
(pov Selina)
Tidak ada lagi tujuan selain menembus kesalahan. Itu lah sekarang prinsib yang ku tanamkan.
Ntah berapa hari lamanya aku berada di sini, di sebalik jeruji besi ini. Tak ada lagi yang mengunjungi ku termasuk Mami.
Setelah sidang Naik Banding itu aku kacaukan ,Mami terlihat semakin membenci ku terlebih ketika ia di marah oleh pengacara bayaran nya sendiri.
"Saudara Selina Anatasya, hari ini anda telah resmi bebas . silahkan keluar dari tahanan dan urus semua keperluan di luar"
Aku mendongak kan kepala tak percaya, mendengar ucapan Polwan itu yang langsung the to pint. Lama berkurung membuat ku kurang terlalu paham dengan keadaan.
"Benar, cabutan Anda telah di cabut. Mari"
Aku menatap mbak Yeni dan Mbak Vega teman baik ku selama berada disini, mereka juga selalu mengajak ku mendekatkan diri pada sang pencipta. Seperti sholat misalnya.
"Pergilah Sel. Jangan lupakan kami" jawab Mbak Weni tersenyum hangat padaku.
Tak ada pilihan lain selain mengikuti Polwan yang selalu menjaga kami selama berada disini. Aku mengikut saja ketika Polwan itu memberi ku intruksi untuk ini dan itu.
Sampai akhirnya semua selesai, Pakaian ku juga telah berganti tidak pakaian pidana bertulisakan TAHANAN itu lagi.
"Selina...."
Teriak seseorang setengah berlari mendekati ku ketika sudah sampai di depan gedung ini di antar Polwan Feni
__ADS_1
"Nindy" Rasa haru menyelimuti tak bisa di pungkiri lagi bahwa hati ku kembali ter enyuh dengan balasan baik dari Nindy untuk ku.
Lama kami berpelukan kemudian melepaskan ketika Raka terlihat jengah dengan penampakan ini.
Aku tak yakin ia berubah secepat ini, Bisa saja hanya topeng belaka. Tapi jika benar ia telah berubah ku doakan yang terbaik untuk meteka.
untuk kak Yoga? Ntah lah..jangan di bahas lagi. Bagi ku mengenal nya hanyalah mala petaka yang ku dapatkan.
"Kita bicara di sana yuk.." Ajak Nindy menujuk warung tak jauh dari sini. Aku mengganguk mengiyakan.
Akhirnya kami bertiga menuju warung di sana. Setelah sampai langsung saja kami memilih tempat duduk di sudut agar jauh dari keramaian.
"Kamu pesan apa Nin. Biar aku yang pesan!" Ada rasa tak percaya mendengar ucapan lembut Raka untuk Nindy. Apa ia benar benar sudah berubah?
"Apa aja Ka. Tiga porsi Yaa!"
"Kenapa tiga Nin.!" kata ku setelah Raka telah pergi.
"Kita kan beriga.
" Aku uda kenyang..Tadi ada titipan makanan untuk teman satu sel aku. Jadi kami makan sama sama" Ungkap ku jujur.
"Sudah..Terus siapa yg makan nya kalau ngak kamu?"
"Yaudah lah?"
__ADS_1
"Selina Ya". Sontak saja kami berdua berpandangan ke arah sumber suara terlihat Orang yang pernah ku kenali telah berdiri tepat di depan kami.
"Pengacara David" Kilah ku .
"Benar,boleh gabung. Dan ini temanya atau saudaranya?" Ucap David lebih dulu duduk di antara aku dan Nindy.
"Si-silahkan duduk..Ini Nindy teman saya" Balas ku tersenyum kaku melihat tingkah Abstrak pengacara Mami itu.
"Nindy..." Ucap Lia pula ketika David mengukurkan tanganya untuk berjabat tetapi Nindy hanya menangkupkan di depan dada.
Membuat David salah tingkah kemudian menarik kembali tangan nya ,terlihat mengaruk tengkuk yang kupikir tidak gatal.
"Uhkty rupanya...." Racaunya pelan.
"Berdua Aja....."
Belum selesai David berbicara tubuh tegap itu telah berhasil terhuyung hampir jatuh untung lah ada meja lainya siap menopang tubuh David.
"Bajingan. Mau apa lagi kamu menampakan batang hidung mu di depan ku. Usahkan melihat mu menyebut nama mu aku tak sudi.." ternyata melakukan aksi Gil4 itu Raka. Memang belum berubah apalagi ucapan nya yang setajam silet itu.
"Raka. Apa apaan ini?" Nindy angkat bicara terlihat tak percaya.
"Kamu mau tau Nin. Ini lah bajingan pada Xena itu. Ini lah wujud nya tapi ot4k nya tak ubah binatang di luar sana" Tegas Raka menunjuk David terlihat menahan kesakitan apalagi Raka berhasil melayangkan tinjuan pada perut pengacara muda itu.
Ada rasa tak terima mendengar umpatan untuk David yang bagiku juga sekaligus untuk dirinya. Walau nyatanya dalang semua itu adalah aku.
__ADS_1
Bersambung...