
"Ma, aku ingin bicara."
"Soal apa Misha?"
"Soal Kyara."
"Ada apa dengan keponakanmu itu?"
"Saat ini dia diusir dari kontrakan."
"Ya tuhan kasihan sekali nasibnya, ibunya baru meninggal, sekarang malah tidak punya rumah."
"Hmm maka dari itu ma, aku ingin meminta ijin agar dia bisa tinggal sementara disini sampai mendapat tempat tinggal yang baru."
"Kalau mama pada dasarnya tidak keberatan cuma bagaimana dengan suamimu."
Tiba - tiba.
"Kenapa namaku disebut - sebut?" tanya Xander yang turun dari atas tangga. Ia hanya mengenakan kaos dan celana pendek ala rumahan. Ia segera ikut bergabung dengan mama Attalia dan istrinya. "Aku mencarimu, ternyata kau disini bersama mama."
"Aku memang tidak membangunkanmu, aku pikir kau ingin istirahat lebih lama. Hari ini kan libur." jawab Kamisha.
"Aku merindukanmu." bisik Xander ditelinga Kamisha.
"Ehem, tolong hargai wanita tua yang duduk di depan mu ini." ucap mama Attalia pura - pura cemberut.
"Maaf ma." ucap Kamisha
"Tidak perlu minta maaf, kalau kita diam - diaman justru mama yag akan susah karena itu tandanya kita sedang bertengkar."
"Kamu itu ada - ada saja."
"Oya kenapa namaku tadi disebut - sebut?"
Kamisha memandang ke arah mama Attalia, dan mama Attalia memberikan dia kesemoatan untuk berbicara.
"Jadi begini, kemarin Kyara diusir dari kontrakannya."
"Terus."
"Kebetulan rumah lamaku masih di kontrak oleh orang. Bagaimana kalau dia tinggal sementara disini sampai mendapat kontrakan yang baru? aku minta ijin dulu padamu."
Xander terdiam sejenak dan menarik napas panjang
Ia tahu suaminya itu sedikit ragu dengan permintaannya. Mengingat perbuatan Kyara di masa lalu.
"Kalau kau keberatan aku tidak apa - apa. Nanti aku akan minta tolong Sofi untuk mencarikan tempat tinggal untuknya."
"Tunggu sebentar." ucap Xander. Ia mengeluarkan handphone dan menelepon seseorang.
"Alex kau carikan kontrakan untuk Kyara."
Panggilan di akhiri.
"Kita tunggu berita dari Alex. Kamu tenang saja semua akan bisa diatasi."
"Baiklah, terima kasih sayang sudah mau membantuku."
"Hanya itukah ucapan terima kasihmu padaku." goda Xander.
"Aah, sepertinya mama akan istirahat di kamar. Ingat Xander segera beri aku cucu." mama Attalia masuk ke dalam kamar.
Xander berbaring di sofa dan menaruh kepalanya di pangkuan Kamisha. Kamisha dengan lembut mengusap lembut kepala suaminya itu.
"Misha."
"Hmm."
"Kau tahu kan kalau aku tidak bermaksud menolak Kyara untuk tinggal disini."
"Aku tahu sayang, kau tidak perlu merasa sungkan denganku."
"Kyara dulu pernah menyukaiku, tidak akan nyaman baginya untuk tinggal bersama kita."
"Awalnya aku juga merasa seperti itu. Cuma karena aku tidak bisa berpikir yang lain selain rumah ini. Terima kasih sayang sudah banyak membantu."
Kamisha mengecup lembut kening Xander.
🌸🌸🌸🌸
"Bagaimana hasil pencarianmu? sudah menemukan rumah?"
"Maaf pak, ada beberapa tapi sangat jauh dari tempat kerja."
"Tidak, Kamisha tidak akan setuju."
"Ada beberapa rumah tapi akan kosong untuk satu minggu ke depan."
"Baiklah, kau pesan yang itu dulu. Cari lagi."
"Baik pak."
