
"Oahaaamm." Kamisha menguap dan melakukan peregangan otot. Semalam tidurnya nyenyak sekali. Ternyata tidur di sofa orang kaya bisa seenak ini. Empuk pikir Kamisha. Eh tapi tunggu dulu. Kenapa sofanya jadi bisa selebar ini batinnya . Ia segera duduk dan melihat sekelilingnya. Lho itu sofanya di sana pikirnya bingung. Tunggu dulu, itu artinya aku tidur di tempat tidur. Kamisha mulai panik. Ia melirik ke samping kirinya. Tampak Xander masih tertidur pulas.
Ia mengacak - acak rambutnya frustasi. Kok bisa sih aku pindah di tempat tidur. Kamisha turun pelan - pelan agar pergerakannya tidak membangunkan Xander. Kalau sampai Xander tahu bisa - bisa di permalukan ia seumur hidup.
Setelah berhasil turun dari tempat tidur, Kamisha bernapas dengan lega dan segera menuju ke kamar mandi. Setelah selesai ia mulai mempersiapkan pakaian untuk Xander berangkat ke kantor. Sementara ini Kamisha masih di rumah ia belum membicarakan lebih lanjut dengan Xander apakah ia bisa bekerja di hotel atau berhenti.
Selanjutnya ia mulai mempersiapkan sarapan. Axel mulai rewel ingin masakan darinya.
"Pagi, bik."
"Pagi nyonya Misha."
"Eh, panggil mbak Misha saja."
"Maaf, saya tidak berani nyonya."
"Hmm, ya sudah senyamannya bibik saja." ucap Kamisha. "Biar saya yang masak ya."
"Tapi nyonya___"
"Biarkan saja menantuku ini menyiapkan sarapan." tiba - tiba suara mama Attalia dari belakang.
"Pagi, ma."
"Bagaimana tidurmu semalam?"
"Hmm, nyenyak ma. Beda memang."
"Maksudnya?"
"Tidur di kasur orang kaya memang beda, ma. Bener - bener nyaman."
"Ah, kamu bisa saja. Menurut mama semuanya sama asalkan kondisi kita sehat dan bahagia." jawab mama Attalia. "Bagaimana semalam? asyik?"
"Heh, semalem? ya tentu saja asyik, ma." jawab Kamisha asal sambil membuat nasi goreng.
"Apa punya Xander besar?"
"Uhuk... uhuk... uhuk..." Kamisha kaget dengan pertanyaan mama Attalia. Apanya yang besar, boro - boro lihat, semalam saja dia langsung tidur.
"Kenapa?"
"Ini, ma. Cabenya bikin batuk." jawab Kamisha berbohong.
"Ayo jawab. Mama penasaran apa sama dengan milik almarhum papanya."
"Hmm, ototnya Xander memang besar, ma. Keras dan liat. Oya seksi, Xander badannya memang seksi. Itu sebutan yang cocok dengannya."
"Bukan otot yang itu tapi yang bisa bikin anak."
"Oh, yang itu ya. E... e... besar dong ma." Kamisha mulai gugup.
"Enak kan? rugi kalau kita tidak nikah - nikah."
"Hehehehh.. iiya enak, ma."
"Apanya yang enak?" Xander yang baru bangun tidur dengan muka bantalnya ikut bergabung dengan pembicaraan mereka. "Pagi, ma." sapanya sambil mencium pipi mama Attalia.
"Huh, mandi sana." perintah mama Attalia.
"Nanti, karena aku penasaran dengan kata - kata istriku."
"Kata - kata yang mana?" tanya Mama Attalia.
"Itu yang dia bilang enak. Benarkah kamu merasa enak sayang." goda Xander sambil mendekati Kamisha yang sedang memasak. Tanpa aba - aba ia memeluk Kamisha dari belakang. Sontak itu membuat Kamisha kaget.
"Apa yang kamu lakukan?" bisik Kamisha.
"Siapa suruh bohong sama mama."
"Ini demi kebahagian beliau."
"Oke, kalau demi kebahagiaan beliau. Aku peluk begini juga demi mama." ucap Xander lirih. Ia kemudian melepaskan pelukannya karena Kamisha tampak tidak berkonsentrasi memasak.
"Ma, aku mandi dulu." pamit Xander.
"Ya sudah sana, jangan ganggu istrimu."
Kamisha segera menghidangkan nasi goreng di meja makan. Menuangkan susu dan membuat kopi untuk Xander.
