
"Apa?" ucap Xander dengan suara parau ia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Yah, aku mengaku kalau aku kalah. Silahkan kalau kau menganggapku sebagai pecundang." ucap Kamisha lagi di sela isak tangisnya yang tak terbendung lagi.
Xander berjalan mendekatinya, memaksa Kamisha berjalan mundur hingga tubuhnya membentur tembok. Xander terus mendekatinya hingga sangat dekat dan tidak ada jarak di antara mereka.
"Ap__apa yang kau lakukan?' tanya Kamisha setengah ketakutan. Apakah perkataannya membuat Xander marah.
Xander hanya diam sambil menatap tajam mata Kamisha.
Kamisha menganggap itu sebagai tatapan marah atas apa yang dikatakannya tadi.
"Xander aku__." belum sampai Kamisha menyelesaikan kalimatnya Xander sudah mencium bibirnya dengan tiba - tiba. "Hmppff.. hmmppff." Kamisha berusaha agar tetap sadar dan kedua tangannya mendorong Xander. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak tahu harus berkata apalagi Misha setelah mendengar perkataanmu."
"Apa maksudmu? kau marah padaku?"
"Tidak aku tidak marah, aku hanya bingung." ucap Xander. "Lihat ini tanganku gemetar."
"Aku tidak mengerti Xander?"
Xander menangkupkan kedua tangannya pada pipi Kamisha. Ia menarik napas dalam sebelum mengatakan sesuatu. "Harusnya aku yang memiliki keberanian mengatakan ini padamu, Misha. Maaf aku seorang pengecut.
"Xander aku___."
"Ssstt.. dengarkan aku dulu." ucap Xander. Ia mengatur napasnya lagi yang memburu. "Kau tidak kalah Misha. Dan tidak ada yang kalah dalam hal ini. Aku yang lebih dulu mencintaimu."
Deg.. deg.. deg.. jantung Kamisha seakan meledak mendengar perkataan Xander. Kamisha menatap tajam jauh ke dalam tatapan Xander mencari sebuah kejujuran. Dan Kamisha tahu Xander mengatakannya dengan tulus.
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu Kamisha Naeswari." ucap Xander sambil mencium bibir Kamisha. Suatu hal yang sudah lama ingin dia lakukan. Ciuman itu makin lama makin dalam. Xander tidak memberi kesempatan Kamisha untuk membalas. Tangan yang satunya mencengkeram pinggang membuat tubuh Kamisha tampak kecil dipelukannya. Bahkan kedua kakinya tidak menapak lagi di lantai. Tangannya yang besar menopang kepala Kamisha menyusupkan kelima jarinya ke dalam surai - surai rambut. Dengan lembut dan perlahan Xander menyusuri bibir bawah Kamisha dengan ujung lidahnya yang basah dan hangat. Terkadang memberi gigitan kecil membuat Kamisha melenguh manja "Aaacchh.."
Sejenak Xander berhenti memberi Kamisha untuk bernapas dan mengusap bibir bawah menggunakan jempol. "Nikmat dan manis." bisiknya sambil tersenyum nakal.
Bibir Xander kembali menemukan bibir Kamisha, kali ini lebih intens. Kamisha membuka bibirnya memberi kesempatan Xander untuk mengeksplornya. Tanpa melepaskan ciumannya Xander mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. Kamisha memberanikan diri membelai dada Xander yang padat. Hal itu membuat napas Xander semakin memburu.
Dengan sekali angkat ia membawa tubuh istrinya itu ke tempat tidur tanpa melepaskan ciuman mereka.
"Xander aku malu." ucap Kamisha dengan rona merah di wajahnya. Ia semakin tampak menggoda di mata Xander.
"Ssttt." Xander hanya tersenyum tanpa menghentikan aksinya. Jantung Kamisha berdetak tak karuan ini pertama kalinya ia memperlihatkan bentuk tubuhnya pada seorang pria. Ia takut Xander akan kecewa setelah melihat tubuhnya yang tidak menarik.
Terpampanglah dua bukit kembar yang indah milik Kamisha. Yang selama beberapa hari ini hadir pada mimpi Xander. Xander memandang tanpa berkedip karena itu terlalu memukau. Kamisha segera menyilangkan kedua tangannya menutupi area dada yang saat ini tanpa sehelai benang pun.
"Aku malu." ucapnya perlahan.
