
Berdamai dengan masalalu adalah kebahagian di masa depan.
~AnindyaSaputri
*
Pov Anindya Saputri
Entah apa mau pria itu?
Ntah apa yang di inginkan Raka pria b a j i n g a n itu?.
Yang jelas bisa kurasakan ia mulai mendekati ibu. Sedangkan diriku belum mempunyai keberanian untuk megatakan, pria yang ibu anggap baik selama ini justru ia lah si be re ng s e k yg merenggut kebahagiaan kami.
"Nindy kok melamun..oh iya tadi ibu ketemu nak Raka lagi di warung mang Ojak" ucap ibu tersenyum bahagia.
"Kok dia ada di kampung kita bu.. bukan nya dia orang kota. Hati hati loh bu, jaman sekarang ini memang banyak mendekati tapi ada maunya? Yaitu modusnya baik di awal" jawab ku kesal juga ibu selalu terlihat senang membahas pria itu.
"Huss.. ngak baik ngomong gitu nak, itu jatuhnya suudzon" sahut ibu .
Aku menatap dalam manik teduh milik ibu, ingin sekali jujur rasanya namun apalah aku? Mental ku tak sekuat itu.
"Bu andaikan Nindy bicara kejujuran yang membuat sakit hati ibu. Gimana? " tanya ku
"Innsyaa allah ibu akan berusaha bertawakal. Kita ini manusia tentu tak luput dari dosa" jawab ibu bijak.
Bisa kurasakan ada keberanian yang nyata untuk jujur pada ibu.
"Oh iya , bagaimana hubungan mu dengan Yoga? Apa ia masih belum mengabari mu?" tanya ibu berhasil membuat hati ku kacau.
"Bu apa Nindy emang ngak pantas lagi. Buat pria baik baik" bukanya menjawab aku malah bertanya pada ibu.
"Siapa bilang? Ingat, Nindy akan cocok pada orang yg benar benar baik pada Nindy. masalah nak Yoga mungkin dia butuh waktu. Kau harus sabar menunggu keputusan. Walaupun nantinya menyakitkan kau harus terima dengan lapang dada.
Itu hak nya, sebab jodoh Nindy sudah di siap kan oleh Allah subahallah ta'ala" ucap ibu menyejukan kalbu.
"Iya buk, inn syaallah, Nindy sudah ihklas" jawab ku.
"Yaudah bu, Nindy mau istirahat dulu" pamit ku akhir nya.
Tok tok tok
Sontak pandangan aku dan ibu mengarah kepintu. Akhir nya kami berdua melangkah mendekat ke pintu. Memutuskan untuk membukanya.
"Siapa ya" tanya ibu pada pria tak di kenal itu. Di tangan nya ada bungkusan lumayan besar.
__ADS_1
"Ini ada paket untuk ibu dan Dik Nindy" jawab pria kurir itu.
"dari siapa" tanya ku cepat. Ingin sekali mengatakan ia salah alamat. Seenaknya saja memberi paket padahal kami tak memesan nya.
"DARI SAYA"
Seketika tubuh ku menegang melihat pria yang menghampiri kami. Justru ibu terlihat bahagia.
"Raka"
"Nak Raka"
Dengan langkah santai pria berkemeja hitam serta di padukan dengan celana polo senada itu mendekati kami.
Terlihat sesekali ia melonggarkan dasi melekat pada lehernya.
"Assalamualaikum, bu" sapa pria itu terlihat ramah pada ibu. namum, bagiku sesuatu yang memuakan sekali.
"Waalaikumsalam nak.. makasih paketnya kamu baik banget " jawab ibu tersenyum lebar.
Lelaki kurir tadi pun pergi tanpa pamit mungkin merasa di kacangi.
"Oh iya tadi kayak nya Nindy kenal sama kamu. Kalian uda saling kenal" tanya ibu menatap kami bergantian.
Ketika tatapan ku dan Raka bertemu dengan segera aku membuang muka. Merasa salah tingkah terlebih dengan pertanyaan ibu harus ku jawab dengan apa?
