
Pov Raka Wijaya
"Halo Nindy"
"Saya ingin bicara".
Namun tak kunjung ada jawaban hingga aku memutusakn untuk mematikan telepon. Sebab aku yakin sedikit sebanyak nya rasa trauma pasti ada pada dirinya.
" Mas Raka tadi teleponan dengan siapa? Nindy siapa"
Sedikit terlonjat kaget dengan kedatang Naura yg tiba tiba.
Entah kenapa saat hari libur ia selalu main kerumah padahal aku butuh sendiri.
"Biasalah Teman" jawab ku sekenan nya saja.
Terlihat wajah nya memurung..
"Aku tau mas, kita ini di jodohkan tapi tak ada niatkah untuk mas membalas cinta seperti saya mencintai mas" ucap nya membuat hati ku terenyuh.
Namun aku tak mempunyai kemampuan untuk memberinya pengertian. Hingga hanya bisa melihat Naura mengusap bulir bening di wajah ayunya.
"Maafkan saya Ra" ucap ku akhirnya
"Tak apa mas, mungkin mas belum terbiasa nanti juga terbiasa" jawab nya mengukir senyum manis.
"Udah dulu ya, saya mau keluar ada urusan penting" sahut ku pula.
"Mas ngak ada niat ngajak aku jalan jalan gitu" pinta nya terlihat penuh harap.
"Ngak bisa Ra, lain kali aja ya" setelah mengucap kan itu aku segera berlalu namun saat di depan pintu aku kembali berpas pasan dengan Mama
"Mau kemana Raka, itu kok Naura di tinggal sendiri" ucap mama menatap ku tajam.
"Ada urusan mendadak Ma" setelah mengucapkan itu . aku bergegas pergi mengunakan motor milik ku.
Ntah kenapa?
__ADS_1
Ntah siapa yang membawa ku kesini? Yang jelas kini aku telah berada di restoran tempat Nindy berkerja.
Namun penat rasanya mencari wajah wanita itu tapi tak kunjung ku temui. Motor nya yang selalu terparkir rapi pun tak ada. kemana dia?
Hingga pesanan ku datang. Ternyata Gadis yang membawakan nya.
"Silahkan pak Raka" ucap gadis itu tersenyum ramah.
"Hm, Gadis saya mau tanya? Nindy teman mu itu kemana ya?" tanya ku langsung saja
"Oh dia sedang libur kerja pak..emang bapak kenal dengan Nindy" jawabnya bertanya balik.
"Oh, ngak sengaja kenal aja" jawab ku singkat.
Seolah mengerti aku tak mau cerita. Gadis itu pun beranjak pergi.
"Raka" baru saja, gelas terangkat ingin menyentuh bibir terurungkan ,karena seseorang memanggil nama ku.
Setelah mengenal siapa yang memanggil nama ku. Senyum tipis terukir di sudut bibir .
"Hey kau rupanya!" sapa ku kemudian.
"Suka nongkrong disini juga kau Ka?" tanya nya pula.
"Lumayan juga sih..untuk menghilangkan rasa suntuk dan rasa bosan saya" jawab ku seada nya saja.
"Hey ayolah Raka, dari dulu kau tak berubah. Bahasa mu itu terlalu formal untuk orang dekat sekali pun" sahut nya mengomen bahasa ku.
"Mungkin kebiasaan di kantor" jawab ku lagi.
"Apa kabar paman dan Tante ?" tanya ku mengalihkan topik.
"Allhamdulah sehat aja!'"jawab nya aku mengganguk pelan.
" ngomong ngomong uda jadi ustad muda nih ,uda pakai kopia sama kokoh..kenapa ngak sekaliaan pakai kain sarung" Canda ku.
Hingga kami sama sama tergelak.
__ADS_1
"Biasa biasa saja Ka, kalau aku pakai sarung kayak orang baru selesai s u n a t dong" balas nya dengan candaan.
"Yoga, Yoga" aku hanya bisa geleng geleng kepala pelan.
Yoga Yudistira ,adalah adik sepupu ku dari pihak ibu. Hingga meng-akibatkan hubungan kami berdua dekat.
Sebab dari kecil kami selalu bersama ketika di rumah nenek. Namun menginjak usia remaja kami jarang bertemu lagi.
Walaupun umur ku tua dari nya dua tahun namun kami seperti menggangap sebaya.
"Ku dengar kau sudah punya tunangan" pertanyaan nya berhasil membuat hati ku buruk saja.
"Iya" jawab ku
"Kenapa kau Ka?" kayak tak senang gitu" tanya kepo.
Tak heran lagi jika Raka waktu kecil lebih banyak dari pada ku sebab ia orang nya aktif dan ramah.
"Biasa lah perjodohan" jawab ku lagi.
"Ngak ada niat gitu, untuk menerima dan ihklas" ucal Yoga kini terlihat serius.
"Lagi dalam peroses" sahut ku pelan.
"Kamu apa ceritanya..juga bukan anak kecil lagi ya" goda ku balik.
Kini giliran wajah adik sepupu ku itu yang terlihat murung.Apa ia korban perjodohan juga.
"Kenapa putus cinta" tanya ku
"Rumit" ucap nya lirih.
"Rumit" pasti ku
"Iya rumit". Ulang nya lagi
Aneh sekali..ia seperti anak ABG an yg jatuh cinta.
__ADS_1
Bersambung....
Terimaksih udah mampir ke cerita ku