Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Kenapa Aku Tidak Bisa Berhenti


__ADS_3

"Kaget melihat kami?" tanya mama Attalia.


"Iya aku pikir pak Xander dan mama tidak ikut."


"Aku tidak bisa melewatkan kesempatan liburan seperti ini."


"Oh begitu. Maaf ma, aku akan mengurus administrasinya dulu." pamit Kamisha. Ia segera pergi ke lobby untuk mengambil kunci kamar dan meminta ektra bed untuk mbok Sri.


Semua yang mendapat award liburan gratis bisa membawa serta keluarganya. Dan membayar biaya tambahan di luar tanggungan perusahaan.


Untuk tour wisata di beberapa tempat semua sudah di fasilitasi oleh pihak hotel. Bahkan tidak segan Xander memberikan uang saku untuk mereka.


"Axel sayang, ayo kita ke kamar."


Axel turun dari gendongan Xander. "Aku akan tidur dengan om Xander."


"Oh, tidak sayang. Kamu tidur dengan mommy. Om Xander akan terganggu dengan cara tidurmu."


"Aku pria mommy, seharusnya tidur dengan pria."


"Tidak!" tolak Kamisha. "Kamu di rumah juga tidur dengan mommy, kenapa disini beda?"


"Oke... oke... aku sebenarnya hanya ingin tidur dengan om Xander. Banyak yang ingin aku ceritakan. Ini cerita sesama pria mommy." ucap Axel merajuk.


"Sudah biarkan saja Axel tidur dengan Xander. Toh Xander tidur sendirian dan kamarnya juga sangat besar."


"Nah, oma saja setuju."


Kamisha melihat ke arah Xander, dari tadi pria itu hanya diam saja tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sikapnya membuat Kamisha bingung, bagaimana kalau ia tidak menginginkan Axel tidur di sana. Dan terlalu repot bagi Kamisha jika sewaktu - waktu Axel memintanya kesana, pasti akan canggung rasanya.


"Axel sayang, disini mommy sebagai bawahan pak Xander. Tidak sopan rasanya jika mommy bersikap seenaknya. Kamu mengerti sayang?"


"Baiklah, aku mengerti mommy."


"Ayo, dorong koper kamu sendiri. Kita ada di lantai sepuluh." ucap Kamisha.


"Yah jangan kecewa Axel. Oma temani kamu ke kamar ya. Kebetulan kamar Oma dan om Xander ada dilantai sebelas."


Mereka masuk ke dalam lift bersama. Antara Kamisha dan Xander tidak saling berbicara. Di dalam lift ada beberapa karyawan yang bersama dengan keluarganya juga.


"Sha, anakmu sudah besar ya. Umur berapa?"


"Lima tahun, dia masih duduk di taman kanak - kanak"


"Wah sama dong, anakku yang nomor dua juga berumur lima tahun." ucap salah satu karyawan. "Suamimu tidak ikut?"


Kamisha kaget dengan pertanyaan itu. Lagi - lagi itu yang mereka tanyakan. Tapi wajar juga mereka mempertanyakan hal itu, karena ia sudah punya anak. Dengan segera Kamisha menutup kedua telinga Axel.


"Eh tidak ada."


"Kamu janda, Sha?"


"Bukan."


"Aduh aku kok bingung, tidak ada suami dan bukan janda? kamu hamil diluar nikah?"


"Bukan... bukan seperti itu. Maaf aku tidak bisa bercerita." wajah Kamisha memerah, matanya berkaca - kaca. Berulang kali ia menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan. Minimal untuk meredakan ketegangannya atas pertanyaan itu semua. Mbok Sri memegang punduknya karena ia tahu apa yang di rasakan Kamisha.


"Tidak apa - apa, mbok." bisik Kamisha.


"Kalian ini ternyata suka juga ya dengan urusan pribadi orang?" ucap mama Attalia mencoba menetralisir suasana.


"Oh.. maaf nyonya, kami hanya penasaran saja."


"Hati - hati dengan rasa penasaran kalian. Jika tidak, kalian rugi sendiri nanti."


