
Ambulance melaju dengan cepat menerobos kepadatan kita Bandung. Matteo selalu menggenggam tangan Sofi, ia tidak mau melepaskannya walau sedetik. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit.
Dokter dengan segera menghentikan pendarahan pada kepala Sofi. Untunglah lukanya tidak terlalu dalam dan hanya mendapat lima jahitan.
"Dengan keluarga ibu Sofi." panggil perawat
"Ya, saya." jawab Matteo.
"Ini administrasi yang harus dibayar, sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap."
Matteo hanya mengangguk. "Bisa saya bertemu dengan dokter?"
"Bisa, tapi saat ini dokter masih memastikan kondisi pasien. Silahkan bapak mengurus administrasinya terlebih dulu."
"Baik terima kasih."
Matteo pergi menuju loket untuk mengurus administrasi. Tapi alangkah terkejutnya ia ketika kembali, siapa yang ia temui saat ini.
"What are you doing here, Siena?"
"Oh Matt." Siena menghambur dan memeluk Matteo. "I'm so happy meet you, are you okey?"
"No I'm not!" teriak Matteo
"Why?" Siena melepaskan pelukannya, ia memandang dengan tatapan tidak percaya.
"You hurt the woman i love."
"What? Love?"
"Yeah, i love her."
"No!!!" teriak Siena. "Kau tidak mencintainya!"
"No! Siena, I love her. Please stay away from him!"
"Dia jahat padamu, Matteo. Dia hanya akan menyakitimu."
"Kau yang menyakiti dia dan kau hampir membunuhnya!"
"Itu aku lakukan untukmu Matt, dia jahat dia hanya memanfaatkanmu."
"Oh god, are you crazy!" Matteo mendorong Siena yang terus ingin memeluknya. "Kamu harus ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu!"
"Aku tidak bersalah. Apa yang aku lakukan adalah hal yang benar. Aku melindungimu Matt seperti pesan Sarah padaku."
"Kau gila! Kau gila!"
"Aku tidak gila! Aku tidak gila!" Siena berteriak histeris sambil mengacak - acak rambutnya. Beberapa perawat sudah memanggil security untuk mengamankan Siena.
Setelah berteriak - teriak ia tiba - tiba saja terdiam dan kemudian tertawa terbahak - bahak sambil mengeluarkan sebuah pisau.
"What are you doing Siena?"
"Matt yang malang, kau akan melihat dua wanita akan mati bunuh diri di depanmu."
"Please, don't do it!"
"Aku akan melakukannya."
"Siena, mari kita bicara baik - baik."
"No, Matt. I'm tired." Siena mulai menagis. "Aku tidak bisa mewujudkan keinginan Sarah yang terakhir untuk selalu menjagamu dari wanita - wanita yang ingin memanfaatkanmu."
"Siena, Sarah sudah meninggal. Kau harus melupakannya agar tidak menjadi beban dalam hidupmu."
"Tidak! Tidak! Sarah belum meninggal. Ia selalu membisikkan sesuatu ditelingaku untuk selalu menjagamu."
Sepertinya Siena selalu berhalusinasi seolah - olah Sarah masih hidup. Oleh sebab itu ia selalu mengikuti Matteo kemanapun dia berada.
"Om, bagaimana Sofi?" tanya Kamisha yang datang bersama dengan Xander tanpa mengetahui permasalahan yang ada. Siena yang melihat Kamisha merasa mendapat kesempatan untuk menghancurkan wanita - wanita yang mendekati Matteo. Siena salah paham. Kedatangan Kamisha seperti angin segar untuk Siena, ia segera menarik tangan Kamisha dan menaruh pisau di lehernya.
"Hahahhahhh.. Wanita ini juga harus bernasib sama, Matt."
"Kamisha!" teriak Xander.
"No Siena! Kau salah paham. Dia bukan kekasihku! Dia istri keponakanku!"
"Bohong!" teriak Siena sambil mengeratkan pisau itu ke leher Kamisha, darah segar mengalir dari sana. Melihat hal itu Xander semakin khawatir dengan keselamatan istrinya.
"Om tenang, biar aku yang bicara dengan Siena." ucap Xander lirih. Matteo mengangguk menyetujui usul keponakannya mungkin itu jalan satu - satunya. "Siena, aku Xander. Wanita yang ada bersamamu adalah istriku. Lihat." Xander memperlihatkan cincin kawin yang berada di jari manisnya sama dengan yang melingkar di jari manis Kamisha. "Dia bukan kekasih om Matteo, jadi tolong lepaskan dia." ucap Xander dengan nada merendah.
