Kesucianku Hilang Di Malam Tahun Baru

Kesucianku Hilang Di Malam Tahun Baru
BAB 18


__ADS_3

Tidak ada keputusan hanya ingin ketulusan...


~ AnindyaSaputri


*


Pov ANINDYA SAPUTRI


"Raka aku tuh risih, melihat wajah mu yang memuakan itu. Ketika aku berangkat kerja menerima tawaran mu itu, hanya karena ibu" Akhirnya dari tadi ku pendam dalam hati kini ku lontarkan pada pria itu.


Semenjak kejadian saat Raka meminta jawaban ku untuk menerima nya atau tidak. Tentu aku tidak menjawab IYA atau TIDAK


Walau bagaimana pun aku masih menjaga perasaan ibu.


Sebab ku tahu, ibu merestui hubungan ku dengan pria b e r e n g s e k itu. Aku hanya menjawab sesuai kesepakatan yang dulu.


Yang artinya dalam waktu tiga bulan ia tak bisa meluluhkan hati ku dan tidak bisa menghapus trauma dan memori pada malam tahun baru itu. Silahkan pergi jangan ganggu hidup ku lagi.


Namun lagi lagi Ibu merubah keputusan ku. Aku yang pernah jatuh untuk kesekian kalinya tapi hanya ada ibu sebagai tiang penyangga. Aku tak akan membangkang dengan keputusan beliau.


Ibu hanya meminta Raka untuk meluluhkan hati ku, membuat ku menerima nya dengan lapang dada. Dan pria b a j i n g a n itu harus bisa MELUPAKAN memori buruk malam tahun baru itu bukan MENGHAPUS.


Tapi seketika aku angkat bicara" kalau begitu hanya satu bulan tidak ada tiga bulan. Jika tak mampu silahkan mundur dari sekarang" .


Akhirnya keputusan ku di terima


Tapi semenjak keputusan durjana itu berhasil membuat hari hari ku bagai neraka sebab selalu bertemu dengan i b l i s berbentuk manusia, siapa lagi kalau bukan Raka Wijaya.


Seperti pagi tadi, pagi buta ia telah sampai kerumah untuk mengatar ku berangkat kerja. Melihat Ibu mengizinkan aku tak bisa menolak.


Namun ketika ingin pulang pria itu datang lagi...


"Raka, aku tuh risih. Apalagi melihat wajah mu yang memuakan itu. Ketika berangkat tadi aku menerima keputusan mu itu hanya karena ibu." ucap ku langsung saja


"Dalam kesepakatan kita ,tidak ada melarang untuk tidak ketemu Nindy. Justru itu langkah awal saya untuk mengambil hati mu"


"Cuihh..." ludah ku sembarang arah. Untung lah dia jauh kalau dekat sudah ku ludahi wajah busuk sok baik itu


Ia terlihat menghembuskan nafas kasar lalu menarik rambutnya frusustasi. Baguslah emang ini yang ku inginkan. Membuatnya stres lalu mundur sebelum satu bulan kedepanya.


Tapi ada baiknya membuat ia berakhir di rumah sakit jiwa.


"Mari kita pulang Nin" ucap pria itu terdengar datar.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, lagi pula sekarang kondisi ku baik baik saja. Tidak seperti malam tahun baru itu, Tapi kemana Kau Raka ? Niat mengantarkan ku pulang saja tidak. Memalukan, kini sok sokan jadi pahlawan kesiangan". Sinis ku menatap nya tajam.


Pria emosian itu kini terlihat marah, seiring tangan terkepal sempurna dan deru nafas tak beraturan. Dia kira aku takut apa? Hati ini seperti sudah mati rasa


"Hey, jangan tarik tarik dong..b e r e n g s e k LEPAS" teriak ku ketika ia menyentak tangan ku kasar


Seperti tak peduli. Dengan kasar ia mendorong ku masuk ke mobil, tak lama kemudian ia pun masuk membantik pintu mobil kuat. Membuat diri ini sedikit terperanjat.


Keberanian yang tadi mengebu gebu kini hilang di tepis debu.


Aku pun memilih diam. Walau bagaimana pun takut juga melihat dia marah.


