
Pov Raka Wijaya
*
"Emang kakak itu mau nerima kak Raka" ulang Xena sekali lagi membuat diri ini bungkam untuk sekian kalinya.
Hingga akhirnya aku melangkah mendekat, dengan lembut ku raih tangan Mama
"Ma ,Restui Raka ya Ma.. Raka ingin menebus kesalahan dan bertanggung jawab" Ucap ku lembut.
Walau sekeras apa pun watak mama, ia tetap bidadari ku Pastinya ia menginginkan terbaik untuk anak anak nya termasuk aku.
"Mama akan merestui jika jalan mu baik Raka, tak perlu kau pinta seperti ini" jawab Mama menghapus sisa sisa air matanya.
"Terimakasih Ma" jawab ku pelan.
"Tapi ingat Raka, Mama juga manusia punya sisi kecewa.. jika kau mengecewakan mama untuk kesekian kalinya tak berkesudah . jangan pernah temui Mama lagi
Mama hanya ingin melihat anak anak mama bahagia dengan pasangan mereka. Disisa hidup Mama. Apa itu salah?"
Ucap Mama panjang lebar..
"Raka akan berusaha menjadi yang terbaik Ma" jawab ku pelan menundukan kepala. Malu rasanya melihat wajah Mama.
Aku akui, Diri ini bukan lah orang baik. Tak jarang ketika ada masalah baik urusan kantor ataupun tidak akan ku lampiasakan dengan botol minuman h a r a m itu.
Aku akan pulang dalam keadaan setengah sadar diantar oleh kawan kawan tak jelas ku itu. Tentulah mengundang kemarahan Mama.
Tak jarang juga , Aku selalu berkencan dengan Wanita yang berbeda beda tetap saja terus kepergok Mama atau pun Xena.
Dunia ku memang bebas, membuat hidup ini tak jelas.
Tapi itu dulu. Mulai sekarang aku ingin berubah, menjadi lebih baik lagi.
*
"Tunggu dulu Nin, tolong jangan seperti ini. Seperti main kucing kucingan saja.
Kurasa kau pasti sudah tau tentang ucapan ku pada ibu mu dulu" Ucap ku setengah berteriak sambil mengejar langkah Wanita berbaju tunik Army serta jilbab senada itu.
__ADS_1
Setelah pulang dari kantor aku memutuskan untuk ke tempat kerjanya Nindy. Tapi kenyataan nya ia tidak menerima kehadiran ku.
"Nin ,Kamu mendengar ucapan saya kan" sinis ku tajam . kesal rasanya di diamkan , dengan terburu buru ia memasang helm.
"Silahkan pulang tanpa motor mu" ucap ku tersenyum sinis setelah berhasil merebut kunci motor nya lalu mundur sekitar tiga langkah.
Berhasil membuat wanita itu melepaskan helm nya kemudian membalas tatapan dengan tajam.
"Mau anda apa pak Raka, saya orang nya sadar diri .. Bukanya dulu anda tidak bisa menikahi saya, Oke saya terima.
Tapi sekarang mau anda apa?. Jangan mentang mentang anda beruang bisa memegang kuasa.
Katakan berapa ibu saya anda beri uang. Oh tidak ,Ibu saya bukan mata duitan.
Ancaman apa yang anda berikan sampai sampai ibu saya merestui putri kesayangan nya menikah dengan pria pe c u n d a n g . seperti Anda"
Aku memejam kan mata... seperti ada sakit tersendiri ketika melihat air mata telah mengalir di pipih putih wanita itu.
"Sama sekali tidak seperti yang kau tuduhkan Nin" jawab ku berusaha tenang.
Aku sadar diri yang salah disini siapa?..
"Nin, tolong terima saya. Saya telah memutuskan tunangan secara dua pihak. Jadi saya ingin bertanggung jawab dan menembus dosa saya pada mu" pinta ku penuh harap
"Tidak" ia menggeleng kepala mantap
"Kalau masalah tanggung jawab, tak usah.. Aku tak butuh tanggung jawab mu. Masalah memaafkan , Aku telah mencoba ihklas yang artinya aku akan mencoba memaafkan mu. Jadi tolong jangan ganggu hidup ku dan ibu" jawab nya kukuh pada pendirian nya.
"Jadi ,saya harus berkata apa..biar kamu menerima saya Nindy" tanya ku belum puas dengan segala jawabanya.
"Tidak ada Raka"
"Sini kembalikan kunci motor ku..aku ingin pulang. Hey, Ayolah Raka tak cukup kah? hal berharga dari ku kau ambil keji kini motor yang satu satu nya ku punya kau pun ingin mengambilnya" sarkas nya tajam.
"Oke ,saya menyukai mu Nindy.. mau kah? kau menerima saya" Tatapan mata yang dari tadi selalu membuang ke arah lain kini mendongak menatap ku. Hingga aku tersenyum tipis menanggapi nya.
"Atau perlu saya bersujud di kaki mu. Atau berteriak pada semua orang bahwa saya telah menyukai mu Anindya Saputri" Alis mata lentik itu naik turun tak percaya seiring bola mata membulat sempurna.
Namun pada akhirnya ia tergelak tanpa ekspersi
__ADS_1
"Kita bukan anak kecil lagi Raka..jangan membuat lelucuan tidak lucu". Jawab nya
"Sebab saya serius Nin.. Tidak ada yang ketawa artinya bukan lelucuan" Sahut ku kemudian.
"Bagaimana Nindy?" tanya ku lagi
"Sepertinya jika saya meladani orang gil4 seperti anda. Tidak akan pulang kerumah saya, begini Saja. Saya akan memberi tawaran". Ucap nya tersenyum tipis
Aku memicingkan mata , apa yang ingin ia rencanakan?..
" katakan lah.."
"Begini saja. Saya akan memberi mu waktu 3 bulan . untuk mu meluluhkan hati saya ,untuk mu menjinak kan saya. Dan untuk mu bisa berubah... Yang terpenting bisa menghilangkan trauma sekaligus memori buruk pada malam tahun baru itu... bagaimana?"
Aku meneguk ludah
Bukan tak mampu , tapi tak yakin dengan keputusan nya yang terakhir.. benar saja menghilangkan memori kenangan..
"Bagaiman? tidak sanggup.. mundur lah, jangan ganggu saya" ucap ny terdengar puas
"siapa bilang, Saya sanggup" jawab ku mantap seketika senyum itu luntur.
"Kau yakin"
"Kita lihat saja nanti.. Tapi saya minta beri waktu lebih dari tiga bulan jika saya gagal dalam waktu itu" pinta ku
"Tidak ada " tolak nya mantap
"Oke baiklah" jawab ku pula
Semangkin membuat senyum nya hilang berganti tatapan tajam.
"Saya pastikan, usaha mu sia sia Raka" setelah mengucapkan itu ia mengangkat tangan ke udara.
Aku yang paham segera memberi kan kunci motor nya.
Hingga akhirnya ia hilang dari pandangan...
Bersambung....
__ADS_1