Xander duduk di sofa dalam kamarnya. Apa yang harus aku lakukan. Terus terang aku tidak percaya dengan Kyara, ada keraguan dalam hatiku tentang dirinya entah apa. Tapi apa tega aku mengatakan hal itu pada Kamisha. Kalau seandainya ia tahu saat ini Alex belum menemukan kontrakan pasti ia akan tambah khawatir. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan pikir Xander.
"Sayang kau ada di dalam?" tiba - tiba Kamisha memanggilnya dari dalam kamar mandi.
Tidak ada jawaban
"Sayang." panggilnya lagi. Aduh handukku ketinggalan di luar. Ya sudahlah aku keluar saja toh tidak ada orang. Kamisha memutuskan keluar dari kamar mandi. Awalnya ia ingin meminta bantuan suaminya untuk mengambilkan handuk untuknya. Tapi karena tidak ada jawaban akhirnya Kamisha keluar.
Tiba - tiba ada seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. "Aaaacchh!!!" jeritnya.
"Kenapa kau menggodaku seperti ini sayang." Xander memeluk tubuh Kamisha yang basah.
__ADS_1
"Kau mengejutkanku! tadi aku panggil kenapa tidak menjawab?"
"Karena aku tahu handukmu ketinggalan. Kau pasti akan keluar dengan tubuh seperti ini." tatap Xander tanpa berkedip, ia mencium punggung istri yang membuat Kamisha memejamkan mata.
"Kau mengerjaiku?" Kamisha mengerutkan kedua alisnya.
"Memang. Dan sekarang aku menginginkanmu."
"Tidak sayang, tadi pagi sudah. Aku dan Axel mau menjenguk Kyara di hotel."
"Tidak kalau tanpa ijin dariku."
"Ayolah Xander, ijinkan aku ya."
"Boleh tapi puaskan aku dulu." Xander mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke tempat tidur.
"Ah tubuhmu bau, kau belum mandi." protes Kamisha.
"Bau? tapi kamu suka kan?"
Kamisha hanya pasrah dengan permintaan Xander.
🌸🌸🌸🌸
"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, sebentar lagi pak Alex akan mendapat rumah kontrakan untukmu."
"Aku hanya merasa tidak enak saja mbak dengan teman - teman yang lain karena bisa tinggal di hotel."
"Kamu sabar sebentar, bagaimana dengan teman - teman kamu? apa mereka juga sudah mendapat informasi mengenai kontrakan?"
Kyara mengelengkan kepalamya. "Belum, mereka sama seperti pak Alex. Ada tapi jauh."
"Ya sudah mbak akan coba bicara dengan Xander lagi." ucap Kamisha menenangkan. "Sekarang mbak pulang dulu, sudah menjelang malam."
"Ya mbak, terima kasih kunjungannya." ucap Kyara sambil memeluk Kamisha.
"Bye kak Kya."
"Hati - hati di jalan Axel, jaga mommy mu oke."
Axel memeluk Kyara dengan hangat.
Kamisha dan Axel segera meninggalkan hotel. Karena ia berjanji akan pulang sebelum malam. Suaminya itu tidak bisa membiarkannya pergi lama - lama, cuma karena ini mengunjungi Kyara ia memilih untuk di rumah. Kamisha tahu itu dan berharap agar suaminya bisa merubah penilaiannya tentang Kyara.
Kamisha sampai di rumah dan hari sudah malam.
"Maaf sayang aku pulang terlambat." Kamisha memeluk suaminya yang menunggu di ruang tengah.
"Tidak apa - apa. Kamu lelah?"
"Tidak, hari ini tadi Axel tidak mengajakku bermain."
"Duduklah, ada yang mau aku bicarakan."
Kamisha duduk mengikuti perintah suaminya
"Alex sampai sekarang belum menemukan kontrakan yamg dekat dengan hotel. Kira - kira satu minggu lagi baru dapat."
"Ya aku tahu memang cari kontrakan sulit."
"Dan kau tahu posisiku di hotel, aku harus bersikap adil terhadap semua karyawan. Aku takut akan pandangan miring mereka terhadapku karena mengijinkan Kyara menginap disana." Xander menarik napas sebentar. "Jadi Kyara bisa sementara tinggal di rumah kita, aku usahakan tidak sampai satu minggu dia sudah mendapat rumah kontrakan."
