
"Xander."
"Hmm."
"Kita keluar yuk, mama dan anak - anak pasti sudah menunggu terlalu lama."
"Mandilah dulu, nanti aku susul."
Kamisha beranjak dari sofa menuju ke kamar mandi. Tak lama kemudian Xander menyusulnya.
Keduanya segera bergabung bersama mama dan anak - anak. Tak lama kemudian Harvey dan Zeline datang membawa anak perempuan mereka yang bernama Shiren.
"Anakmu cantik sekali, Zeline." puji Kamisha. Ia menggendong Shiren yang membuat Zio menangis. "Hei mommy cuma gendong Shiren sebentar. Hmm dasar anak manja." Kamisha kembali menyerahkan Shiren ke pangkuan Zeline.
"Dia posesif seperti Xander."
"Aku begitu karena tidak ingin kehilangan istri dan anak - anakku."
"Itu hanya alasanmu saja." mama mendengus kesal.
"Oya tante aku dengar om Matteo kembali ke Indonesia."
"Dari mana kamu tahu?"
"Temanku ikut berpartisipasi dalam even yang diadakan oleh perusahaannya."
"Iya benar, kalau tidak ada even itu sudah pasti ia tidak mau pulang ke Indonesia."
"Apa om Matteo masih trauma dengan kejadian lima belas tahun yang lalu?" tanya Harvey.
"Entahlah, kejadian itu sudah sangat lama." mama Attalia menghela napas.
"Kejadian apa sayang?" tanya Kamisha pada Xander yang sedang asyik dengan Zio menikmati makan malam bersama. Perhatiaannya teralihkan dengan pertanyaan istrinya. Ia memang tidak pernah cerita pada Kamisha karena menganggap itu masa lalu dan tidak penting untuk rumah tangganya.
"Lima belas tahun yang lalu om Matteo memiliki seorang kekasih. Yah bisa dikatakan hampir menikah. Menurut kami Sarah kekasih om Matteo sangat posesif. Suatu hari terjadi pertengkaran yang hebat karena sikap cemburu dari Sarah, yang membuat Sarah mengakhiri hidupnya."
"Maksud kamu bunuh diri?"
"Ya, bunuh diri. Melompat dari apartemen yang mereka beli berdua."
"Wow." teriak Kamisha dengan ekspresi terkejut
"Kenapa begitu heran?"
"Ceritanya hampir sama denganmu sayang, kau juga ada Kyara yang posesif."
"Beda." sahut Harvey. "Rasa posesif Kyara itu bukan pada Xander tapi kamu Sha. Lihat saja dari kejadian - kejadian yang menimpa kalian, itu karena ia ingin sepertimu."
"Eh sudah jangan membicarakan masa lalu. Kita jalani saja masa depan yang baik ini. Ayo kita makan dulu." mama Attalia mengalihkan pembicaraan.
Mereka melanjutkan menikmati hidangan makan malam sambil mengobrol kecil dan bercanda.
🌸🌸🌸🌸
"Selamat pagi pak Matteo saya mau menyerahkan revisi rencana even yang akan anda adakan." Sofi melakukan panggilan dengan Matteo
"Kau bawa saja ke apartemenku."
"Apartemen? Dimana pak?"
Akan aku kirim alamatnya.
Setelah membaca pesan, Sofi segera mengendarai mobilnya menuju ke alamat yang dimaksud.
Lantai satu pikir Sofi. Biasanya orang kaya pasti akan memilih penthouse yang letaknya diatas. Kenapa ini di bawah.
Tidak perlu membutuhkan waktu lama, Sofi sudah sampai di depan pintu apartemen.
Ting.. Tong.. Ting.. Tong..
Sofi menunggu jawaban dari yang punya rumah
__ADS_1
Ting.. Tong.. Ting.. Tong
Hampir sepuluh menit dia menunggu.
"Kemana sih, tadi katanya suruh datang ke rumah sekarang malah nggak ada." gerutu Sofi. Ia mengambil handphone dari dalam tasnya dan tiba - tiba ceklek.. Pintu terbuka.
"Masuk."
Dengan patuh Sofi masuk ke dalam apartemen Matteo tapi yang membuat dia kagum. Ternyata di dalamnya sangat mewah, tidak seperti apartemen yang lainnya. Ini mah namanya penthouse yang ada di lantai bawah.
"Duduk."
"Terima kasih pak." Sofi duduk di sebuah sofa warna biru muda, ia segera membuka laptop dan memasang flashdisk.
"Aku sarapan dulu."
"Oh, baiklah. Silahkan."
Sofi segera meletakkan kembali laptopnya di meja. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru. Apartemen ini sangat besar mungkin bisa dikatakan seperti dua apartemen yang digabung menjadi satu.
"Kau sudah sarapan?"
Pertanyaan tiba - tiba dari Matteo membuyarkan kekagumannya terhadap pria bujang itu.
"Oh, saya sudah sarapan tadi di rumah."
"Bisa buatkan aku kopi?"
"Bisa." Sofi beranjak dari sofanya menuju ke dapur. "Hmm, dimana mesin kopinya?"
"Itu di sebelah kananmu."
"Oh ya.. Ini sudah ketemu."
"Kopinya ada di laci."
Sofi segera membuka laci dan mengambil kopi. Tidak membutuhkan waktu lama, kopi sudah siap dinikmati oleh Matteo.
"Silahkan."
Dengan ragu Sofi duduk di meja makan berhadapan dengan Matteo. Jika diperhatikan Matteo ini memiliki wajah tampan walaupun usianya sudah empat puluh tahun lebih. Rumahnya sangat rapi dan itu menandakan bahwa ia pria yang suka dengan penampilan yang sempurna. Tak heran jika ia berhasil bergerak di usaha tekstil.