Keheningan melanda, setengan perjalanan deru nafas nya kembali teratur membuktikan emosi nya telah hilang.


"Maaf"


Tiba tiba keberanian datang lagi melihat Raka yang melunak. Nyali apa ini?


"Maaf kan saya Nindy" ulang nya . Namun lebih baik diam.


Ia yang menyadari aku tak mau bicara , juga ikut diam meski sekali kali ekor matanya melirik ke arah ku. Sungguh memuakan.


Akhirnya kami sampai kerumah. Dengan berjalan kaki dari persimpangan kampung. Raka tetap ngotot merelakan mobil nya di tinggal.

__ADS_1


Aku tak peduli...


"Eh ,siapa ini? Ganteng banget..kok sama Nindy, apa kamu simpanan orang kaya ya?" aku menghela nafas mendengar tuduhan Bu Tutik.


"Bukan urusan Ibu..." jawab ku berusaha tenang.


Tapi sepertinya ia belum tenang. Dengan langkah santai mengikuti kami sampai ke halaman rumah. Terlihat ibu sudah menunggu disana.


"Eh bu Desi. Tau ngak, Nindy uda jadi simpanan orang kaya, Upss soryy..bukanya bu Desi sudah tau sekaligus mendukung" Cibir bu Tutik sedangkan Ibu menanggapi dengan geleng geleng kepala.


"Eh kamu orang kaya, aku lihat loh! Mobil mewah mu tadi. Kenapa sih suka sama Nindy yang ngak punya kelebihan nya ini. Mendingan sama anak ku aja, Cantik lagi kekotaan ngak kampungan seperti Nindy hobinya pakai jilbab lebar " Tambah bu Tutik lagi.


Ku beranikan diri mendongakan kepala melihat reaksi Raka. Ia terlihat santai sambil membenarkan letak ramput nya yang menutupi dahi.


"Kekotaan. Maksud anda pamer body atau tepatnya ,ju al di ri demi uang merah tiga lembar. Cuihh.. murah sekali, begitu." jawab Raka terkekeh pelan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


Sebenarnya tentu saja aku terkejud mendengar jawaban Raka. Sedangkan reaksi bu Tutik terlihat terkejud dengan bola mata membesar.


"Kenapa? Tidak usah kaget begitu.. Orang yang sering di karaokean bintang Musik ,saya kenal semua termasuk tahu indentitasnya" Tambah Raka lagi.


Sebenarnya ada rasa kecewa dengan ucapan sekaligus penjelasan Raka.


Keraokean Bintang Musik siapa yang tidak kenal di kalangan orang orang. Tentu saja yang kami tahu dampak negatif yang di timbulkan.


Oh Nindy Tidak. Itu bukan urusan mu, terserah Raka ia mau kemana termasuk di kumpulan


j a l a n g nya pria. Dia bukan siapa siapa mu


Segera ku tepis rasa kecewa itu. Aku tak mau seolah olah telah menerima Raka jika ia sudah berubah.


Bu Tutik pun segera pergi tanpa berkata apa apa.


"Bu" dengan sekejap raut wajah itu berubah ramah segera menyalami tangan ibu lembut.


"Bu ,apa semua orang berduit itu dengan mudah menutup mulut orang yang menghina mereka" ucap ku


"Tapi bu, Nyatanya orang kaya juga bisa semau mereka. Sekali pun merampas masa depan seseorang" tambah ku lagi.


"Nindy" tegur ibu terlihat tak enak hati dengan Raka. Kenapa? Bukanya begitu.


"Yasudah.. Saya pamit dulu ya Bu, Nin" pamit Raka. Baguslah


"Iya, terimakasih uda ngantar Nindy. Ucapanya tadi jangan di ambil hati"jawab ibu.


" tenang saja buk.."


Akhirnya Raka pun pergi..aku menghembuskan nafas bahagia.


"Hargai setiap perjuangan orang nak.. jika tak ada nanti, kau akan merindukan nya" Nasihat ibu pada ku.


*


Hari hari berlalu terasa lambat bagiku..padahal aku sudah tak sabar menunggu bulan depan.


