Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Misi Dua Pria Dewasa


__ADS_3

Mata Kamisha terbelalak tidak percaya, di depannya telah berdiri seorang pria yang hampir sembilan bulan ini ia rindukan.


Seluruh badannya kaku tidak bisa bergerak. Mata Kamisha berkaca - kaca. Memang sejak Xander tidak ada disisinya ia menjadi sedikit melow dam lebih sering mengeluarkan air mata.


"Misha." panggil Xander lirih.


Kamisha berusaha membalikkan badannya walaupun itu sangatlah sulit. Antara pikiram dan hatinya tidak menyatu. Hatinya ingin menghambur ke dalam pelukan Xander tapi pikirannya menyuruhnya untuk pergi.


Dengan cepat Xander menyambar tangan Kamisha dan membawannya masuk ke dalam lift.


"Apa yang kau lakukan?! lepas Xander!"


"Aku tidak akan melepasmu." Xander menarik tubuh Kamisha hingga jatuh ke dalam pelukannya.


Seandainya tubuh yang memeluknya ini dilakukan beberapa bulan yang lalu ia pasti dengan senang hati akan menyambutnya. Tapi entah kenapa tubuh Kamisha menolaknya.


"Lepas Xander! lepas!" Kamisha meronta - ronta.


"Tidak! tidak akan kulepas!" Xander mengeratkan pelukannya. "Apa kau tidak merindukanku sayang?" ucap Xander sambil berusaha mencium Kamisha.


Dengan sekuat tenaga Kamisha menolaknya. Ia mendorong dada Xander dan memalingkan muka.


"Xander please jangan paksa aku melakukan hal kasar padamu" teriak Kamisha.


"Aku suka kau yang seperti ini sayang." Xander seperti tidak memperdulikan penolakan Kamisha. "Badanmu lebih seksi, aku suka."


Dasar pria brengsek yang ada dipikirannya hanya hal - hal yang tidak senonoh, harusnya kau minta maaf padaku. Apakah pergi meninggalkan aku adalah hal yang sudah biasa kau lakukan sehingga kau sama sekali tidak merasa bersalah batin Kamisha bergejolak.


Dengan gerakan yang sangat cepat dia menginjak kaki Xander.


"Aaauuww..!" teriak Xander kesakitan. Ia membungkuk memegang kakinya.


Ting.. pintu lift terbuka.


Yes berhasil! teriak Kamisha dalam hati. Rasakan!


Dengan cepat Kamisha keluar dari pintu lift. Tapi terlambat, gerakan Xander lebih cepat darinya. Xander membopong Kamisha keluar dari gedung.


"Xander apa yang kau lakukan! semuanya memandang ke arah kita."


"Biar saja, aku tidak peduli."


"Xander jangan seperti ini! tingkahmu kekanak - kanakan."


"Aku atau kau yang kekanak - kanakan?"


Kamisha diam, beberapa detik kemudian ia kembali meronta - ronta. Semua orang yang lalu lalang di gedung itu memperhatikan mereka.


"Maaf, istri saya sedang merajuk. Jadi saya sedang berusaha membujuknya." Xander tiba - tiba saja berteriak menjelaskan ke semua orang yang seperti mendapat tontonan gratis.


Wajah Kamisha memerah karena malu. Akhirnya ia diam, melihat bajunya yang sudah berantakan. Apalagi rasa sakit dari dua bukit kembarnya yang memang sudah saatnya diminum oleh Enzio. Ia memilih tidak bergerak.


Xander menurunkannya di depan mobilnya. "Masuk." perintahnya kemudian.


Kamisha memalingkan mukanya, ia diam tanpa ada jawaban.


"Masuk atau aku cium?"


Kamisha spontan menutup bibir dengan salah satu tangannya. Sepertinya ancaman itu berhasil membuatnya fokus pada Xander.


"Kita harus bicara." muka Xander mulai serius.


"Maaf, tidak ada yang perlu kita bicarakan."


"Ada!" ucap Xander tegas.


"Tidak ada!" Kamisha memastikan lagi dengan nada tinggi.


"Misha tolonglah, bagaimana masalah ini akan selesai jika kau tidak mau mendengar penjelasanku."


"Masalah ini sudah selesai sejak kau mengusirku dari rumah, Xander."


"Aku__ aku tidak bermaksud mengusirmu. Aku saat itu bingung Misha."


"Yah, kau bingung karena kau tidak percaya padaku. Bagaimana bisa hubungan suami istri di dasari dengan ketidak percayaan? dan perlu kau tahu itu lebih menyakitkanku." suara Kamisha bergetar, ia berusaha menahan emosinya, berusaha menahan agar air mata itu tidak jatuh sehingga ia terasa sebagai wanita lemah di depan Xander.


