Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Siena


__ADS_3

"Om, kita harus bicara."


"Soal apa Xander, tumben kau ingin bicara secara pribadi denganku."


"Cafe Amour jam empat." ucap Xander dan kemudian mengakhiri pembicaraan.


Matteo segera bersiap kesana. Hah dasar keponakan kurang ajar, membuyarkan lamunanku tentang ciuman panasku dengan Sofi umpat Matteo dalam hati.


Setelah siap ia segera datang ke cafe Amour. Disana sudah ada Xander dan Alex.


"Kenapa harus kesini untuk suatu pembicaraan?"


"Aku tidak mau ada orang yang tahu. Ini tentangmu?"


"Aku? Kenapa?"


Xander memerintahkan Alex untuk memperlihatkan sesuatu pada Matteo. Sebuah rekaman CCTV.


"Jadi tangga besi itu jatuh bukan karena kecelakaan tapi ada seseorang yang melakukannya?"


Xander mengangguk.


"Dan dia seorang wanita?"


Xander kembali mengangguk.


"Mantan kekasihmu?"


"No!" jawab Xander seketika. "Aku tidak mempunyai banyak kekasih sepertimu om."


"Jadi aku kenal wanita itu?"


"Yes."


"Siapa dia?"


"Alex perbesar tampilannya, biar om Matteo tahu siapa wanita itu. Mudah - mudahan dia tidak amnesia karena mantannya sangat banyak." sindir Xander.


Alex segera melaksanakan perintah Xander.


"Siena?!" teriak Matteo terkejut.


"Yah benar, itu mantanmu bukan?"


Matteo terdiam, ia menghela napas panjang. "Ini harus aku selesaikan sebelum even itu dimulai. Bisa kacau nanti."


"Bagus, aku tidak mau urusan om berimbas pada keselamatan istriku."


"Aku akan berusaha menyelesaikannya Xander. Setelah tahu pelakunya adalah Siena aku merasa bersalah pada kalian."


"Siapa Siena?"


Matteo kembali terdiam, pandangannya menerawang jauh. Ia seperti kembali ke masa lalu. "Tahu Sarah?"


"Mantan tunanganmu yang sudah meninggal."


"Siena adalah adik Sarah."


"Tunggu bukankah dulu Sarah anak tunggal?"


"Awalnya sampai kedua orang tuanya mengangkat Siena menjadi anak. Siena anak yatim piatu. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Waktu itu Siena baru berumur tujuh tahun."


"Kisah yang sangat menyedihkan."


"Sarah sangat mencintai Siena begitu juga dengan Siena, sangat mencintai Sarah. Apa yang disukai Sarah, Siena juga berusaha menyukainya. Kematian Sarah sangat mengguncang hatinya."


"Apa dia juga terobsesi padamu?"


"Sepertinya iya. Ketika masih kecil dia sering mendatangi apartemenku. Aku merasakan keanehan karena ia berpikiran sama seperti orang dewasa. Hingga aku memutuskan pergi dari Indonesia untuk lelulakan semua yang berhubungan dengan Sarah."


"Apa mungkin dia seperti Kyara?"


"Oh, maksudmu ibunya Axel?"


"Yah, ternyata ia mengalami ganggungan jiwa. Bisa saja itu terjadi pada Siena karena tidak bisa menghadapai kehilangan orang tua."


"Aku rasa dugaanmu ada benarnya. Tiga tahun yang lalu dia sempat mendatangiku. Aku hampir tidak mengenalinya karena ia sudah dewasa." Matteo menghentikan ceritanya sebentar sambil menyeruput kopi di depannya. "Dia merayuku dan mengusir semua wanita yang dekat denganku."


"Sudah dipastikan ia mengidap gangguan jiwa. Kita harus segera mencegahnya. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa dia mau menyakiti Kamisha?"


"Itulah yang jadi pertanyaan. Akh tidak tahu."


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..


