
"Kyara? kok kamu bisa kesini? tahu darimana?" Kamisha memberondong dengan pertanyaan - pertanyaan.
"Maaf mbak, mengganggu waktu libur mbak Misha. Terus terang di rumah aku takut sendirian. Tante Attalia belum pulang dari acara dengan teman - temannya."
"Dari mana kau tahu alamat villa ini?" tanya Xander.
"Aku tanya pelayan di rumah."
"Pelayan di rumah juga tidak ada yang tahu." ucap Xander. "Jangan bohong! kau mengikuti kami, bukan?"
"Tidak, aku sama sekali tidak mengikuti kalian." Kyara tampak gemetar karena tatapan tidak suka Xander.
"Sudah.. sudah sayang. Ayo kita masuk dulu. Disini sudah mulai dingin."
Kamisha merangkul lengan Xander mengajaknya masuk sekaligus menenangkan agar tidak terbawa emosi karena di sana ada Axel.
Mereka duduk bersama di ruang tengah. Axel masih asyik memakan jagung bakar.
"Axel sayang, kalau sudah selesai makan segera tidur oke."
"Baiklah mommy, aku sudah kekenyangan." Axel meletakkan sisa jagung di atas meja. Ia memberi kecupan di pipi Kamisha dan Xander.
"Kau tidak memberi kecupan padaku, Axel?" tanya Kyara.
"Ah ya. Aku lupa." Axel menghampiri Kyara dan memberinya kecupan. Setelah itu ia naik ke atas untuk tidur.
Mereka hening untuk sesaat, barangkali bingung harus memulai dari mana. Suasana tercairkan dengan perkataan Kamisha.
"Diantar siapa tadi?"
"Tina mbak. Kebetulan dia ada acara di daerah dekat sini."
"Kebetulan sekali." gumam Xander. Tapi suaranya cukup keras didengar.
"Hmm.. kalau kalian keberatan aku di sini, aku bisa pergi bersama dengan Tina."
"Bulikmu itu tidak mungkin tega membiarkanmu malam - malam begini pergi sendiri. Dan pasti akan memintamu tidur di sini. Jadi jangan cari alasan seolah - olah kau bisa cari tempat tidur sendiri, mandiri biar kita semua kasihan."
"Sayang.." Kamisha menggenggam tangan Xander.
Xander terdiam dengan sentuhan tangan istrinya, ia berusaha meredam emosinya.
"Ya sudah kamu istirahat saja di kamar atas bersama dengan Axel."
"Baiklah, sekali lagi maaf mbak."
"Tidak apa - apa."
Kyara segera naik ke atas dengan menenteng tas kecil berisi pakaian.
"Xander kenapa kau seperti itu?"
"Aku tidak merasa bebas dengan kehadirannya. Semenjak ada dia kamu selalu berbeda ketika denganku. Kau seperti memghindar dariku."
"Aku merasa tidak enak saja bermesraan denganmu di depannya. Karena dia dulu pernah mencintaimu. Aku berusaha menjaga perasaannya sayang."
"Itulah kenapa aku tidak suka dia tinggal bersama kita. Aku selalu ingin dekat denganmu Misha. Aku ingin kita bisa bermesraan dimana saja tanpa ada rasa canggung dengannya."
"Maafkan aku sayang, jika sikapku membuatmu merasa di acuhkan." Kamisha memberi kecupan ringan di bibir Xander. "Bersabarlah sedikit, kurang beberapa hari lagi ia akan pindah."
"Yah, kamu benar kurang beberapa hari lagi. Jika Alex tidak bisa mendapatkan rumah kontrakan akan aku pecat dia."
"Hahahahh." Kamisha tertawa terbahak - bahak melihat tingkah laku suaminya yang seperti anak kecil. Dengan penuh kelembutan dia berpindah duduk di atas pangkuan Xander. "Jangan marah sayang. Kau tahu betapa aku sangat menginginkanmu malam ini." bisiknya di daun telinga Xander sambil memberinya gigitan kecil.
"Kau jangan menggodaku Misha."
"Oh, jadi sekarang kau mengabaikanku. Kau menolakku. Kita lihat sampai dimana pertahananmu."
Dengan sedikit gerakan erotis Kamisha menggesekkan miliknya dengan milik Xander yang masih terbungkus celana. Kamisha merasakan sesuatu mengeras disana. Ia tersenyum penuh kemenangan, sambil terus mengecup seluruh wajah Xander. Memberi sensasi geli di leher dengan permainan lidahnya.
