
Sepanjang perjalanan Kamisha hanya diam. Ia memikirkan bagaimana harus menghadapi bapaknya. Apa yang sudah ia jaga selama ini di hancurkan dalam semalam. Dan itu karena kebodohannya.
"Mommy, are you oke?"
"Mommy baik - baik saja sayang."
Axel kembali bersandar pada bahu Kamisha. Dengan lembut Kamisha membelai rambut putranya. Tak lama pesawat sudah sampai di YIA (Yogyakarta International Airport). Dengan menggunakan mobil yang sudah dipersiapkan, Kamisha beserta rombongan menuju ke rumahnya.
"Siapa nama orang tuamu, Sha?"
"Amir, ma. Pak Amir." jawab Kamisha.
"Ibumu?"
"Dia ibu tiri, namanya bulik Yanti."
"Syukurlah bapakmu masih ada yang merawatnya." ucap mama Attalia. "Tinggal berdua saja?"
"Tidak, ma. Ada mbak Ayu. Dia kakak saya yang pertama. Ibunya Kyara."
"Baiklah, kami nanti akan meminta ijin kepada kedua orang tuamu. Walau bagaimanapun yang menikahkan kamu harus ayahmu bukan?"
"Ya, betul ma."
Setelah menempuh perjalanan hampir tiga puluh menit akhirnya mereka sampai di rumah Kamisha. Kondisi rumah itu masih sama dengan terakhir ia pergi dari tumah itu dengan membawa Axel dan mbok Sri.
Tok... tok... tok..
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, eh mbak Misha." sapa seseorang wanita separuh baya. "Mari masuk mbak."
"Silahkan duduk, ma." Kamisha mempersilahkan mama Attalia dan Xander untuk duduk di kursi kayu. Axel langsung duduk di pangkuan Xander. Tempat ini terasa asing baginya karena ia belum pernah datang ke rumah ini. Kalau sama pak Amir sudah sering lewat video call.
"Mbak Ajeng, bapak ada?"
"Baru di sawah mbak, akan saya panggilkan."
"Loh, kok ke sawah lagi. Bukankah ada mbak Ayu?"
"Hmm, bu Ayu pergi ke Medan mbak."
"Ke rumah mbak Rini?"
"Iya."
"Buat apa?"
"Katanya mau cari pekerjaan yang lebih mapan."
"Ya sudah kamu panggil bapak."
"Baik mbak, saya pamit dulu."
Mbak Ajeng pergi ke sawah memanggil pak Amir.
"Mbak Misha duduk saja, biar saya yang buat teh buat pak Xander dan ibunya."
"Ya mbok."
Mbok Sri pergi ke dalam membuat teh.
"Itu tadi mbak Ajeng, dia keponakannya mbok Sri. Selama ini dia yang membantu menjaga bapak." jelas Kamisha.
Tak lama kemudian pak Amir bersama bulik Yanti datang. Melihat mereka Axel langsung berteriak. "Mbah kakung."
"Eh Axel putuku sing ganteng dewe (Eh Axel cucuku yang paling tampan)." pak Amir langsung memeluk cucu nya yang hanya bisa dia lihat dari video call.
"Loh, Misha dengaren ora ngabari bapak nek meh mulih (Loh, Misha tumben tidak memberi kabar kalau mau pulang)."
"Oya pak, perkenalkan ini pak Xander atasannya Misha dan ini mamanya namanya mama Attalia."
"Oh sugeng rawuh, monggo pinarak."
Xander dan mama Attalia memandang ke arah Kamisha. Seakan tahu apa mereka maksud, Kamisha langsung memberikan penjelasan. "Selamat datang, silahkan duduk."
"Oh." Xander dan mama Attalia menjawab bersamaan.
"Pak, pakai bahasa indonesia saja."
"Oh ya bapak lupa. Bapak sama ibumu ganti baju dulu."
Pak Amir dan bulik Yanti masuk ke dalam untuk berganti pakaian. Karena memang sudah menjelang sore. Setelah berpakaian rapi pak Amir dan bulik Yanti keluar untuk menemui mereka.
