Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Anniversary Hotel 1


__ADS_3

"Selamat bro," Xander memberi selamat pada Harvey.


"Yah, ini pertama kalinya kita bekerja sama. Aku jamin hasil kerja timku tidak akan mengecewakanmu."


"Oke, aku tunggu hasil kerjamu."


"Oya sampaikan salamku buat Kamisha."


"Hei.. hei.. jangan berkirim salam dengan istri orangnya."


"Oke.. oke.. sekarang kau jadi budak cinta rupanya."


"Jangan menyebutku seperti itu." ucap Xander pura - pura marah.


"Jadi gini bro, aku harus mengucapkan terima kasih untuk istrimu."


"Terima kasih?" Xander mengerutkan alisnya. "Untuk?"


"Untuk kontrak kerja kita."


"Aku tidak mengerti."


"Oke.. oke aku jelaskan. Jadi beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Kamisha di lobby, kami sempat ngobrol sebentar. Dan terus terang aku menanyakan tentang konsep pembangunan hotel yang kamu inginkan. Dan dia menjawab persis seperti apa yang kamu utarakan di rapat tadi."


"Oh kau bermain curang ternyata."


"Hei.. tidak.. aku tidak bermain curang. Aku hanya menanyakan pendapat istrimu tentang konsep sebuah hotel yang nyaman. Berdasarkan jawabannya itu aku membuat proposal dan syukurlah kamu menerimanya."


"Ya karena memang proposalmu yang mendekati dengan apa yang aku inginkan."


"Kau tahu kan, aku mencurahkan pikuran dan tenagaku untuk memenangkan proyek ini. Aku ingin menunjukkan pada keluarga istriku kalau aku mampu berdiri sendiri."


"Aku tahu beban kamu berat, karena aku tahu bagaimana sifat om Fredo maka dari itu aku tidak akan membuat perhitungan denganmu karena berbincang dengan istriku di belakangku. Yang penting kau tunjukkan hasil kerjamu."


"Siap bos."


"Aku pergi duku."


Xander pergi meninggalkan Harvey sendiri. Ia ingin segera pulang karena entah kenapa tiba - tiba ia sangat rindu dengan istrinya.


Tidak perlu memakan waktu yang lama, Xander sudah hampir sampai di rumah.


"Berhenti dulu disini." perintahnya pada sopir.


"Baik, pak."


"Apa wajahku terlihat agak memerah seperti orang demam?"


"Hmm, wajah anda seperti orang yang sangat sehat."


"Sial!"


"Kenapa pak?" tanya sopir yang kaget mendengar umpatan Xander


"Kamu tahu bagaimana cara membuat wajah merah?"


"Dengan make up pak."


"Dasar bodoh! merah yang alami, seperti orang sakit demam."


Sopir itu terdiam dan tampak berpikir keras. "Oh saya tahu pak, pakai saja selimut tebal untuk menutupi seluruh tubuh bapak. Setelah itu pasti bapak akan merasakan gerah. Nah kalau kita gerah terkadang wajah kita memerah."


"Ah, masuk juga idemu. Karena disini tidak ada selimut, kamu matikan saja AC nya dan hangatkan jok mobil."


"Baik, pak."


Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan lagi menuju rumah. Sampai dirumah Xander buru - buru naik tangga untuk masuk ke dalam kamar.


"Sudah pulang?" suara mama Attalia dari ruang keluarga


"Mama? kapan pulang?"


"Tadi sore. Kenapa wajahmu seperti tidak senang dengan kehadiran mama?"


"Senang, ma. Tentu saja aku senang." Xander berbalik menghampiri sambil mencium kening mama Attalia. "Axel mana?"


"Sudah tidur. Dia kecapekan, disana main terus."


"Emm___."


"Nyari Misha? tuh dikamar sedang fitting gaun."


"Gaun? buat apa ma?"