"Ini indah Misha." ucap Xander yang langsung menciumi bukit kembarnya satu persatu. Ia mencecap pucuk bukit itu dengan lidahnya yang basah.
"Aacchh.. aacchh.." lenguhan demi lenguhan lolos dari mulut Kamisha yang mungil. Pandangannya sudah kabur. Merasakan sesuatu yang geli, seperti sengatan listrik tapi Kamisha menginginkannya lagi dan lagi.
Tangannya memilin dan bermain di pucuk bukit Kamisha secara bergantian. Meninggalkan jejak merah di sana tanpa terhitung. Setiap jengkal tubuh istrinya itu Xander sangat suka.
Ciuman itu turun ke perut. Dengan sigap tangan Xander menyusup pada organ inti milik Kamisha.
"Ini basah sayang." ucapnya sambil terus membelainya secara berlahan. Kamisha yang masih malu - malu berusaha menutup pahanya. Xander tahu istrinya itu masih awam masalah seperti ini. Perlahan ia mencium dan menjilat paha istrinya. Memberinya sentuhan yang lembut hingga membuat Kamisha nyaman. Pandangan Kamisha sudah kabur ia sudah tidak fokus karena sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Xander.
"Aaccchh...!" lenguhan panjang bercampur kaget ketika Xander mencium organ inti milik Kamisha. Punggung Kamisha melengkung tatkala lidah Xander masuk pelan - pelan ke sana. Kemudian menjilatinya dengan rakus seperti makan es krim. Lidahnya menari - nari memberi sensasi berbeda. Kamisha menggelinjang tak karuan. Tangan yang satu mencengkeram sprei dan yang satu lagi menjambak rambut Xander dengan kuat.
Xander kemudian menaruh kedua kaki Kamisha dipundaknya. Saat itulah ia semakin gencar memainkan milik Kamisha yang terasa sangat panas dan basah.
Ya tuhan perasaan apa ini. Aku merasa ingin meledak batin Kamisha. Ini pertama kalinya ia merasakan hal itu.Tubuhnya bergetar. Ia sudah tidak bisa berkata - kata. Peluhnya membasahi dahi, wajahnya merona merah. Dan ia tidak bisa menolak ketika Xander memainkan lidah dan jarinya secara bersamaan hingga membuat Kamisha berteriak.
"Kau menikmatinya sayang?" tanya Xander sambil tersenyum puas yang melihat Kamisha yang berkeringat dengan napas yang memburu.
Xander mulai melepas celananya hingga tampak miliknya yang keras dan menjulang tinggi. Ini pertama kalianya ia melihat milik pribadi seorang pria. Ia membayangkan bagaimana jika itu nanti bertemu dengan miliknya. Ah membayangkan saja sudah membuatku pusing batin Kamisha sambil menelan ludah.
Xander tersenyum senang melihat keterkejutan di wajah istri polosnya itu. Bibir Xander merambat naik ke perut hingga bisa terasa betapa keras dan hangatnya ketika milik Xander ketika bergesekan dengan kulit Kamisha.
"Now you're mine." ucapnya dengan suara parau. Xander kembali mengulum pucuk bukit kembar Kamisha seraya menggesekkan miliknya yang panjang dan kuat di depan milik Kamisha yang hangat dan basah.
"Xander aku takut." Kamisha berucap lirih.
"Please Misha, aku menginginkanmu menjadi milikku seutuhnya." Xander memohon dengan tatapan sayu.
Kamisha mengangguk pelan. Xander mulai masukkan miliknya secara berlahan agar Kamisha menerima kehadirannya.
"Aauuww sakit!" teriaknya.
__ADS_1
"Ini cuma sebentar sayang, please." Xander terus memohon sambil mulai mencium bibir Kamisha dan memainkan bukit kembarnya hingga memberi rasa nyaman. Dan dengan sekali hentakan mereka melakukan penyatuan. Awalnya memang sakit tapi lama kelamaan Kamisha mulai merasakan kenikmatan ketika Xander bergerak maju mundur. Menghujamnya terus menerus hingga teriakan mereka berdua menggema di ruang kamar.
Tubuh mereka bermandikan keringat. Xander menutup tubuh mereka dengan selimut. Mereka berbaring di tempat tidur setelah terjadi peperangan, Xander memeluk Kamisha dari belakang dengan erat sambil mencium ceruk leher istrinya yang tampak kelelahan. "Aku mencintaimu Kamisha Naeswari, kau milikku hanya milikku. Ingat itu." bisik Xander.