"Ma, aku bangunkan Axel dulu. Hari ini ia mulai sekolah."
Kamisha naik ke atas, masuk ke dalam kamar Axel.
"Hmm, pinternya kesayangan mommy sudah bangun."
"Ya, kata oma biar cepat punya adik."
"Memang Axel tahu cara membuat adik?"
"Tahu."
"Eh, dari mana kamu tahu?"
"Kata oma, kalau dua orang saling mencintai pasti akan muncul bayi."
"Oh..." ucap Kamisha lega. "Itu juga harus dengan ijin tuhan sayang." jelas Kamisha. "Cepet mandi sana, mommy tunggu sarapan di bawah.
Kamisha kembali turun ke bawah. Mama sudah menunggu di sana. Tak lama kemudian Xander dan Axel menyusul.
"Kamu berangkat kerja Xander? harusnya kalian liburan bersama."
"Aku belum ada waktu, ma."
"Ya sudah terserah kalian saja."
Mereka sarapan bersama sambil mendengarkan celotehannya Axel.
"Oya Misha, kamu nggak usah kerja saja. Temani mama di rumah."
"Aku terserah Xander, ma. Kalau diijinkan aku memilih untuk tetap bekerja. Kalau tidak aku akan berhenti dan berkonsentrasi pada toko kue ku."
"Bagaimana Xander?" tanya mama Attalia.
"Nanti aku pikirkan lagi, ma." ucap Xander sambil menyeruput kopi. "Tumben kopi buatanmu pagi ini enak sekali bik."
"Bukan saya yang buat tuan."
__ADS_1
"Istrimu yang buat." sahut mama Attalia sambil melirik Kamisha.
"Oh, enak. Makasih."
Kamisha tersenyum melihat Xander. Ternyata Xander kalau malu wajahnya menggemaskan.
"Ma, aku berangkat dulu. Ayo Axel."
"Hati - hati di jalan."
Kamisha mengantar Xander dan Axel sampai di depan mobil. Sebelum Axel naik seperti biasa ia selalu melakukan ritual untuk anaknya. Mendoakan agar sekolahnya lancar, dengan saling menyatukan kening dan diakhiri dengan ciuman.
"Mommy, kau tidak mendoakan om Xander."
Axel, jangan panggil om dong." sahut Xander
"Aku harus panggil apa?"
"Daddy, juga boleh."
"Baiklah, mommy tidak mendoakan Daddy?" Axel mengulangi pertanyaannya.
"Ah, sudah mommy doakan tadi."
"Kenapa tidak sepertiku? mommy tidak sayang Daddy."
"Mommy sayang kok." ucap Kamisha gugup. Mau tidak mau ia menuruti keinginan Axel. "Tundukkan kepalamu." perintahnya pada Xander.
"Buat apa?"
"Ritual sebelum berangkat kantor, seperti Axel. Ayo cepat."
Setelah menunduk Kamisha langsung menempelkan keningnya sebentar. Xander tersenyum melihat aksinya.
"Sudah ya Axel, semuanya sudah di doakan mommy. Baik - baik ya."
Xander dan Axel masuk ke dalam mobil. Kamisha mengantar mereka sampai gerbang kemudian masuk ke dalam rumah kembali.
🍁🍁🍁🍁
"Alex, pak Xander ada?" tanya Kyara.
"Ada, beliau ada di dalam."
"Bisa aku bertemu."
"Sebentar." Alex masuk ke dalam dan tak lama kemudian dia keluar. "Silahkan masuk."
Kyara langsung masuk ke dalam. Wajahnya tampak tegang.
"Inikah balasan atas semua perbuatanku!"
"Hei, yang sopan! Ini kantor dan aku atasanmu. Hargai itu."
"Xander please, jangan siksa aku seperti ini. Ini sama saja kau memecah belah sebuah keluarga."
"Memecah belah? apa maksudmu dengan memecah belah?"
"Setelah kau bersamaku kemudian bersama dengan mbak Misha. Tidak bisakah kau mencari orang lain?"
"Aku tidak pernah memaksa dia untuk merawat Axel!"
"Kakek dan ibumu yang memaksa, tahukah kau berbagai tanggapan miring ditujukan padanya tapi dia tetap mau merawat anak yang bukan anak kandungnya."
