
---
"Kura*ng Ajar, anda telah menipu saya dengan memalsukan surat itu. Anda tau, hal ini bisa merusak nama baik saya. Saya bisa menuntut anda. Mami Angel"
Aku dan Bayu berpandangan lalu mengganguk, kemudian angkat berdiri meninggalkan tempat ini setelah Pria bernama David itu turut melangkah pergi dengan cepat.
Aku pun tak tinggal diam ikut mengejar langkah pria itu terlihat cepat seolah memang benar benar ingin menjauhi ku.
" Bay, setelah ini. Urus kasus pencabutan tuntutan Selina dan pak Rahmad. Setelah selesai, hubungi aku". Ucap ku sedikit berteriak kemudian sedikit berlari mengejar langkah lebar David.
" Tunggu, Kita masih punya urusan"Ucap ku setelah hampir dekat dengan pria itu.
Kini aku telah berhasil mengejar nya meski ketika sampai di parkiran.
"Anda bicara pada saya". Aku tersenyum miring mendengar jawaban formal pria bajingan di depan ku itu.
"Sudah lupa, Ceritanya??". Tepatnya pura pura tidak kenal" Jawab ku terkekeh geli meski begitu mati matian menahan emosi di dalam dada lima tahun lamanya di pendam, membuat ia hampir saja meledak di dalam sana.
"Hmm.... Oke, The to Point. Mau apa kamu bertemu saya Raka Wijaya, Saya rasa kita tidak ada urusan apa apa lagi".
" Bajingan, tak ada urusan apa apa lagi di antara kita . Kata mu?.Kau tau semenjak kejadian gil4 mu itu adik ku mengalami trauma panjang, Jadi bagi mu ? Urusan kita sudah selesai. Tidak ."Ucap ku dengan penuh penekanan.
"Terus kamu mau apa?, Lagi pula aku bukan benar benar ngelakuin itu sama adik kamu. Hy Raka, sudahlah toh Kesucia*n adik mu sampai sekarang masih ada. Kalau pun tidak, itu bukan karena ku, Adik mu yang Nakal".
Mengepal kan tangan kuat, bunyi gemelatuka gigi saling bertautan, Mendengar ucapan Bajingan itu secara tak langsung menghinakan Xena.
Bugh...
Satu pukulan tepat mengenai ujung bibir Bajingan itu, Dengan kasar ia mengusap darah yang mengalir di sudut bibir nya.
" Kur4ng Ajar kau Raka..."
Bughh..
Secara bersamaan ia berhasil membalas pukulan ku. Saat ini rasa sakit bukan pantas untuk di permasalahkan. Hingga beberapa kali kami saling adu pukulan.
Sampai akhirnya aku merasakan tubuh ini di tarik paksa oleh seseorang.
"Raka, Sudah . jangan seperti ini". Terdengar teriakan Bayu tepat di depan wajah ku.
__ADS_1
Nafas berhembus cepat, seiring dada naik turun menahan gejolak emosi yang meluap.
Dengan bengis aku dan David bertatapan penuh kebencian. Merasa muak dengan wajah busuk itu dengan kasar aku menarik tubuh dari pegangan Bayu.
" Raka sudah.... Ini berbahaya untung lah disini tidak ada orang" Teriak Bayu kembali menahan tubuh ku.
"Aku ingin pulang Bay" Tekan ku. Merasa salah perkiraan terlihat pria itu mengaruk tengkuk nya.
Tak memperdulikan aku langsung masuk ke mobil menutup pintu dengan kasar. Mencoba menahan rasa emosi yang serasa ingin meledak.
*
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Saat tiba di depan apotek aku segera memarkirkan mobil di tepi jalanan.
Melangkah tergesa masuk kedalam saat orang orang memandangi lekat, Ingin sekali ku congkel mata mereka satu persatu.
Setelah yang ingin di perlukan telah ku dapatkan. Segera kembali di mana mobil ku.
"Raka, tunggu....." Teriak suara Familiar di telinga ku . mengedarkan pandangan mencari suara yang ku kenali itu.
"Nindy" jawab ku pelan sambil membuang pandangan ke sembarang arah seolah menyembunyikan wajah.
"Hmm... ada sedikit masalah tadi, tenang saja ini sudah biasa .urusan lelaki" Jawab ku sekenan nya.
"Tapi yakin ngak papa.. Itu kayak nya parah deh Ka. Butuh di obati atau di bersihin dulu luka nya" Jawab nya kemudian.
Diam diam ada yang menghangat di hati melihat wajah kahwatir gadis itu untuk ku.
"Tapi kamu kan ngobatin nya" Goda ku mengedipkan sebelah mata.
Ia terlihat salah tingkah kemudian membuang muka. Bisa ku lihat ada senyum tipis yang sengaja di sembunyikan.
"Gimana.. mau ngak?"Kata ku.
" Ngak lah Ka, dosa. Bukan Muhrim uda pegang pegangan"Jawabnya berhasil membuat ku menghembuskan nafas kecewa namun semuanya benar.
"Okey, Baiklah.. Hmm Aku mau pulang, Kamu mau antar atau mampir?". Tanya ku akhirnya
" Pulang lah.."
__ADS_1
"Oh iya, kamu kok ada di sini juga?"
"Beli obat ,Ibu demam.."
"Oh, Maaf ya aku belum bisa mampir Nin" balas ku.
"Ngak papa. Belum jadi mantu juga . Yaudah ,yuk jalan" Jawab nya tersenyum lembut .Aku mengganguk sebagai jawaban.
Aku menuntun nya masuk ke mobil kemudian,kendaraan itu melaju di jalan raya.
"Kamu ngak takut untuk bawa mobil lagi. Maksud ku ngak trauma gitu?". Tanya nya menecahkan kesunyian.
" kenapa?"
"Ya, ngak takut gitu kejadian serupa terulang lagi!"
"Ngak lah... Mau sampai kapan rasa takut itu, harus di lawan lah. Lagi pula kalau uda kecelakaan ya ngak papa itu kan takdir" Jawab ku seenak hati.
"Kamu ngak takut mati dong"tanya nya terdengar ngelantur
"Ngak lah, Cuma aku belum mau mat¡. Kalaupun mat¡ sama kamu ngak papa juga, aku coba ihklas" Kekeh ku tersenyum tipis.
"Ihh.. mau mat¡ jangan ngajak orang. Aku belum mau juga" Tandas nya terdengar kesal, kembali mengarahkan pandangan di luar kaca mobil.
"Besok pagi, temani aku ya!" Pinta ku kembali mencairkan suasana.
"Kemana ?!"tanya nya singkat.
" Ke toko Emas"
"Ngapain?"
"Cari cincin buat tunangan kita" jawab ku melebarkan senyum ketika ia beralih menatap ku penuh arti. Sebahagia itu kah wanita jika memang benar benar ingin di di serius kan.
-
--
Bersambung..
__ADS_1