
-
Ada rasa tak terima mendengar umpatan untuk David yang bagiku juga sekaligus untuk dirinya. Walau nyatanya dalang semua itu adalah aku.
Tapi sekadar untuk membalas ucapan nya aku tak mampu. Memilih diam kemudian membantu David.
"Ja-jadi dia Ka" Ujar Nindy terbata.
"Iya Nin."
"Sudah cukup. Raka tolong jangan buat keributan disini apalagi tidak tau ujung pangkal nya langsung main pukul aja" kata ku sinis .
Pusing juga, ntah motif apa Raka memukuli David. Tidak mungkin kan karena duduk satu meja dengan Nindy sementara ada aku.
"Sudah Ya.." Kata ku mencoba menenangkan David terlihat mengatur nafas nya berkali kali ,menatap ku sejenak kemudian menarik tangan nya pelan dan menghampiri Raka juga tak kalah menahan kemarahan.
"Oke,kalau itu mau kamu.saya ngak akan menampakan wajah saya lagi di depam anda. Jadi setelah ini saya harap urusan kita selesai, Percuma dendam itu ada dalam diri mu Raka
Kau tak akan pernah tau dan merasakan apa selama ini ku jalani . Maka berhenti lah pura pura sok teraniaya disini" Ucap David menatap lekat manik Raka.
Aku semakin bingung kemana arah pembicaraan mereka.
"Mau kemana Vid?" kata ku
"Jika mau ikutlah"
__ADS_1
Merasa bingung, akhirnya aku lebih memilih mengejar David secara aku tidak terlalu suka berbaur dengan Raka.
"Bajingan. Itu karma untuk mu" tak memperdulikan David kemudian melajukan kendaraan roda empat BMW putih nya .
Saat ini mungkin aku bagaikan seseorang yang tak jelas kemana tujuan selain mengikut kata hati.
Bagi ku David orang yang baik dan ramah tapi ntah kenapa Raka terlihat begitu benci padanya.
Awal kami berjumpa saja ia terlihat bisa berbaur bersama sama. Bahkan tak segan memberi ku candaan waktu itu.
*
"Kalau boleh tau punya masalah apa kau dengan Raka?" Tanya ku ketika kami telah duduk di bangku taman anak anak.
"Aku suka kesini kalau banyak pikiran" Katanya tanpa menjawab pertanyaan ku"
"Apa kau punya bukti?" Kekeh nya terdengar ringan tanpa beban.
"Ih, Pengacara abal abalan..." ejek ku
"Sudah. Hanya ada masalalu yang belum selesai. Jika aku pun turut menceritakan masalalu itu rasanya tidak etis. Itu hal pribadi?"
"Apa salahnya. Jika ingin berbagi. Semua orang punya masalalu ,masalalu buruk tepatnya. Tapi bukan beratri tidak boleh di ceritakan apalagi du anggap sebagai aib. Kadang kala Aib itu lah sebaik baiknya guru kita". Dalam hati aku tertawa Lepas terasa hambar. Sejak kapan aku bisa berkata sok bijak seperti ini bahkan kata itu pun tidak pernah aku lakukan
" Aku heran deh Lihat kamu. Sebaik ini bisa masuk penjara"Katanya memandangiku tapi tak lama kembali membuang pandangan pada bunga bunga yang luas
__ADS_1
"Masalalu ku juga. Kita bisa sama sama cerita jika kau mau!"
"Baiklah kau dulu"
"Dulu aku pernah menyelakai sahabat ku sendiri bahkan ingin menghancurkan hidupnya sekalian ingin membunuh nya. Hingga aku berkerja sama pada seorang pria untuk membuat Nindy dan Raka kecelakaan. Tapi mukjizat tuhan mereka kini masih hidup meski dulu cidera parah. Aku pun kini ingin berubah , ingin jadi baik lagi" Ucap ku menjelaskan
"Kau belum mengatakan apa penyebab nya kau menghianati teman mu.?"
"Lelaki. Jawaban nya lelaki,bahkan sampai sekarang nama itu masih ada di hati" Kata ku menerawanh jauh.
"Giliran mu untuk bercerita"
"Dulu aku pernah ingin melecehkan adik nya Raka, Tapi kau tau? Itu bukan ke inginan ku..aku di suruh papa. Tujuanya untuk membuat keluarga mereka hancur se hancurnya tapi aku tak tau motif dendam papa.
Sebagai anak angkat aku bisa apa. Tapi sialnya aku kepergok Raka sendiri sebelum melakukan pada adiknya. Ia menghajar ku habis habisan bahkan akibat pukulan Raka aku mengalami kepatahan tulang pada jari tengah ku. Sampai sekarang masih nyeri
Aku ingin di sidang oleh pak Rw. Tapi papa tak mau kedok nya terbuka lebar. Beliau membuang ku ke luar kota. Tapi tetap saja selalu mengirim ku uang untuk biaya kuliah". Jelas nya menghela nafas berat.
" siapa nama papa mu?"
"Pak Daniel"
-
-
__ADS_1
Bersambung..