"Iya nyonya." jawab mereka tertunduk malu. Tak lama pintu terbuka dan mereka keluar. Tidak semua karyawan yang mendapat award tidur di lantai yang sama.


Setelah di rasa aman, Kamisha menyingkirkan tangannya dari telinga Axel.


"Kenapa mommy menutup telingaku."


"Mommy takut kalau naik lift sampai atas telingamu akan sakit."


"Benarkah seperti itu?"


"Ah mungkin saja benar, tapi ternyata mommy salah."


Ting... pintu lift terbuka.


"Mama Atta pak Xander kami keluar dulu." pamit Kamisha.


Mama Attalia dan Xander hanya mengangguk saja. Dengan segera Kamisha keluar membawa kopernya sambil menggandeng Axel. Pintu lift kembali tertutup.


"Kasihan Misha."


"Yah mau bagaimana lagi. Itu resiko yang harus di tanggungnya karena membesarkan Axel sendiri."


"Apa perlu mama kenalkan dengan anak kenalan mama ya. Sepertinya ia belum menikah."


"Siapa anak temannya mama."


"Itu, Wisnu anak Nyoman sama Kartika."


"Jangan aneh - aneh, belum tentu Misha mau. Dan aku yakin itu bukan tipe Misha."


"Sok tahu kamu! lantas yang tipenya Misha yang seperti apa?"

__ADS_1


"Yang bertanggung jawab, melindunginya."


"Heh, kamu juga jauh dari tipe itu. Nyatanya sampai sekarang kami masih marah. Itu bukan salahnya Xander."


"Dia membohongiku."


"Bohong itu ada dua. Bohong putih yaitu terpaksa kita membohongi demi kebaikan, demi tidak menyakiti perasaan. Yang kedua bohong hitam yaitu bohong untuk menipu dan merugikan orang seperti mantan pacar kamu itu."


"Kyara bukan mantan pacarku, ma. Saat itu kita hanya sebatas teman dekat."


"Ah sama saja."


"Oya dari mana mama tahu semua tentang kami bertiga?"


"Mata mama ada di mana - mana. Mama juga sudah tahu Kamisha orang yang seperti apa. Kau lihat saja tadi. Dia menerima banyak penghinaan, dipandang sebelah mata oleh orang - orang. Yang mana seharusnya itu di tujukan pada Kyara keponakannya. Bahkan semua itu tidak menyurutkan rasa cintanya pada Axel."


"Sudahlah, ma. Kita disini untuk liburan jangan berpikir yang berat - berat dan tidak ada hubungannya dengan kita."


"Iya... iya... tapi mama akan tetap mengenalkan Wisnu sama Kamisha." ucap Mama Attalia berusaha memprovokasi Xanser.


Xander mendengus kesal.


🍁🍁🍁🍁


Semua rangkaian acara sudah disusun oleh panitia. Bagi karyawan yang menerima hadiah liburan gratis hanya tinggal mengikuti saja.


Untuk malam ini, acaranya makan malam yang di adakan secara outdoor. Kebetulan hotel Hadid Paradise memiliki pantai pribadi.


Acara makan malam berlangsung dengan meriah. Sesuai dengan rencana, mama Attalia mengundang Wisnu untuk ikut bergabung dan mengenalkannya pada Kamisha.


Kamisha sendiri orang yang gampang bergaul jadi mereka cepat akrab. Keakraban mereka hanya sebentar karena Axel tidak menyukai kehadiran Wisnu yang banyak menyita waktu kebersamaan mereka.


"Attention please!" teriak panitia. "Untuk menambah semarak acara malam ini, kami dari panitia akan mengadakan sebuah permainan yang dilakukan oleh semua yang ada disini."


Semua karyawan merapat bersama istri atau suaminya masing - masing. Sedangkan Kamisha bersama dengan Axel.


"Adik kecil kau tidak bisa ikut permainan ini."


"Terus mommyku dengan siapa?"


"Kalau begitu saya tidak usah ikut. Ayo Axel kita ke sana."


"Wah tidak bisa, anda harus ikut. Sama seperti peserta yang lain. Biar adil dong."


"Tapi saya tidak punya pasangan."


