
Pagi ini Xander benar - benar bersemangat. Ia bangun pagi - pagi sekali untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Jogja. Ia sengaja tidak memberitahukan Kamisha sebagai surprise untuk istrinya.
Dengan diantar sopir dan Alex, setelah sarapan Xander berangkat ke bandara. Ada beberapa hal yang harus ia bahas dengan Alex di dalam mobil terkait pekerjaan. Karena Xander belum tahu kapan akan pulang dari Jogja. Karena ia bertekad harus membawa istrinya pulang ke Bandung.
"Silahkan kalau anda mau tidur."
"Aku tidak mengantuk, Alex."
"Sepertinya semalam anda tidak tidur."
"Darimana kau tahu?"
"Dari kantong mata anda."
"Benarkah? apa tampak sejelas itu?"
"Hmm, iya pak."
Xander melihat di kaca, yah memang terlihat jelas sekali. Ia tampak lelah dan tidak segar seperti biasanya.
"Silahkan pak."
"Apa ini?"
"Untuk mengompres mata anda. Dan anda bisa memakainya sambil tidur."
Xander menerimanya dan mulai meletakkannya di atas mata. Sensasi dingin langsung memanjakan matanya.
"Nanti setelah mbak Misha pulang, saya yakin anda akan tidur dengan nyenyak lagi."
"Diam! jangan berisik."
Alex tersenyum mendengar reaksi Xander. Ia memang berego tinggi. Untuk mengakui sesuatu yang memang benar terkadang sangat sulit. Alex sudah tahu sifat atasannya itu. Terkadang sering berbanding terbalik.
Setelah memakan waktu hampir empat puluh menit akhirnya mereka sampai di bandara. Memang kalau pagi jalan raya di Bandung sangat padat.
"Pak Xander kita sudah sampai."
Xander terbangun, ia membuka kompres mata. Ia melihat ke arah jam tangannya. "Kenapa lama sekali?"
"Maaf, tadi jalanan agak padat."
"Tidak terlambat kan?"
"Tidak pak, anda masih ada waktu dua jam."
"Hah, aku harus menunggu lama." keluhnya.
"Itu karena anda berangkat terlalu pagi."
"Ya sudahlah, dari pada terlambat." Xander segera turun. Alex membawa koper dan mengantarnya sampai pintu. "Alex."
"Ya pak."
"Jangan lupa laporkan setiap informasi yang kau dapatkan dari proyek kemarin yang telah kita sepakati."
"Baik pak."
"Aku hanya merasa agak aneh saja."
"Baik, saya akan melaporkan setiap informasi yang saya terima."
"Bagus, aku pergi dulu."
Xander segera masuk dan mengurus tiket dan lain sebagainya. Ia menunggu dengan sabar. Dua hari saja ia rela menunggu apalagi ini yang hanya dua jam."
🍁🍁🍁🍁
Setelah melalui proses yang cukup panjang. Xander akhirnya tiba di Jogja. Ia segera menuju rumah pak Amir. Rumah tampak sepi. Apa masih di rumah sakit ya pikir Xander.
Tok... tok... tok...
"Assalamualaikum."
Tok... tok... tok...
"Wa'alaikumsalam." jawab dari dalam rumah. Tak lama kemudian pintu terbuka. "Eh, ada mas eh pak Xander. Mari silahkan masuk." ucap Ajeng.
"Misha ada? atau masih di rumah sakit?"
"Ada, ada di dalam kamar. Mbak Misha sedang tidur mungkin kecapekan."
"Pak Amir?"
"Istirahat dalam kamar, maklum habis pulang dari rumah sakit tadi siang."
Xander diam, sebenarnya ia bingung harus bagaimana.
"Hmm, mas eh pak Xander mari koper nya saya taruh di kamar nya mbak Misha."
"Oh, ya." ucap Xander sambil menyerahkan koper nya. "Ajeng, panggil saya mas juga tidak apa - apa."
__ADS_1
"Oh njih mas, terus terang saya agak bingung juga."
Ajeng segera membawa koper Xander masuk ke dalam kamar Kamisha. Sedangkan Xander mengikuti dari belakang. Ia melihat Kamisha meringkuk di pojok tempat tidur.
"Mas Xander saya tinggal dulu."
"Terima kasih ya, Jeng."
Ajeng keluar sembari menutup pintu kamar.
Xander mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan. Kamar Kamisha ini berukuran tiga kali tiga. Temboknya dari kayu sehingga terasa dingin tanpa AC. Ada tempat tidur berukuran 160 x 200 cm, sebuah Almari, sebuah kaca dan meja kecil. Sederhana sekali tapi terasa nyaman menurut Xander karena ada Kamisha di dalamnya.
Dulu waktu acara pernikahan, Xander memang tidak tidur di sana. Dia tidur di hotel bersama mama. Baru kali ini ia melihat rumah Kamisha secara keseluruhan.