"Kamu lupa, dua hari lagi kan ada acara Anniversary di hotel kita. Sebagai istri pemilik hotel Kamisha harus tampil mewah dan menonjol di acara nanti. Mama mau pamer tentang menantu mama yang cantik dan pintar."


"Ya sudah kalau begitu aku ke atas dulu, ma."

__ADS_1


"Kasih pendapat tentang penampilan istrimu."


"Iya." jawab Xander sambil menaiki tangga menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar akan tetapi ia tidak menemukan siapa - siapa. Xander bersiap memanggil istrinya"Kk___."


"Ma, kau kah itu?" suara Kamisha dari dalam walk on closet.


Oh ternyata kamu di dalam sana batin Xander tersenyum. Dengan berlahan Xander berjalan mendekat.


"Model gaunnya tali - tali begini, gimana cara pakainya, ma? dan kayaknya ini terlalu terbuka dech, Xander pasti tidak suka aku pakai ini di acara nanti?" Kamisha terus ngoceh sendiri, karena ia pikir itu mama Attalia.


Xander mengintip dari pintu yang memang terbuka, sepertinya Kamisha tidak menyadari kalau ia yang datang. Xander melihat penampilan istrinya yang topless tanpa berkedip sekalipun. Betul - betul pemandangan yang indah dan sayang untuk dilewatkan. Mulutnya terbuka lebar, gila body Kamisha bagus sekali.


"Ma, lihat ini belahan dadanya terlalu rendah. Xander pasti marah kalau lihat ini." Kamisha masih terus konsentrasi dengan bajunya yang memang kalau dipakai terlihat seksi dengan belahan dada rendah, punggung yang terekspos dan pada kaki memiliki belahan yang tinggi sehingga pahanya juga terlihat. "Ma.. ma." panggilnya lagi karena menyadari dari tadi tidak ada jawaban dari mama setiap dia bertanya.


"Siapa bilang aku akan marah kalau kau pakai itu?"


"Xander." gumam Kamisha sambil membalikkan badannya. "Sejak kapan kamu di situ?"


"Sejak kau menyebut - nyebut namaku."


"Kau melihat aku ganti baju?"


"Salah siapa pintu tidak di tutup."


"Tapi___."


"Ini kamarku, Misha." Xander terus berjalan mendesak Kamisha hingga tidak ada ruang untuknya bergerak. "Aku berhak melakukan apa saja."


"Xander aku__." Kamisha menunduk malu dan menutup belahan dadanya dengan satu tangannya.


Xander melingkarkan tangannya ke pinggang Kamisha. Sontak tangannya menyentuh punggung Kamisha yang tanpa pelindung apa - apa. Kamisha memejamkan mata merasakan sensasi seperti sengatan listrik. Jantungnya berdebar tak karuan. Antara menginginkan atau menolak.


Dengan sekali tarikan Xander, tubuh Kamisha masuk dalam pelukannya hingga mereka berdekatan tanpa jarak sedikitpun. Dada Kamisha menempel erat dengan tubuh Xander. Ia bisa merasakan betapa liatnya tubuh suaminya itu


"Xander__." hanya itu yang keluar dari mulutnya, Hampir seperti suara *******.


"Aku suka kamu memakai baju itu disini, tapi tidak di acara anniversary, mengerti?" bisiknya di telinga Kamisha. Itu membuat Kamisha tergidik.


"Iiya, aku ttahu." jawab Kamisha gugup. "Aaku akan ganti baju, tolong lepaskan aku." pinta Kamisha dengan malu - malu. Wajahnya merah dan tertunduk ke bawah. Ia tidak berani menatap wajah Xander takut jika ia berbuat nekat. Mau ditaruh mana mukanya nanti jika dianggap perempuan yang agresif.


Sial kenapa ekspresi wajahnya begitu menggemasnya, ia terkesan manja dan menggoda. Dengan cepat Xander melepaskan tangannya. "Akan kubelikan gaun yang lainnya."


Kamisha mengangguk - angguk.


"Mama akan aku beri pengertian." ucap Xander sambil berbalik arah dan keluar dari kamar.


