
Pov Anindya
Perlahan aku membuka mata hal pertama yang kulihat adalah ruangan ber cat putih. Rasa sakit di sekujur tubuh kian terasa membuat ku ingin menangis saja.
Seolah kesadaran ku baru datang.. Tiba tiba bayangan mobil bertabrakan melintas di benak ini.
Raka. Iya Raka di mana?
Aku hanya bisa memejamkan mata menikmati rasa sakit di kepala. Aku pun merasakan ada kain putih membalut di kepala dan punggung tangan ku.
Aku pun menyadari baju dan kerudung ku telah berganti. Dengan warna biru muda.
Krekk... pintu terbuka
"Ibu" panggil ku pelan..
"Ya Allah.. Alhamdullilah kamu sudah sadar nak.. Dokter Dokter" ucap ibu Haru.
Tak lama dokter wanita dan seorang perawat pun datang. Dan memeriksa diri ini dengan teliti. Pada akhirnya selesai juga.
"Dek Nindy, jangan gerak gerak terlalu aktif. Atau jangan mencoba mengigat ingat dulu... 0h iya saya permisi dulu. Bu Desi, silahkan beri obat pada Nindy yang telah kami sediakan". Jelas dokter cantik itu.
" baik dok". Jawab ibu.
"Kami permisi dulu.. Mari sus".
Akhirnya dokter cantik dan Perawan perempuan itu melangkah pergi hilang dari pandangan.
Setelah itu ibu melangkah mendelat. Kami berpelukan Haru menumpahkan tangis bersama.
" bu " panggil ku pada Ibu..yang masih menangis.
"Iya nak, dimana yang sakit". Jawab ibu sambil mengusap sisa sisa air matanya dengan punggung tangan. Saat ini lah aku merasa gagal menjadi seorang anak, sebab sudah sekian kalinya aku membuat ibu menangis.
" Sakit semua buk " jawab ku tak bisa berbohong
"Sabar ya Nak, kata dokter kamu cuma cidera sedikit saja. Tapi nak Raka.." ucap ibu menjeda ucapan nya.
"Raka kenapa buk..bagaimana keadaan nya" potong ku cepat.
"Raka kritis..." Jawab Ibu dengan mata berkaca kaca .
"Kritis bagaimana buk.." sahut ku memperjelas.
"Raka mengalami kritis. Akibat kecelakaan itu ia mengalami patah tulang di bagian tangan kirinya. Akibat benturan keras kepala Raka banyak mengeluarkan darah, akibatnya Raka kekurangan darah. Kita berdo'a saja. Saat ini adik sepupunya Raka sedang menuju kesini untuk mendonorkan darah. Sebab darah mereka berdua sama".
" Ya Allah...kasihan sekali dia". Ucap ku pelan membayangkan rasa sakit yang di alami nya.
Kasihan sekali dia...
"Bu, Nindy ingin lihat kondisi Raka" pinta ku memelas.
"Tidak , Kondisi mu belum sembuh..Nanti saja kita pergi" tolak Ibu tegas hingga aku hanya bisa pasrah.
"Sini ibu suapin bubur dulu...setelah itu minum obat". Kata ibu, Aku mengganguk lemah.
*
__ADS_1
Kini aku telah berada di kursi roda dengan Ibu mendorong di belakang. Sudah 5 jam rasanya diam di ruangan . rasa bosan tentu saja.
Hingga kini aku dan Ibu memutuskan untuk keruangan Raka, sebab kata Ibu pendonoran darah telah selesai.
Tok tok tok
Sebelum masuk ibu mengetok pintu terlebih dahulu.
" masuk saja"
Akhirnya Kami berdua Masuk. Tiba saat kami telah memasuki ruangan ini. Pandangan ku menangkap sosok orang yang pernah sangat ku kenali sekaligus pernah kecewa dan pergi begitu saja.
Tanpa kabar dan berita.
Jadi kak Yoga adik sepupu nya Raka
Ya disana Ada kak Yoga, paman Bagas, dan tante Ria. dan lagi lagi aku melihat orang yang perna ku kenali Xena.
Disamping brangkar ada Xena dan seorang wanita paruh baya. Ya Allah kenapa mereka ada disini.
"Bu Desi dan Nindy" sapa Tante Ria ramah.
"Iya bu". Balas ibu tersenyum ramah.
Kini terlihat Xena dan wanita di samping nya tadi menghapiri kami.
" kamu yang namanya Nindy". Tanya wanita itu menatap ku intens.
"Saya Tante Nayla , Mama nya Raka
" Bu.." panggil ku pada ibu meminta jawaban yang pantas.
"Sudah bu Nayla..itu masalalu..inn syaa allah Nindy telah ihklas dengan semua nya" jawab Ibu lembut beralih mengusap lengan Tante Nayla.
"Ini maksud nya apa?" tanya tante Ria terlihat penasaran.