Xander mulai memejamkan matanya merasakan nikmatnya diperlakukan seperti itu oleh Kamisha. Ciuman Kamisha berpindah pada bibir seksi milik Xander yang selalu membuatnya berteriak keasyikan ketika berada di bawah sana, memanjakan miliknya.
Sambil terus berciuman, Kamisha mulai membuka baju hingga terpampanglah bukit kembar miliknya. Ukurannya sekarang berbeda dengan yang dulu lebih padat dan berisi. Ia mulai menggesek - gesekan bukit kembarnya di dada bidang Xander yang padat dan liat seakan mengajaknya untuk bermain.
"Misha, kau__."
"Aku mencintaimu sayang, tidakkah kau menginginkanku?" tanya Kamisha sambil menatap wajah suami yang didambanya itu. Matanya sudah sayu berkabut. "Kau mau dimana?"
Xander tersenyum. "Jangan salahkan aku jika kamu tidak akan tidur semalaman."
"Tidak.. aku tidak akan menyalahkanmu. Aku yang sangat menginginkanmu malam ini."
Xander dengan rakus meraup bibir istrinya hingga tidak memberi kesempatan Kamisha untuk membalas. Kedua tangannya sudah memainkan bukit kembarnya.
Xander tiba - tiba menghentikan permainannya "Hegh.. hegh.. hegh.. kenapa berhenti sayang?" tanya Kamisha sambil mengatur napasnya.
"Kita pindah, disini dingin aku tidak mau kamu sakit."
"Kemana?"
"Ke kamar, ada kolam air hangat di dalam aku ingin kita disana." dengan sekali angkat Xander mengggendong istrinya. Dengan segera Kamisha mengaitkan kedua kakinya di pinggang kekar milik Xander sambil terus berciuman.
🌸🌸🌸🌸
Sinar matahari pagi mengenai wajah Kamisha yang mau tidak mau membuatnya terbangun. Ia melirik ke arah jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh.
Ia melihat suaminya yang sedang duduk di sofa sambil memegang laptop.
"Xander kenapa kau tidak membangunkan aku?" tanyanya dengan suara serak.
"Kau sudah bangun? maaf sayang aku tidak membangunkanmu."
"Aku akan buat sarapan." Kamisha turun dari tempat tidurnya dan mendekati suaminya
"Kamu istirahat saja kalau masih capek. Apalagi sudah ada penjaga villa yang memasak."
"Kau sedang apa?"
"Membalas email." jawab Xander yang masih menatap dan mengetikkan jari - jarinya di laptop.
"Aku mau mandi, setelah itu jalan - jalan sebentar di kebun teh. Sepertinya udara pagi hari ini segar."
__ADS_1
"Pergilah dulu nanti aku susul, pekerjaanku hampir selesai. Ingat jangan jauh - jauh."
"Iya sayang." Kamisha mengecup singkat pipi Xander dan bergegas ke kamar mandi.
Ia ingin merasakan kesegaran udara di sekitar kebun teh.
Pagi ini Kamisha mengenakan long dress warna kuning labu. Ia sempat menanyakan dimana keberadaan Axel dan ternyata pergi keluar bersama Kyara.
Kamisha menikmati hamparan hijau kebun teh yang menyejukkan mata dan hatinya. Memanjakan pandangan siapa saja yang melihatnya. Kamisha menghirup udara dalam - dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia melihat para pekerja yang sibuk memetik pucuk daun teh.
"Misha." panggil seseorang
Kamisha menoleh ke arah sumber suara.
"Loh, Agung?" tanya Kamisha keheranan. "Kok kamu bisa disini?"
"Aku dimintai tolong untuk servis mesin pengering teh disini."
"Wah, hebat juga kamu." puji Kamisha.
"Suamimu mana?"
"Xander? dia sedang ada pekerjaan sedikit jadi masih sibuk dengan laptopnya di villa."
"Kalian menginap disini?"
"Iya baru kemarin malam. Maklum Axel mendadak mengajak wisata di puncak." jawab Kamisha. "Oya istrimu tidak ikut?"
"Tidak, ia pulang ke Jogja. Orang tuanya sakit."
"Wah sayang sekali, kalau ada dia kita bisa tamasya bersama dua keluarga."
Kamisha terdiam sejenak. Tiba - tiba ia merasakan pusing.
"Kenapa Sha?"
"Oh tidak apa - apa. Mungkin karena belum sempat sarapan."
"Pantas saja wajahmu pucat."