"Denganku saja." ucap Wisnu yang tiba - tiba menyela pembicaraan mereka.


"Tidak!" teriak seseorang dengan lantang. "Kamu tidak bisa ikut, ini hanya khusus untuk karyawan di hotelku. Dan aku rasa aku lebih cocok." ucap Xander.


Mama Attalia tersenyum melihat putranya kembali bersemangat. Sepertinya membawa Wisnu kemari juga bukan hal yang sia - sia.


Xander berdiri di depan Kamisha. Sedangkan Kamisha bingung harus mengucap apa.


"Te__ terima kasih." ucapnya asal.


"Buat apa?"


"Menemani saya di permainan ini."


"Oh."


"Bapak sudah tidak marah dengan saya?"


"Lumayan."


Belum sempat Kamisha berkata lagi. Pihak panitia sudah berteriak memberikan penjelasan tentang permainan yang akan mereka mainkan.


"Jadi salah satu tangan kalian akan di ikat satu sama lain. Kemudian mengambil balon bersama dan diletakkan di dahi kalian. Pertahankan jangan sampai jatuh dan bawa hingga ke sini. Begitu seterusnya sampai balon habis. Yang terbanyak mengumpulkan balon akan mendapat hadiah. Ada pertanyaan?"


"Tidak ada." jawab mereka serempak.


Panitia mulai mengikat tangan semua peserta. Aba - aba dimulai. "Siap! priiitt! mulai!"


"Ayo mommy!" teriak Axel memberi semangat.


"Pak nunduk sedikit."


"Kenapa?"


"Dahiku nggak sampai."


"Heh baiklah."


Kamisha dan Xander agak kesusahan membawa balon karena tinggi badan mereka yang beda jauh.


"Ayo cepat sedikit, kita kalah dari mereka. Kamu tidak malu dengan Axel."


"Ini juga sudah maksimal pak."


Xander berpikir keras tentang taktik bagaimana mereka bisa menang. Xander akhirnya menggendong Kamisha hanya dengan satu tangannya. "Aacchh! apa yang kamu lakukan?"


"Sudah diam, cepat ambil balonnya." perintah Xander. Kamisha menurut begitu saja. Ia mengambil dan menaruh balon ke dahinya. Dengan tubuhnya di gendong Xander, dahi mereka menjadi sejajar. Sehingga memudahkan mereka membawa balon.


"Pak kita tidak menyalahi aturan?"


"Siapa yang berani menyalahkanku?"

__ADS_1


"Kita curang dong"


"Nggak, karena tidak ada aturan harus berjalan. Dengar tadi mereka hanya mengatakan bawa balon dengan dahi."


"Oh benar juga."


Prrriiittt...! suara peluit tanda permainan selesai. Pihak panitia mulai menghitung balon yang di dapat oleh masing - masing peserta dan ternyata balon Xander dan Kamisha yang paling banyak terkumpul.


"Yeaayy! menang," teriak Kamisha kegirangan yang tanpa sadar memeluk Xander. Cukup lama Kamisha melakukan itu. Ada kebahagiaan terpancar di wajahnya. Sadar akan tindakannya yang kurang pantas ia segera meminta maaf. "Maaf, pak. Saya terlalu gembira."


"It's okey."


Kamisha menghampiri putranya dan mama Attalia.


"Mommy dan om Xander hebat."


"Ya dong, mommy nya siapa dulu."


"Eit, putranya siapa dulu dong." sahut mama Attalia.


Setelah acara pemberian hadiah, karyawan dan peserta dapat menikmati hidangan barbeque sambil menikmati alunan musik.


"Minum dulu, Sha."


"Terima kasih, ma." Kamisha meminum minuman pemberian mama Attalia. "Hmm, pait. Minuman apa ini, ma?"


"Jus anggur biasa."


"Rasanya pahit." komentar Kamisha.


"Mbak Misha."


"Ya mbok sri."


"Axel sudah mengantuk, saya akan membawanya ke kamar dulu."


"Ya mbok, nanti aku susul."