Setelah beberapa saat ia mengumpulkan kekuatannya ia segera berdiri dan berganti pakaian. Setelah membereskan gaun itu Kamisha keluar dari walk on closet. Disana sudah ada Xander yang duduk di meja kerjanya sambil menghadap laptop. Semua terasa canggung.


"Aku sudah bilang mama tadi, kalau gaunmu itu tidak cocok."


"Oh, ya terima kasih."


"Aku sudah memesan yang baru. Besok pagi kau bisa mencobanya."


"Ya, aku rasa itu yang terbaik." jawab Kamisha sekenanya. Aduh kenapa jawabanku tidak nyambung begini batinnya malu. "Kau sudah makan?" tanyanya untuk menetralisir keadaan.


"Belum, aku masih kenyang."


"Kalau begitu aku buatkan camilan dan teh hangat."


"Tidak usah."


"Kamu harus makan Xander, badanmu itu belum fit benar. Harus banyak istirahat."


"Ya sudah, buatkan aku camilan."


"Oke, tunggu sebentar."


Kamisha keluar dari kamar, sebenarnya Xander sudah makan tadi setelah rapat. Tapi untuk menetralisir suasana akhirnya ia memesan camilan.


Tak berapa lama Kamisha datang membawa Pancake coklat dengan secangkir teh hangat.


"Makanlah dulu."


"Thank's."


"Nanti kalau sudah selesai taruh saja disana, besok pagi aku bersihkan. Hmm aku ijin tidur dulu."


"Istirahatlah."


"Selamat malam." pamit Kamisha.


"Malam." jawab Xander yang masih menatap laptopnya. Ia menghindari bertatapan dengan Kamisha untuk menahan hasrat jiwanya.


Kamisha seperti biasa tidur di atas sofa. Tidak perlu waktu lama ia sudah terlelap. Xander melihat ke arah istrinya dan kemudian mendekat.


"Sekarang aku tidak bisa tidur kalau kau tidak di sampingku, Misha." bisik Xander sambil mengangkat istrinya ke tempat tidur, menaruhnya dan kemudian memeluknya erat dari belakang, ikut tertidur menyatu bersama mimpi - mimpi Kamisha.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


"Wow, mommy cantik sekali." puji Axel.


"Terima kasih sayang. Dan kau juga tampan. Mommy jadi ingin menciummu." goda Kamisha. Sore ini mereka semua bersiap untuk datang ke acara anniversary hotel milik Xander. Gaun yang dikenakan Kamisha memang pesanan khusus dari Xander, sama seperti mama Attalia dan Axel. Gaun yang dikenakan Kamisha didominasi warna peach dan beberapa kristal swaroski yang menambah kesan glamuor.


"Kalian sudah siap?" tiba - tiba Xander datang dari arah belakang.


"Daddy, kau tampan sekali." puji Axel. "Kalau besar nanti aku akan sepertimu."


"Kau tentu akan jauh lebih tampan dari aku."


"Kau sudah melihat mommy?"


"Belum."


"Dia cantik sekali. Hati - hati nanti banyak yang naksir."


"Hahahahh.." Xander tertawa terbahak - bahak.


"Kau tenang saja Axel. Tidak akan orang yang bisa menyaingi daddy mu." sahut mama Attalia.


"Ya oma, aku rasa juga begitu. Daddy ku yang paling tampan."


"Apa yang sedang kalian bicarakan? sepertinya asyik sekali. Mommy sampai ketinggalan." ucap Kamisha yang keluar dari ruang ganti baju.


Xander melihat istrinya itu begitu cantik. Tidak salah ia memilih warna itu. Ia yakin kalau gaun itu akan sangat cantik di kenakan istrinya. Kamisha orang yang sederhana tapi karena ia memiliki hati yang baik dan tulus itu yang membuat wajahnya selalu memancarkan aura kecantikan.


"Kenapa bengong? ayo cerita apa yang kalian bicarakan?"


