
(pov Raka)
"Raka sini duduk. Nindy mana?" Panggil Ibu mertua ku sedang duduk di ruang tamu sambil menonton TV.
"Iya bu, Ada apa?. Nindy di kamarnya.. Sudah tidur." Jawab ku ikut duduk .
terlihat Ibu menghembuskan nafas kasar.. siap memulai ucapan.
"Kita ngak tahu ya kan, seberapa ? Dan kapan ajal kita di jemput ilahi. Terutama Ibu yang uda tua begini"
Degh... Terkejut ,tentu saja. Ada rasa takut yang memenuhi isi kepala. Sebab hal seperti ini juga telah ku alami. Saat kepergian papa.
"Hm..." aku bergumam pelan agar Ibu melanjutkan ucapanya.
"Nanti jika Ibu uda ngak ada. Ibu mohon jaga ,lindungi dan sayangi putri Ibu ya..bahagiakan dia semampu mu. Tapi Ibu yakin kau pria yang baik Ka. "
__ADS_1
"Pa-Pasti bu...Inn syaa Allah" tekat ku dalam hati.
"Nantinya jika kalian sedang bertengkar solusinya bukan pisah ya. Cari jalan keluar sama sama yang terpenting jauh kan ego.
Nindy masih terlalu muda untuk mu Raka, Dia masih sangat butuh bimbingan..dulu itu memang tugas Ibu, tapi malam ini semua tugas itu ibu serahkan pada kamu. Kamu sanggup kan Raka". Lagi lagi ucap an itu membuat tubuh ku hampir lemas.
" Raka sanggup Buk"
"Kalau kau sudah tak sanggup lagi. Lepaskan dia baik baik, jangan sakiti dia... Satu lagi, Ibu paling benci yang ada namanya orang ketiga" Kali ini ucapan bu Desi terdengar tegas penuh penekanan. Wajah teduh tadi berubah serius bahwa tak main main dengan ucapan nya.
"Demi Allah..Ibu tidak ihklas walaupun sudah tidak di dunia lagi ketika kau menyakiti putri Ibu. Jika dia salah ,nasehati dia.." Ucap bu Desi menatap ku dalam.
Aku akan membuktikan pada Ibu, pada Nindy..dan pada Alam semesta bahwa aku telah berubah siap membahagiakan Nindy.
Janji sakral yang telah terucap di iringi nama tuhan kami. Tak akan pernah ku jadikan mainan .
__ADS_1
Meski masalalu ku dulu bisa di katakan buruk tak menutup kemungkinan untuk ku harus berubah. Aku tak mempermasalahkan ucapan Ibu, sebab aku tahu seperti apa sayang nya untuk Nindy.
Perlahan tapi pasti, Citra nama ku yang dulu buruk akan ku ubah menjadi baik. Tidak perlu di mata orang semua cukup di mata isteri ku.
"Inn syaa Allah..Demi Allah pula Bu Raka berjanji akan membahagiakan Nindy buk. Itu Janji Raka di depan Ibu"
"Simpan kata kata Mu, Buktikan akan membuat Ibu tenang meninggalkan dunia ini. Tapi Ibu yakin kau bisa mendampingi Nindy. Ibu percaya itu, jangan sia siakan kepercayaan Ibu ya. Satu lagi nomor satu kan Allah baru nomor duakan isteri mu...sebaik baik nya pertolongan adalah dari Allah". Aku mengganguk mantap .
Ibu berdiri kemudian menepuk pundak ku cukup keras kemudian berlalu ke kamar beliau.
......,
Ucapan aku dan Ibu malam itu sebelum Ibu meninggal dunia siang nya terus terngiang ngiang di telinga ku.
Saat menggigat itu tekat ku untuk selalu bersama dan membahagiakan Nindy semakin besar.
__ADS_1
Tak terasa sekarang sudah 10 hari kepergian Ibu. Nindy yang awalnya terpuruk kinu perlahan ia mulai terlihat baik baik saja. Dia memang wanita tangguh.
Bersambung.....