"Sebentar, istriku menelepon." Xander pergi dari meja Matteo. Setelah beberapa menit berbicara di telepon dengan Kamisha, Xander kembali ke mejanya. "Om, aku minta maaf. Aku harus kembali sekarang."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kamisha minta dibelikan Siomay."


"Ngidam?"


"Biasalah, ibu hamil."


"Oke pergilah, aku akan mencari jalan keluar dari masalah ini."


Xander segera pergi karena istrinya yang paling penting


🌸🌸🌸🌸


"Dapat Siomaynya?"


"Dapat, nih." Xander menunjukkan tentengan ditangannya


"Makasih sayang. Nah sekarang kau makan Siomay ini ya."


"Ttapi aku masih kenyang, Misha."


Kamisha langsung merubah mimik wajahnya begitu mendengar penolakan suaminya. "Jahat."


"Sayang dengar dulu, aku tidak bermaksud menolaknya. Bukankah kamu yang menginginkannya?"


"Aku memang menginginkan Siomay tapi buat kamu makan. Aku mau kamu sehat."


"Tapi tidak dengan makan Siomay juga kan?"


"Siomay itu sehat, ada sayur, ikan dan juga telur." desak Kamisha. Matanya sudah berkaca - kaca mendengar penolakan suaminya.


"Hmmm, nanti aku makan. Sekarang taruh dulu dimeja." Xander masih berusaha menghindar.


"Aku maunya kamu makan sekarang."


"Sayang, aku tadi habis makan dengan om Matteo."


"Bohong."


"Kalau tidak percaya teleponlah om Matteo. Atau.. Atau kamu tanya Alex." Kamisha terus merajuk yang membuat Xander gugup. Sejujurnya ia tidak menyukai Siomay, apalagi ada pare yang rasanya pahit.


"Kenapa kau bertemu om Matteo? Apa kamu mau minta dikenalkan dengan salah satu modelnya."


"Tidak sayang, aku sudah punya kamu. Tidak mungkin aku melirik wanita yang lain."


Sepertinya perhatian Kamisha teralihkan dengan urusan Xander bertemu Matteo. Dan ini kesempatan Xander untuk menghindar makan Siomay.


"Kami sudah menemukan orang yang menjatuhkan tangga itu."


"Oya, siapa?"


"Siena, dia adik dari Sarah mantan tunangan om Matteo."


"Siena? Kenapa nama itu tidak asing. Bisa aku lihat orangnya sayang?"


Xander membuka handphone nya, dia memperlihatkan sebuah foto.


"Loh, ini kan yang menabrak aku beberapa waktu yang lalu."


"Kamu kenal?"


"Iya. Kamu ingat waktu om Matteo mengajakku ketemu untuk membicarakan masalah Sofi. Nah wanita ini tanpa sengaja menabrakku. Kami sempat kenalan karena dia memaksa untuk mengganti minuman yang sudah ia jatuhkan."


Xander terdiam cukup lama ia tampak berusaha menghubungankan informasi ini.


"Sepertinya aku tahu."


"Tahu apa sayang?"


"Jadi menurut keterangan om Matteo, Siena itu sangat terobsesi terhadapnya. Dia selalu mengikuti kemana om Matteo pergi. Aku mengira dia pasti menganggapmu kekasih om Matteo. Oleh sebab itu dia nekat mencelakaimu."


"Benar - benar gila."


"Yah, aku rasa dia hampir mirip dengan Kyara."


"Aku juga merasa begitu sayang."


"Baiklah, kalau begitu aku akan memberitahu om Matteo perihal ini. Dan aku mohon hati - hatilah sayang. Wanita ini sudah mengincarmu."


"Tenang, aku kan punya suami yang gagah perkasa, yang selalu melindungi aku."


"Aku telepon om Matteo dulu."


"Baiklah."

__ADS_1


Dalam hati Xander ia bersorak. Yes! Ia berhasil menghindari paksaan dari istriknya. Lega rasanya.


