
"Pak Matteo?"
"Yes, it's me."
"Keluar! Apa yang bapak lakukan disini? Mau berbuat cabul dengan saya lagi!"
"Hei, girl aku tidak pernah berbuat cabul denganmu."
"Kemarin itu apa?"
"Aku sama sekali tidak menyentuhmu."
"Heleh, terus memindahkan aku ke tempat tidur itu bukan menyentuh? Bapak pakai ilmu sihir gitu."
"Oh common jangan berdebat dulu. Pakailah baju yang benar dulu."
Wajah Sofi merah padam menyadari bahwa ia ribut berdebat masih mengenakan handuk. "Bapak keluar dulu, please!"
Matteo akhirnya keluar. Dasar gadis gila, menyuruh orang yang lebih tua tidak ada sopan santunnya Matteo mendengus kesal.
Matteo duduk di sofa sambil mengecek beberapa email yang masuk dalam handphonenya.
Sofi datang membawa secangkir teh hangat. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap dengan rambut di cepol ke atas. Matteo sempat terkesima dengan penampilan Sofi yang sederhana tapi seksi dimatanya.
"Ada perlu apa bapak sore - sore datang kemari?" tanya Sofi ketus sambil meletakkan secangkir teh di depan Matteo.
Matteo terlihat sangat santai, ia menyeruput teh yang ada di depannya. Matteo memandangi Sofi yang membuatnya risih. "You're still mad at me?"
"Tentu saja masih, tidak lihat wajah saya!"
"Lihat, tapi marahmu itu menurutku sangat manis."
"Manis? Oh god!"
"Kau seperti sedang merajuk dengan seorang kekasih, honey."
"Saya tidak merajuk! Saya marah."
"I know, honey. I'm so sorry."
Sofi diam mendengat permintaan maaf Matteo. Sebenarnya Kamisha juga sudah menjelaskan ke Sofi tentang Matteo yang merasa menyesal melakukan itu padanya. Semua itu karena ketidak tahuan.
"Please, forgive me."
Sofi masih terdiam, ia belum memberikan jawaban apa - apa.
"Sofi, please. Aku benar - benar menyesal. Aku berjanji tidak akan menyentuh tubuh bahkan kulitmu tanpa seijin darimu. Oke."
"Baiklah, aku maafkan tapi tidak ada lain kali."
"Good girl's and thank's."
"Sama - sama."
Sofi masuk ke dalam rumah mengambil laptop. "Ini adalah plan terakhir dari even yang akan bapak adakan. Saya sudah merevisi sesuai yang bapak inginkan."
Matteo menerima laptop dan hasil laporan kerja Sofi. Tapi Matteo kemudian meletakkan kembali.
"Kenapa?"
"Aku lapar, kau masak apa buat makan malam?"
Sofi mendengus kesal. "Ayam goreng sama cap cay."
"Aku suka masakan itu. Aku akan menunggu disini sambil menunggumu masak."
"What!" teriak Sofi.
Matteo cuek, ia pura - pura tidak mendengar protes dari Sofi dan terus memperhatikan layar laptop. Sofi benar - benar kesal dengan pria tua yang sekarang selalu memintanya memasak.
Setelah berkutat dengan peralatan dapur akhirnya selesai juga masakan andalan Sofi.
"Pak."
"Hmm."
"Makanan sudah siap."
__ADS_1
"Oke, ayo kita makan. Aku sudah lapar." Matteo masuk menuju ke meja makan.Tanpa malu - malu ia segera mengambil nasi dan memakan masakan Sofi. Sofi hanya memandang dan keheranan dengan sikao Matteo.
Huh berasa rumah sendiri dia pikir Sofi kesal. Tapi mau apalagi dia klien kelas kakapnya. Akhirnya dengan langkah gontai ia menuju ke meja makan bergabung bersama Matteo.
🌸🌸🌸🌸
Setelah tahu istrinya hamil, Xander lebih protektif terhadap Kamisha. Tapi apa daya morning sicknes yang dia alami menghambat pergerakannya. Saat ini Kamisha membantunya mempersiapkan tamu yang ikut even dari Matteo.