"Hmm, aku juga mencintaimu Xander Alfero Hadid." gumam Kamisha yang sudah memejamkan mata
Mereka berdua akhirnya tertidur bersama, setelah pergulatan melelahkan yang membuat mereka menjadi suami istri yang bahagia.
🌸🌸🌸🌸
Heny masih setia menunggu om Dimas di rumah sakit. Ia sudah menghubungi istri dan memberitahu kondisi om Dimas saat ini. Tapi hingga sekarang istri atau pun keluarganya tak kunjung datang.
"Om, kamu harus bertahan. Kita harus membalas perbuatan Kyara." ucap Heny sambil mengenggam tangan om Dimas.
Kondisi om Dimas sangat memprihatinkan. Ia sudah koma selama dua hari. Jika kondisi tidak membaik dalam satu minggu maka dokter sudah angkat tangan.
Akibat dari terserempet motor membuat om Dimas mengalami luka parah pada bagian kepala. "Om aku janji, aku akan mengusut tuntas kasus ini. Kyara harus mendekam di penjara dan menerima ganjaran atas perbuatannya."
"Jangan harap kau bisa memenjarakan kami, Heny. Yang ada justru kamu yang akan masuk penjara terlebih dahulu." ucap Tina dari belakang.
"Kalian__."
"Yah kami, terkejut ya?"
Heny memandang mereka berdua dengan tatapan tajam. "Puas kalian melihat om Dimas seperti ini?"
"Kamu gila ya! bukan kami yang membuat om Dimas seperti ini. Tapi pengendara motor yang menabraknya."
"Bohong! aku tahu ini perbuatanmu Kyara. Aku mengenalmu sudah lama!" teriak Heny.
"Heny, tenangkan dirimu." Kyara berusaha menenangkan mantan sahabatnya itu. "Ini rumah sakit."
"Aku tidak peduli! aku harus menuntut keadilan."
"Siahkan saja! buktikan saja! laporkan saja kami pada pihak berwajib."
"Oke.. oke.. kalau itu maumu. Tunggu saja." ancam Heny.
"Sudahlah Kyara, kita pergi dari sini saja. Percuma saja, niat kita baik mau menjenguk malah dituduh seperti ini!" Tina mengumpat kesal.
Disepanjang perjalanan ada sesuatu yang mengganjal di benak Tina.
"Ra, kau tidak melakukan itu pada om Dimas, kan?"
"Kau mencurigaiku?"
"Bukan curiga, hanya saja ada sesuatu yang aneh."
"Maksudmu?"
"Kau tidak membohongiku kan?"
"Soal apa?"
"Soal pengendara sepeda motor itu."
"Tina, aku semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraanmu."
"Aku melihatmu berbincang dengan pengendara sepeda motor itu sehari sebelum om Dimas kecelakaan. Dia bukan orang suruhanmu kan?"
"Kau membuntutiku?"
"Aku tidak membuntutimu, Ra. Hanya saja aku tidak percaya denganmu. Aku takut kau berkhianat padaku."
"Terus mau kamu apa? mau melaporkanku ke polisi? silahkan saja. Dan aku pastikan aku akan menyeretmu ke penjara bersamaku."
"Tenang, aku tidak akan berkhianat kau bisa percaya denganku. Asalkan jika kau sudah mendapatkan Xander jangan lupa denganku. Hubungan kita seperti simbiosis mutualisme." ucap Tina sambil tersenyum licik.
"Aku setuju." jawab Kyara. Semua ia lakukan demi keselamatannya. Tapi di dalam pikirannya ia terus berpikir untuk lepas dari Tina. Sejatinya ia tidak suka ditekan.
🌸🌸🌸🌸
Kamisha bangun karena perutnya terasa lapar. Ia bergerak pelan - pelan karena masih merasakan nyeri pada bagian bawahnya. Ia menyingkirkan dengan pelan tangan Xander dari atas perutnya. "Aauuww!" pekiknya sambil menutup mulutnya, takut suaranya akan membangunkan Xander.
Kamisha mencari - cari bajunya yang ternyata sudah berserakan entah kemana. Ia mencoba meraih kemeja Xander dan memakainya untuk menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun.
Ia menurunkan pelan - pelan kakinya ke bawah. Setelah bisa menyesuaikan diri ia bangkit dari tempat tidurnya. Terus terang kakinya gemetar.