"Pak Misha mau bicara."
"Bicaralah nduk."
"Misha mau menikah pak."
"Menikah?"
__ADS_1
"Tunggu dulu Misha, jangan terburu - buru. Ada yang belum bapakmu tahu." sahut bulik Yanti.
"Maksud bulik?"
"Bapakmu belum tahu siapa nak Xander ini."
"Pak Xander ini atasan Misha di perusahaan."
"Status dia."
"Status apa?" Kamisha mulai jengkel dan meninggikan suaranya. "Mbok Sri bawa Axel masuk."
"Baik mbak."
"Aku mau sama om Xander." rengek Axel.
"Axel, kau masuk dulu, istirahatlah di kamar. Nanti om temani lagi, oke." Xander membujuk Axel.
"Baiklah." jawab Axel sambil tertunduk dengan muka kecewa.
Setelah Axel masuk pembicaraan dilanjutkan kembali.
"Pak, nak Xander ini pacarnya Kyara." ucap bulik Yanti dengan cepat.
"Loh, ini bagaimana to. Aku kok jadi bingung." ucap pak Amir. "Ini yang mau nikah siapa to, Kamisha apa Kyara."
"Maaf pak Amir ijinkan saya menjelaskan." ucap mama Attalia. "Jadi begini yang mau menikah itu Kamisha dengan Xander anak saya. Saya mohon bapak bisa memberi restu dan menikahkan Kamisha besok pagi."
"Tidak bisa!" tolak bulik Yanti.
"Kok tidak bisa kenapa?" tanya pak Amir.
"Pak ingat, Ayu pernah cerita kalau Kyara sedang dekat dengan bos nya yang namanya Xander. La ini orangnya. Bagaimana bisa berakhir dengan menikahi Kamisha. Terus nasibnya Kyara piye?"
"Maaf bu, perlu saya jelaskan di sini. Dulu saya dekat dengan Kyara. Akan tetapi tidak melanjutkan hubungan kami yang lebih serius karena banyak kebohongan. Itu sudah lama. Kami juga tahu siapa Axel."
"Nak Xander tahu siapa Axel?" tanya pak Amir
"Ya kami semua sudah tahu termasuk mama saya."
"Tapi tetap saja tidak pantas, nak Xander menikahi bulik dari mantannya."
"Maaf bu, saya dan Kyara tidak pernah pacaran dan menjadi seorang kekasih. Kami hanya dekat."
"Menurut saya sama saja. Apa nanti kata orang - orang!" bulik Yanti tetap bersikukuh menolak pernikahan itu. "Lihat itu, kamu menentang perselingkuhan tapi kamu sendiri merebut kekasih keponakanmu sendiri. Terus apa bedanya kamu dengan aku?!"
"Cukup! kamu diam Yanti! ben aku sing ngomong (biar aku yang berbicara)!" teriak pak Amir dengan tegas.
"Nak Zander dan ibu. Saya sebagai orang tuanya Kamisha memberikan restu atas hubungan ini. Dan akan menikahkan Kamisha. Tapi kenapa harus besok pernikahannya. Ini terlalu terburu - buru."
Kamisha hanya diam. Dia tidak sanggup menjelaskan apa yang terjadi. Lidahnya kelu, mulutnya kaku.
"Hmm, saya minta maaf pak Amir."
"Ada apa ini? jelaskan pada bapak, nak Xander."
"Maaf pak, saya tidak bisa menjaga kehormatan Misha. Kami telah melakukan hubungan suami istri." jawab Xander sambil tertunduk.
"Apa!" teriak pak Amir. "Misha!" teriaknya lagi pada Kamisha. Plaakkk! "Apakah ini yang bapak ajarkan padamu?! jawab!"
"Maaf pak, maafkan Misha." Jawab Kamisha dengan suara bergetar, ia hanya tertunduk, airmatanya mulai jatuh.
"Nah sudah terbukti kan anak kesayanganmu yang kamu bangga - bangga kan itu akhirnya mencoret nama baikmu!"