"Sayang."
"Ya Xander."
"Kenapa kau tidak mengurusku?"
Kamisha mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan suaminya.
"Tidak mengurus yang mana sayang?"
"Kau sibuk dengan Axel, dengan Zio, dengan hotel."
"Sayang, Axel dan Zio kan anak mu. Kenapa kamu cemburu?" Kamisha berjalan mendekati Xander yang masih tiduran diatas tempat tidur. "Kau ingin sesuatu yang segar? Atau mau aku buatkan asinan seperti kemarin?"
Xander menggelengkan kepala. "Aku mau dipeluk."
Kamisha tersenyum melihat suaminya yang dulu waktu dikantor terkenal dengan ketegasannya sekarang menjadi melow karena kehamilannya. Ia segera memeluk suaminya. Xander tiduran di atas pangkuan. "Aku menginginkanmu."
"Semalam kan sudah sayang. Ingat nggak setelah bercinta kamu selalu lemas dan keringat dingin."
"Tapi aku kuat."
"Iya aku tahu, tapi aku kasihan melihatmu tersiksa. Apalagi kalau pagi kamu selalu muntah."
"Kau tidak kasihan padaku?"
"Justru karena aku kasihan maka tidak setiap hari kita bercinta. Apa kau juga tidak kasihan pada anakmu yang di dalam."
"Kata dokter dia sangat sehat, sangat kuat, karena aku yang mengalami morning sicknes." Xander masih berusaha merayu istrinya. "Kalau___."
"Kalau apa?"
"Kalau kau yang diatas aku pasti tidak akan capek dan lemas, bagaimana sayang? Please." Xander sudah mulai aksinya.
Kehamilan kali ini terbalik dengan yang dialami kamisha waktu hamil Zio. Ia sangat sehat tidak seperti orang yang sedang hamil. Tapi berbeda terbalik dengan Xander yang setiap pagi selalu lemas, muntah dan manja.
Setelah bertempur, Kamisha membiarkan Xander yang tertidur. Hari ini ia akan bertemu Matteo dan Sofi di hotel.
Setelah mencium kening suaminya ia segera berangkat bersama sopir. Xander tidak mengijinkannya membawa mobil sendiri.
"Hai Misha, mana suamimu?"
"Biasa om, ia mengalami morning sicknes selama kehamilanku ini. Dia akan segar lagi setelah jam sepuluh pagi."
"Huh tahu rasa dia. Biarkan saja dia seperti itu sampai sembilan bulan."
"Jangan om, dia sangat menderita." jawab Kamisha. "Oya mana Sofi?"
"Sebentar lagi sampai."
"Hmm, kita tunggu di taman samping bagaimana?"
"Ayo."
Kamisha berjalan beriringan dengan Matteo dan terlibat dengan pembicaraan ringan. Matteo hanya khawatir kalau Kamisha tiba - tiba tersandung seperti tempo hari. Ia tidak mau keponakananya itu marah.
Kedekatan dan perhatian Matteo pada Kamisha ternyata mengundang kesalah oahaman pemilik mata abu - abu yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Om sudah baikan dengan Sofi?"
"Sudah, ia gadis yang unik."
"Oya? Unik dimana?"
"Dia itu suka protes, suka ceplas ceplos, cerewet."
"Siapa yang cerewet?" sahut Sofi tiba - tiba dari arah belakang.
"Nah, kau lihat sendiri Misha." ucap Matteo.
__ADS_1
"Nggak cerewet Sof, maksud om Matteo kamu unik."
"Unik? Memangnya aku souvenir."
"Hahahha.. Sudah nggak usah diperpanjang. Kita keruang rapat."
Mereka bertiga menuju ke ruang rapat. Kamisha melihat interaksi antara Sofi dan Matteo sambil tersenyum. Sahabatnya itu sangat memikmati perdebatannya dengan Matteo. Baru kali ini ia melihat Sofi sangat nyaman dan tidak waspada bersama dengan pria.
