
(pov Selina)
..
Satu tahun telah berlalu, begitu juga pernikahan di atas kertas ku dengan David. Sesuai janji nya dulu, kami hanya menjalani pernikahan ini seperti manusia asing.
Perlahan hidup ku sudah berubah perihal ekonomi, David tidak berbohong dengan Ucapan nya dulu.
Sekarang ini aku memang telah menjadi wartawan, tapi ntah kenapa setiap perkerjaan ku selalu ada David yang mendampingi.
Jika aku bertanya kenapa? Di setiap urusan ku ia selalu ambil alih. Namun sama sekali ia tak menjawab nya. Selama aku mengenali nya hanya satu sifat nya yg ku tahu yaitu, ia tak akan pernah menjawab pertanyaan sesorang kapan saja sesuai kemauanya. Lebih memilih diam meski pun di desak.
Alasan nya aku tak tahu? Ntah ia malas, atau tidak penting baginya! Atau bisa jadi ia juga tidak tahu.
"Aku pulang..." Terdengar teriakan David dan benar saja tampak sosok nya dari balik pintu.
Dua hari belakangan ini ia memang sering pulang larut malam, karena ia sedang berkerja urusan yang serius dan tidak main main, katanya.
Aku masabodoh.. tidak peduli apa pun itu urusan nya. Sejauh ini secuil pun tak ada hati untuk suami di atas kertas ku itu. Hati ini masih tetap bersetia pada penantian kak Yoga.
"Siapin air hangat Sya. Gerah mau mandi dulu, capek kalau nyiapin sendiri" Pinta nya ikut duduk di samping ku yang asik pada ponsel.
"Siapin sendiri lah Vid..." jawab ku engan.
"Tapi kamu kan istri aku.."
__ADS_1
"Isteri di atas kertas maksud nya" potong ku mengangkat kepala menghadap wajah terlihat lelah itu. Meski dalam hati ada rasa kasihan namun aku berusaha untuk tidak terbiasa pada pernikahan ini takutnya melibatkan hati. Kalian tahu kan ,hati wanita itu akan mencair dengan perhatian lembut oleh lelaki. Aku tak mau itu terjadi.
Alasan nya tetap sama aku masih mencintai kak Yoga? Walaupun, itu sesuatu yang tak pasti dan terdengar seperti orang bodo'h diri ini
"Yupss..Okey, Aku lupa" jawab nya terkekeh pelan lalu beranjak pergi. Lagi lagi aku tak peduli.
30 menit berlalu David tak kunjung tiba seharusnya ia sudah berada disini ,dan kami akan bercerita bersama ataupun menonton Tv Filem kesukaan kami.
Penasaran , aku beranjak mencari ke kamar mandi hasilnya kosong . hingga tatapan ku tertuju pada seseorang sedang duduk di depan makanan.
Aku tersenyum ternyata ia sedang makan, bahkan tidak menunggu ku lagi. Tapi kenapa ia terlihat melamun? Mungkin saja pusing dengan perkerjaan nya pikir ku.
"Hey..." Tegur ku mengibaskan tangan di depan wajahnya kini terlihat lebih baik dari pada sebelumnya mungkin karena sudah selesai mandi.
"Tidak usah tegang.. dan kau lucu sekali saat seperti ini" ucap ku mencairkan suasana.
"Hm.." ia bergumam pelan kembali fokus pada makanan tanpa memperdulikan ku
Tak seperti biasanya, Biasanya David akan membalas candaan ku hingga kami tertawa bersama tapi sekarang ini apa?. Tidak seperti biasanya.
Setahu ku David bukan lah tipe orang pendiam dan dingin dia orang yang mengasikan dan mudah bergaul. Sekalipun ia sedang diam mungkin sedang tidak baik baik saja.
Ke heninggan melanda, Aku di diamkan disini. Kemudian David meraih segelas air putih lalu bangkit.
"Kok ngak di habisin.. mubazir loh, teman nya setan" Kata ku.
__ADS_1
"Kenyang. Terimakasih masakan nya" Jawab nya biasa saja tak ada senyum di sana.
"Tidak masalah. Aku kan isteri kamu.."
"Hanya Isteri di atas kertas Tasya. " Setelah mengucap kan itu ia berlalu tanpa sepatah kata pun.
Aku menggeleng tak percaya, tanpa sadar mata ku berkaca kaca melihat perlakuan David. Se-kesal apa pun ia tak pernah meninggalkan aku . tapi kini?
Tapi ia kenapa?
Apa mungkin karena ucapan dan aku menolak menyiakan air hangat untuk nya tadi. Lagi lagi aku menggeleng tak percaya. Tidak David, dari awal aku harap pernikahan ini tak ada yang melibatkan perasaan .
Sebesar apa pun cinta dan perjuangan mu nantinya, Semua akan sia sia sebab sulit bagi ku untuk melupakan Kak Yoga.
Bergegas membersihkan piring makanan David. Setelah itu aku lebih memilih masuk ke dalam kamar sebelum itu ku sempatkan untuk melihat ke arah lelaki itu.
Ia terlihat sudah berbaring di atas Sofa dengan mata terpejam. Terlihat damai wajahnya saat ini.
Ku akui wajah itu nyaris sempurna dengan rahang kokoh ,berkulit putih bersih, alis mata yang hitam pekat ,tatapan mata yang tajam namun senyum yang di lukiskan berhasil mengalahkan tatapan setajam elang itu. Hingga yang terkesan hanya sebuah ketegasan dan keramahan di balik wajah David.
Tak mau peduli lagi aku masuk ke dalam kamar sebelum itu menguncinya lalu merebahkan diri menyelam ke alam mimpi.
Satu harapan ku, Semoga pernikahan di atas kertas ini tak ada satupun yang melibatkan perasaan. Masalah kapan berakhirnya pernikahan ini? Aku belum memikir kan itu. Jujur aku terlanjur nyaman dalam posisi ini.
Bersambung.....
__ADS_1