"Itu urusannya kenapa dia mau. Awalnya aku menyuruh kakek dan ibu untuk menaruh anak itu di panti asuhan. Seandainya dulu mereka mau menerima saranku, pasti tidak akan seperti ini ceritanya"
"Aku bertanya - tanya. Terbuat dari apa hatimu. Axel anak yang baik dan manis. Dan kau tega untuk menaruhnya di panti asuhan. Yang salah bukan Axel tapi perbuatan kalian!"
"Xander please maafkan aku, kembalilah padaku."
"Kembali?! setelah perkataanmu barusan justru menambah keraguanku untuk tetap berhubungan baik denganmu." ucap Xander. "Kamisha wanita yang baik, aku mencintainya. Aku tertarik dengannya jauh sebelum aku mengenalmu."
"Tidak! kau sama sekali tidak mencintainya! cuma aku yang kamu cintai!"
"Aku sama sekali tidak mencintaimu, Kyara. Kita hanya teman dekat. Aku tidak pernah menyatakan perasaanku padamu. Dan ternyata tuhan masih sayang padaku, Ia tunjukkan siapa dirimu dan aku bersyukur di jauhkan dari wanita sepertimu."
"Tidaaakkk!!! jangan katakan itu!!!" teriak Kyara
"Alex...! Alex...!" panggil Xander, karena melihat Kyara yang semakin histeris.
Alex bergegas masuk dan sudah bisa membaca situasinya. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia segera membawa Kyara keluar dari ruangan Xander.
"Lepaskan!"
"Saya akan lepaskan tapi tolong jaga sikap anda."
"Jangan berlagak, kamu dan aku tidak jauh beda. Sama - sama orang rendahan."
"Maaf, saya memandang tinggi harga diri saya." jawab Alex tegas.
"Kalian semua sama - sama brengsek." umpat Kyara sambil pergi meninggalkan Alex.
Ia Kembali ke ruangannya dengan wajah kusut.
"Gagal?"
"Hmm."
"Kamu sih terlalu gegabah, pakai otak dong. Bulik kamu itu orang pintar jadi harus dilawan dengan otak juga."
"Aku harus bagaimana, Tina?"
"Ayo kita ke cafe, aku ada rencana bagus."
Mereka berdua pergi menuju cafe. Norman sempat mendengar apa yang mereka bicarakan tadi. Kasihan Kamisha, keponakannya kenapa berbeda seratus delapan puluh derajat dari dia batin Norman tidak habis pikir.
Sesampainya di cafe. Tina melanjutkan membahas rencana untuk menghancurkan pernikahan Kamisha.
"Sebentar lagi ulang tahun hotel."
"Kapan?"
"Bulan depan." jawab Tina. "Pasti ada acara pesta seperti tahun - tahun sebelumnya." lanjutnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. "Nih." ia menyerahkan pada Kyara.
"Apa ini?"
"Obat perangsang. Efeknya sangat cepat."
__ADS_1
"Gila. Bagaimana kalau ketahuan?"
"Tenang saja. Ini ditentukan dari cara kamu, Ra."
"Maksudmu?"
"Ya bagaimana kamu menjalankan peranmu, bagaimana kamu mengajak pak Xander berbicara, kemudian dia mau dengan sukarela minum minuman yang kau bawa. Itu semua kan tergantung kamu."
"Mbak Misha bagaimana? ia pasti akan mendampingi Xander terus."
"Tenang soal Kamisha biar aku yang tangani. Kamu jalankan peran kamu dengan baik. Dan aku jamin malam itu pak Xander akan jadi milikmu."
"Tapi aku takut."
"Aduh, nggak biasanya nyali kamu ciut begini."
"Soalnya kalau ketahuan kita tidak hanya di pecat, tapi bisa masuk dalam penjara."
"Ra, aku akan selalu di belakangmu. Oke."
"Baiklah."
"Ya sudah ayo kembali ke ruangan." mereka segera meninggalkan cafe dan kembali ke dalam ruang kerja mereka.
🍁🍁🍁🍁
Sore itu Kamisha memutuskan membuka kado dari teman - teman, keluarga dan juga relasi bisnis. Kemarin memang belum sempat ia buka karena masih capek. Kamisha mengambil gunting, karung plastik untuk tempat sampah dan buku tulis untuk mencatat dari siapa saja kadonya.
"Sibuk apa, Sha?" tanya mama ketika melihat Kamisha mondar mandir memindahkan letak kado
"Ini, ma. Mau buka kado."
"Sebenarnya mama mau bantu, cuma sore ini ada arisan bersama temen - temen mama."
"Nggak apa - apa, ma. Aku bisa sendiri kok."