"Kami hanya membicarakan ketampanan daddy. Daddyku tampan kan mommy?"


Kamisha memandang ke arah Xander yang mengenakan stelan jas warna hitam. Terlihat sangat elegan dan tentu saja tampan. Tubuhnya yang tegap menambah wibawa pada penampilannya. Ingin rasanya Kamisha berada dalam pelukan lengannya yang kekar, dadanya yang bidang. Ia semakin ingin merasakan kehangatan tubuh Xander setelah apa yang terjadi kemarin. Ah pikiran mesumku travelling kemana - mana. Stop Misha pria di depanmu itu bukan milikmu, ia tidak mencintaimu batin Kamisha pada dirinya sendiri.


"Yah, daddymu sangat tampan." puji Kamisha.


"Ayo kita berangkat, keburu terlambat." ajak mama Attalia.


Mereka berempat segera berangkat menuju ke hotel.


Sementara itu....


Dua sosok wanita yang mengenakan gaun warna hitam berjalan ke belakang ruang hallroom. Rupanya mereka mencari tempat yang sepi tanpa ada CCTV. Salah satu dari wanita itu melihat sekitar dan memastikan mereka tidak dilihat oleh siapapun


"Kamu bawa kan obatnya?"


"Iya aku bawa. Cuma aku takut."


"Kamu ini bagaimana sih, katanya mau merebut Xander kembali." ucap Tina kesal


"Bagaimana kalau ketahuan?" tanya Kyara dengan wajah tegang.


Ya kedua wanita itu adalah Kyara dan Tina. Mereka adalah teman dalam satu tim di hotel.


"Ra, ini kota besar. Kalau mau menang bersaing harus dengan cara ekstrim seperti ini."


"Oke, gimana rencananya?"


"Jadi nanti aku akan menyibukkan Kamisha dan kau cari waktu untuk mengobrol dengan pak Xander. Setelah obrolan terasa nyaman beri dia minuman yang sudah kamu kasih obat perangsang sebelumnya. Obat ini reaksinya sangat cepat hanya sepuluh menit. Ingat hanya sepuluh menit. Sebelum itu kau harus bisa membawa pak Xander ke kamar hotel. Jangan sampai orang melihat kalau pak Xander terkena obat perangsang, bisa gagal rencana kita."


"Kamarnya nomor berapa?"


"3013, aku sudah booking kemarin atas nama temanku, jadi jangan khawatir tidak akan ketahuan. Aku sengaja memilih kamar di lantai yang CCTV nya dalam perbaikan."


"Darimana kamu tahu, kalau CCTV sedang dalam perbaikan."


"Aku mencari informasi dari anak bagian tehnik, tenang saja dia tidak akan tahu kalau aku sudah mencuri laporannya."


"Gila! kamu benar - benar gila!"


"Aku orang yang berambisi, kyara. Jadi siapa yang sudah mengancam posisiku harus mendapat pelajaran. Dan orang itu Kamisha. Aku ingin tahu bagaimana perasaannya ketika tahu suaminya tidur denganmu." jelas Tina dengan senyum liciknya


"Aku yakin pasti dia hancur. Sama seperti hatiku yang hancur karena dia merebut Xander dariku." ucap Kyara geram.


"Sudah banyak yang aku lalukan untuk pembalasan dendam ini, jadi ingat jangan sampai gagal." ucap Tina.


"Oke, ayo kita jalankan rencana kita."


"Bagus, kita masuk ke dalam acara dulu."


Tina dan Kyara masuk ke dalam hallroom dimana acara itu di adakan.


Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan mereka. ia keluar dari persembunyiannya.


"O.. o.. kamu betul - betul licik, Kyara. Ternyata kau sudah memgeluarkan sifat rubahmu. Hati - hati kau Kyara, aku akan menggagalkan usahamu seperti kau juga sudah mengkhianatiku."


Wanita itu kemudian dari jauh memantau pergerakan Tina dan Kyara dalam menjalankan aksi jahatnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2