Kesucianku Hilang Di Malam Tahun Baru

Kesucianku Hilang Di Malam Tahun Baru
BAB 76


__ADS_3

*


"Sayang kamu kenapa?" tanya ku pada Nindy dari tadi terus mengamati grak griknya terlihat tak nyaman.


"Sakit perut aku.." jawab nya terdengar lemah.


"Apa mau lahiran!" tanya ku mendekat.


"Ngak tahu.. Tolong pijitin bahu aku ya!!"


"Ok, baiklah.." Jawab ku cepat meraih bahu nya dan memijit nya pelan memberikan rasa nyaman.


Sampai akhirnya pandangan ku menangkap sesuatu di pergelangan kaki Nindy yang tersingkap dari gamis nya, seketika membuat diriku panik bukan main melihat cairan merah itu,darah.


"Mas sakit...sekali" Jerit tertahan Nindy mencengkram lengan ku erat.


"Tenang dulu ya sayang. Mas panggil Mama dulu" ucap ku mencoba menenangkan nya.


"Ada apa kak?" tanya Xena datang di waktu yang tepat.


"Kak Nindy mau lahiran. Cepat,kasih tau Mama siapkan mobil nya" Kata ku cepat bercampur panik yang luar biasa melihat kondisi Nindy.


"Ba-Baik kak.." setelah mengucapkan itu Xena langsung pergi berlari tak lama kemudian ia datang lagi dengan nafas ngos ngosan


"Yuk kak, langsung bawa aja..mobil uda Mama siapin" Ujar nya .


Tanpa bicara apa pun aku langsung mengangkat tubuh Nindy menuju mobil .


"Sakit Mas..." Lagi lagi jerit nya membuat hati ku ikut sakit.


"Tahan sebentar ya...Sebentar lagi kita kerumah sakit" ucap ku mengulas senyum tipis.


Aku pun membawa Nindy ke mobil sedangkan Xena mengunci pintu kemudian menyusul kami.


"Kamu di belakang aja Ka, biar Mama yang bawa Mobil...kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan" Ucap Mama telah duduk di kemudi mobil.


Aku mengganguk kemudian Mama siap tancap gas menuju rumah sakit Pelita Sehat. Di perjalanan Nindy tak henti hentinya mengerang kesakitan.

__ADS_1


Sebisa ku menenangkan nya untuk selalu mengucapkan nama tuhan kami.


Setelah mobil terparkir di depan gedung vercat putih itu, Aku langsung memanggil petugas medis yang terlihatg sigap datang dan membawa Nindy menuju ruang persalinan.


Aku,Mama dan Xena mengikuti dari Belakang dengan harap harap cemas.


"Anda suaminya ,ingin menemani?" Tanya Dokter wanita itu meminta ku segera mrngambil keputusan.


Awalnya ragu tak tega melihat wajah kesakitan isteri ku namun melihat Mama mengganguk membuat ku yakin untuk mendampingi Nindy.


"Iya dokter"


"Mari.."


Aku pun mengikuti dokter wanita itu menuju di mana Lia akan melahirkan anak kami.


"Pak ,sepertinya butuh di oprasi.." terang sang dokter kemudian.


"Oprasi.." ulang ku


"Benar pak.."


Kini ia tak bersuara lagi hanya air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Pindahkan keruangan oprasi sekarang" titih sang dokter


"Baik dok."


Kemudian Nindy di bawa keruangan oprasi yang mereka maksud ,tentu aku tetap akan mendampingi nya.


"Ma, Doakan yang terbaik ya.." ucap ku langsung memeluk Mama meminta restu dan doanya.


"Pasti. Pasti Ka" jawab Mama mengusap punggung ku lembut.


"Kak.." panggil Xena, seolah mengerti aku pun memeluk adik ku itu.


"Doakan yang terbaik untuk kak Nindy dan ponakan mu"

__ADS_1


"Iya Kak.


*


Kini semua keperluan sudah siap pakaian kami pun telah berganti, dengan was was aku menyaksikan Nindy di suntik bius kemudian menyaksikan pasca menjalankan oprasi yang bagi ku sungguh membuat keringat dingin membanjiri pelipis.


" allhamdulilah..Anak pertama Laki laki"


"Allhamdulillah anak kedua perempuan". Jelas sang dokter ketika selesai oprasi membuat ku kaget.


" kembar dok?"


"Benar pak, ntah kenapa saat tes USG salah satunya tak terlihat. Sudah kehendak Allah" Jawab dokter wanita yang seumuran dengan Mama itu tersenyum.


"Bawa bu Nindy keruangan biasa ya Sus. Untuk Bayinya salah satu tolong bawakan"


Pinta sang dokter.. Aku pun meraih anak laki laki aku dan Nindy ada rasa haru menyelimuti hati menyaksikan pemandangan ini.


Nindy dan kedua anak kami langsung di pindahkan ke ruangan IGD di sana ternyata Mama dan Xena telah menunggu.


"Ya Allah, dua Ka. Allhamdulilah" Syukur Mama aku mengganguk haru.


"Allhamdullilah kak..Yes. Xena ikut senang" girang adikku.


"Tolong di azankan dulu ya pak..setelah ini di bersihkan"


Aku mengganguk.


Terasa bergetar bibir ku saat mengazankan kedua anak kami sungguh bahagia sekali . setelah itu aku menatap Nindy yang setia dengan mata terpejamnya.


"Ayo sayang..buka mata mu! Kau tak ingin melihat dua anak kita yang lucu lucu. Ku harap kau tak berlama lama dengan mimpi mu,walau seindah apa pun itu..kami merindukan mu!!" Bisik ku mengecup dahi nya sekilas.


-


-


-Bersambung......

__ADS_1



VISUAL SI KEMBAR


__ADS_2