"Aku tetap ingin menjelaskan semuanya padamu. Entah kau mau dengar atau tidak."


"Aku tidak tertarik." Kamisha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak bisa melihat mata Xander karena itu pasti akan meluluhkannya.


"Misha please." mohon Xander.


Kamisha menarik napas dan menggelengkan kepalanya. Ia menolak permintaan Xander dengan tegas. "Aku permisi, masih banyak hal yang harus aku lakukan." Kamisha menepis tangan Xander dan berjalan meninggalkannya.


Kamisha bergegas masuk ke dalam mobilnya sendiri. Ia duduk di belakang stir, airmatanya langsung deras mengalir. Ia menangis sejadi - jadi. Perasaannya kacau antara marah karena Xander membuangnya dan senang karena suaminya itu sudah bisa berjalan kembali seperti dulu.


Setelah hampir tiga puluh menit menangis. Perasaannya menjadi sedikit lega. Ia segera mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah. Ia tidak ingin stres akan mempengaruhi Asinya.


🌸🌸🌸🌸


"Pak..." panggil Alex lirih. Ia menepuk pundak Xander yang bersandar pada mobilnya. Alex sudah tahu dengan apa yang terjadi.


"Dia menolakku Alex, dia sudah tidak mencintaiku."


"Tidak pak, bu Kamisha masih mencintai anda. Hanya saja kedatangan anda yang terlalu mengejutkan sehingga membuatnya bingung."


Xander terdiam ia seperti membenarkan apa perkataan Alex. Ia masuk ke dalam mobil.


"Maaf bapak mau kemana?"


"Aku mau menemui Axel, aku rindu padanya."


"Ttapi bagaimana dengan acara serah terima jabatan?"

__ADS_1


"Kau saja yang tanda tangan. Toh aku beli perusahaan itu karena dekat dengan rumah Kamisha." Xander segera meninggalkan Alex dalam kebingungan.


Tak berapa lama ia sudah sampai di depan pintu sekolah Axel. Dengan memohon ijin kepada kepala sekolahnya ia diijinkan menemui Axel di taman sekolah.


"Daddy.." panggil Axel. Anak laki - laki yang wajahnya hampir mirip dengannya itu berlari datang kepelukannya.


"Daddy sangat merindukanmu." Xander menggendongnya


"Aku juga." Axel memeluk Xander dengan erat. "Kenapa daddy meninggalkan kami begitu lama?"


"Maaf Axel, daddy sedang berusaha untuk sembuh. Agar daddy gagah kembali, menjadi orang yang bisa kau andalkan dan banggakan."


"Apapun yang terjadi kau tetap daddyku yang selalu aku banggakan. Jangan tinggalkan kami lagi." pinta Axel. "Daddy tahu betapa sedihnya mommy."


"Mommy mu sedih?"


Axel mengangguk - angguk. "Sangat." jawabnya yakin. "Hampir setiap malam mommy tertidur di sofa ruang tengah, ia menunggumu."


Mata Xander berkaca - kaca. "Benarkah?"


"Benar, jika mbok Sri tidak membangunkan mommy untuk tidur di kamar mungkin punggung mommy akan sakit sekarang."


Xander menitikkan air mata, dengan segera ia mengusapnya. "Jangan sedih daddy, mommy tidak marah. Kita akan bersama lagi."


"Yah kita akan bersama lagi." Xander mencium putranya yang sudah semakin dewasa. "Tapi__."


"Tapi kenapa daddy?"


"Sepertinya mommymu marah dengan daddy."


"Really? yang aku lihat mommy selalu memeluk bonekamu."


"Bonekaku?"


"Yah, mommy membuat boneka yang berwajah dirimu, daddy."


Xander tersenyum bahagia mendengarnya. Ternyata memang benar Kamisha masih sangat mencintainya.


"Maukah kau membantu daddy?"


"Tentu saja aku mau."


"Baiklah ini misi rahasia dua pria dewasa."


"Wow aku suka, itu seperti cerita detektif. Apa misi kita."


"Kau tahu daddy sangat ingin melihat adikmu, Enzio. Jika mommymu pergi mengantarmu ke sekolah kau bisa memberitahu daddy. Nanti daddy akan datang ke rumah."


"Daddy main kucing - kucingan ternyata."


"Iya sayang. Daddy akan kesini setiap kali kau istirahat. Kita bisa bermain sebentar. Kalau malam daddy akan diam - diam menjaga kalian. Bagaimana?"


"Tapi sampai kapan daddy? aku ingin kita kembali sebagai keluarga yang utuh. Daddy, mommy, aku dan Enzio."


