Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Alex si Pengganggu


__ADS_3

"Sha, gimana pernikahanmu?"


"Maksudmu?" tanya Kamisha sambil terus mengunyah kentang goreng pesanannya.


"Yah, pernikahan kalian itu kan bisa di bilang dadakan dan sedikit paksaan dari orang tuanya Xander. Jadi kalian udah wik.. wik.. belum?"


"Wik..wik.. apa? kamu kira kita bebek?"


"Aduh jangan pura - pura bloon deh. Itu unboxing hubungan suami istri?"


"Hehehheh... menurutmu?"


"Belum lah. Orang yang nggak pengalaman kayak kamu bisa di pastikan belum melakukan apa - apa. Benarkan tebakanku?"


"Iya.. iya.. tidak ada gunanya berbohong sama kamu. Ada saran?"


"Heh.. gregetan deh aku. Yang aktif dong! kalau kamu pasif terus bisa - bisa suamimu kembali ke Kyara si ular betina."


"Kamu kan tahu sendiri, aku orang yang bagaimana. Dulu waktu pacaran sama Rama dia sampai bosan dengan sifat pasifku. Dan sudah empat tahun aku tidak menjalin hubungan dengan pria mana pun karena konsentrasi sama pertumbuhan Axel."


"Makanya kamu itu yang manja, kalau malam pakai baju seksi. Pria itu perlu dipancing dulu."


"Kalau nggak terpancing gimana? yang ada aku malah malu"


"Kan belum di coba. Coba aja dulu siapa tahu dalam hati Xander ia juga menginginkanmu."


"Baiklah, akan aku coba saran dari sahabatku ini."


"Nah gitu dong."


"Sekarang ayo kita bahas acara anniversary hotel. Aku ingin pulang nanti sudah membawa konsep yang jelas dan matang buat Xander."


"Oke.. oke.."


Pembicaraan mereka tentang hubungan suami istri berakhir dan segera di ganti dengan rencana acara anniversary hotel. Setelah melewati pembicaraan dan perdebatan panjang akhirnya selesai juga.


"Sof, aku pulang dulu."


"Oke, mudah - mudahan Xander setuju dengan konsep ini."


"Aku rasa dia setuju."


"Oya jangan lupa dengan apa yang aku katakan tadi. Aktif dan agresif, oke."


"Iya... iya."


Kamisha segera meninggalkan Sofi dan kembali lagi ke hotel.


Setelah sampai di hotel ia segera menemui Xander di ruangannya.


"Pak Alex, Pak Xandernya ada?"


"Ada mbak Misha, silahkan masuk saja."


Alex mempersilahkan Kamisha masuk ke dalam ruangan Xander.


"Selamat sore pak, saya mau melaporkan hasil pertemuan saya dengan EO untuk acara anniversary hotel."


Xander tersenyum. "Tumben seformal itu."


"Maaf, karena ini di kantor."


"Tidak ada orang, aku justru ingin tertawa terus mendengarmu bicara seperti itu."


"Baiklah kalau itu maumu." ucap Kamisha. "Ini adalah konsep yang di ajukan oleh Sofi beserta rundown acara. Maaf ada yang aku ganti dan sesuaikan dengan seleramu dan mama. Mudah - mudahan berkenan." jelas Kamisha sambil menyerahkan berkas dan flashdisk.


Xander mengangguk - angguk. Ia segera memasukkan flashdisk ke dalam laptopnya. Xander terdiam sejenak sambil menatap lurus laptopnya. "Ini penjelasannya bagaimana?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


Kamisha tersenyum. Dalam hatinya ia berpikir akan mencoba saran dari sahabatnya itu.


"Hmmm sebentar, aku ke situ biar kamu jelas." Kamisha beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Xander yang masih menatap laptop. Kamisha lantas berdiri di sampingnya Xander dengan sedikit membungkuk dia memegang mouse. Ia mengarahkan cursor pada sebuah file. "Nah ini plan nya. Terus ini susunan acaranya dari awal sampai akhir."


"Hmm.. oke." jawab Xander sambil melirik ke arah Kamisha. Oh syiiitt.. apa yang dia lakukan? apa dia tidak sadar kalau kancingnya terbuka batin Xander mulai tidak tenang. Ia penasaran ingin melihat lebih jauh ke dalam, tapi malu jika ketahuan.


"Bagaimana menurutmu? apa ada perubahan di susunan acaranya?"


"Su.. Susu..?" tanya Xander.


"Susunan acara." tegas Kamisha. "Ada nggak perubahan disana?"


"Ehem.. ya maksudku juga mau bilang susunan acara. Cuma tenggorokanku kering."


"Sebentar aku ambilkan minum." dengan cekatan Kamisha mengambilkan minum untuk Xander. "Kamu tidak sakit kan?" Kamisha memegang kening Xander.


"Eng.. enggak"


"Bisa dilanjut lagi?"


"Bisa." jawab Xander. Gila! apa dia mencoba untuk menggodaku.


"Oke, ayo kita lanjut." Kamisha kembali berdiri sambil sedikit membungkuk di sebelah Xander. "Nah yang ini dekorasi nya nanti. Apa perlu di tambah bunga yang kamu suka atau mama suka?"


Xander hanya diam. Ia sama sekali tidak melihat ke arah laptop, ia justru menikmati wajah istrinya ketika menjelaskan tentang plan acara anniversary. Melihat lehernya yang putih, ingin rasanya ia menggigitnya.


"Bagaimana Xander ada tambahan lagi?" tanya Kamisha. Karena tidak ada jawaban ia menoleh ke arah Xander. Karena jarak mereka yang terlalu dekat hingga hidung mereka bersentuhan. Untuk sepersekian detik mereka terdiam saling memandang.