Tiba - tiba saja Xander merasa amat lelah. Ingin rasanya ia tidur di samping istrinya yang sudah dua hari meninggalkannya. Perlahan Xander duduk di tepi tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya di samping Kamisha. Karena tempat tidur ini ukuran kecil, mau tidak mau mereka harus berdekatan.
Tiba - tiba saja tangan Kamisha memeluk tubuhnya. Xander terkejut dan menahan napas untuk beberapa detik. Ia mengatur detak jantungnya tak beraturan. Apa dia pikir aku ini guling nya batin Xander. Ah biarlah toh ini juga menguntungkan aku pikirnya.
Kamisha menggeser kepalanya lebih mendekat ke tubuh Xander hingga menaruhnya diatas tulang belikat kekar milik Xander. Ia melakukan itu masih dalam posisi tidur.
"Xander." gumam Kamisha.
Xander terkejut, ia melihat kedua mata Kamisha masih terpejam. Itu tandanya ia masih tidur. Karena tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dengan spontanitas ia berkata. "Apa?"
"Hmm..." Kamisha malah semakin erat memeluknya. Ia seperti nyaman.
Akhirnya Xander membiarkan hal itu mungkin Kamisha terlalu lelah setelah menjaga pak Amir di rumah sakit. Ia memutuskan untuk tidur bersama Kamisha.
🍁🍁🍁🍁
Apa aku terlalu merindukan Xander hingga aku merasa dia ada disini batin Kamisha dalam tidur. Selama beberapa hari disini ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rupanya tidur di samping Xander dan mencium aroma tubuhnya seperti obat bius untuknya. Ia mulai terbiasa dan bisa di bilang candu.
Kamisha mulai membuka matanya. Hmm aroma ini seperti aku kenal. Kamisha mengendus - endus beberapa kali, menajamkan indera penciumannya. Ia mendongak ke atas, Xander pikirnya. Ia mengernyitkan dahinya tanda tidak percaya. Benarkah ini Xander, bukankah ia bilang beberapa hari ini ia sibuk meeting dengan klien.
Kamisha mulai membelai wajah Xander yang semakin tampan ketika tidur. Ini wajah yang dia rindukan. Kamisha tersenyum melihatnya.
"Aku tampan bukan?" tiba - tiba saja Xander terbangun.
"Heh, iya eh ada nyamuk tadi." balas Kamisha gugup.
"Benarkah? nyamuk cantik?"
"Nggak ada nyamuk cantik, adanya nyamuk nakal."
"Oh, nyamuk nakal yang beberapa hari ini merindukan aku."
"Maksudmu?"
"Kau sangat merindukan aku bukan?"
"Kalau nggak rindu kenapa meluknya kenceng banget. Kau kira aku guling."
Sadar bahwa tangan dan kakinya masih memeluk Xander, Kamisha segera menyingkirkan tangan dan kakinya.
"Maaf." ucapnya.
Ia segera turun dari tempat tidurnya.
"Mau kemana?"
"Mandi terus masak buat makan malam."
"Badanku pegal, beginikah penyambutanmu terhadapku yang jauh - jauh datang ke sini."
"Mau aku pijit?"
"Boleh."
"Sebentar aku cari minyak dulu." Kamisha keluar kamar dan bertanya pada Ajeng apakah punya minyak Zaitun dan ternyata ada.
"Balikkan badanmu."
Xander menurut saja apa perintah Kamisha. Sebenarnya ia ingin lebih lama berdua bersama istrinya.
"Kapan kamu pulang?" tanya Xander.
"Kalau nanti dan besok bapak sudah mau makan dan tidak lemas lagi mungkin lusa aku pulang." jawab Kamisha. "Kenapa? gantian kamu yang merindukanku?"
"Axel menanyakan kamu terus."
"Benarkah? setiap kali aku telepon dia sepertinya baik - baik saja."
"Hmm___ mama juga kangen masakanmu."
"Ah, menyenangkan rasanya ada orang yang merindukanku."
"Apa kau juga tidak merindukan suasana rumah di Bandung?"
"Tentu saja aku rindu. Bercanda dengan Axel, merawat bunga lily milik mama."
"Bagaimana denganku? apa kau merindukanku?"
__ADS_1
Kamisha diam. "Ya aku merindukanmu, rindu bertengkar dengamu." jawabnya sambil menyubit lengan Xander.
"Aaauuww..!" teriak Xander.
"Sudah, ah. Aku mau mandi."
Kamisha beranjak keluar dari kamar. Di desa antara rumah dengan kamar mandi memang terpisah. Sebelum Kamisha mandi ia merebus air untuk nanti Xander mandi. Ia takut kalau suaminya itu tidak terbiasa mandi air dingin.
Setelah semuanya selesai ia mempersiapkan air hangat, Kamisha memanggil Xander untuk mandi.
"Apa ini?"
"Air panas."