Kamisha dengan tiba - tiba memeluk suami. "Terima kasih sayang sudah memenuhi permintaanku. Aku tahu itu sulit bagimu."
"Demi kamu Misha, ingat itu demi kamu."
"Aku mencintaimu Xander."
🌸🌸🌸🌸
"Nah, Kyara ini kamarmu." Kamisha membuka pintu sebuah kamar tamu yang lumayan besar.
"Wah bagus sekali kamarnya mbak." puji Kyara.
"Kamar ini sudah dilengkapi dengan kamar mandi dalam. Jadi kau tidak perlu repot." jelas Kamisha.
"Hmm, kamar Axel mana mbak?"
"Itu yang sebelah sana, sebelahnya lagi ada kamar mama Attalia."
"Oh.." Kyara mengangguk - angguk.
"Itu ruang gym kalau kamu mau berolah raga. Kami biasa sarapan jam tujuh pagi, makan malam juga jam tujuh malam. Kau bisa bersama - sama dengan kami di meja makan bawah. Jangan sungkan, oke."
"Baik mbak, terima kasih atas kebaikan hati mbak Misha dan Xander." Kyara memeluk Kamisha. "Maafkan aku yang dulu mbak."
"Sudah.. sudah tidak perlu diungkit lagi, kita mulai lembaran baru dengan jiwa dan semangat baru oke."
Kyara mengangguk dan tersenyum.
"Mbak tinggal dulu ya, mungkin kamu mau menata pakaianmu di dalam."
Kamisha berjalan, Kyara menatapnya hingga tak terlihat lagi. Kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Malam ini mereka makan berlima, suasana bertambah rame dengan mendengar celotehan Axel.
Setelah selesai Xander duduk santai di ruang tengah. Ia tampak sibuk memainkan ipad nya.
"Xander." panggil Kyara.
"Om Xander." jawab Xander membenarkan. "Aku suami bulikmu."
"Maaf." Kyara tertunduk
__ADS_1
"Ada apa?"
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena sudah mengijinkanku tinggal disini."
"Semua aku lakukan karena Kamisha. Dan itu pun hanya sementara."
"Iya aku tahu itu." jawab Kyara lirih. Ia sangat sedih dengan reaksi Xander. "Kau masih marah padaku?"
"Aku hanya tidak terima kalau kau selalu menyakiti Kamisha!"
"Itu dulu, sekarang aku sudah berubah. Dan mbak Misha sendiri juga sudah bisa menilai kalau aku benar - benar berubah."
"Ya sudah. Aku rasa pembicaraan sampai di sini saja. Aku mau istirahat." Xander segera naik ke atas. Kyara hanya menatapnya dengan tatapan nanar.
"Loh Xander mana?" Kamisha datang membawa secangkir teh hangat.
"Dia ke atas, katanya mau istirahat."
"Baiklah kalau begitu aku istirahat dulu, kau juga Kyara jangan terlalu capek."
"Baik mbak."
Kamisha segera menyusul suaminya ke dalam kamar untuk beristirahat. Hari yang sangat melelahkan...
Xander tertidur lelap. Sekitar pukul satu malam ia terbangun dan tidak mendapati istrinya berada disampingnya. "Misha, sayang." panggilnya. Ia mencari di setiap sudut ruangan tapi tidak menemukan istrinya.
Ia segera pergi ke kamar Axel dan hasilnya sama. Kamisha tidak berada di sana. "Dimana dia." gumam Xander. Sayup - sayup dia mendengar suara televisi yang menyala. Ia memutuskan untuk turun ke ruang keluarga. Benar saja ia mendapati televisi yang menyala. "Misha, kau kah itu?"
"Ya aku disini."
"Kenapa kau belum tidur? aku mencarimu kemana - mana?"
"Maaf sayang perutku lapar dan setelah makan aku justru tidak mengantuk lagi. Jadi aku menonton televisi."