"Tante Nayla, jadi pria b e r e n g s e k yang udah jahat sama Nindy itu Raka". Teriak Kak Yoga terlihat murka. Seiring kedua tangan terkepal sempurn hingga urat urat di tangan nya terlihat jelas. Wajah putih itu juga sudah terlihat memerah dengan rahang mengeras.
kenapa kak Yoga?
" Iya Yoga", jawab tante Nayla pelan namun jelas terdengar
"Kurang 4jar" teriak kak Yoga.
Baru kali ini selama kami kenal mendengar kak Yoga mengumpat.
"Kenapa kamu Yoga..apa yang ingin kamu lakukan?". Ucap paman Bagas membawa Kak Yoga menjauh dari Raka yang tak sadarkan diri.
" Aku ingin membunuh nya Paman" teriak kak Yoga murka.
Ada apa ini? Bukanya kak Yoga tak ambil pusing lagi masalah ku itu ,memilih pergi tanpa alasan yang jelas meninggal kan aku.
kini apa? Apa sebenarnya yang terjadi..
"Lepas paman, aku ingin membunuh Yoga. Sebab ia telah melukai Nindy, orang yang aku cintai".
Sontak semua orang memandangi ke arah ku. Membuat diri ini hanya tersenyum tak nyaman.
__ADS_1
Kak Yoga terus saja memberontak dari pegangan paman Bagas tapi tetap juga sia sia sebab kekuatan paman lebih besar darinya
Secara postur tubuh nya tinggi besar.
" Istigfar nak..istigfar Yoga" Ucap tante Ria ikut melerai namun dengan kasar Kak Yoga menepis nya.
"Lepaskan Yoga paman.." Teriak kak Yoga kesekian kakinya terus memberontak dari pegangan paman Bagas.
"BERHENTI BERULAH SEPERTI ANAK KECIL YOGA" Kini gantian paman Bagas berteriak keras.
Seolah waktu berhenti berdetak mendengar teriakan itu, semua orang disini diam termasuk kak Yoga.
Tubuh itu luruh ke lantai...melafalkan istigfar beberapa kali guna meredakan emosi
"Asstgfirullah..Ya Allah"
Tok tok tok
" permisi bisa bertemu dengan Dek Nindy, korban kecelakaan tadi siang". Bagai hantaman keras melihat dua orang polisi telah berdiri tegap
"Bu".. Panggil ku pada ibu mencari ketenangan.
*
Kini aku dan ibu juga dua orang polisi yang berlainan jenis itu, Kami telah berada di ruang rawat ku. Awalnya ia ingin membawa ku ke kantor mereka untuk di introgasi namun pihak dokter tidak memberi izin sebab kondisi ku belum pulih.
Dalam hati terus berdoa pada Allah meminta kebenaran dan keberanian
Walau bagaimana pun dalam hati tetap juga takut dengan introgasi polisi ini. Seharus nya ada Raka menemani ku disini bukan terbaring kaku tak berdaya.
"Begini dik Nindy , kasus ini akan kami tindak lanjutkan. Sebab dari keterangan yang kami dapat kecelakaan yang di alami dik Nindy sendiri dan Raka merupakan kecelakaan berencana" jelas polisi pria dengan logo nama didadanya bertuliskan Hafiz.
"Kekakaan berencana" tanya ibu juga terlihat tak percaya
"Benar..buk dari rekaman CCtv sudah bisa di tebak. Melihat mobil yang di tumpangi dik Nindy dengan saudara Raka di tabrak oleh mobil berwarna hitam . dalam keadaan mobil saudara Raka mengalami kerusakan pada rem akibat melindasi truk.
Kini kaliaan berdua cukup beruntung masih bisa bertahan sebab kecelakaan yang kalian alami bukan main main
Setelah beberapa kali terbalik akibat hantaman keras begitu juga mobil yang menabark kalian. Meski terlihat dari kamera mobil itu tak sempat terbalik hanya terpental sekitar lima meter dari kejadian. Setelah itu mobil tersebut pergirr begitu saja dalam keadaan bagian depan rusak parah.
Ternyata tak sampai disana. Dari arah depan sebuah mobil berwarna putih kembali datang. Lalu menabrak mobil kalian hingga benar benar rusak parah hampir tak berbentuk
Begitu juga, mobil putih itu langsung pergi..
Siap Mengeluarkan asap untuk segera meledak tapi untung lah warga terdekat dengan sigap menolong kalian.
Bagaimana tidak kecelakaan berencana. ?
Sedangkan warga yang menolong kalian pun menduga hal yang sama" jelas polisi Hafiz panjang lebar
Aku mengusap dada pelan, ternyata ketika aku tak sadar kan diri. Musibah kembali datang yakini mobil aku dan Raka tumpangi kembali di tabrak sesorang dengan keji.
Jika benar kecelajaan berencana.....Ya Alllah siapa yang tega.?
Bersambung...
MOGA tidak ngebosanin ya...
__ADS_1