
(pov Yoga)
“Merelakan bukan suatu keihklasan.Tapi adalah sebuah keharusan”
Tak ada yang bisa ku lakukan selain merelakan Lia bahagia bersama orang yang telah di tentukan nya, Tak ada yang bisa ku ucap kan ketika mereka menjodohkan ku dengan anak teman Tante Ria, Selain menerima semua kenyataan ini.
Tiara adalah gadis yang cantik ,taat agama dan juga cucu Kiyai Damar, kiyai cukup terkenal dengan kepandaian agamanya.
Namun semua itu tak bisa membuat ku terpikat padanya, akhir akhir ini pikiran ku semakin tidak jelas.
Berawal ketika aku bertemu dengan Selina di Mesjid pinggir kota kala itu, Sepertinya ia sudah berubah mulai menyadari kesalahan nya.
Aku tak peduli tentang itu, bagiku dia hanyalah gadis biasa “Allhamdullah” saja jika ia benar benar telah berubah.
Tidak lama aku dan Tiara menjalankan ta'arufan pihak keluarga langsung memutuskan agar agar aku segera melamar Tiara dan acara itu tepat nya hari ini.
Gadis itu terlihat cantik dengan polesan mek up tipis saja namun memancarkan aura yang sempurna.
Dan ternyata Nindy juga datang ,tentu nya bersama suaminya! sepupu ku itu. Mereka terlihat cocok dan serasi.
Acara akan di mulai aku celingkukan mencari keberadaan mereka berdua, bukanya tadi duduk di bangku sana tapi sekarang tidak ada.
Aku tak bisa lagi memikirkan itu,sebab keterpaksaan harus ku lakukan acara ini dengan sepenuh hati dan berakhir khidmat.
Satu persatu acara telah kami langsungkan hanya tinggal beberapa acara tidak penting saja bagi ku yang belum selesai.
"Kami pulang dulu ya Ria. Soalnya mantu saya sedang pusing tadi, sudah pulang dari tadi! Kalau begitu kami pamit ya?" meski terdengar pelan namun cukup jelas ku dengar pembicaraan Tante Ria dan Tante Nayla.
Pantas saja Nindy dan Raka tak terlihat sebab sudah pulang dari tadi.
Dan apa tadi? Pusing. Berarti Nindy sakit? Lalu bagaimana keadaan nya?.
Berbagi pertanyaan melintas dalam benak ini. Ya Allah semoga Nindy baik baik saja.
__ADS_1
"Oh' Yasudah lah Nayla. Hmm! Apa jangan jangan akan punya cucu dong kamu.. Ketinggalan jauh aku" Jawab Tante Ria tertawa lepas.
"Iya. Semoga saja ya..Hhh,! Yasudahlah kami pulang dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Tak ada lagi obrolan mereka sebab Tante Nayla dan Xena telah berlalu pergi. Kenapa ada nyeri di ulu hati dengan ucapan Tante Ria tadi.
"kak, kak Yoga kok melamun?" tanya Tiara membuat ku tersentak kaget.
"Hem..ngak papa Ra, Bahagia aja" jawab ku memamerkan senyum manis penuh dusta .
*
Atas permintaan Tante Ria kami bertiga aku dan Tiara mengajak kami untuk makan di restoran tempat Favorit tante Ria waktu muda dulu, tepatnya waktu berduaan ketika sudah menikah dengan Paman Bagas.
Aku tak menolak begitu juga Tiara, kami tahu tujuan Tante Ria ingin mendekatkan aku dan Tiara lebih jauh. Aku tak masalah untuk itu.
Cukup jauh perjalanan akhirnya sampai juga di tempat tujuan, Tante Ria yang sudah ku anggap Ibu ku itu tanpa asik memesan makanan kesukaan ku dan Tiara semuanya di tanya.
"Kak Yoga ya ,yang mimpin" aku mengganguk setuju.
“Allah huma barik lana, Fima rozak kana, wakinah aza'bannar.”
Kami pun makan dengan nikmat penuh keheningan, Hingga makanan ini terasa sangat nikmat dan enak di indra pengecap.
"Allhamdulillah.." Syukur kami sama sama.
"Setelah ini kita ke supermareket dulu ya!"
"Di mana tan?." tanya ku
"Ngak jauh kok. Tenang aja, sekali kali jalan jalan juga ngak papa kali" Kelakar Tante Ria.
__ADS_1
"Oh iya! Kamu ngak ada yang mau di beli nanti Ra??"tanya Tante Ria beralih tatap pada tunangan ku itu.
" mm..ntah lah, lihat sajalah nanti Tan!"
"Oke..Mungkin sekarang belum tahu? Tapi nanti ingin kalau uda lihat sesuatu"
"Iya bener itu Tan.." mereka berdua tergelak aku hanya ikut tersenyum saja melihat keakraban dua wanita di depan ku ini.
Nantinya, akan menjadi keduanya wanita separuh di relung hati.
"Udah. Kita jalan sekarang yuk"
"Yukk"
Akhirnya kami pun berlalu setelah Tante Ria membayar semua makanan.
"Bentar dulu de, aku mau ke WC . "
Ucap Tiara menghentikan langkah kami.
"Biar tante temenin!" Tiara mengganguk.
"Aku tunggu disini ta?"
"Iya"
Sepeninggalan mereka aku hanya diam srkali kali melihat ponsel namun tak ada yang menarik disana. Setelah itu memilih menatap jalanan yang penuh dengan kendaraan lalu lalang.
Tiba saat tatapan ku mengarah pada sesuatu yang tidak asing di mata ku.
Aku kembali mempertajam penglihatan untuk memastikan apa dia orang yang sama. Sepertinya ia!, hanya saja ia terlihat berbeda.
Aku menggeleng kepala pelan sambil mengucapkan istigfar ia memang terlihat sudah mengenakan pakaian longgar namun kali ini berbeda. Hanya untuk menutupi aib semata kah?,
__ADS_1
Tanpa pikir dua kali aku menghampiri nya, ntah mengapa ada sakit di ulu hati melihat kondisi nya seperti itu.
Bersambung...