Siena sedikit melonggarkan tangannya yang ada di leher Kamisha. Ia melihat jari Kamisha yang terdapat cincin yang sama yang diperlihatkan oleh Xander. Tapi tiba - tiba ia memejamkan mata, kepalanya bergerak seolah - olah sedang mendengarkan sesuatu. Tak lama kemudian ia berteriak dan kembali mengeratkan tangannya dileher Kamisha.
"Kalian membohongiku! Sarah mengatakan kalau dia kekasih Matteo. Sarah melihat mereka berpelukan. Ia sangat tidak rela dan menginginkan wanita ini mati!"
"Tunggu! Tunggu!" cegah Xander. "Tenang.. Tenangkan dirimu." Xander menarik tangan Matteo agar mereka berdekatan. "Ini Matteo, kau menginginkannya bukan? Akan aku serahkan padamu tapi tolong lepaskan dulu istriku."
Mata Matteo terbelalak. "Kau gila!" bisiknya.
"Tenang om, aku sedang berusaha membuatnya tenang, setelah Kamisha lepas aku akan menangkis pisau itu dari tangannya dan aku jamin tidak akan ada yang terluka disini." jelas Xander lirih.
"Oke, aku percaya padamu." Matteo manarik napas. "Siena, lepaskan dia. Ayo kita hidup bersama dalam kedamaian tanpa ada kebencian. Aku, kau dan Sarah."
Siena terdiam, tampaknya rencana itu berhasil. "Benarkah kita akan hidup bersama?"
Matteo mengangguk. "Yah benar, kemana pun kau mau aku akan mengikutimu." bujuk Matteo.
"Kkkau.. Kkauu tidak berbohong."
"Untuk apa aku membohongimu. Sekarang lepaskan wanita itu. Ayo kita pergi bersama." Matteo mengulurkan tangannya.
Dengan perlahan Siena melepaskan tangannya dari leher Kamisha tapi masih tetap memegang pisau. Sedangkan tangan yang satunya lagi masih memegang tangan Kamisha.
"Matteo apa kau mencintaiku?" tanya Siena tiba - tiba.
Untuk beberapa saat Matteo terdiam. Dan dengan tegas ia menjawab. "Ya aku mencintaimu."
"Hahahahhah.. Kau bohong Matt! Kau bohong!" kemudian Siena menarik kembali Kamisha dan bersiap untuk menggorok lehernya. Tiba - tiba..
Brrakk!!! Braakk!! "Rasakan ini wanita ******!"
Braakk!! "Ini untuk menantu dan cucuku!"
Braakk!! "Dan ini untuk adik kesayanganku!"
"Mama!"
"Kakak!"
Teriak Xander dan Matteo hampir bersamaan. Tampak mama Attalia yang membawa tongkat infus dan memukul kepala Siena berkali - kali, hingga membuatnya melepaskan Kamisha.
Siena pingsan seketika.
__ADS_1
Kamisha berlari kedalam pelukan Xander.
"Kamu tidak apa - apa sayang?"
Kamisha menggelengkan kepala tapi tetap memeluk Xander dengan erat. Dengan lembut Xander membelai punggung istrinya untuk memberinya kenyamanan.
Setelah beberapa saat Kamisha melepas pelukannya.
"Sayang lehermu berdarah."
"Hanya tergores sedikit."
"Kita ke ruang perawatan, ini harus diobati." Xander menuntun Kamisha dan tak lupa pamit pada mama yang saat ini menjadi pahlawan penyelamat keluarga.
"Wow, kau benar - benar hebat kak." puji Matteo
"Baru tahu kalau aku ini hebat."
"Thank's." Matteo memeluk mama Attalia dengan erat. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika terjadi apa - apa dengan istri Xander. Aku pasti akan merasa sangat bersalah."
"Semoga keluarga kita dihindarkan dari mara bahaya seperti ini lagi. Kasihan Kamisha aku ingin dia bahagia." ucap mama. "Bagaimana Sofi?"
"Fine, tinggal menunggu sadar. Lukanya tidak terlalu dalam."
"Syukurlah." tampak kelegaan di wajah mama. "Matt."
"Hmm."
"Kamu serius mencintai Sofi?"
"Yes."
"Dia wanita yang baik, aku tahu karena ia selalu berada disamping Kamisha saat susah. Jangan kecewakan dia."
"Kau tenang saja kak, dia belum tahu tentang perasaanku."
