
"Om Matteo!" teriak Kamisha
"Don't worry. I'm fine." jawab Matteo. "Kamu tidak apa - apa kan?"
"Tidak om."
"Oh syukurlah, kalau tidak aku akan merasa bersalah pada keponakanku."
Kamisha membantu Matteo berdiri. "Ya tuhan, lenganmu berdarah."
"Benarkah?" Matteo melihat lengannya. "Ah hanya luka kecil."
"Luka kecil bagaimana. Kalau tidak diobati juga bisa infeksi." Kamisha terlihat panik. "Sebentar aku telepon Sofi. "Kamisha mengambil handphone nya dan segera menelepon Sofi.
"Ya, Sha."
"Kamu dimana?"
"Sudah ditempat parkir."
"Cepat kemari, kebagian resort. Om Matteo terluka."
"Oke aku kesana."
Kamisha menunggu kedatangan Sofi. Ia dibantu beberapa pekerja di sana. Alex juga segera datang.
"Bu Kamisha tidak apa - apa?"
"Aku tidak apa - apa pak Alex. Jangan bilang kejadian ini pada Xander ya."
"Tapi___."
"Tapi kenapa pak?"
"Saya sudah terlanjur menghubungi bapak."
"Ya sudah tidak apa - apa. Nanti aku yang akan menjelaskan padanya."
Alex segera mengumpulkan beberapa orang pekerja yang bertanggung jawab terhadap peralatan. Karena ia yakin Xander pasti akan meminta penjelasan dari mereka terlebih dahulu.
"Sha!" panggil Sofi yang berlari menghampiri mereka. "Kamu tidak apa - apa?"
Kamisha menggelengkan kepala. "Tuh yang terluka disana." tunjuk Kamisha pada Matteo yang tengah melihat luka di lengannya.
Sofi segera menghampiri Matteo. "Bapak tidak apa - apa?"
"Tidak."
"Coba saya lihat lukanya." tampak raut kepanikan terpancar dari wajah Sofi. Entah mengapa Matteo suka melihat Sofi yang tampak panik.
"Ini hanya luka kecil, Sof."
"Luka kecil bagaimana. Ini sobek kena tangga besi pak. Bisa infeksi kalau dibiarkan. Saya antar kerumah sakit."
"Baiklah jika kau memaksa."
Sofi membantu Mattteo berdiri. "Aauuww." teriak Matteo. "Pelan - pelan."
"Maaf pak, lebih baik tangan yang tidak sakit taruh dipundak saya saja. Biar saya gampang menuntun bapak ke mobil."
"Oke, pelan - pelan ya."
"Iya.. Iya."
Kamisha tersenyum melihat interaksi mereka berdua. Sama - sama saling gengsi, tidak mau terbuka dengan perasaan masing - masing. Dan satu lagi ternyata sifat manjanya Matteo sama seperti Xander. Kenapa om Matteo harus hiperbola seperti itu, Kamisha geli dalam hati.
Setelah melihat Sofi membawa Matteo dan memastikan semuanya baik - baik saja. Kamisha hendak berjalan menuju ke ruang kerja suaminya. Tapi tiba - tiba___.
"Aauuww perutku." rintihnya. Ia merasa perutnya sedang kram. Kamisha berusaha menarik napas dan mengeluarkannya perlahan, berusaha tidak panik.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Xander begitu sampai di lokasi.
"Xander." Kamisha bernapas lega karena ada suaminya. "Perutku kram."
"Kita kerumah sakit."
"Jangan sayang. Bawa aku ke ruang kerjamu saja."
"Oke." Xander segera membopong tubuh istrinya. "Aku akan perhitungan denganmu." ancam Xander pada Alex.
"Sudah sayang, kenapa kau perhitungan dengan pak Alex?"
"Dia mengatakan kamu tidak apa - apa. Tapi lihat ini, perutmu kram. Semuanya tidak becus bekerja."
"Sudah.. Sudah.. Kau jangan menggerutu di depanku. Aku takut." ucap Kamisha manja.
"Maaf sayang, aku sedikit emosi. Kita ke ruanganku ya."
Kamisha mengangguk dan mengalungkan tangannya dengan manja.
Xander masuk ke dalam ruangannya. Ia meletakkan Kamisha di sofa. Dan segera membuka kamar istirahat mereka.
"Disini saja sayang."
"Tidak, kau harus berbaring dan istirahat."
"Baiklah." akhirnya ia menurut apa kata suaminya untuk istirahat di dalam kamar.
"Apa ada yang sakit?"
"Tidak ada sayang, tadi perutku hanya kram sebentar, ini sudah tidak apa - apa."
__ADS_1
Xander membelai lembut perut istrinya dan berulang kali menciumnya dengan penuh kasih sayang. "Jangan nakal, kasihan mommy."
Kamisha tersenyum dan membelai lembut rambut suaminya. "Aku tidak nakal daddy."