__ADS_1
Uhh tadi waktu bercinta kenapa begitu enak, tidak sesakit ini. Aku seperti tak punya tulang dan tenaga lagi batin Kamisha. Ia berdiri sejenak sebelum melangkah ke meja makan. Ia melangkah dengan tertatih. Gila tenaga Xander memang kuat, ia tidak lelah sama sekali. batinnya tersenyum. Tapi itu yang ia suka. Ini pertama kalinya ia diperlakukan istimewa oleh seorang pria. Entah berapa kali ia tadi mencapai puncak.
Kamisha membuat secangkir teh hangat untuk mengisi perutnya. Ia menatap ke jendela dan melihat gemerlap lampu kota Bandung dari atas.
"Kau tidak membangunkanku." ucap Xander tiba - tiba, ia sudah di belakang Kamisha sambil memeluknya dari belakang.
"Indah ya pemandangan malam kota Bandung jika dilihat dari sini."
"Tapi bagiku kau lebih indah, lebih cantik."
"Uh bohong, kau dulu tidak seperti ini padaku."
"Ya karena aku terlalu bodoh mengakui kalau aku mencintaimu." Tangan Xander mulai membelai lembut paha Kamisha. "Bisa kita mulai lagi?"
"Kau masih punya tenaga?"
"Tentu saja sayang, tidak perlu kau ragukan lagi. Aku bisa memuaskanmu berkali - kali."
"Tunggu, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu."
"Soal apa?" tanya Xander sambil menyusupkan tangannya dan membelai lembut bokong Kamisha.
"Aacchh.. Xander bisakah kita serius?"
"Baiklah, tapi setelah itu aku akan melakukan apapun yang aku inginkan."
"Setuju." mereka berdua sepakat. "Aku mau bertanya soal Bianca. Bagaimana perasaannya nanti setelah tahu kita bersama?"
"Tentu saja senang, bahagia."
"Hah..! jangan bercanda Xander. Dia tidak cemburu?"
"Untuk apa dia cemburu?"
"Bukankah kalian sepasang kekasih di masa lalu?"
"Hahahahhh.. kau beranggapan begitu? hahahahh." Xander tertawa terbahak - bahak.
"Kau mempermainkanku." ucap Kamisha sambil cemberut. Bibirnya manyun ke depan. Xander semakin gemas terhadap istrinya.
"Tidak sayang, jangan marah oke." ucapnya sambil mencium pipi Kamisha. "Asal kau tahu, disamping Bianca itu teman kuliahku waktu di Perancis dia juga saudara sepupuku."
"Maksudnya?"
"Ayah Bianca dan ayahku saudara sepupu. Dan juga Bianca sudah memiliki seorang suami."
"Aapa! punya suami? tapi kenapa kalian seperti dua orang yang jatuh cinta."
"Kami biasa saja, tapi kau cemburu buta sehingga beranggapan aku dan Bianca ada hubungan istimewa."
"Aku tidak cemburu!"
"Hahahh.. kau cemburu sayang. Jadi benar yang dikatakan Bianca kalau kau memang cemburu dengan kami. Tapi aku suka."
"Tapi kenapa waktu itu di resort aku lihat kamu menggendong Bianca?"
"Bianca saat itu tiba - tiba pingsan dan ternyata ia hamil."
"Hamil?"
"Ya, hamil dengan suaminya."
"Kenapa aku tidak melihat suaminya?"
"Dia memang ada proyek di Jakarta, maka kemarin itu aku mengantarnya ke sana."
Kamisha diam, dia merasa seperti orang tolol.
"Nah sekarang giliranku." tangan Xander sudah menyusup masuk dalam salah satu bukit kembar milik Kamisha.
"Aacchh... Xander aku belum selesai."
"Kita lanjutkan nanti, sekarang aku benar - nenar menginginkanmu, Misha. Aku ingin bercinta dengan setiap saat." bisiknya lembut di telinga Kamisha. Xander memberi ciuman lembut pada telinga dan leher Kamisha. Dengan cepat Xander membalikkan badan Kamisha dan menggendongnya. Kamisha mengaitkan kakinya di pinggang Xander sambil terus berciuman.
"Aku juga menginginkanmu suamiku." ucap Kamisha di sela - sela percintaan mereka. Ia sudah tidak mempedulikan rasa sakit itu karena setiap sentuhan yang dilakukan Xander membuatnya nyaman dan bahagia. Ini benar - benar surga dunia.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1