🌸🌸🌸🌸


Pagi itu Sofi akan bertemu dengan tim dari perusahaan Matteo. Tapi ia menduga Matteo pasti ada di sana. Terus terang ia masih canggung karena ciuman tempo hari.


"Aduh apa yang harus aku lakukan jika ketemu dengannya." gumamnya.


"Hei pagi - pagi kenapa ngomong sendiri? Kesurupan neng." goda Tiwi.


"Nggak lah, aku masih waras."


"Hahahahh.. Iya.. Iya.. Habis bicara sendiri dari tadi."


"Aku hanya gugup karena ini sudah mendekati even."


"Tenang saja, pasti lancar dan sukses besar. Yuk kita masuk."


Sofi dan Tiwi melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor Matteo.


"Kalian sudah datang." sambut Matteo.


"Iya pak, kami berusaha bersikap disiplin." jawab Tiwi.


"Bagus aku suka itu." Matteo tersenyum karena melihat wajah Sofi yang malu - malu. "Hmmm, Tiwi masuklah ke ruang rapat dulu. Ada beberapa hak yang harus aku tunjukkan pada Sofi."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi."


Sofi semakin guguo, beberapa.kali ia memilin ujung bajunya. Biasanya ia bersikap cuek dan percaya diri tapi kenapa berhadapan dengan Matteo merubah sikapnya menjadi lembek.


"Ikut aku." Matteo menggandeng tangan Sofi untuk menuju ke suatu tempat. Dan itu ruang kerja Matteo.


Begitu sampai di dalam Matteo segera memeluknya dengan erat.


"I miss you." bisiknya


"Aapa yang bapak lakukan?"


"Aku merindukanmu honey." Matteo membelai pipi Sofi dengan lembut. Sofi hanya diam dan tidak menolaknya. "I want to kiss you, can i?"


Sofi menatap tajam jauh ke dalam mata Matteo untuk mencari sebuah kesungguhan dan bukan main - main. Entah apa yang merasuki Sofi hingga ia menganggukkan kepala.


Tidak perlu waktu lama Matteo segera menyambar bibir mungil milik Sofi. Memainkan lidahnya hingga masuk ke dalam kenikmatan. Entah kenapa Matteo merasakan sensasi berbeda bila berciuman dengan Sofi. Ini seperti candu.


Matteo melepas ciumannya, mereka terengah - engah. "Be my girl, honey."


"Tttaapi kita baru mengenal pak."


"Jangan panggil aku pak, aku ingin mendengar kau memanggil namaku."


Dengan ragu dan lirih Sofi memanggil. "Matteo."


"Good honey, please again."


"Matteo."


Matteo kembali mencium bibir Sofi. Kali ini tiada ampun. Tiba - tiba Sofi mendorongnya.


"Why honey, any something wrong?"


Kita harus rapat."


"Ah kau benar, honey."


"Ayo keluar."


"Kita lanjutkan nanti, okey."


Sofi mengangguk sambil tersenyum. Mereka berdua kemudian keluar dan berjalan menuju ruang rapat. Tapi baru beberapa langkah tiba - tiba ada yang memukul kepala Sofi dari belakang.


"Aauuuww!!!" teriak Sofi kesakitan. Darah segar keluar dari kepala bagian belakangnya dan tak lama kemhdian ia tak sadarkan diri.


"Sofi! Sofi! Sofi!" teriak Matteo. Ia melihat kearah pelaku dan alangkah terkejutnya jika itu adalah Siena.


"Siena? Kau__!"


"You're mine."


"**** you!" teria Matteo


Ia segera membawa Sofi ke rumah sakit. Baginya ini lebih penting dari pada meladeni wanita seperti Siena.


"Ya tuhan, kamu harus baik - baik saja. Please jangan tinghalkan aku. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kali."


Sayup Sofi mendengar perkataan Matteo yang membuatnya menitikkan air mata di bawah alam sadarnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2