"Pak tolong jangan menyalahkan Kamisha, salahkan saja saya." ucap Xander.
"Iya pak Amir, Kamisha anak yang baik, anak yang sopan dan saya langsung menyukainya saat pertama kali bertemu." ucap mama Attalia.
"Ini kecelakaan pak, tapi saya sebagai seorang pria akan bertanggung jawab." lanjut Xander sambil merengkuh bahu Kamisha untuk memberinya kekuatan.
"Ya Allah gusti, cobaan opo meneh iki (cobaan apa lagi ini)." pak Amir ikut terisak. Sedangkan Kamisha menangis dalam pelukan Xander.
Setelah terjadi keheningan beberapa saat, hanya suara isakan tangis. "Baiklah, bapak akan menikahkanmu." ucap pak Amir. "Nak Xander." panggil pak Amir.
"Iya, pak."
"Kamisha adalah anak bungsuku. Memang dia yang paling aku sayangi diantara kakak - kakaknya. Aku mohon titip jaga dia, lindungi dia, cintai dia seperti aku yang selama ini selalu menjaganya. Jangan sakiti dia, jika suatu saat kau sudah tidak sanggup menjaganya kembalikan dia padaku sama seperti ketika aku menyerahkannya padamu." pesan pak Amir dengan bibir bergetar. Ia berusaha kuat di depan anak dan calon menantunya itu.
"Saya siap menjaga, melindungi dan mencintai Kamisha sepenuh hati pak."
"Terima kasih, nak Xander. Bapak percayakan kebahagaian Kamisha padamu." ucap pak Amir. "Bagaimana dengan kepengurusan surat nikahnya?"
"Pak Amir tenang saja, semua sudah kami urus. Besok bapak tinggal menikahkan saja. Dan rencananya pesta akan kami gelar di Bandung. Kami harap pak Amir dan bu Yanti bisa menghadirinya." ucap mama Attalia.
"Usia saya sudah tua, bu. Mohon maaf jika kami tidak bisa menghadirinya. Saya hanya bisa mendoakan mudah - mudahan acaranya lancar." ucap pak Amir.
🍁🍁🍁🍁
Pagi ini semua yang ada di rumah pak Amir sibuk mempersiapkan acara akad nikah Kamisha dan Xander. Walaupun hanya kerabat dekat yang datang, tapi rumah pak Amir penuh.
Acara akad nikah ini berlangsung hikmat dan sederhana. Xander mengucapkan dengan suara tegas dan lancar dalam satu tarikan napas. Mama Attalia bernapas dengan lega karena rencananya berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Setelah akad nikah, sore nanti Kamisha dan Xander kembali ke Bandung lagi. Karena mama Attalia sudah merencanakan akan membuat pesta atas pernikahan mereka.
"Mbak Misha, selamat ya."
"Terima kasih mbak Ajeng." jawab Kamisha yang sedang berganti pakaian.
"Lo, mbak Misha kok pakai baju itu."
"La mau pakai baju apalagi mbak."
"Hmm yang seksi dong, biar pak Xander klepek - klepek."
"Ah, mbak Ajeng bisa saja."
"Eh, kalau soal nikah menikah, malam pertama saya jagonya. Saya lebih pengalaman dari mbak Misha. Nyatanya saya sudah punya krucil satu."
"Hahahahhh.. benar juga ya mbak."
"Jadi nanti waktu malam pertama, mbak Misha tidak usah tegang. Rileks dan santai saja." saran mbak Ajeng.
"Terus."
"Nah pasti kan cium sana cium sini. Nyosor kemana - mana. Hmmm istilahnya pemanasan mbak."
"Hahahahhhh.. ya.. ya.." Kamisha terus tertawa mendengar penjelasan mbak Ajeng.
"Nah setelah itu pasti buka baju kan, nanti mbak Kamisha jangan kaget. Bentuk pria memang seperti itu tegak menjulang tinggi. Tarik napas dalam keluarkan pelan - pelan. Ikuti permainan mereka saja. Kan kita masih polos. Hehehehh..." mbak Ajeng tersenyum malu. Mungkin sambil mengingat kisah percintaannya dengan suami.
