
Aku menghempaskan tubuh di atas kasur, nyaman itu yang ku rasakan ketika berada dalam pembaringan.
Tepat jam 05.00 Wib acara selesai semuanya bubar, meninggalkan aku ,Ibu dan juga Raka.
Sedangkan Ibu mertua ku sudah pulang bersama Xena sebab Xena besok pagi sekolah dan ujian tidak membawa seragam kesini saat pagi tadi.
Diam diam aku tersenyum merekah, Tak menyangka takdir Allah seindah ini di selipkan di atas luka yang dulu ku rasakan.
Terbayang jelas setiap kalimat dari Raka tentang kata Istri untuk ku. Bahagianya tentu saja.
Harapan besar semoga kami selalu bahagia, namun di sisi itu aku kecewa mengetahui Selina tak hadir di acara pernikahan ku.
Sebab sedang sibuk aku tak sempat menanyakan pada Bibi nya. Sedangkan untuk kak Yoga aku harap ia segera menemukan pasangan yang cocok dan semoga Selina.
Dari dulu aku tak pernah menaruh hati sedikit pun pada kak Yoga, Kemauan ku ingin bersamanya dulu hanya sebatas kagum ingin memiliki sosok sempurna lagi taat agama itu.
Tapi kini aku sadar melibatkan hati untuk pasangan itu menyenangkan. Yah, kini aku telah menaruh. hati pada suamiku sendiri.
Krekkk
Pintu kamar ku berderit, terlihat Raka masuk dengan setelan santai. Sepertinya ia baru selesai mandi.
Dengan celana hitam selutut serta baju kaos berwarna putih. Simpel saja namun terlihat sempurna, mungkin itu yang namanya jauh cinta.
"Raka"
"Heyy...Ayolah! Jangan pangil nama aku dong, Ngak baik itu namanya" jawab nya melangkah mendekat ikut duduk di sisi ranjang.
Entah trauma itu masih ada atau tidak, yang jelas ketika berdekatan dengan nya aku tak segelisah dulu lagi. Mungkin itu namanya kuat nya do'a ibu untuk hati anak nya.
"Jadi panggil apa dong?. "
__ADS_1
"Terserah, tapi sopan dan enak di dengar ."
"Om ajalah...secara kau cukup tua dari ku lumayan jauh". Kata ku kini mulai berani mengoda nya.
" umur mu berapa?" tanya nya terlihat tak terima.
"19 tahun,..."
"Nikah muda berarti kamu yaa!!..Lumayan jauh juga perbedaan umur kita , Aku 25 tepatnya har ini aku ulang tahun" Jawab nya sambil menoleh ke arah ku seolah ia masih ingin melanjutkan ucapan.
"Selamat ulang tahun kalau begitu ya.." Jawab ku terdengar kaku
"Dan, aku ingin kado dari kamu" ujar nya pelan manarik sudut bibir hingga seutas senyum tipis terbit di bibit tipis pria itu.
"Apa?. Aku usaha kan?" Jawab ku sedikit gugup ketika tatapan nya intens dan baru kali ini aku bisa membalas tatapan tajam pria itu.
Di lihat lihat, ia memang tampan pantas saja playboy. Jika tidak tampan mana ada julukan playboy cocok untuk nya.
"Apanya?" tanya ku..
"Jangan pura pura polos Nindy."
"Polos, siapa yang pura pura polos. Dan polos itu apa.?" Ucap kku mencoba mencerna nya tetap saja tidak bisa.
"Kamu ingat kan , malam tahun baru itu.?"
Deghh..
Seolah sadar bukan anak kecil lagi aku mengganguk silvia susah payah. Tidak, aku belum siap untuk itu. Tapi di sisi lain sebagai kewajiban aku takut Raka pergi mencari wanita di luar sana.
AStgfirulllah...jangan Seudzon dulu Nindy.
__ADS_1
"Tapi..."
"Apanya. Belum siap, sampai kapan ? Ingat Nindy ini bukan pernikahan kontrak, Yang artinya akan berakhir. Janji sakral yang ku ucap kan siang tadi adalah hal pertama dan terakhir kalinya dalam hidup ku. Jadi jangan pernah mencoba untuk pergi mencari Yoga, kau lihatkan tadi? Tatapan nya masih mengharapkan kamu Nin"
Ucap nya terdengar pelan namun ada di penekanan setiap kalimat.
" Raka " teriak ku tanpa sadar..
"Aku juga minta kau menuduh tentang aku yang masih mengharapkan kak Yoga, ini yang kesekian kalinya dan terakhir kalinya.
Percaya sama aku. Sampai kapan kamu tidak percaya Raka" ucap ku melemah di akhir kamliat.
"Maaf,..kamu jangan tersinggung justru karena aku sayang dan takut kehilangan kamu Nin. Tidak semua lelaki itu sama caranya mempertahankan wanita yang mereka cintai.
Ada dengan cara lembut dan tegas.. Masalah itu aku tidak terlalu tahu, Aku hanya minta kamu jangan tinggalin aku ya!". Rasa yang tadi ingin marah tiba tiba jadi haru.
Aku diam saja ketika Raka menarik tubuh ku merapat dengan nya , membawa dalam pelukan pria itu.
Bisa ku rasakan detak jantung Raka terdengar lebih berpacu cepat. Apakah hal yang saar ini kami rasakan sama.
" inn syaa Allah Ka. Aku juga akan berjanji menjadi terbaik untuk mu. Mari kita mulai sama sama dari awal saling menutupi kekurangan.
Inn syaa allah juga aku siap lahir dan batin untuk setiap kewajiban"
"Masalah r a n j a n g"
"Sudah kita sholat Isya dulu ya, setelah itu sholat sunah, dan yang terakhir kita sholat taubat" kata ku.
"Okee , Tapi kok Sholat Taubat. Emang harus ya?"
"Raka, kita harus bertaubat atas apa yang kita lakukan pada malam tahun baru itu. Itu dosa besar, dosa besar di mata Allah. Tapi tidak bagi orang yang mau bertaubat"
__ADS_1
Bersambung...