Xander tertawa mendengar jawaban Kamisha.
"Sepertinya dia perempuan."
"Tahu dari mana?"
"Kami tambah cantik fan seksi sayang."
"Berarti waktu hamil Zio aku jelek."
"Tidak, kamu setiap hamil selalu cantik. Tapi entah kenapa hamil kali ini aura keibuanmu sangat kelihatan."
"Hmm, bohong. Jangan merayu dan ujung - ujungnya minta bercinta."
"Tidak sayang, aku masih ada urusan untuk diselesaikan." jawab Xander. "Kau disini dulu, aku keluar sebentar."
"Sayang."
"Ya."
"Jangan keras - keras dengan para pekerja. Mungkin mereka tidak sengaja." ucap Kamisha seoalah tahu apa yang akan dilakukan suaminya yaitu menginterogasi pekerja.
"Ya, aku usahakan." Xander mencium kening Kamisha dan lanjut keluar.
Entah kenapa Kamisha merasa kecewa ketika suaminya tidak minta bercinta dengannya. Dan tiba - tiba saja muncul ide gila, yang membuatnya tersenyum sendiri ketika membayangkan.
Kira - kira sudah satu jam Xander keluar, ia tidak mendapatkan informasi apa - apa dari pekerja. Karena menurut mereka tangga besi itu sudah tidak ada disana. Entah bagaimana ceritanya tangga itu bisa kembali ke sana.
Xander juga menyuruh Alex melihat CCTV sekitar siapa tahu ada rekaman yang menangkap kejadian itu. Dan membutuhkan proses.
Xander memutuskan kembali ke ruang kerja untuk menemui istrimya. Kasihan jika Kamisha sendiri.
"Sayang." panggil Xander, ia mengedarkan pandangan dan tidak menemukan istrinya disana. Tiba - tiba saja ada yang memeluknya dari belakang. Dari aromanya Xander tahu jika itu Kamisha. Ia sangat terkejut melihat istri mungilnya itu sudah berganti baju dan hanya mengenakan kemeja miliknya.
"Sayang kau memakai kemejaku?"
Kamisha mengangguk. "Aku seksi?" tanyanya pada Xander sambil menarik dasi suaminya.
Xander mengangguk. Kamisha membawa tubuh Xander mendekat ke samping tempat tidur.
"Kau tidak menginginkanku?" Kamisha berusaha menarik perhatian Xander. Ia mulai melepas kancing kemejanya satu persatu.
"Sayang, perutmu kram." Xander berusaha mengingatkan sekaligus mengalihkan perhatiannya.
"Sudah tidak." jawabnya sambil melempar kemeja itu ke sembarang tempat. Ia hanya mengenakan bra dan CD saja.
"Aappa yang kkkau lakukan?"
"Menurutmu apa?" Kamisha naik ke atas tempat tidur. "Tentu saja karena aku menginginkanmu."
"Perut?" kamisha mengusap perutnya beberapa kali. "Aku baik - baik saja sayang. Benar kau tidak mau? Kalau begitu kemejanya aku pakai lagi."
"Jjjangan!"
"Jangan apa?"
"Jangan dipakai lagi."
"Kalau begitu kemarilah." Kamisha merebahkan tubuhnya
Xander masih bingung, kalau sudah bersama dengan Kamisha tidak cukup satu kali. Ia takut tenaga istrinya akan terkuras. Padahal tadi sempat kram. Tapi apa daya pesona itu tidak bisa ia tolak.
"Ingat ya, kau yang minta."
"Iya sayang, aku yang sangat menginginkanmu." jawab Kamisha. "Kemarilah, bermain denganku disini." ucapnya sambil menepuk - nepuk kasur.
Tidak perlu waktu lama Xander langsung menyerangg istri yang menggodanya dengan nakal. Yang tersisa hanya suara lenguhan kenikmatan.
Alex yang sudah siap di depan pintu untuk menyerahkan laporan harus bersedia menunggu beberapa jam. Yah atasannya memang bucin.
🌸🌸🌸🌸
Setelah menerima beberapa jahitan Matteo dan Sofi keluar dari rumah sakit.
"Yakin kamu nggak apa - apa."
"I'm fine honey. Hanya beberapa jahitan."
"Mau makan dulu atau saya antar ke apartemen?"
"Ke kantor. Aku akan kembali ke kantor."
"Ayolah pak, tangan anda sakit. Istirahatlah satu hari saja."
"Kau mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja." jawab Sofi cepat. Tapi seakan sadar akan kekeliruannya ia segera meralatnya. "Maksud saya khawatir karena even akan segera dimulai."
"Thank's."
"Buat apa?"
"Karena sudah mengkhawatirkan aku."
"Khawatir karena even mau dimulai pak." Sofi kembali menegaskan.
"Iya.. Iya karena even." ucap Matteo yang membuat perasaan Sofi lega. "Antar aku ke apartemen."