Mbok Sri membawa Axel ke kamar, sedangkan Kamisha masih menemani mama Attalia sebentar. Tiba - tiba saja pandangannya seperti kabur, kepalanya berat.


"Kamu kenapa, Sha?"


"Tidak tahu ini, ma. Kok semua kelihatan ada dua." Kamisha berusaha berdiri tapi hampir saja terjatuh.


"Awas hati - hati." mama Attalia memegangi tangan Kamisha.


"Tidak apa - apa, ma. Aku bisa jalan sendiri kok."


"Xander! Xander! panggil mama Attalia.


"Ya, ma."


"Antar Kamisha ke kamarnya."


"Dia kenapa?"


"Tidak tahu, lihat tuh jalan saja nggak bener."


Xander menghampirinya. "Kamu mabuk?"


"Loh Axel anak mommy kenapa masih disini."


"Axel apa? aku Xander."


"Hehehehh... Axel jangan membohongi mommy ya." ucapnya sambil menaruh telunjuknya di mulut Xander. "Ayo mommy antar ke kamar, mommy akan bercerita tentang Xander di pangeran kodok, hehehehhh."


Sialan aku di samakan kodok. Jelas dia baru mabuk. Habis minum apa sih batin Xander. Dengan susah payah ia membawa Kamisha kembali ke kamar. Sepanjang perjalanan tak henti - hentinya ia bercerita tentang pangeran kodok.


Ketika sampai di lantai sepuluh Xander kembali menutup pintu liftnya dan lanjut ke lantai sebelas di kamarnya. Maaf Misha malam ini kamu tidur di kamarku, kalau Axel tahu kamu seperti ini ia pasti akan khawatir batin Xander.


"Ayo jalan Misha."


"Axel kenapa kau cuekin mommy. Sini mommy peluk." Kamisha memeluk erat tubuh Xander.


"Misha lepas! aku tidak bisa bernapas."


"Hmm Axel anak mommy, tubuhmu sangat wangi nak." Kamisha memeluk sambil menciumi tubuh Xander.


Aku tidak bisa tinggal diam batin Xander. Dengan satu gerakan ia membopong tubuh Kamisha dan segera membawa ke kamarnya. Setelah sampai kamar, Xander meletakkan Kamisha di atas tempat tidur.


"Heh benar - benar menyusahkan. Kalau tidak bisa minum ya jangan di minum." Xander menggerutu. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil handuk.


"Axel...! Axel...! yuu huu ayo cari mommy."


Xander yang mendengar teriakannya langsung keluar dari kamar mandi. Ia mengedarkan pandangan dan menemukan Kamisha naik ke atas meja televisi.


"Misha! ayo turun! nanti kamu jatuh." ucap Xander. Ia kewalahan menangani Kamisha. Tiba - tiba Kamisha melompat. "Hei! awas!" dengan sigap Xander menangkapnya.


"Hahahahhh... hap lalu ditangkap." Kamisha tertawa terbahak - bahak. Xander membawanya kembali ke tempat tidur. Tapi Kamisha tidak mau melepas pegangannya. Ia terus memeluk tubuh Xander dengan erat.


"Axel, temani mommy tidur ya. Mommy kesepian." Kamisha tiba - tiba terisak menangis. Membuat Xander mau tidak mau ikut tidur di sampingnya.


Kamisha tidak mau melepas pelukannya. Bahkan Kamisha mulai menciumi Xander.


"Misha hentikan! sebelum aku bertindak di luar batas."


Kamisha yang masih belum sadar diri terus menciumi Xander. Dengan cepat Xander membalikkan tubuhnya hingga Kamisha berada di bawah kendalinya. Napas Xander tersengal - sengal.

__ADS_1


"Oh syit! sial! sial!. Kamu yang memancingnya Kamisha." teriaknya. Xander mulai mencium bibir Kamisha. Kedua tangannya menahan tangan Kamisha. Sial kenapa aku tidak bisa berhenti batin Xander. Ia semakin bertindak berani memainkan lidahnya bahkan menggigit bibir Kamisha berulang kali. Ciumannya mendarat ke leher Kamisha hingga___ ting... tong... ting... tong.


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2