"Buat apa?"
"Ini di desa, Xander. Mana ada pemanas air." jawab Kamisha. "Ini ember buat mencampur antara air panas dan dingin. Ini sudah aku campurkan sesuai dengan biasa kamu mandi. Kalau airnya kurang, bisa kamu campur sendiri. Ini sabun, sikat gigi, odol dan handuknya sudah aku siapkan. Aku tunggu di luar oke."
"Baiklah." ucap Xander sembari menutup pintu kamar mandi. Memang tipe kamar mandi ini masih alami airnya juga sejuk dan segar. Xander mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu. Grrkkk... grrkkk... Hah suara apa itu batinnya. Xander tidak memperdulikan dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air yang sudah dipersiapkan Kamisha.
Grrrkkk... grrkkk... grrkkk... Suara apa sih itu. Terpaksa Xander menghentikan kegiatan mandinya. Ia mengedarkan pandangannya ke semua sudut. Tiba - tiba... Tekekkk... tekekkk. Ada tokek cukup besar di sudut atas.
"Misha...!!!" teriaknya dan keluar dari kamar mandi. Dari arah dapur Kamisha segera datang tergopoh - gopoh menghampiri Xander.
"Ada apa, heh?"
"Ad__ada tokek."
"Oh Tokek, aku kira apa."
"Besar lo."
"Sebesar - besarnya Tokek, masih besar kita. Iya, kan?"
"Masa bodoh, singkirkan itu."
"Baiklah, tunggu sebentar." Kamisha mencari kayu panjang dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Xander mengikutinya dari belakang. Dengan kayu itu Kamisha berusaha mengusir Tokek itu biar pergi.
"Hus... hus... hus..." ucapnya sambil terus menggerakkan kayunya agar Tokek itu pergi. Tapi justru apa yang terjadi, Tokek itu jatuh ke bawah.
"Aacchh..!!!" teriak Xander sekencang - kencangnya dan memeluk Kamisha dari belakang dengan erat.
"Hahahahhhh___" Kamisha tertawa tanpa henti. Ia geli denhan sikap Xander. Wajah berwibawa dan di takuti oleh rekan bisnisnya ternyata takut dengan Tokek. "Hei, lepas aku tidak bisa napas. Lagian Tokeknya sudah pergi."
"Jangan bohong."
"Buat apa aku bohong, lihat saja sendiri."
"Aku tidak jadi mandi."
"Apa mau aku pesankan kamar di hotel terdekat?"
"Tidak perlu, tidak mandi wajahku tetap tampan bukan?"
"Hmm___ narsis."
Mereka akhirnya masuk dan Xander mengganti bajunya di dalam kamar.
🍁🍁🍁🍁
"Bagaimana om, sudah dapat informasi?"
"Sudah, terus bagaimana perkembangan rencana kita?"
"Xander pergi ke Jogja, menyusul istrinya." jawab Heny. "Informasi apa yang om dapat?"
"Kamu paati akan terkejut mendengarnya."
"Maksud om?"
"Istri Xander ternyata Tante nya Kyara."
"Benarkah? kalau tidak salah namanya Kamisha. Bagaimana ceritanya om? karena menurut Kyara, Xander itu mantan kekasihnya?"
"Setelah pergi dari Jakarta, Kyara tinggal di Bandung dengan Kamisha. Awalnya dia memang dekat dengan Xander. Tapi tidak sampai pacaran. Entah apa nama hubungan mereka. Dengan berjalannya waktu hubungan mereka merenggang dan Xander tahu masa lalu Kyara. Dan kemudian dia dekat dengan Tante nya Kyara."
"Kamisha itu adalah orang yang membesarkan anaknya Kyara, om. Mungkin Xander tahu akan hal itu."
"Hah, nasib seseorang itu rumit. Saling terikat satu sama yang lain."
"Kalau Xander pergi ke Jogja, berarti benar dia suami dari Kamisha."
"Kau sudah pernah melihat orangnya? apa dia sudah tua?"
"Hahahah, mbak Misha usianya hampir sama dengan Kyara dan aku, om. Ketika ibunya Kyara menikah, neneknya Kyara baru saja melahirkan Kamisha. Yang aku tahu dulu mbak Misha orang yang sangat cantik, cerdas dan cekatan. Karena bapaknya menikah lagi ia memutuskan tinggal di Bandung."
"Hmm, menarik." ucao Om Dimas
"Terima kasih informasinya, om. Jadi aku bisa segera menjalankan rencana berikutnya." ucap Heny dan panggilan diakhiri.
__ADS_1
Heny tersenyum penuh kemenangan karena terus terang ia senang bahwa Kyara tidak mendapatkan orang sebaik Xander. Dan Xander telah memilih istri yang tepat. Aku bisa membalaskan rasa sakit hatiku padamu Kyara batin Heny sambil tersenyum smirk.
🍁🍁🍁🍁