"Oya, Axel mana?"
"Main sama mbok Sri di taman samping."
"Xander sudah pulang."
"Sebentar lagi, informasikan dari pak Alex seperti itu."
"Ya sudah, mama pergi dulu."
"Ya hati - hati ma."
Kamisha melanjutkan kegiatannya. Ia memang tipe wanita yang suka kebersihan. Jadi begitu ia membuka kado, bekas bungkusnya langsung ia masukkan ke dalam karung plastik. Dengan teliti ia menulis satu persatu tamu yang sudah memberi kado dan mengumpulkan kartu ucapannya dalam sebuah kotak. Ini akan menjadi kenangan.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Loh, sudah pulang?"
"Ya," jawab Xander. "Apa yang kamu lakukan?" Xander kembali mengulang pertanyaannya
"Ini buka kado dari tamu." jawab Kamisha. "Oya, kalau mau mandi sudah aku siapkan air dan pakaiannya." ucapnya masih sibuk menulis di buku.
"Terima kasih."
"Mau aku buatkan teh susu?" tanyanya sambil menatap Xander.
"Boleh."
"Oke, sebentar ya." Kamisha beranjak dari duduknya dan menuju ke dapur. Xander sebenarnya ingin sekali memeluknya. Sore ini Kamisha sangat menggemaskan dengan mencepol ramputnya keatas. Tampak lehernya yang putih. Tapi gengsi yang tinggi mengurungkan niatnya itu.
Xander menghela napas panjang dan kemudian menuju ke kamar mandi. Ia berendam sebentar. Ternyata Kamisha pintar melayaninya. Air yang dia siapkan sangat pas, di campur dengan aroma terapi membuat relaks seluruh badannya.
Setelah puas berendam Xander segera mengeringkan badannya dan mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Kamisha. Ia keluar dan duduk di sofa menikmati secangkir teh susu.
"Kenapa mengerutkan kening kayak nenek - nenek begitu?"
"Hmm, ini aku bingung."
"Bingung apa?"
"Bingung kado dari Sofi dan Laras."
"Memangnya mereka kasih kado apa?"
"Ini." Kamisha memperlihatkan lingerie warna hitam, merah dan ungu. "Baju tidur begini bagaimana cara pakainya."
"Itu__ itu bukan baju tidur tapi lingerie."
"Fungsinya sama?"
"Ya__ ya beda."
"Oya, apa aku coba saja ya."
"Co__coba aja." jawab Xander gugup. Ia berulang kali meneguk teh susu untuk meredakan sesuatu yang berontak di bawah sana. Ia jadi teringat kejadian waktu di bus umum. Apalagi ini membayangkan Kamisha pakai lingerie. Tadi Xander sempat melihat ada yang dihiasi dengan bulu - bulu juga.
Sementara itu di dalam walk in closet Kamisha tersenyum sendiri. Ia geli melihat ekspresi Xander. Sebenarnya ia tahu itu lingerie dan fungsinya untuk apa. Awal membuka Kamisha juga kaget di kerjai Sofi dan Laras. Tapi muncul idenya untuk menggoda Xander. Dan itu lumayan berhasil.
Kamisha kemudian keluar, tidak mengenakan lingerie. Xander yang sudah menunggu sambil duduk di sofa, berulang kali menarik napas panjang demi mengurangi ketegangannya. Ia merasa sedikit kecewa.
"Ke__kenapa tidak jadi di coba?" tanyanya
"Gimana mau di coba. Modelnya jaring - jaring dan bertali semua." jawab Kamisha sambil melempar lingerie di atas tempat tidur. "Bisa - bisa aku masuk angin kalau tidur pakai itu."
Xander menelan ludah melihat lingerie itu di atas tempat tidur. Fantasinya sudah kemana - mana. "Kan__ kan ada selimut?"
"Masih dingin dong, apalagi yang ada bulunya itu, tipis banget." tunjuk Kamisha. Ia menggoda Xander terus. "Eh tumben bicaramu gagap?"
"Gara - gara teh susu." ucap Xander jengkel, hilang sudah fantasinya. Ia kemudian beranjak dari sofa.
"Mau kemana?"
"Ke kamar Axel."
"Ya sudah, bentar lagi aku siapkan makan malam."
"Hmm."
Kepergian Xander dari kamar membuat Kamisha tersenyum puas. "Ternyata sebesar itu kekuatan imanmu." gumam Kamisha.
🍁🍁🍁🍁
__ADS_1