"Cepatlah bertindak, atau kau akan menyesal nanti."
"Baiklah, aku akan menemui Sofi dulu."
Matteo masuk ke dalam ruang rawat inap Sofi. Ia melihat wanita yang dimatanya istimewa itu tersenyum melihat kedatangannya.
"Kau sudah bangun?" Matteo berjalan dan duduk di samping Sofi.
Sofi mengangguk pelan.
"Apa kau membutuhkan sesuatu? Bagaimana perasaanmu?"
"Aku baik. Menurutku ini hanya luka kecil."
"Kau memang bandel." goda Matteo diiringi dengan gelak tawa Sofi. Matteo menarik napas panjang. "I'm so sorry Sofi. Aku sudah membuatmu celaka."
"It's okey. Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku baik - baik saja."
"Aku sudah membuatmu terlibat dengan masa laluku."
"Aku tidak keberatan."
Matteo terdiam, ia seakan tidak percaya dengan apa yang sudah di dengarnya. "Apa? Kkau tidak keberatan?"
Sofi mengangguk mantab.
"Aaku.. Aaku sangat lega. Kkau tahu betapa gugupnya aku waktu darah mengucur dikepalamu. Aku berpikir kita tidak akan bertemu lagi."
"Aku tidak keberatan harus menderita dan bahagia bersamamu pria tua. Karena aku juga mencintaimu." ucap Sofi dan kemudian mengecup sekilas bibir Matteo.
Matteo lagi - lagi kembali terdiam. Ia tampak terkejut mendengar ucapan Sofi, ia bagai disengat listrik hingga terdiam seribu bahasa.
"Hei, kenapa bengong. Jangan membuatku malu. Aku hanya menjawab pernyataan cintamu ketika aku pingsan."
"Kkau mendengarnya?"
"Yah, dibawah alam sadarku. Dan kau tahu itu yang membuatku tidak merasakan sakit atas luka ini."
"Oh my god Sofi. I'm so happy." Matteo memeluk erat tubuh Sofi.
"Hei pria tua, aku sudah menyerahkan seluruh hidupku padamu. Please jangan kecewakan aku."
"No honey, aku tidak akan mengecewakanmu." Matteo langsung membabat habis bibir Sofi.
🌸🌸🌸🌸
7 bulan kemudian...
"Sha, jangan terlalu banyak bergerak. Ingat kandunganmu, bukankah sebentar lagi kamu akan melahirkan?"
"Sudah tenang saja, kandunganku tidak apa - apa." jawab Kamisha yang masih sibuk mempersiapkan baju kebaya yang akan di pakai Sofi ketika akad nanti. "Kau sahabatku satu - satunya, Sof. Dan aku ingin pernikahanmu sempurna."
"Ini sudah lebih dari sempurna, Sha. Aku bahagia memiliki sahabat sepertimu dan suami seperti Matteo."
Kamisha memeluk Sofi. "Kau pantas mendapatkannya."
"Aahh.. Kau membuatku terharu."
"Eeh, jangan menangis riasanmu akan luntur."
Mereka berdua tertawa. Tak lama kemudian dari pihak WO memanggil Sofi untuk keluar karena Matteo sudah mengucap akad dengan lancar. Itu tandanya mereka sudah sah sebagai suami istri.
Kamisha menuntun sahabatnya sampai ke pelaminan. Ia menitikkan air matanya melihat rona bahagia di wajah Sofi.
"Kenapa menangis sayang?"
"Aku terharu Xander. Akhirnya Sofi menikah dan bahagia bersama pria pilihannya."
"Yah, aku juga bahagia akhirnya om Matteo benar - benar menemukan wanita pujaannya. Semoga pernikahan mereka langgeng." Xander memeluk istrinya dari belakang dan mengusap perutnya beberapa kali. "Sayang."
"Hmmm."
"Nanti malam om Matteo dan Sofi akan melalui malam pertama, tidakkah kau ingin nostalgia malam pertama kita." bisik Xander.
"Ah kau ini. Ada saja alasannya. Kita ini pengantin lama bukan baru."
"Tapi sepertinya baby kita ingin aku jenguk."
"Kemarin kan sudah?"
"Hei, ingat kata dokter kalau kehamilan sudah memasuki masa kelahiran wajib melakukan hubungan suami istri, biar lancar."
"Hmm." Kamisha mencibir
Acara dilanjutkan dengan resepsi di resort milik Xander karena Matteo dan Sofi menyukai pesta dengan konsep outdoor.
