
Pov Yoga Yudistira
Pengakuan Nindy kala itu bagaikan bongkahan batu menghimpit dada, rasanya sesak sekali. Namun demi Allah aku tak memandang nya j i j i k ataupun h i n a.
Sebagai manusia biasa yang tak luput dari dosa dan hawa n a f s u tentu aku merasa kecewa. Andai kalian di posisi diriku?. Belum tentu bisa bertahan di bandingkan diri ku yang belum memberikan kejelasan.
Namun aku tahu, disini korbanya dia. Dia yang terluka, dia yang kecewa juga, tapi aku tak mempunyai kekuatan untuk ku menahan nya ketika pergi.
Sesak rasanya sudah dari dulu ku idam idam kan. Mengimpikan memiliki satu satunya dengan ikatan suci.
Namun pengakuan itu. I b l i s telah berhasil merasuki diriku, akhirnya iman ku goyah tak sekuat itu.
Namun begitu rasa kecewa murni berasal dari relung hati ini yang paling dalam.
"Sabar kak, mungkin Nindy bukan cewek baik baik untuk kakak" ucap Selina. Dia dulunya adalah teman baiknya Nindy.
Tapi ketika aku dan Nindy sedang tak baik baik saja ia malah di pihak ku.
Sebenarnya jengah juga ketika setiap waktu ku terus di isi oleh dirinya. Bukan kah saat ini aku membutuhkan waktu sendiri.
"Selin yakin, Jodoh kak Yoga orang yang benar benar baik dan bisa menjaga dirinya. Bukan seperti.."
"Cukup Sel.. kamu bisa pergi dulu ngak, aku lagi butuh sendiri" potong ku pada Selina namun begitu aku masih menahan kata agar tak membentak.
Sebab ku tahu ,Wanita akan sangat rapuh ketika di bentak terlebih oleh pria
"Ok , Maaf kak. Kalau aku disini cuma ganggu kak Yoga aja" jawab Selina terlihat melemah.
"Iya ngak papa.. aku hanya lagi sedikit pusing" ucap ku tanpa menoleh ke arah gadis itu.
"Yaudah, Selina pamit dulu kak.. Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam"
Aku menatap punggung gadis berambut cat merah di ujung itu. Ada rasa bersalah telah mengusirnya.
Memijit kepala yang terasa berdenyut, sebelum itu membayar makanan tadi lalu pergi.
Ya sekarang ini aku berada di restoran terkenal di kota ini.
Namun saat aku sedang ingin pergi tak sengaja pandangan ku menangkap sosok yang amat ku kenali.
"Raka"
Pria itu memandang ku awalnya terkejut tak lama tersenyum ramah. Raka adalah abang sepupuku namun bagi kami , kami seperti teman sebaya saja sebab telah terbiasa dari kecil.
Kami berpelukan sebentar, ia terlihat semakin tampan dan mapan saja. Sebab aku mendapat kabar sekarang ini ia mengelola pabrik El. Paman Dhani. Papa Raka.
Lama kami berbincang menanyakan kabar ,bercerita ria . bahkan membahas diriku yang telah mengenakan kopia dan Baju kokoh. Sampai sampai membahas ia yang katanya sudah bertunangan karena perjodohan.
Ternyata ia masih Raka yang dulu ,membalas godaan ku. Menanyakan diriku kenapa sampai sekarang masih sendiri.
"Rumit " ulang nya
"Iya rumit", jawab ku lagi
Tak lama ia tergelak menertawakan nasib adik sepupunya ini.
" mungkin kau kelamaan jomblo Yog..."
Akhirnya kami tergelak bersama. Setelah itu berpamitan untuk pergi karena ada urusan masing masing.
*
__ADS_1
Hari hari berlalu aku belum mempunyai keberanian untuk mengirim pesan padanya. Sampai akhirnya aku sholat istiqhora meminta petunjuk pada Allah.
Menenangkan diri untuk sementara waktu ini ,saling tak berkomunikasi. Tapi jika nanti aku telah memiliki gelar ustad aku akan melamar nya di depan ibu dan Paman sekaligus Tante.
Inn syaa Allah aku telah menerima Nindy apa adanya tanpa ada kata masa Lalu.
Namun pagi ini aku harus ke kampus ku dulu. Menjadi orang baik taat agama baru cocok dengan Nindy.
"Yoga ,pamit dulu ya Tan, Paman" pamit ku
"Iya ,hati hati ya nak" jawab Tante Ria.
"Belajar yang rajin. Urusan wanita itu akhir saja" pesan paman Bagas pula.
"Baik paman, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Jawab mereka serempak
"Hati hati ,Kak Yoga.". Seketika kami menoleh. Aku menghembuskan nafas kasar melihat Selina.
Emang ia terhitung sering kesini. Tapi tak baik perempuan mengunjung laki laki hampir setiap hari.
" iya, saya pergi dulu" ucap ku langsung berlalu
Aku mengendarai motor pelan menikmati udara di jalan sampai ke perbatasan kota dan kampung.
"Selamat tinggal dulu ya Anindya Saputri. Inn syaa allah kakak akan kembali dan memberi mu kejelasan yang pasti. Walau jauh di mata semoga dekat di do'a" batin ku dalam hati mengukir senyum manis.
Apalagi membayangkan aku dan Nindy bersanding sebagai ustad dan ustadza.
__ADS_1
Sungguh masa depan yang indah....
Bersambungggg...