"Kau tidak penasaran kenapa sikapku sangat berbeda denganmu waktu di Bali?"
"Sebenarnya penasaran, tapi saya bukan orang yang mau tahu urusan orang."
"Bagus, aku suka gadis berprinsip. Terus terang waktu pertama kali melihatmu aku sangat tertarik dengan body language mu, yang menurutku berbeda dengan wanita yang lain."
Sial, itu sama saja dengan pria - pria yang lain. Dasar mata keranjang.
"Kamu kesal?"
"Hah.. Nggak! Tidak ada alasan untuk saya kesal."
"Jangan bohong, dari raut wajahmu aku sudah bisa membaca. Ingat aku lebih dulu lahir darpada kau."
"Iya.. Iya saya tahu pak Matteo lebih berpengalaman dari saya. Terutama masalah gadis - gadis."
"Hahahah.. Aku suka caramu menikmati hidup. Batal bertunangan tidak membuatmu terpuruk rupanya."
"Dari mana bapak tahu? Bapak menyelidiki saya."
"Tidak sama sekali, coba kau pikir untuk apa aku menyelidikimu. Saat itu kenal saja tidak." Matteo menyeruput kopi buatan Sofi dan kemudian duduk santai di sofa ruang tengah. "Duduklah di sini aku akan cerita jika kau tidak keberatan."
Terus terang Sofi bukan orang yang suka penasaran atau bahkan mencampuri urusan orang lain. Tapi entah mengapa kali ini dia tertarik mendengar cerita Matteo. Ia beranjak dari kursi makan bergabung dengan Matteo di ruang tengah.
"Aku tinggal di Perancis dan sudah bertahun - tahun tidak pulang ke Indonesia. Suatu hari aku menerima surat undangan pertunangan anak dari rekan bisnisku. Beautiful girl but___."
"Tapi apa?"
"Aku merasa kasihan dengan gadis itu. Tidak ada bahagia dalam sorot matanya. Itulah pertama kali aku jatuh cinta dengan mata sendu itu."
__ADS_1
"Apa aku mengenal gadis itu?"
"Of course honey, it's you."
"Me?"
"Ya itu adalah undangan pertunanganmu. Calon mertuamu adalah rekan bisnisku." ucap Matteo. "Dan aku benar bukan, kalian batal bertunangan. Why?"
"Kami tidak cocok."
"Tidak cocok atau tidak cinta. Jangan bohong padaku Sofi. Kau tidak mencintainya."
Sofi terdiam, ia selalu kalah berdebat dengan orang tua yang sudah banyak pengalamannya.
"Lama aku melupakan itu sampai akhirnya aku melihat mata itu lagi di Bali. Yah itulah kenapa aku berusaha mendekatimu. Aku ingin memastikan bahwa memang itu kau."
Hati Sofi berdesir ketika mendengar hal itu keluar dari mulut Matteo. Memang ia akui Matteo adalah sosok yang pemikirannya sangat dewasa, pekerja keras, bertanggung jawab dan tampan. Semua yang ada pada diri Matteo banyak yang masuk dalam kriteria pria idaman Sofi hampir sembilan puluh persen kecuali usia. Menurut Sofi usia Matteo terlalu matang.
"Tapi saya tidak suka cara anda waktu itu. Terlalu berani." ucap Sofi penuh penekanan.
"Oh common, aku sudah terlalu dewasa."
"Yah benar terlalu dewasa hingga malas berkomitmen dan banyak mencicipi wanita. Anda terlalu penakut."
"No! Aku bukan penakut. Don't say like that."
"Saya menilai berdasarkan apa yang saya lihat."
"Kau tidak tahu apa - apa tentangku honey."
"Jangan panggil saya honey."
"Tapi aku menyukainya."
"Terserah."
Sofi mendengus kesal. Matteo menatapnya dengan tajam. Ia meletakkan cangkir kopi di meja.
"Aku pernah punya masa lalu yang mungkin orang tidak pernah mau mengalaminya."
"Nah benar kan itu artinya anda penakut."
"Maybe. Apa yang akan kau lakukan jika punya pasangan yang posesif hingga bunuh diri di depan matamu?"
Sofi terhenyak kaget mendengar cerita Matteo. Kalau ia yang mengalaminya pasti trauma.
"Sekarang kau diam. Ayo jawab. Mana suaramu yang meledak - ledak. Kenapa sekarang diam? Jawab?"
"E..e..e.. Tentu saja akan trauma."
"That's true, itulah yang menimpaku honey. Aku pernah mengalami suatu hubungan yang toxic."
"Maaf, saya tidak tahu."
"Aahh.. Kenapa aku bercerita tentang ini denganmu. Lebih baik kita kerja. Mana revisi yang aku minta kemarin."
Sofi masih melamun, ia merubah pandangannya tentang Matteo. Dibalik wajahnya yang tegas ternyata hatinya rapuh. Ia jadi merasa iba.
"Sofi.. Kau mendengarku?"
Sofi masih terdiam. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Matteo memanggilnya lagi dengan menambah volume suaranya.
"Sofi! Bisa kita bekerja sekarang!"
Seperti tersadar membuat Sofi kelimpungan. "Oh, bisa. Maaf."
"It's oke." ucap Matteo santai. "Aku ingin melihat revisi kemarin."
"Baik." dengan cepat Sofi memgambil laptop dan mulai hanyut dalam pekerjaan.
Rundown acara yang diadakan oleh perusahaan Matteo sudah dirubah sesuai keinginan Matteo waktu rapat kedua. Dan ia puas dengan hasil kerja Sofi.
__ADS_1
Setelah selesai Sofi segera pamit pulang untuk persiapan pemesanan tempat dan lain sebagainya.
🌸🌸🌸🌸