"Baiklah. Ayo kita jalankan misi rahasia dua pria dewasa. Kita toss!!"


Xander dan Axel saling toss bersama.


"Daddy harus kembali ke kantor sayang."


"Hati - hati daddy." Axel memeluk hangat Xander.


Dengan penuh kehangatan Xander membalas pelukan putranya dengan erat.


🌸🌸🌸🌸


Pagi ini Kamisha sedang tidak enak hati semalam tidurnya tidak nyenyak sama sekali. Yang ada dalam pikirannya hanya rasa marah pada Xander.


Kenapa dia tidak berusaha membujukku. Hah ternyata nyalinya hanya sebesar kacang gerutu Kamisha dalam hati.


"Mbak Misha...!"


"Kenapa mbok teriak - teriak?"


"Itu, kuenya." tunjuk mbok Sri pada adonan kue yang terlalu banyak tepung sehingga adonannya tumpah.


"Ya tuhan." Kamisha segera mematikan mixer.


"Mbak Misha tumben melamun." mbok Sri segera membantu membersihkan adonan yang tumpah kemana - mana. "Mbak Misha capek? kalau capek istirahat dulu saja."


Kamisha menarik napas. "Nggak mbok, hanya kurang tidur saja."


"Istirahat saja dulu mbak, biar ini saya bereskan."


Kamisha duduk di meja makan sambil minum segelas air. "Axel sudah bangun?"


"Sudah, tadi baru mempersiapkan peralatan sekolah yang mau dibawa."


"Anak itu sudah semakin dewasa saja mbok."


"Iya, itu juga berkat didikan mbak Misha."


Tiba - tiba.. oek..oek..oek suara tangis Enzio membuat Kamisha bergegas menuju kamar.


"Hmm, anak mommy sudah bangun ya." Kamisha menggendong Enzio yang sudah semakin gemuk. Pertumbuhannya sangat luar biasa. "Kau haus sayang." Kamisha melihat putranya itu mencari - cari sesuatu. Sudah menjadi kebiasaan jika Enzio bangun dari tidur pasti minta susu dan setelah itu baru mandi.


Kamisha membawa bayinya duduk di kursi yang khusus untuk menyusui pemberian dari mama Attalia. Di sana ia bisa duduk tanpa harus merasakan pegal karena Enzio kalau sudah menyusu pasti akan lama.


"Mommy apakah hari ini kau yang mengantarku ke sekolah?" tanya Axel tiba - tiba


"Ya sayang. Tentu saja, bersiaplah dulu dan sarapan. Setelah mommy memandikan Zio akan segera mengantarmu."


"Baiklah." Axel keluar dari kamar dengan segera ia mengambil handphone dan tampak mengirim pesan pada seseorang. Setelah itu baru ia pergi mandi.

__ADS_1


Kamisha sudah selesai memandikan Zio. Ia menyerahkan sebentar bayinya pada mbok Sri.


"Mbok, setelah mengantar Axel aku akan mampir ke pasar sebentar membeli beberapa bahan membuat kue."


"Nggih, baik mbak."


Enzio tertawa - tawa ketika Kamisha menciuminya. "Mommy tinggal sebentar ya sayang, jangan rewel."


Kamisha dan Axel seger pergi.


Tak lama kemudian tampak sebuah mobil Rolls Royce warna silver berhenti di depan rumah.


Mbok Sri tampak tertegun dengan siapa yang datang. "Loh tuan Xander, ssudah bisa jalan?"


"Sudah mbok, aku sudah kembali."


"Syukurlah tuan, saya ikut senang."


Xander memandangi bayi yang ada dalam gendongan mbok Sri dengan mata berkaca - kaca.


Enzio seakan tahu siapa yang datang. Tangannya bergerak - gerak.


"Hai boy, kau ingin digendong daddy." Xander mengambil Enzio dari gendongan mbok Sri. Ia tampak sangat tenang dan tidak rewel. Mbok Sri membiarkan pertemuan ayah dan anak itu tanpa berani menganggu.


Xander bermain dengan Enzio. Diciuminya bayi berpipi gembul itu. "Oh kenapa kau gemuk sekali boy. Kau suka minum susu mommy seperti daddy rupanya." Xander mengajak anaknya berkomunikasi.


Selama pengobatan di Siangpore ia banyak membaca buku mengenai merawat anak dengan benar, ia banyak mencari informasi tentang bayi bahkan konsultasi dengan dokter anak. Ia ingin menebus semua kesalahan dengan menjadi ayah yang baik untuk Axel dan Enzio serta seorang suami yang dicintai oleh Kamisha.


