
Oh Tuhan aku akan tetap melangkah memainkan drama ini meski pun itu sulit sekali.
"Gimana bisa jelasin ngak nih ibunya Nindy" cibir ibu Gayatri
"Buuu..."
"Oh itu memang kerudung nya Nindy, Allhamdulilah bisa balik juga lagi kerudung mu nak. Jadi gini ceritanya pak Rw, malam itu ada perempuan ngak di kenal minjam kerudung anak saya..mumpung anak saya punya kerudung sirapan ,yaudah di kasih" ucapan ibu membuat dada ku berdetak lebih cepat.
Ya Allah kenapa ibu harus berbohong..ini semua salah ku
Semua yang ada disini menatap manik teduh milik ibu seolah mencari kebenaran,namun beliau hanya membalas dengan senyuman.
Dengan pelan ibu meraih kerudung ku di tangan ibu Gayatri.
"Wah ternyata orang yg selama ini mereka anggap baik, bisa ngarang cerita juga ya" sela ibu Dewi sedari tadi diam bak cacing kepanasan.
Tak heran lagi banyak yang tak menyukai kami semua itu karena urusan ekonomi, orang yang miskin disini, di anggap tak punya arti.
Meski begitu tentu masih ada yg punya hati, kalau tidak entah di mana saat ini aku dan ibu.
"Oh kalau begitu ceritanya kami percaya, tapi jika kalian berdua berbohong lambat cepatnya akan terbongkar" ucapan pak Rw sukses membuat nyali ku ciut.
"Kalau memang Nindy melakukan nya namun kalian tak mengakui, ku sumpahkan Nindy segera h a m i l" sumpah ibu Gayatri
Tak dapat di tahan aku pun menangis ,ketika lelehan air terasa hangat menyentuh pipih ku.
"Lah tu kan Nangis" sela bu Dewi,
__ADS_1
Ibu mengusap bahu ku lembut
"Ibu Dewi ,masih punya akal sehat kan. Andai ibu di posisi anak saya tentu juga merasakan sakit apalagi tuduhan tak benar seperti kalian ini. Nindy itu ngak sekuat yg kalian hina buk pak, terlebih dia anak perempuan. Saya heran deh, dari kecil Nindy selalu salah di mata bu Dewi" ucap ibu dengan suara gemetar.
Mata beliau menerah menahan amarah.baru kali ini kulihat ibu semarah ini.
"Di depan rumah saya,saya katakan putri saya Nindy anak baik baik. Lagi pula bu Dewi juga punya anak perempuan ..baiknya di urus anak ibu" kata ibu lagi
"Ok saya terima tantangan kamu.." jawab bu Dewi menatap sinis.
"Kalau begitu silahkan kalian pulang.." usir ibu
Ya Allah kenapa karena hamba ibu jadi berbohong.
"Yuh pak Rw, ngak sopan baget" cibir bu Gayatri
Setelah itu mereka pergi, ibu membawa ku masuk dan mengunci pintu.
Kami berpelukan melepas sesak di dada
"Istugfar Nak"
"Astagfitullah.. astagfitullah.. Astagfitullah"
"Tenangkan dirumu ibu selalu ada bersama mu" ucap ibu lagi.
*
__ADS_1
Hari hari berlalu semua aktivitas ku lakukan dengan malas bahkan bertemu sang pencipta pun enggan namun ibu tak hentinya menasehatiku bahwa jalan Allah itu benar.
Namun aku bukan Nindy yg penurut seperti dulu lagi.semenjak pria Gil4 itu menjadi kan ku satu malsm p e la c u r untuk nya hidup ku berubah semua.
Bahkan jika aku teringat aku akan berteriak bak orang gila.
Suara lantunan Azan terdengar merdu namun bagiku itu biasa saja. Aku telah berubah dulu suara itu berhasil menyejukan kalbu tapi kini ntah lah..
"Ayo Nindy, sholat dulu",
dengan malas aku bangkit mengikuti kemauan ibu. Yah jika aku mau bersujud itu semua karena ibu karena aku tak mau ibu sedih.
Namun tak pernah sekalipun ibu absen menyuruh ku sholat.
Ketika Sholat subuh selesai aku kembali dalam selimut kepala ku sakit sekali rasanya.
" nak kok belum bangun..bukan nya hari ini Nindy ngambil Ijazah ya" ucap ibu lembut.
"Iya buk"
Sebenarnya aku tak mau keluar rumah,namun aku lebih tak mau membuat warga curiga.
"Ya tuhan kamu pucat sekali nak, tunggu sebentar ibu ambilkan obat" ucap ibu kahwatir.
Tak lama kemudian ibu keluar dan masuk lagi lalu memberikan ku obat. namun kepala ku masih terasa sakit sekali.
Ada apa ini?
__ADS_1
Bersambung....