"Apa?" tanya Xander lirih.


Aroma mint dari mulut Xander membuat konsentrasi Kamisha terganggu. Bibir seksi itu begitu menggoda. Tanpa sadar Kamisha sedikit membuka bibirnya.


"Apa?" tanya Xander lagi dengan suara yang lebih pelan.


"Hmm bibir.."


"Oh ya.. maksudku apa ada tambahan lagi?"


"Aku rasa bukan itu penjelasannya.. aku tanya kenapa kau menjawab bibir."


Sial dia berusaha menggodaku batin Kamisha. Baiklah kalau itu mau mu, aku ikuti permainanmu. "Hmm.. aku merasa bibir kamu terlalu seksi." jawab Kamisha sekenanya.


"Sseek.. seksi..?"


"Hmm benar, sangat seksi. Seharusnya kamu menyadari itu."


Xander hanya diam. "Mungkin itu pendapat wanita diluar sana."


"Pantas banyak yang mengejar dirimu, termasuk keponakanku."


"Bagaimana denganmu?"


"Maksudmu?"


"Apa kau juga mengejarku?"


"Aku? hahahahh.. aku tahu aku bukan tipemu." jawab Kamisha sambil berjalan mundur menjauh dari Xander. Ia berusaha menghindar dari pertanyaan itu. Tiba - tiba saja ia jadi gerah.


"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Misha."


"Hahahah.. menurutku itu bukan sebuah pertanyaan yang perlu jawaban." Kamisha mulai gugup. Tertawanya sangat garing.


Xander berdiri dan terus berjalan ke arah. "Benarkah pertanyaanku tidak perlu jawaban? oh common Misha, aku yakin kau bisa menjawabnya. Tinggal jawab ya atau tidak." ucap Xander sambil mengunci pergerakan Kamisha. Kamisha yang sudah tidak bisa bergerak kemana lagi karena terhalang jendela kaca di belakangnya. Entah kenapa tubuhnya menjadi kaku dan enggan menghindar.


Kamisha menatap jauh ke dalam mata Xander. Ya tuhan kenapa sekarang aku begitu menyukai pria ini. Setelah sekian lama hatiku kembali memikirkan pria batin Kamisha. "Kalaupun aku menjawab ya belum tentu kau mau denganku." jawab Kamisha dengan suara lirih dan tanpa mengalihkan pandangannya.


Tampak Xander sedikit terhenyak mendengar jawaban Kamisha, tapi tak menyurutkan langkahnya untuk semakin mendekatinya. Sial kenapa tubuhku tidak bisa aku kondisikan. Kenapa terus bergerak mendekatinya ucap Xander dalam hati. "Kau belum mencobanya, Misha." bisik Xander di telinga Kamisha dengan suara serak.

__ADS_1


Suara itu membuat Kamisha merinding sekaligus membuatnya menjadi berani untuk berbuat lebih nekat lagi. Ia menarik dasi Xander hingga kening mereka menempel. "Baiklah aku menge___"


"Pak Xander di luar ada___" tiba - tiba Alex masuk ke dalam dan membuyarkan mereka berdua yang sudah saling menggoda. "Oh maaf! saya.. saya___" ucap Alex terbata - bata. Aku datang di saat yang tidak tepat batin Alex panik. Aku harus siap menerima hukuman.


"Alex! sudah berapa lama kau kerja denganku?" tanya Xander geram.


"Cukup lama pak."


"Aku tanya berapa lama?!"


"Hampir tujuh tahun." jawab Alex sambil menunduk.


"Hmm, lama juga. Dan aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."


"Saya tahu pak."


"Bagus. Lakukan dan suruh tamu itu masuk." perintah Xander dengan nada penuh penekanan.


Alex segera kembali keluar.


"Kalau begitu aku keluar dulu." pamit Kamisha.


"Baiklah, tapi kita belum selesai. Kita lanjutkan nanti di rumah."


"Aku sudah menjawab."


"Kapan?"


"Bertepatan dengan pak Alex datang."


"Ulangi, aku tidak dengar."


"Tidak ada siaran ulang."


"Ini perintah." ucap Xander geram.


Kamisha menjulurkan lidahnya. "Salah siapa tadi tidak dengar." ucapnya sambil keluar dari ruang kerja Xander.


Xander mengepalkan tangannya. Ia sangat marah dengan Alex. Kamu akan membayar mahal Alex batin Xander


Kamisha kembali masuk dalam ruangannya. Ia sedikit bernapas lega bisa terlepas dari pertanyaan Xander yang sangat menyudutkannya.


Nanti malam ia mengurungkan niatnya untuk memancing Xander. Baru di dekati seperti itu saja ia sudah gugup. Bagaimana kalau tiba - tiba Xander menyerangnya. Kamisha tergidik ngeri membayangkannya.


Kamisha memutuskan keluar dari ruangannya menuju pantry. Ia ingin membuat coklat hangat untuk menenangkan hatinya.


Tiba - tiba ia melihat seseorang yang sangat dia kenal sedang mengepel dan mencuci piring di pantry.


"Pak Alex?"


"Eh mbak Misha."


"Kenapa pak Alex disini? Ini kan pekerjaan OB?"


"Eeeng___ anu mbak___ saya mau olah raga."


"Di ruang gym kan bisa."


"Oh iya ya." jawab Alex seperti orang bodoh. Bagaimana mungkin dia menjelaskan bahwa apa yang dia lakukan itu sebagai hukuman karena mengganggu mereka tadi.


"Sudah tinggal aja pak. Biar OB yang bereskan."


"Oh iya, kalau begitu saya permisi."


Kamisha mengangguk. Ia merasa aneh dengan pak Alex yang tiba - tiba tampak seperti orang bodoh dan ling lung.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2