Xander duduk di samping istrinya, ia mengambil beberapa cemilan di atas meja.
"Kau tidak bawa selimut, nanti dingin."
"Nggak, sudah ada kamu." Kamisha menyandarkan kepalanya di pundak Xander.
"Sayang kau jangan membangunkan sesuatu yang sudah tertidur."
"Memang aku mau bangunkan."
"Oh, nakal kamu sekarang ya." Xander mencubit hidung Kamisha.
"Sssttt. jangan keras - keras kalau ada yang dengar." Kamisha menutup mulut suaminya. Dengan perlahan ia duduk di pangkuan Xander sehingga mereka duduk saling berhadapan. "Kamu bau." ucap Kamisha.
"Tta__."
"Tapi aku suka." belum selesai Xander melanjutkan perkataannya sudah di sahut oleh Kamisha.
Kamisha mulai mengalungkan kedua tangannya pada leher Xander. Dan segera mencium suaminya dengan sangat panas. Ia memainkan lidahnya dan beberapa kali menggigit bibir Xander karena gemas.
"Sssayang." lenguh Xander. Ia merasakan sensasi yang berbeda bercinta di ruang keluarga. Ada rasa was - was, berdebar - debar tapi menggairahkan.
Lenguhan demi lenguhan keluar dari mulut Xander. Semua sentuhan yang diberikan Kamisha malam itu membuatnya sangat mendamba istrinya itu. Peluh keringat membasahi tubuh mereka berdua dalam penyatuan cinta.
Hingga tanpa disadari sepasang mata memperhatikan kegiatan panas mereka dengan tajam. "Sial kenapa aku harus melihat ini semua. Aku pastikan itu tidak akan lama."
🌸🌸🌸🌸
"Aneh apa ini?" bulik Yanti mengambil sebuah berkas yang tertinggal di dalam kamar bekas Kyara tempati. Ia kemudian membuka dan membacanya perlahan.
"Laporan kesehatan dari seorang Psikiater di rumah sakit Jogja." gumam bulik Yanti. "Siapa yang sakit jiwa?"
"Ono opo Yanti (Ada apa Yanti), kowe kok ngomong dewe (Kamu kok bicara sendiri)?"
"Iki lo pak, aku nemu surat soko rumah sakit jiwa (Ini pak, aku menemukan surat dari rumah sakit jiwa)."
"Sopo sing edan? (Siapa yang gila?)."
"Embuh pak ra reti (Entahlah pak, tidak tahu)."
"Bawa sini."
Bulik Yanti menyerahkan berkas itu pada pak Amir. Dengan seksama pak Amir membaca.
"Iki laporan kesehatane Kyara." ucap pak Amir.
"Kyara?"
"Iyo, iki lo tulisane (ini tulisannya) nama pasien Kyara. Terus iki ono tanda tangane Ayu."
"Ya Allah pak, berarti Kyara gila?"
"Iya, disini ia menderita kontrol impuls."
"Pak, kira - kira membahayakan tidak?"
"Ini ada surat keterangan kalau dia sudah sembuh. Dan juga ini enam tahun yang lalu."
"Itu artinya ketika dia masih sekolah pak, kenapa Ayu tidak cerita ke kita."
"Mungkin Ayu malu dan sungkan karena sudah membebani hidup kita. Aku akan memberitahu Kamisha."
"Kalau menurutku tidak usah saja, toh itu juga sudah lama dan sudah sembuh. Kamisha sudah cukup kita susahkan, pak. Apa tidak malah tambah terbebani kalau kita cerita begini."
"Ya, kamu benar juga."
"Ya sudah ayo bapak minum obat dulu."
Pak Amir dan bulik Yanti menyimpan berkas itu di dalam almari mereka dan menutup rapat tentang kondisi Kyara yang dulu pernah berkonsultasi dengan seorang psikiater karena menderita kontrol impuls suatu jenis gangguan mental sebagai kesulitan seseorang dalam menahan diri untuk selalu berbuat agresif, kesulitan mengontrol diri sehingga membahayakan diri sendiri dan orang lain.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