"Ya deh mbak, aku nurut perkataan mbak Ajeng."
"Yah memang rasanya sakit dan berdarah mbak."
"Sakit?" tanya Kamisha yang mulai aneh.
"Ya sakit dong mbak, barang segede itu dimasukkan ke kita. Mesti yo lecet yo loro, aku wae sampe ra iso mlaku kok (Pasti ya lecet ya sakit, aku saja sampai tidak bisa jalan)."
Aneh kenapa aku tidak merasakan apa - apa saat itu, hanya ada darah saja. Coba nanti aku browsing di google batin Kamisha.
"Eh mbak Misha malah melamun."
"Eh iya mbak." ucap Kamisha kaget.
"Nggak usah dipikir mbak, sakitnya cuma sekali saja. Setelah itu di jamin mbak Misha merem melek keenakan."
"Mbak Ajeng bisa saja. Saya jadi malu mbak."
"Eh betul mbak. Kalau teriak ya agak di rem. Jangan sampai satu kampung kedengeran apalagi Axel. Hehehehhh..."
"Iya mbak, terima kasih saran dan nasehatnya ya." ucap Kamisha. "Aku permisi dulu mau menemui Axel."
"Iya... iya... mau menemui pak Xander saja pakai alasan mau menemui Axel. Mbak Misha___ mbak Misha."
Kamisha meninggalkan mbak Ajeng dan segera membereskan pakaian Axel. Dengan di bantu mbok Sri semuanya cepat terselesaikan.
"Sha."
"Ya, ma."
"Semuanya sudah beres?"
"Sudah, tinggal menunggu kendaraan yang menjemput kita."
"Ya sudah, kamu beritahu Xander dan Axel agar bersiap."
"Baik, ma."
Kamisha keluar dari kamar Azel dan menuju ke depan. Tampak Xander, Axel sedang mengobrol bersama pak Amir. Tampak pak Amir memperlihatkan foto - foto Kamisha waktu kecil.
"Xander, Axel." panggil Kamisha.
"Mommy." Axel berlari dalam pelukan Kamisha.
"Kenapa gembira sekali?"
"Tentu saja aku senang, karena akhirnya aku punya seorang ayah. Terima kasih mommy."
"Ya sayang." jawab Kamisha dengan mata berkaca - kaca. Karena terus terang ia belum tahu gambaran tentang rumah tangganya nanti.
Kamisha menghampiri pak Amir dan Xander. "Pak, Kamisha mau pamit pulang."
"Ya nduk, bapak doakan hidupmu bahagia selalu. Maafkan bapak yang selama ini mengabaikanmu, banyak merepotkanmu."
"Tidak apa - apa pak. Justru Misha yang minta maaf ke bapak. Karena sudah mengecewakan bapak. Selama ini Misha belum pernah membahagiakan bapak."
"Melihatmu bahagia sama artinya dengan membahagiakan bapak." ucap Pak Amir sambil memeluk putri kesayangannya itu.
Tak lama kemudian datanglah mobil yang menjemput mereka ke bandara. Kamisha berpamitan pada semua orang, sanak saudara. Hanya bulik Yanti yang saat itu tidak menampakkan dirinya.
Perjalanan menuju ke Bandung membuat Kamisha terasa hampa. Ia tidak tahu akan membina rumah tangga seperti apa. Ia sebenarnya sudah membuka pintu hatinya untuk Xander. Tapi bagaimana dengan Xander sendiri. Soal kebohongan saja masih membuatnya marah dan belum terselesaikan hingga sekarang.
Akhirnya Kamisha memutuskan untuk browsing di internet mengenai malam pertama. Dan ternyata kebanyakan kasus seperti yang dikatakan mbak Ajeng, sakit dan mengeluarkan darah. Tapi ada pula yang sama sekali tidak memgeluarkan darah. Akhirnya Kamisha memutuskan akan bertemu seorang dokter begitu sampai di Bandung.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