
-
Ketika hakim mengetuk palu masih tergiang giang di telingaku. Siapa pun dia, tak akan sanggup berada di balik jeruji besi.
Walaupun sudah segenap dan seihklas hati untuk menerima kenyataan itu.
*
"Dengan Selina Anatasya ada kunjungan" Ucap Polwan yang ku ketahui bernama Fani itu tegas.
"Siapa?" tanya ku pendek.
Baru satu hari di balik jeruji besi aku lebih banyak memilih diam.
Kalau ku tahu diam senyaman ini dari dulu sudah ku lakukan.
Tapi tak ada lagi yg harus di sesali. Masalalu biarlah berlalu tugas ku sekarang menyelam ke masa depan tanpa tujuan.
"Silahkan di lihat... katanya teman Mbak"
Dengan langkah pelan aku mengikuti langkah polwan itu menuju ruang para kunjungan pidana.
"Mau apa kesini Nin?" tanya ku lebih dulu
"Assalamualaikum" aku tersenyum masam mendengar jawaban nya
"Wa-alaikumsalam" kata ku pula
"Apa kabar mu Sel?' tanya nya tersenyum tulus
" seperti yang kau lihat.. Lumayan juga lah!!" jawab ku tersenyum terpaksa.
"Oh iya ,aku membawa makanan kesukaan mu ketika SMA dulu..."
__ADS_1
Aku masih melihat pergerakan tangan Nindy pada tiga kantong belanjaan nya.
Diam diam aku sangat malu pada diriku untuk memandangi Nindy, dia sangat baik pada ku sedangkan diri ini justru sebaliknya.
"Maafin semua kesalahan aku ya.. Nin, sudah jahat sama kamu" ucap ku hati hati.
"Ntahlah Sel, bagiku kau tak ada jahat dengan ku. Aku pun tak tau di mana letak kesalahan mu Sel, masalah tuntutan itu Raka yang berkuasa" jawab nya menatap ku dalam.
Jadi Raka belum menceritakan bahwa aku yang memaksanya untuk melakukan nya pada Nindy tentang malam tahun Baru itu.
"Tapi kamu tenang saja, jika aku dan Raka sudah menikah maka aku akan minta membebaskan mu. Setidaknya meringankan masa Tahanan" Ujar nya membuat ku terbelalak tak percaya
"Menikah..." Ulang ku
"Iya, setidaknya demi kebaikan mu juga Sel"
"Ngak ,kamu ngak boleh nikah sama si bre*ngsek Raka itu. Apalagi karena aku" Ucap ku menggeleng tegas.
"Semua keputusan ada di tangan aku Sel" jawab nya tanpa bersalah.
"Jahat. Coba jelaskan dimana letak kejahatan mu Selina" teriak nya tak kalah kuat.
Air mata ku lolos seketika andai dari dulu aku sadar bahwa Nindy tak ada harganya di banding Lelaki lain... Pastilah saat ini hidup kami bahagia menjadi sahabat paling setia.
"Aku, aku sangat jahat sama kamu.. Karena.." Aku siap menyusun kalimat untuk menjelaskan nya. Tapi sia sia tak ada satu pun kata yang keluar dari sana.
"Sudah Sel, jangan di jelaskan kalau tak sanggup. Bagiku masalalu biarlah berlalu, yang terpenting. Selina sekarang ini telah baik seperti orang yang ku kenal"
Aku terisak haru mendengar semua itu...
"Makasih Nin..."
"Sudah.. ini aku bawain Kerudung untuk mu ,sebab kamu lebih cantik kalau pakai kerudung"
__ADS_1
Dengan ragu aku mengambil nya..menatap Nindy dengan segudang penyesalan.
"Masa kunjungan telah habis, silahkan datang besok" Ucap Polwan Fani.
Tak ada yang bisa membantah. Akhirnya pertemuan ku dengan Nindy hanya sampai di situ.
*
"Siapa lagi?" tanya ku pada polwan Fani. Baru tiga jam yang lalu Nindy mengunjungi ku kini sudah ada lagi.
"Dia tidak memberi identitas bersangkutan ,silahkan di lihat" Jawab nya.
Dengan langkah pelan aku mengikuti polwan itu ke tempat biasa.
Setelah sampai, tubuh ku lemas seketika. Tulang penyangga rasa roboh tanpa tersisa.
Masih teringat jelas siapa dua orang disana..
"Selina, Ya allah. Kenapa jadi begini??" dengan langkah cepat ia menghampiri ku dan memeluk ku.
Meski tak dapat di bohongi aku merasa nyaman terlukis sulit sekali terkikis.
"Coba cerita sama Mami... apa yang terjadi dengan kamu Sel" tanya wanita itu.
"Kenapa Mi, biasanya juga ngak peduli. Apa pun yang terjadi pada Selina"
Kurang nya kasih sayang di tambah dalil membedakan membuat ku berlaku kurang ajar pada wanita itu. Di usianya tak lagi muda masih terlihat cantik karena berdandan.
"Jangan kurang ajar.. pada kami kamu" tunjuk lelaki di samping Mami yang dari tadi diam.
"Kenapa?.. biasanya juga ngak peduli, sekalipun Selina jadi ******* di luar sana" Ucap ku tak kalah sengit.
Plakk
__ADS_1
Nexxxt ngk nih,π₯Ίπ³π³π₯³
Maaf ya kalau up nya lamaππ