
POV Yoga Yudistira
Hari hari mulai ku lalui di kampus keagamaan ku, hem tapi tepatnya pesantren sebab semua pelajaran mengandung syariat islam.
Hati ku tentu gelisah tanpa memberi kabar Nindy, Tapi walau bagaimana pun juga aku masih butuh menyendiri.
Hanya sholat istiqharo membawaku pada ketenanga. Nasihat Paman Bagas dan Tante Ria telah menjadi panutan untuk belajar yang tekun.
Agar kelak bisa mendo'akan kedua orang tua ku yang telah tiada.
Setiap malam detingan ponsel ku selalu berbunyi, pengirim nya tetap orang yang sama.
Yaitu Selina.
Meski pun hanya sekadar, lagi apa? Dimana? Tetap saja membuat diri ini tak nyaman.
Sebab ku tahu Sudah dari dulu Selina menyukai ku. Namun ku tanggapi jutek saja tak mau memberi perhatian lebih. Sebab orang yang ku cintai Nindy bukan Selina.
[Sudaah makan kak] chet darinya
[Sudah]balas ku
[Semangat ya kak.. belajarnya]. Kirimnya lagi.
Tak lama kemudian satu panggilan masuk tertata nama Selina di layarnya.
"Ya, Assalamualaikum Sel.. ada apa?" tanya ku the to point saja.
"Waalaikumsalam kak.. ngak ada cuma mau teleponan biasa aja" jawab nya di seberang sana.
Membuat ku menghembuskan nafas kasar saja...
"Sebelumnya Maaf Sel.. mungkin ini agak menyakitkan tapi aku harus mengatakan nya pada mu.
Aku tahu cinta mu pada ku Sel.. oleh sebab itu ku minta hapus saja, sebelum semakin besar. Akibatnya kau akan di butakan oleh cinta.
Dan aku juga minta memutuskan komunikasi kita, aku tak mau membuat mu semakin berharap . Maaf Sel, aku tak bisa membalas cinta mu"
Akhirnya suatu kelegaan setelah mengatakan itu. Tak ada suara disana hanya ada isak tangis yang terdengar.
__ADS_1
Mungkin berat, tapi aku yakin ini yang terbaik untuk nya.
Tak lama kemudian aku memutuskan sambungan secara sepihak.
"Assalamualaikum Sel"
*
Namun , kurang lebih 3 minggu aku disini , Aku telah mendapatkan kabar duka dari Paman dan Tante.
Bahwa Raka mengalami kecelakaan serius dengan seorang wanita. Tapi Raka yang lebih parah ia mengalami patah tulang dan kekurangan darah di bagian kepala nya akibat benturan keras.
Kantong darah yang serupa dengan Raka tak cukup di rumah sakit, hingga hanya aku satu satunya penolong. Sebab dari kecil kami tahu! Golongan darah kami sama.
Sore itu juga aku berangkat.. sekitar 7 jam perjalanan aku sampai di rumah sakit Raka di rawat.
Melupakan rasa lelah akhirnya aku langsung menemui dokter melakukan pendonoran darah untuk Raka.
Setelah selesai, Allhamdullilah pendonoran nya berjalan lancar. Atas izin Allah.
Meski Raka belum sadar..
"Sudah Tan.. itu emang uda kewajiban Yoga untuk menolong Raka" jawab ku membuat paman Bagas dan Tante Ria tersenyum bahagia.
"Iya Nayla" Sela tante Ria.
Tok tok tok..
Bunyi pintu di ketuk lalu masuk lah orang yang di luar. Setelah melihat siapa orang itu berhasil membuat tubuh ini membeku.
Terlihat wanita yang di kursi roda dalam keadaan kepala di perban tipis dan punggung tangan juga begitu.
Ya, dia adalah Nindy. Kenapa bisa ia kecelakaan bersama Raka? Dimana mereka kenal.
Bagai pertanyaan yang menghantui pikiran..
"Eh, ada bu Desi sama Nindy" sapa tante Ria ramah tentunya di balas dengan bu Desi hangat.
Tak lama kemudian Tante Nayla mendekat, tepat di depan mereka.
__ADS_1
"Kamu yang Namanya Nindy. Saya Tante Nayla Mama nya Raka, oleh sebab itu saya Mohon, mohon maafkan Raka yang telah merenggut masa depan mu. Dia juga ingin bertanggung jawab, kiranya nak Nindy mau menerima. Mungkin saya blum bisa mendidiknya..
Kini pertanyaan demi pertanyaan datang..apakah sebenarnya Nindy yang merenggut hal berharga Nindy pada malam tahun baru itu.
" sudah lah bu.. itu masalalu, inn syaa Allah Nindy telah ihklas dan memaafkan Raka" jawab bu Desi
Kini tujuan pembicaraan mereka telah bisa ku pahami. Be r e n g s e k Raka.
Seketika rasa emosi ,kecewa dan marah meluap di dalam dada.
Tiba tiba sebuah bisikan datang untuk ku memb*unuh Raka saja. Ia tak pantas di dunia ini.
Namun ketika aku ingin melayangkan pada tubuh tak berdaya abang sepupuku itu dengan cepat Paman Bagas memegang tangan ku membawah jauh dari Raka.
Tentu saja tenaga ku kalah pada lelaki bertubuh kekar itu.
"Lepas paman, aku ingin menghabisi Raka
Bere ng sek itu . sebab telah melukai Nindy, orang yang aku cintai" teriak ku meluapkan emosi.
Ketika semua orang disini memandangi ku, aku tak peduli.
Tante Ria mencoba ikut menahan tubuh ku namun dengan kasar ku dorong wanita pengasuh ku dari kecil itu. Menyayangi bagai anak sendiri.
Aku terus memberontak di pegangan paman Bagas namum akhirnya semua orang disini terdiam termasuk aku karena bentakan keras paman Bagas.
"BERHENTI BERULAH SEPERTI ANAK KECIL YOGA".
Sebuah kesadaran datang tubuh ku luruh kelantai. Sambil beristigfar untuk meredahkan emosi di dada. Mengusir segala bisikan s e t a n yang menyesatkan.
Tante Ria merengkuh tubuh yang rapuh ini..memeluk dengan kasih.
Sampai akhirnya dua polisi datang dan membawa bu Desi dan Nindy.
*
-
Bersambungg...
__ADS_1