Ketika ibu memandang ku ,aku hanya mengganguk sebagai jawaban.
"Oh iya, kalau gitu saya permisi mau ke kantor dulu ya Tan" sahut pria itu lagi dalam hati aku bersorak bahagia.
"Ya sudah, lain kali main kesini lagi ya?" jawab ibu tersenyum lebar. Dalam hati aku ingin sekali menolak tawaran ibu.
"Ok siap Tan, saya permisi dulu..Assalamualsikum, Tan,Nin-dy". Ujar Raka lagi sungguh sangat memuakan ketika ia menyebut nama ku
" waalaikumsalam"
Akhirnya Raka melangkah pergi, lalu hilang dari pandangan dengam motor nya.
Sepeninggalan Raka ibu terus saja tersenyum bahagia, andai ibu tahu siapa pria yang di anggap ibu baik ternyata hanya peria bajin*gan.
Setelah itu, ibu membuka paket bungkusan itu ternyata isinya martabak rasa coklat ,keju dan susu . ibu terlihat bahagia menyantap martabak yang ku akui rasanya benar benar mantap.
Aku bahagia ketika melihat ibu bahagia meski ada rahasia yg menghimpit dada
*
__ADS_1
Seperti biasa saat makan malam terus di isi dengan cerita ibu tentang kebaikan Raka,
Namun aku mencoba untuk tersenyum.
Setelah makan Malam usai pun beres dengan urusan dapur ,aku pun pamit untuk ke kamar.
Mengaji sebentar untuk menenangkan pikiran, suara ku terdengar bergetar karena isak tangis. Dalam hati aku terus berdoa meminta kekuatan batin.
Hingga bacaan ku sudahi, aku terkejut ketika melihat ibu sudah duduk di atas kasur dengan mata berkaca kaca.
Rasa haru menyelimuti ketika aku dan ibu berpeluk-kan bersama, menumpahkan tangis bersama.
"Ayo cerita sama ibu, ada masalah apa lagi nak. Kita uda janji untuk selalu bersama kan"
Nyatanya aku tak sekuat itu menahan rahasia duka itu.
"Bu, se-sebenarnya" ucap ku terjeda
"Se-sebenarnya apa nak" tanya ibu lebih dulu
"Raka", rasanya lidah terasa kelu untuk melanjutkan ucapan
" iya, kenapa nak Raka? " tanya ibu lagi
"Bu, se-sebenarnya Raka adalah pria yg me n o d a i Nindy malam tahun baru itu"meski bergetar sekali hembusan nafas kalimat itu keluar dengan lancar.
" astgfirullah... "
"Iya buk, Raka itu pria b a j i n g a n. Dia yg telah merenggut masa depan Nindy, dia yang telah menanamkan trauma pada Nindy. Dia yang merusak kebahagian kita bu.
Bu kenapa ia harus kembali.. memainkan drama seolah berhati baik" ucap ku menumpahkan semuanya.
Tangis ku pecah seiring kalimat yang mengobrak abrik merusak kalbu. Sakit sekali
"Lalu apa sebenarnya yg diinginkan nya nak. Selama ibu kenal ia pria yg baik" ucap ibu lagi seolah blum percaya
"Ibu percaya Nindy kan?" tentu saja ibu mengganguk mantap.
"Kita berhati hati saja ya buk. Kita bisa lihat dia orang yang berada, dia mempunyai rencana licik bu, tak menutup kemungkinan untuk dia berbuat semena mena pada kita" ucap ku lagi.
"Iya nak ,ibu tak mau melihat Nindy terpuruk untuk yg kedua kalinya ,karena ibu sayang Nindy" sahut ibu pula.
"Iya buk ,Nindy juga sayang ibu" jawab ku
Rasa gelisah sedikit berkurang seperti ada batu besar yang baru jatuh dari pundak.
__ADS_1
Dan semua itu karena telah menceritakan nya pada ibu.
Bersambung...