Baik. Silahkan duduk dulu di ruang tunggu"
Aku mengganguk sebagai jawaban. Polwan itu pun berlalu pergi meninggalkan aku sendiri disini hanya ada satu dua orang berbaju coklat kebanggaan mereka itu, sibuk berlalu lalang.
Tak lama Orang yang ku tunggu datang. Bisa ku lihat gurat tak percaya di wajah Sahabat lama ku itu. Kini wajah itu terlihat tak bercahaya seperti tak ada lagi garis kehidupan disana.
"Kenapa kami jengukin aku Nin" tanya nya setelah berada di depan meja duduk di atas kursi berseberangan dengan ku.
"Assalamualaikum" jawab ku lebih dulu.
"W-aalaikumsalam" Ucap nya tersenyum getir.
Disini lah kami menumpahkan segala rasa yang tependam . bahkan berkali kali ia memintaa maaf pada ku, aku yang memang tak tau di mana letak besar kesalahan nya hanya bisa diam dan memberanikan diri untuk bertanya
Aku siap menunggu jawaban nya ketika ia mulai membuka suara. Namun hanya beberapa kata yang terucap tak bisa di lanjutkan.
"Sudah Sel.. Jangan di lanjutkan lagi." Potong ku kemudian.
Lalu memberinya kue kesukaan Selina dan kerudung sempat ku beli tadi.
Ada haru di balik mata coklat itu, Aku tahu juga? Ada rahasia besar disana serta kegelisahan dan kekecewaan bercampur rasa sakit yang membaur dalam kehidupan Gadis itu.
Sungguh aku tak tega. Mencoba memberi nya kekuatan mengatakan akan membebaskan ataupun meringankan masa tahanan nya juga menyampaikan niat ingin menikah dengan Raka.
"Menikah dengan Raka. Ngak, kamu ngak boleh nikah sama brengsek Raka, Nin. Apalagi karena aku" Geleng Selina kuat
"Semua keputusan ada sama aku Sel" Jawab ku mantap tak bisa di ganggu gugat..
__ADS_1
Sampai disini hanya pertemuan kami sebab waktu tahanan telah habis.
*
[Besok, bisa ketemuan ngak Nin?]. Pesan dari Raka.
[Kalau ngak sibuk. InsyaaAllah" Balas ku
[Besok aku sherlok ya tempatnya] balasnya lagi.
Aku hanya melihat balasan itu tanpa niat membalasnya.
....
Pagi menyapa ,izin untuk tak berangkat kerja sesuai janji ku untuk bertemu Raka di taman kota sesuai shere lokasi dari nya.
"Nindy pamit dulu Ya bu" Pamit ku pada Ibu.
Singkat cerita tidak membutuhkan waktu lama sampai di tempat tujuan. Sedikit celingkuk kan mencari keberadaan pria itu.
Sampai ketika senyum terukir di sudut bibir ketika melihat pria itu. Langsung saja aku menghampiri nya.
"Maaf Ka Lama!" sapa ku.
Beberapa saat aku menatap pria itu kini terlihat semakin memempesona. Dengan seeweter hitam dan celana senada ia seperti anak ABG an.
"Ngak papa, duduk". Aku membuang muka beristigfar pelan menyadari kesalahan ku yang di larang agama
" mau bicara apa Ka?" Tanya ku menyembunyikan kegugupan.
"Hem.. Jadi ceritanya kamu uda mau nerima saya.. Makasih ya"
__ADS_1
"Iya sama sama. Tapi Ka bisa ngak bicara kamu ngak usah formal gitu. Aku aja uda usaha akrab" Jawab ku menebalkan sedikit muka.
"Hmm, itu hal yang mudah. Jadi kamu mau aku panggil Beb, sayang atau Hony" jawab nya terkekeh pelan .
"Jangan lebay juga lah... Aku ,kamu kan lebih seru" Kata ku menatap nya jengkel. Seolah tak peduli ia hanya tersenyum lebar.
"Ka, aku juga minta kamu bebasin tuntutan pak sopir truk sama Selina ya" Pinta ku takut takut.
"Kenapa? Mereka kan memang bersalah?" Jawab Raka datar membuat ku langsung tak enak hati melihat perubahan dari raut wajah pria itu.
"Kalau tukang truk kasihan sama keluarga nya. Kalau Selina kan teman aku. Walau pun dia bersalah tapi aku ngak tega" ungkap ku hati hati takut Raka tersinggung.
Terdengar kekehan pelan" Nindy, Nindy. cobalah sedikit saja kejam sama dunia .Ngak semua harus di perlakukan dengan baik Nindy .agar kita ngak di perbodoh orang" Jawab Raka tersenyum tipis.
"Tapi Ka, setidaknya hargai aku sebagai calon tunangan mu" Ucap ku pelan.
Sejenak keheningan yang ada, memberani kan diri menatap pria itu dan benar saja ia terlihat lain dari biasanya.
Ada aura kemarahan dan tak bersabanat di sana.
"Jadi kamu menerima saya hanya karena ingin membebaskan Teman mu itu Nin. Miris sekali"
"Bukan begitu Ka..." Ucap ku memberi pengertian agar tak salah paham.aku lupa bahwa dia orang seriusan dan mudah tersinggung.
"Tapi nyatanya begitu Nin. Setelah nanti yang kau dapatkan telah terjadi , Pastilah kau meninggalkan aku dan pergi mencari si Yoga itu kan.
Itu namanya memanfaatkan Nin" Ucap pria itu dengan tuduhan nya.
Aku menggeleng tak terima. Mendengar tuduhan itu.
Bersambung...
__ADS_1