"Oya." Kamisha kembali memegang kepalanya. Ia serasa terhuyung. "Hmm kalau begitu aku akan istirahat di villa. Mampirlah kalau kau ada waktu."
"Oke, dimana villa kamu?"
"Tuh, yang bercat putih kelihatan dari sini."
"Oke, salam buat suamimu. Hati - hati."
Kamisha berusaha tersenyum karena terus terang ia merasakan pandangannya mulai berkunang - kunang dan benar saja semuanya menjadi gelap.
"Misha! Kamisha!" Agung berusaha memanggil. Ia berulang kali menepuk - nepuk pipi Kamisha dan berusaha menyadarkannya. .
Ia segera membopong tubuhnya dan membawa ke villa.
Xander dari kejauhan tampak melihat seorang pria membopong tubuh istrinya.
"Hei!" teriaknya. "Apa yang kau lakukan terhadap istriku?!" Ia segera mengambil tubuh Kamisha dari tangan Agung. "Jangan kau sentuh dia!"
"Kau apakan dia? jawab!"
"Aku__."
"Mommy! kau kenapa?" teriak Axel yang datang bersama Kyara.
"Loh, mas Agung kok bisa disini?" tanya Kyara
"Aku ada kerjaan disini, kebetulan aku melihat Kamisha yang sedang berjalan sendiri. Dan tiba - tiba saja dia pingsan." Agung berusaha menjelaskan.
Xander membawa istrinya masuk dan membaringkannya di sofa. Istri penjaga villa segera memberinya minyak gosok dan selimut karena tubuh Kamisha sangat dingin.
"Kamu kenapa sayang?" Xander menggosok tubuh istrinya dengan minyak.
"Apa tidak lebih baik dia di bawa ke rumah sakit?" saran Agung
"Diam kamu! apa urusanmu!" Xander masih tampak emosi dengan Agung.
"Mas Agung pulang saja dulu, biar mbak Misha kami yang urus." ucap Kyara. "Aku tahu dulu kalian pernah dekat dan saat ini tentu saja mas Agung sangat mengkhawatirkan kesehatan mbak Misha. Tapi disini sudah ada kami." lanjutnya.
"Baiklah, aku permisi." pamit Agung.
Xander masih terdiam dan konsentrasi menghangatkan tubuh Kamisha. Penjaga villa juga membawakannya secangkir teh hangat.
"Xander, aku tahu kamu emosi. Memang dulu Agung punya kedekatan spesial dengan mbak Misha tapi itu kan masa lalu, sekarang mereka sudah punya pasangan masing - masing." Kyara menjelaskan pada Xander. Kyara terdiam menunggu reaksi Xander yang masih diam tanpa meresponnya sedikitpun. "Sini aku bantu."
"Tidak perlu." Xander mengangkat tubuh Kamisha dan pergi membawanya ke dalam kamar. "Panggil aku om! tolong hormati aku sebagai suami bulikmu. Kali ini aku maafkan tapi tidak ada lain kali." Xander memperingatkan. "Mbok, bawa teh hangatnya ke dalam."
"Baik tuan."
Setelah sampai di kamar Xander membaringkan tubuh Kamisha ke atas tempat tidur dan menggenggam tangannya yang dingin.
Ia tampak menitikkan air mata. "Maafkan aku sayang, karena tidak menemanimu jalan - jalan tadi dan juga membuatmu lelah." Xander menundukkan kepala dalam penyesalan.
Kamisha membuka matanya pelan, ia mendengar apa yang diucapkan suaminya."Xander sudah besar tidak boleh menangis." ucapnya lirih.
Seketika Xander mendongakkan kepala dan menatap istrinya yang sudah sadar dari pingsan.
"Kau sudah sadar sayang?" Xander tersenyum bahagia. Beberapa kali ia memgusap air matanya. "Maafkan aku."
"Hei kenapa minta maaf? kamu tidak salah sayang."
"Aku membuatmu lelah, aku tidak menemanimu jalan - jalan, aku yang membuatmu pingsan. Hukumlah suamimu yang bodoh ini."
"Kau ini berkata apa? aku yang salah karena tadi belum sarapan."
Xander memeluk erat tubuh Kamisha. "Jangan tinggalkan aku."
"Tidak sayang, aku ada disini bersamamu."
"Bagaimana kalau kita periksa ke dokter setelah liburan dari sini. Biar kita tahu kenapa kau akhir - akhir ini sering pingsan."
Kamisha mengangguk - angguk setuju. "Sayang."
