Kesucianku Hilang Di Malam Tahun Baru

Kesucianku Hilang Di Malam Tahun Baru
BAB 51


__ADS_3


ayo katakan? Hal apa yang paling menyakitkan dari pada kehilangan??



-Sakit sekali. Kehilangan..


Telah merusak yang namanya angan di masa -depan untuk kebahagiaan


~AnindyaSaputri


*


(pov Anindya)


"Laillah haillah..laillah haillah..laillah haillah.."


Air mata ku terus mengalir seolah tak ada batasnya air mata ini. Kalimat memuji Sang pencipta itu terus di ucap kan bersama sama seiring kami bersama sama mengantar Ibu ketempat istirahat nya. Yah, istirahat nya yang panjang.


Tak ku sangka secepat itu Ibu pergi Bu, rasanya baru kemaren kita tertawa bersama tapi hari ini kau telah pergi untuk selama lamanya.


Andai aku tahu, Ini terjadi .pastilah aku tak akan meninggalkan Ibu sedetik pun.

__ADS_1


Perlahan tapi pastu, Tetap ku usahakan kaki ini melangkah meski serasa tak ada tulang untuk menyangga. Namun demi niat aku pasti bisa mengantar ibu yang terakhir kalinya.


"Sudah, Sayang...ihklas. Nanti Ibu mu tidak tenang di sana" Ucap Mama Nayla memeluk ku sekaligus menuntun ku untuk melangkah. Kalau tidak ada Mama Nayla , mustahil sekali aku masih bisa berdiri disini.


"Ma...Ibu , Ibu uda ngak ada. Terus siapa lagi teman hidup Nindy" Jawab ku mencurahkan sedikit dari rasa sakit ini. Meski aku juga tahu pasti Ibu ikut tersiksa melihat ku seperti ini tapi nyatanya aku rapuh tak sekuat itu.


Lagi dan lagi...aku jatuh untuk kesekian kalinya


"Ngak. Nindy masih punya teman hidup, Raka . Raka yang akan menggantikan Peran nya Ibu mu" Jawab Mama Nayla mengusap bahu tertutup hijab ku berkali kali.


Aku menatap nanar punggung lelaki yang Mama Nayla sebut tadi. Ia terlihat ikut mengangkat keranda Ibu bersama lelaki lainya.


Ihklas. Sulit sekali untuk ku lakukan. Rasanya tak ada hal apa pun yang paling menyakitkan dari yang namanya kehilangan.


Lagi lagi tangis ku pecah tak peduli orang orang menatap ku Iba bahkan berbisik bisik mengasihani. Sebab posisi ku saat ini kata menyedihkan pun bahkan terlalu baik di bandingkan diri ini.


Kini di bantu para warga lelaki lainya Raka telah berada di dalam tanah yang telah di galih untuk istirahat Panjang Ibu.


Dengan hati hati mereka memasukan Ibu kemudian menimbun nya dengan tanah.


"Bu..." panggil ku berniat mencegah mereka menimbun dengan tanah, namun Mama Nayla Dan Xena telah berhasil menarik ku hingga tak bisa berbuat apa pun.


"Kasihan ya Nindy..."

__ADS_1


"Iya..pantas saja, dari dulu kan mereka selalu bersama istilah nya saling menguatkan ketika pak Affandi telah tiada"


Bisik bisik Ibu ibu lainya..namun aku tak peduli


Tak ada yang bisa ku perbuat selain diam dan berdoa dalam hati untuk keselamatan Ibu ketika pak Ustadz telah memimpin Do'a.


Waktu bergulir secara cepat. Acara pemakaman telah selesai orang orang yang tadi ramai kini perlahan bubar. Menyisakhan beberapa orang saja.


"Sabar ya Nin, coba untuk Ihklas. Ibu Nanik yakin Ibu mu akan bahagia di alam nya jika kau tidak menangisi seperti ini" ucap Buk Nanik mengusap bahu ku pelan.


Wajah yang dulu terlihat angkuh menatap kami rendah kini telah berubah menjadi Iba. Bahkan ada ketulusan disana, Apa ketika ajal tiba barulah orang berubah penilaian tentang kita?


"Terimakasih Bu!" Jawab ku lirih...


"Yasudah jangan di tangisi lagi... Nindy anak yang kuat, sekarang juga uda punya suami. Pasti Ibu mu tak akan bimbang di sana" tambah nya lagi tersenyum menguatkan.


"Benar Nak Nindy. Tidak baik menangisi jenazah secara berlebihan seperti nak Nindy lakukan saat ini. Apa Nindy mau ibu nya tidak tenang disana? Tidak kan. Jadi jangan tangisi lagi...Percaya kan, semua yang hidup pasti mati semua itu telah di atur Allah SWT dengan sebaik baik nya. Yg harus di lakukan Nak Nindy sekarang berdoa untuk keselamatan dan meringan kan Dosa Dosa Ibu Nindy dan senantiasa mengirimkan Doa Doa untuk beliau". Sambung Pak Ustadz Musthofa berhasil membuat ku sedikit tenang.


" Baik Ustadz, akan saya usahakan yang terbaik. Sesuai pesan ustadz" jawab ku sekenan nya.


"Sabar Nin...kamu kuat" Ucap mas Raka tersenyum menguatkan untuk ku namun tak bisa di bohongi bahwa ada luka tersimpan di tatapan itu.


Pasti mas Raka juga merasa kehilangan. Sebab dulu,yang membuat kami bisa lebih dekat berkat nasihat dan bantuan Ibu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2