Cukup lama Xander bermain - main dengan Enzio. "Mbok, kapan biasanya Kamisha pulang?"


"Biasanya jam - jam segini sudah pulang tuan."


Xander menghela napas. "Yah sepertinya daddy akan segera pulang." Xander memeluk Enzio dengan sangat erat. Waktu serasa berjalan dengan cepat.


"Tuan tidak menunggu mbak Misha pulang?"


"Nggak mbok, sepertinya Kamisha masih marah, ia masih belum mau menerimaku." Xander mencium putranya. "Tolong jangan beritahu dia kalau aku akan sering menjenguk Enzio."


"Baik tuan." Mbok Sri hanya menurut saja, ia tidak mau mencampuri urusan majikannya. Walaupun sebenarnya ia ingin melihat Kamisha bahagia.


Xander menyerahkan Enzio kembali dalam gendongan mbok Sri. Ia sekali lagi mencium putranya itu seakan tidak rela melepasnya.


Setelah puas, ia segera pergi. Untuk sementara hanya itu yang biasa ia lakukan sambil menunggu hati Kamisha luluh.


Sementara itu...


Kamisha dengan cepat berbelanja bahan - bahan membuat kue. Pesanan kali ini sangat banyak karena banyak pasangan yang melakukan pernikahan.


Ia kembali memeriksa catatan sebelum benar - benar meninggalkan pasar.


"Semua sudah ke beli." gumamnya puas. Ia segera keluar dari pasar. Ia mampir sebentar ke sebuah toko minuman untuk membelikan boba kesukaan Axel.


Jam - jam segini toko masih belum ramai. Kamisha memesan boba salted caramel. ia menunggu sambil duduk di sebuah kursi.


"Misha." panggil seseorang.


"Dewi, kebetulan sekali."


"Sama siapa?" tanya Dewi. Ia mengambil kursi dan duduk di depan Kamisha.


"Sendirian. Kamu?"


"Tuh sama sopir perusahaan."


"Baru dinas keluar?"


"Iya bos ku yang baru orangnya disiplin."


Kamisha terdiam, bosnya Dewi adalah suaminya.


"Eh, Sha kamu tahu nggak. Pak Xander itu ternyata benar - benar ganteng. Banyak yang naksir lagi."


"Oya." Kamisha tiba - tiba saja menjadi gugup.


"Dia itu ramah, baik, kaya.. duh pokoknya the best deh." puji Dewi.


"Tapi dia kan sudah punya istri."


"Yah belum tahu kebenarannya juga. Kalau misalkan dia sudah punya istri dan anak kenapa waktu acara kemarin tidak diajak. Bisa saja kan dia sebenarnya masih jomblo tapi ngaku punya istri biar nggak banyak diganggu cewek - cewek."


Kamisha hanya diam mendengar cerita Dewi. Entah kenapa ia tiba - tiba saja ingin berteriak, Aku istrinya! dia hanya milikku! tapi segera ia urungkan.


"Sha, aku jadi lebih bersemangat ke kantor karena sepertinya pak Xander menaruh perhatian yang berbeda denganku."


"Maksudmu?"


"Yah kayak naksir gitu. Coba bayangkan dia tadi menawarkan kopi padaku, terus hari ini aku diberi kepercayaan untuk tugas keluar."


Heh itu hal biasa, gitu saja sudah ke ge er ran pikir Kamisha sedikit geram.


"Sha, kamu kok diam saja."


"Eh aku sedikit kurang enak badan dan juga pesananku sudah jadi." tunjuk Kamisha. "Aku pamit dulu, kapan - kapan kita sambung ngobrolnya."


"Oke, makasih Sha sudah mau mendengar ceritaku. Doakan ya agar aku lebih dekat dengan pak Xander."


Huh jangan harap aku mendoakanmu umpat Kamisha dalam hati. Kamisha hanya tersenyum membalas perkataan Dewi. Ia segera keluar dari toko karena terlalu gerah rasanya jika ia terlalu lama ngobrol dengan Dewi.


Kamisha menuju tempat parkir. Ia menutup pintu mobil dengan keras karena kesal. Dengan segera ia pulang kerumah untuk mandi dan bermain dengan Enzio.


"Sial! bisa - bisanya ia tebar pesona ketika tidak bersamaku!" teriak Kamisha di dalam mobil. Ia meluapkan emosinya. "Aku benar - benar kesal!" teriaknya.


Gila kenapa aku begitu marah mengetahui hal itu. Ternyata terpisah beberapa waktu denganmu tidak bisa merubah rasa cintaku padamu Xander. Kamisha menarik napas panjang untuk meredakan emosinya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2