
-
"Ini punya mu kan, ketinggalan. " Aku menatap benda di tangan kak Yoga
Gelang, gelang Couplle ku dengan Nindy .
"Hm iya terimakasih ya..." ucap ku mengambil nya ketika kak Yoga memberikan nya.
"Kau memang belum berubah Sel. Peluapa dan semberono sekali" kekeh nya terdengar merdu . Namum aku pura pura tak peduli.
"Assalamualaikum" ucap ki sekilas menatap nya . bisa ku lihat wajah terkejut terpancar jelas disana. Mungkin dia heran Selina yang dulu kini telah berubah.
Tak ada lagi pertanyaan singkat dan konyol tak pernah di respon nya. Bahkan tak pernah sekalipun Selina pergi meninggalkan nya kecuali ia sendiri yang mengusir. Tapi itu dulu, sekarang ini aku bukan Selina bodoh lagi.
"Maaf lama menunggu...." ucap ku ketika berada di dalam mobil. David tanpak mengalihkan perhatianya dari ponsel.
"It's okey. No prabllem. Oh iya itu siapa? Kok lihatin kamu gitu.." tunjuk nya di luar kaca mobil .
"Ntah lah...jalan saja" Ucap ku tak mau memikirkan lebih.
"Baiklah. Nona, aku sekarang supir mu"
Lagi lagi kami tergelak bersama kemudian. David melajukan kendaraan roda empat ini secara perlahan.
Sekilas aku melihat di depan pintu mesjid kak Yogi masih berdiri disana. Maafkan aku kak?.Aku masih butuh sendiri meski aku tahu kau malah bahagia dengan sikap ku yang sekarang.
*
__ADS_1
Sesuai janji ku dengan David, pagi ini kami telah berada di kantor polisi di mana kini kami telah menuju ruangan tunggu pak Daniel.
Setelah sampai David langsung saja mengatakan pada pengaja sel tahanan.
Polisi itu mengganguk lalu pergi tak lama datang kembali. Namun hanya seorang diri.
"Maaf pak David. Pak Daniel tidak mau ada yang mengunjungi termasuk anda. Tapi jika ada keperluan penting . silahkan menuju ke ruangan sel itu sendiri"
David mengganguk lalu memandang ku. Seolah paham aku pun mengikuti langkah nya.
"Apa kabar Pa?" tanya David basa basi setelah kami berada di depan sel tahanan pak Rama .
Ia hanya menoleh sejenak. Kemudian membuang muka tanpa menjawab.
"Aku tak tahu,masalah apa yang papa Hadapi. Yang jelas aku ingin berterima kasih pada Papa karena telah membesarkan ku dan membiayai ku sampai sukses sekarang ini.
Aku tak mengharapkan jawaban Papa. Cukup dengarkan saja. Dovid tak punya banyak waktu lagi. David pergi.....Sekali lagi terimakasih banyak, David harap kelak kebaikan Papa pada David yang notabe nya bukan anak kandung papa tapi papa lah sepenuhnya mmenanggung nya dan hal ini membawa Papa menuntun ke surga kelak. Aamiin"
Setelah mengucapkan panjang lebar itu .David menarik tangan ku membawa pergi meninggalkan tempat ini.
"Kita sarapan dulu. Katanya tadi kamu belum sarapan"Ucap David siap mengijakan gas mobil.
*
" rencana mu sekarang apa ?" kata ku turut kasihan melihat wajah kusut pria itu.
Sedikit sebanyak nya aku mulai memahami kehidupan David. Tak beda jauh, sama sama tak mendapatkan kasih sayang orang tua.
__ADS_1
"Pergi dari kota ini. Pergi sejauh jauhnya meninggalkan orang yang duku ku kenal, orang masalalu ku dulu. Menguburnya sebagai kenangan pahit" jawab nya tegas.
"Wah..nanti tidak jadi Besty an dong"
"Tetap akan Lah...Kau sendiri selepas ini mau kemana. Atau mau ikut dengan ku?" sontak saja pandangan ku mengarah pada David. Yang benar saja aku mengikuti dirinya.
"Apalagi yang kau tunggu di kota ini. Ku lihat Mami mu waktu itu tak ada sedikit pun rasa kasih sayng untuk mu. Bibik mu itu lumayan baik sedikit, tapi tak mungkin kau terus membebaninya kan. Masalah pria kau cintai itu...aku tak tahu" David menghembuskan nafas kasar.
"Aku tau hidup mu tak kalah rumit. Tapi kau belum siap sepenuhnya cerita sama aku kan. Tapi aku siap menunggu "
Aku merenung sejenak....
"Kau benar Vid. Sudah seharusnya kita meninggalkamn kota kenangan pahit ini. Dan mencari kebebasan di luar sana.
Masalah masalalu ku. Seiring berjalan nya waktu aku akan berbagi.tapi mari kita mulai kehidupan baru di luar sana." Ucap ku mantap menetapkan pilihan untuk keluar dari kota ini menjauhi orang yang pernah di kenali.
"Dan sekarang Selina tak ada lagi. Gadis bod*oh itu telah mati. Tetap saja Selina Anatasya masih ada tapi kini dengan panggilan berbeda ,Yaitu Anatasya atau Tasya. Panggil aku Tasya, David" kata ku penuh ketegasan dalam ucapan tak ada embel embel keraguan.
"Baiklah Tasya" aku tersenyum puas.
"Tapi bagaimana Vid. Apa kita pergi bersama kan? Aku takut berdiri pada kehidupan ini sendirian. Tapi bagaimana. Itu sulit secara kita tak ada hubungan"
"Tentu saja kita bersama. Kita akan menikah". Jawab David mantap membut kubungkam.
-
Bersambung...
__ADS_1