Sofi orang yang sulit jatuh cinta. Selama mereka bersahabat ia hanya tahu Sofi memiliki mantan tunangan. Sofi waktu SMA pernah menjalin cinta dengan teman sekelasnya tapi Kamisha tahu hanya dari cerita Sofi.
"Hmmm, ladies aku permisi ke belakang sebentar."
"Silahkan."
Sofi masih sibuk di layar laptopnya, Kamisha mencoba memulai pembicaraannya.
"Kau tertarik dengan om Matteo?"
"Apa! Hei jangan gila kamu ya. Orang tua seperti itu mana bisa membuatku tertarik."
"Jangan bohong, aku sudah mengenalmu lama Sof."
"Oh common, Sha. Jangan membuat mood bekerjaku menjadi turun."
"Baru kali ini aku melihatmu tidak waspada terhadap pria."
"Kami selalu berdebat dan bertengkar, Sha."
"Walaupun kalian kelihatan berdebat tapi kau terasa nyaman mengobrol dengannya."
"Jangan ngaco ah."
Kamisha tersenyum melihat wajah Sofi yang merah padam dan pura - pura sibuk dengan laptopnya padahal ia tahu sahabatnya itu salah tingkah.
"Sof, om Matteo orang yang baik, pekerja keras dan bertanggung jawab. Dulu ia memang playboy tapi menurutku tidak seperti itu. Mungkin karena pekerjaannya yang banyak mengenal model jadi ia dicap playboy." Kamisha menghela napas. "Apa kau tidak ingin mengenalnya lebih dalam?"
"Maksudmu?"
"Aku tahu tipe pria yang bisa menarik hatimu adalah pria matang yang bisa mengayomimu seperti om Matteo."
Sofi hanya terdiam dalam hatinya ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Kamisha. Memang ia sangat menikmati obrolannya dengan Matteo. Ia kagum dengan Matteo yang pikirannya sangat terbuka dan dewasa.
"Dia terlalu tua."
"Baru empat puluhan belum terlalu tua. Kau tahu keturunan keluarga Xander memiliki tenaga yang luar biasa. Xander menikah denganku juga tidak dengan usia muda, tapi tenaganya melebihi anak muda."
"Ya.. Ya.. Ya.. Aku bisa tahu seberapa kuatnya dia. Zio baru enam bulan sudah memiliki adik lagi." sindir Sofi.
"Sebagai sahabatmu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu Sof. Aku ingin kau bahagia dengan pria yang tulus mencintaimu."
"Ssstt.. Kita lanjutkan nanti, tuh si tua.bangka sudah kembali kemari."
Tampak Matteo berjalan memasuki ruang rapat.
"Misha aku rasa aku harus kembali ke kantor ada beberapa rapat yang harus aku hadiri."
"Baiklah om, aku pastikan tamu - tamu akan mendapatkan pelayanan istimewa."
"Thank's." jawab Matteo, ia melirik ke arah Sofi. "Kau tidak pulang?"
"Ini baru juga beres - beres."
"Mau pulang bersama?"
Kamisha memberi tanda untuk menyetujui tawaran Matteo tapi berbeda dengan tanggapan Sofi.
"Maaf pak, saya membawa mobil sendiri."
"Ya sudah aku pergi dulu."
"Aku akan mengantarmu om." ucap Kamisha.
Mereka berdua meninggalkan Sofi di dalam ruangbl rapat. Kamisha dan Matteo melewati sebuah kamar yang sedang di renovasi. Dan tiba - tiba...
"Watch out!!" teriak Matteo sambil merangkul tubuh Kamisha.
Braaakkk!!! Sebuah tangga yang terbuat dari besi tiba - tiba saja jatuh. Matteo berusaha melindungi Kamisha hingga tangannya terluka.
__ADS_1
"Om Matteo!" teriak Kamisha.
🌸🌸🌸🌸