
(pov Anindya)
"Cari cincin buat tunangan kita" tanpa sadar wajah ku menghangat mendengar semua itu. Seperti ada kupu kupu berterbangan di sana, sangat indah.
Pagi ini sesuai janji ku dengan Raka untuk menemani nya ke toko emas untuk membeli sekaligus membeli cincin tuangan kami esok.
Melihat pantulan diri di cermin terlihat sederhana dengan gamis berwarna Army serta jilban berwarna jingga muda.
Dengan langkah lebar aku pergi ke kamar Ibu, Akhir akhir ini kesehatan Ibu terlihat menurun tapi saat makam malam beliau telah terihat lebih baik . itu lah membuat ku ingin meninggalkan beliau. Jika tidak ,tentu aku akan merawat ibu seperti hari belakangan memilih cuti kerja menggantikan Ibu membuat Kue aneka tradisional di titipkan pada warung Mbah Salwa tetangga depan rumah.
"Ya ,Allah buk..." Teriak ku histeris melihat tubuh ringih itu terpojok di sudut dinding dalam keadaan seperti sedang menahan sakit.
Dengan terburu aku meraih tubuh itu lalu membawa nya duduk di atas pembaringan.
"Ibu ngak papa kan buk, Pusing Ibu datang lagi ya?"
"Iya, tapi sekarang uda baikan Nak. Pergilah sekarang mungkin Raka sudah menuju kesini.
" Ngak, Nindy mastiin kondisi Ibu dulu. Masalah itu bisa di tunda"
__ADS_1
Terlihat Ibu menggeleng pelan dengan tatapan teduh itu berhasil menbuat diri ini terenyuh.
"Itu Masa depan mu, jangan di tunda. Justru itu salah satu obat membuat ibu akan kembali baik baik saja. Setelah itu, ibu akan merasa lega melepaskan mu Nak".
" Ibu ngomong apa sih" Tanya ku tak suka mendengar kalimat terakhirnya.
"Emang Ibu mau kemana? Ibu tega ninggalin Nindy " Kata ku terlihat murung.
Tak ada jawaban ,Ibu hanya mengusap bahu ku pelan. Berhasil membuat hati ini kembali nyaman.
"Janji sama Nindy, jangan tinggalin..." Kata ku cepat.
"Yaudah, Nindy pamit dulu.. Ibu mau makanan apa?"
"Apa aja lh... yang penting enak"
"Pasti enak.. nanti Nindy bawa ya!"
Jawab ku tersenyum lebar sekali lagi berhambur memeluk Ibu dengan erat ,di mana rasa nyaman yang tak pernah ku dapatkan kecuali dengan Ibu.
*
__ADS_1
"Kamu pilih yang Mana Nin.. kalau menurut ku yang mana aja, semuanya cantik" Ucap Raka meminta persetujuan pada ku.
Kini kami telah berada di depan toko emas ,Dan langsung memilih cincin yang cocok dan cantik.
"Yang mana aja lah. Menurut ku juga cantik semua. Tapi harganya berapa? Kayak nya mahal banget deh Ka. Cari lain aja yang pas pasan dan ngak berlebihan". Ucap ku tak enak hati. Takut kesanya terlalu matre.
Bukanya aku ingin selalu tampil baik di depan semua orang, Tapi pada kenyataan nya bagi ku yang terlahir sederhana pastinya sayang sekali membeli barang dengan harga mahal.
" Sudah tak usah pikirkan. Berapa pun itu tenang saja. Tugas mu disini tolong milih yang mana? Bukan komentar harga nya" Jawab Raka tersenyum hangat.
"Biasalah Mas, Biasanya emang gitu pas ingin nikahan ataupun lamaran . penampilan nya sok sok baik, ngak enakan, pegen yang sederhana sederhana aja. Pokok nya ingin teelihat baik deh di depan pasangan nya.
Tapi setelah nikah nantinya, boros mintak Ampun dah.. Pokok nya topeng uda kebuka. Jadi ngak usah heran dengan sifat nya mbak itu, apalagi permintaan nya, Padahal dalam hati bersorak gembira.Semua Emas mau di borong nya tapi duit pasangan. Iya kan"
Aku terkejut tak percaya dengan aksi nekat wanita berbaju kuning jeas hitam itu. Lancang sekali bahkan ia menatap ku dengan tatapan merendahkan.
"Maksud mbak nya apa? Bisa di perjelas sekali lagi.". Sahut Raka lebih dulu.
" Paham lah Mas. Masa ngak paham!" Cibir nya pelan namun air wajah nya terlihat ramah ketika memandangi Raka berbanding terbalik saat memandangiku.
Bersambung...
__ADS_1