__ADS_1
"Oke.."
Dengan cepat Sofi membantu Matteo masuk kedalam mobil. Mereka segera menuju ke apartemen. Selama perjalanan Matteo tertidur karena pengaruh obat penghilang rasa sakit.
"Pak, kita sudah sampai." Sofi membangunkan Matteo.
"Oh, sorry aku tertidur."
"Tidak apa - apa." Sofi membuka pintu mobil dan membantu Matteo keluar. Dengan telaten Sofi menuntunnya menuju ke apartemen. Matteo terkadang tersenyum dengan sikap Sofi, ia tidak separah itu dan menurutnya itu luka kecil. Tapi sikap Sofi berlebihan seolah - olah itu parah. Kalau memang sakit bisa membuat perhatian Sofi hanya pada Mateo maka ia bersedia untuk sakit terus.
"Bapak duduk dulu. Akan saya buatkan minum."
"Buatkan aku teh hangat saja."
"Baik pak." Sofi menurut tanpa membantah, tidak seperti biasanya yang selalu dibarengi dengan dengusan kesal.
"Sofi."
"Ya." jawab Sofi yang masih sibuk membuat teh.
"Pesankan makanan untuk kita makan siang."
"Saya masak saja bagaimana? Bukankah bapak suka masakan rumahan."
"Kalau kau tidak keberatan."
Setelah meletakkan secangkir teh, Sofi berkutat di dapur membuat masakan yang simpel.
"Pak sudah masakan sudah siap."
"Cepat sekali, apa yang kau masak?"
"Hehehehh.. Fuhung hai."
"Hahahha.. Pantas cepat. Telur dadar yang disausi."
Sofi tersipu malu. "Saya kurang pintar memasak. Maaf."
"It's oke honey. Aku suka masakanmu."
Mereka berdua makan sambil terlibat dalam beberapa pembicaraan bahkan candaan.
"Hmm, pak. Saya permisi pulang dulu."
"Why?"
"Sudah sore."
"Baiklah, biar sopir yang mengantarmu."
"Tidak usah, saya naik taksi saja. Mobil saya kan ada di hotel Xander.
"Tidak, tetap diantar sopir. Kau tidak ingin menambah beban pikiranku kan?"
Sofi menggeleng
"Turuti perintahku."
"Baiklah. Kalau begitu saya permisi." Sofi membalikkan badan dan akan berjalan menuju pintu.
"Sofi tunggu."
"Ya pak."
Matteo berjalan mendekat ke arah Sofi berdiri. Ia membelai kepala Sofi. "Hati - hati."
Sofi tampak terkejut dengan perlakuan Matteo kepadanya.
"Tidak apa - apa kan kalau aku menyentuhmu seperti ini?"
"Oh tidak apa - apa." jawab Sofi dengan menggigit bibirnya, mukanya merah padam. Itu membuat Matteo semakin berani bertindak. Dengan gerakan cepat ia menyambar bibir mungil yang menggemaskan itu.
Sofi yang tidak siap menerima ciuman itu sempat mendorong dada Matteo tapi apa daya tenaga pria itu begitu besar. Lama kelamaan Sofi juga ikut menikmati.
Matteo yang sadar akan tindakannya segera melepas ciuman itu. Napas mereka berdua terengah - engah.
"Sorry.. Sorry Sofi.. Aku.. Aku.." mateo gugup seakan takut kalau Sofi akan marah besar dengan tindakannya. Tapi di luar dugaan
"Hmm, tttidak apa - apa. Saya permisi." dengan salah tingkah Sofi segera keluar dari apartemen Matteo dengan detak jantung yang tidak beraturan. Gila! Ini gila! Kenapa aku begitu menikmati ciuman tua bangka itu umpat Sofi dalam hati.
🌸🌸🌸🌸
"Sudah kau temukan sebab tangga itu jatuh?"
"Sudah pak. Ini rekamannya." Alex menyerahkan hasil rekaman itu dan Xander membukanya dilaptop.
Sengan seksama ia memperhatikan orang yang sengaja menjatuhkan tangga itu dari atas tanpa sepengetahuan semua pekerja.
"Wanita? Pelakunya seorang wanita?"
"Benar pak, pelakunya seorang wanita."
"Siapa wanita itu? Aku tidak mengenalnya."
"Dia tercatat di sini sebagai tamu yang ikut even yang diadakan pak Matteo. Namanya Sienna seorang model dan designer asal Perancia."
"Om Matteo.. Yah aku yakin ini ada hubungannya dengan om Matteo. Dia memiliki banyak teman wanita." ucap Cander. "Siapkan mobil, aku akan menemui om Matteo di apartemennya."
"Baik pak."
Sial! Kenapa urusan om Matteo jadi Kamisha yang terkena imbasnya. Aku harus tahu apa hubungan om Matteo dengan wanita itu.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