"Axel makan yang benar sayang, jangan terlalu banyak."
__ADS_1
"Tapi semuanya enak mommy."
Kamisha memangku Zio sedangkan Xander masih menemui beberapa tamu yang ia kenal karena rekan bisnis.
Tiba - tiba
"Aaauuuww!" teriak Kamisha.
"Kenapa mommy?" tanya Axel.
"Perut mommy sakit."
Axel menghentikan makannya dan mengambil Zio dari pangkuan Kamisha.
"Are you okey?"
"Axel sayang bisa kau panggilkan daddy, sepertinya mommy mau melahirkan."
"What! Okey.. Okey.." dengan menggendong Zio, Axel mencari keberadaan Xander. Dan tidak membutuhkan waktu lama ia menemukannya.
"Daddy!" panggilnya.
"Ada apa Axel?"
"Mommy mau melahirkan."
"What!" teriak Xander. "Berikan Zio pada mbok Sri. Kamu cari oma, dan susul kami ke rumah sakit."
Axel mengangguk.
Xander setengah berlari menghampiri istrinya yang masih mengatur napas.
"Sayang."
"Xander air ketubanku pecah."
Xander langsung membawa istrinya masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Xander sudah mempersiapkan segalanya, jadi ketika Kamisha mau melahirkan ia sudah siap siaga.
Sesampainya di rumah sakit, Kamisha langsung mendapat penanganan.
"Pak Xander, sepertinya ibu Kamisha sudah siap untuk melahirkan. Bapak mau masuk ke dalam atau menunggu diluar?"
"Saya masuk ke dalam dok."
"Baiklah, mari."
Xander segera mengganti bajunya dengan baju steril dan siap mendampingi Kamisha. Ia menemani dan memberi dukungan untuk Kamisha. Dan tak lama kemudian.
"Ooeekk.. Ooeekk.. Ooeekk.."
"Wow sayang bayi kita lahir." ucap Xander bahagia. Ia tidak bisa membendung air matanya. Sambil terus mencium istrinya ia menunggu bayinya dipotong tali pusarnya.
"Bayi yang sangat cantik pak Xander, dan tentu saja sehat."
"Terima kasih dokter."
Baby cantik itu di taruh di dada Kamisha.
"Ya tuhan, dia cantik sekali sayang."
"Iya, tapi wajahnya mirip denganmu."
"Aku daddynya." Xander terus membelai lembut bayi kecil berkulit merah itu. "Misha.. Aku mencintaimu."
Kamisha tersenyum mendengar pernyataan suaminya. "Aku juga mencintaimu sayang."
Kamisha segera mendapat perawatan. Setelah selesai ia segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Disana sudah menunggu mama, Axel dan dua pengantin baru.
"Kalian harus membayar mahal." tuntut Matteo.
"Why, om?"
"Kau menghancurkan malam pertamaku."
Semua yang mendengar tertawa kecuali Axel.
"Tenang, aku akan membayarnya dengan liburan selama satu minggu di Maldives. Bagaimana?"
"Good, i love it." ucap Matteo sambil mencium Sofi.
Tak lama kemudian perawat membawa bayi mungil Kamisha masuk ke dalam ruangan.
"Wow, bayimu canyik sekali Misha." puji Sofi
"Terima kasih Sofi."
"Akan kau beri nama siapa?"
"Aku dan Kamisha sepakat memberinya nama Alesha yang artinya selalu di berikan keberuntungan dan perlindungan oleh tuhan." jawab Xander
"Nama yang bagus." puji mama Attalia. "Cepatlah kalian menyusul. Buktikan bahwa kau benar - benar jantan adikku." goda mama.
Semua tertawa dalam balutan kebahagiaan.
...TAMAT...
🌸🌸🌸🌸
Hai semua pembaca novelku yang Sangat.. Sangat aku cintai..🥰
Akhirnya novel "Keterikatan Cinta" sudah sampai episode terakhir.. Terima kasih atas dukungan, like dan komennya yang selalu membuatku terus semangat untuk berkarya..
Rencananya aku akan kembali membuat novel akan tetapi ada sedikit kebingungan..
Tolong aku di bantu ya..
Enaknya aku membuat novel mengenai kisah percintaan Azkara dan Noah dalam My Desire 2
Atau
Kisah seorang guru dalam membantu seorang duda untuk mengajar anaknya yang terlampau aktif.
Pilih salah satu ya..
Sampai ketemu di novel aku selanjutnya..
🥰🥰🥰
__ADS_1