__ADS_1
"Ya."
"Aku lapar."
"Hahahahh.. baiklah aku ambilkan makanan. Kau harus makan dengan banyak."
Axel masuk ke dalam.
"Mommy are you oke?"
"I'm fine sayang, kemarilah."
"Axel temani mommymu, daddy akan mengambil makanan."
Xander keluar untuk mengambil makanan buat Kamisha dan segelas susu hangat.
"Apa mbak Misha sudah sadar?" tanya Kyara
"Sudah."
"Om Xander aku___."
"Pergilah jangan ganggu aku."
Xander segera masuk ke dalam kamar kembali tanpa memperdulikan Kyara.
Kyara menatapnya dengan tajam. Ia mengepalkan tangannya dengan erat. Nikmatilah waktu indahmu bersama mbak Misha sebelum kau merasakan hidup bagai di neraka ucap Kyara dalam hati.
🌸🌸🌸🌸
Setelah menikmati liburan di puncak Kamisha dan Xander kembali ke Bandung dan disibukkan dengan aktivitas masing - masing.
"Misha, sore nanti aku sudah buat janji dengan dokter."
"Tapi aku merasa tubuhku sangat fit Xander."
"Kau pingsan beberapa kali sayang. Aku tidak mau kamu kenapa - napa."
"Baiklah, kita ke dokter."
Xander dan Kamisha masuk ke hotel seperti biasa.
Kamisha sibuk bersama Laras karena sekarang sudah tidak ada Norman.
Sementara itu di ruang kerja Xander.
Drrrtt... drrrttt.. handphonenya berdering.
Siapa ini yang telepon? kenapa nomor asing pikir Xander. Tapi ia memutuskan untuk mengangkatnya.
"Halo."
"Oh syukurlah kau mengangkatnya."
"Maaf ini siapa?"
"Maaf pak Xander, aku Heny teman Kyara."
"Oh Heny partner dari pak Dimas."
"Yah benar. Bisa aku bertemu denganmu? ada yang perlu aku sampaikan ."
"Mengenai apa?"
"Mengenai Kyara."
"Baiklah kita bertemu di cafe."
"Baik." panggilan di akhiri.
"Alex kemari sebentar." panggil Xander.
"Kau urus masalah rapat hari ini, aku ada pertemuan dengan Heny."
"Baik pak, apa sebaiknya rapat ini kita batalkan saja. Saya akan mengantar anda."
"Tidak perlu, ini cuma sebentar. Karena sore aku ada janji dengan Kamisha bertemu dokter."
"Baik pak."
Xander bergegas keluar menuju cafe di mana ia akan berjanji bertemu dengan Heny.
🌸🌸🌸🌸
"Halo, Heny sepertinya akan pergi. Ia akan bertemu dengan seseorang." tampak seorang pria menelepon melaporkan tentang gerak gerik Heny.
"Ikuti terus, jangan sampai lolos dari pandangan kalian."
"Baik." panggilan diakhiri. "Ayo kita ikuti." dua orang pria masuk ke dalam mobil dan mengikuti taxi yang ditumpangi Heny.
Akhirnya Heny tiba di sebuah cafe dimana ia dan Xander akan bertemu.
"Aduh sepertinya aku ada yang mengikuti." gumam Heny. Ia mengambil handphone dari dalam tasnya dan menelepon seseorang. "Aduh kenapa pak Xander tidak angkat teleponnya." Heny tampak sangat panik.
Tak berapa lama dari kejauhan tampak mobil Xander masuk ke tempat parkir cafe. Wajah Heny langsung berubah, ada secercah harapan di wajahnya. Ia segera melambaikan tangan memberi tanda pada Xander.
Dua orang pria yang mengikutinya akhirnya tahu dengan siapa ia akan bertemu.
"Gawat, dia akan bertemu Xander. Gimana ini?"
"Sudah kita amankan saja dulu. Jangan sampai mereka bertemu."
"Ya sudah ayo."
Dua pria tadi setengah berlari menghampiri Heny dan langsung membekapnya. Mereka membawa tubuh Heny ke dalam mobil. Kebetulan Xander melihat hal itu.
"Hei! apa yang kalian lakukan! lepaskan perempuan itu!" teriaknya. Tapi terlambat dua pria itu sudah masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan ceoat.
Xander dengan sigap segera mengejar mobil itu. Ia berpikir ini sangat aneh. Siapa orang yang menculik Heny. Aku harus menangkapnya pikir Xander sambil menambah kecepatan.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1