Raka pun tak bosan bosan memberikan perhatian pada ku, namun sekuat hati aku berusaha tak baperan . meski itu hanya chat singkat mengigatkan untuk makan.


"Silahkan di nikmati Dek.. sendirian aja" tanya ku pada seorang gadis manis berseragam putih dongker.


"Terimakasih kak... ngak sendirian ketika kakak mau nemenin" jawab nya tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi yang rapi.


Melihat itu tiba tiba teringat Raka? Lagi apa sekarang dia? Oh tidak jangan pikirkan dia..


Aku berfikir sejenak..untung lah ada waktu senggang sekejap.


"Emang boleh kakak nemenin" tanya ku


"Boleh dong.. Xena ngak akan sendiri" jawab nya

__ADS_1


"Oh namanya Xena"


Ia terlihat menyerup jus alpukat sejenak.


"Iya Kak... kalau kakak??" tanya Gadis manis itu pula


"Nindy, kak Nindy saja. Kenapa Xena sendiri? Ngak sama teman atau keluarga gitu" tanya ku


"Ngak kak, bisanya juga sendiri..kata Mama teman sejati itu diri sendiri, Yaudah Xena teman sama diri sendiri aja" jawab nya enteng


Aku pun tersenyum lebar menanggapi nya..


"Pintar banget.. nurut lagi sama orang tua"


Lama kami bercerita yang mengasikan. Hingga akhirnya Xena izin untuk pulang.


Tepat saat nya untuk ku pulang, aku bersiap siap menunggu Raka. Ntahlah? Yang jelas aku sudah terbiasa dengan semua itu. Itung itung mencari keuntungan.


Tak lama Raka yang ku tunggu datang.


Tercetak jelas di wajahnya rasa lelah.


Bahkan ia tak serapi biasanya.


Rambut nya terlihat acak acakan di biarkan berterbangan semau angin menerpa.


"Kalau lelah istirahat lah.. biarkan aku pulang sendiri" ucap ku


Ia memandang ku tersenyum tulus lalu menggeleng pelan.


"Terimakasih sudah menghawatirkan saya. Hal ini sudah biasa, tapi bedanya saya akan melampiaskan dengan botol minuman, hingga rasa lelah tak terasa. Tapi kini berbeda..


Sebab saya tahu setatus saya ingin berubah. Ingin menjadi lebih baik dan tahu larangan agama". Jawaban nya berhasil membuat senyum terukir di sudut bibir dengan sendirinya.


Namun seketika senyum itu lenyap ketika melihat dari arah kiri sebuah truk dengan kecepatan tinggi tepat melindas ke arah kami.


" Raka awasss" teriak ku ..


Raka yang seperti nya baru menyadari pun tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa melajukan mobil dengan kecepatan tinggi pula.


Namun seolah musibah itu sudah di depan mata. Kini truk itu tepat berhadapan dengan mobil ini, siap bertabrakan.


Aku pasrah.. namun ketika sudah dekat Raka segera membanting stir ke kiri. Alhasil truk melaju dengan selamat.


Sedangkan mobil yang di kendarai Raka terlihat tak beres. Sepertinya rem mobil rusak.


Mobil melaju dengan sendiri nya, beberapa kali hampir terlindas seseorang. Untung lah Raka cukup lihai.


"Tenang lah Nin" ucap Raka terlihat fokus dengan jalanan.


"Ka, Hati hati" pinta ku. Tentu saja panik.


"Allah hu Akbar"


Kini musibah tak dapat di hindari lagi. Tiba tiba saja dari arah samping sebuah mobil hitam datang dengan kecepat tinggi dan menabrak mobil yang kami naiki.


BRAKK


Bunyi hantaman keras dari mobil hitam itu dan mobil Raka yang bertabrakan keras.


Bisa ku rasakan mobil ini berpental hebat dan terbalik beberapa kali. Hingga akhirnya semua gelap seiring rasa sakit yang luar biasa.


"Allah hu akbar.....La ila'haila'allah"


Di sisa sisa kesadaran ku...berharap kami berdua baik baik saja. Tapi ntah lah?


**

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2