Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Selamat Tinggal Kamisha.


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan Xander harus rela bolak balik Jogja Bandung. Ia sudah menjalani pengobatan dan terapi untuk kakinya. Sebenarnya ia harus berobat keluar negeri tapi ia masih berat untuk meninggalkan Kamisha. Ia ingin melihat kelahiran putranya. Tapi pihak dari rumah sakit di Singapore sudah memintanya untuk segera melakukan pemeriksaan.


"Apa yang membuat bapak menunda pemeriksaan di Singapura?"


"Aku ingin melihat kelahiran putraku."


"Maaf pak, kalau menurut saya lebih baik bapak mengikuti pemeriksaan di Singapore. Takutnya jika kita menunda terlalu lama akan berakibat tidak baik pada kesembuhan bapak."


Xander tampak terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Alex. Masuk akal juga. Selama menjalani pengobatan Xander di haruskan menetap di sana dan tidak boleh melakukan perjalanan menggunakan pesawat sampai di nyatakan sembuh oleh dokter.


Saraf - sarafnya yang melemah akan di terapi di sana dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama tergantung dari kondisi dan tekad pasien. Satu bulan, dua bulan bahkan bisa sampai setahun. Itulah yang memberatkan Xander karena harus berpisah lama dengan Kamisha dan anak - anaknya.


"Apa mama tahu alasanku menunda pengobatan ini?"


"Tidak pak."


"Apa mama tahu kalau aku sering mengunjungi Kamisha?"


"Tidak pak." jawab Alex. "Yang nyonya tahu anda kembali menyibukkan diri dan melakukan perjalanan bisnis."


"Baguslah." ucap Xander lega. "Baiklah aku akan segera berangkat le Singapore. Tapi sebelum itu aku ingin menemui Kamisha dulu."


"Baik pak. Akan saya persiapkan."


Alex menyiapkan semuanya termasuk tiket keberangkatan Xander ke Singapore. Malam ini mereka akan berangkat ke Jogja dan menemui Kamisha secara diam - diam seperti biasanya.


🌸🌸🌸🌸


Pagi ini mbok Sri membersihkan rumah seperti biasa. Kebetulan semalam memang hujan jadi dia berencana akan membersihkan lantai dari air sisa hujan. Takutnya akan membahayakan Kamisha yang sudah hamil besar. Akan tetapi untuk beberapa saat ia terdiam dan tampak memperhatikan sesuatu.


"Aneh, ini telapak kaki siapa? dan ini kayak bekas roda sepeda yang terkena tanah basah. Apa ada pencuri masuk ya?" mbok Sri menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Ia masuk ke dalam memeriksa semua barang yang ada dan semuanya masih seperti semula tanpa ada yang hilang maupun berpindah tempat. Setelah memastikan semua, mbok Sri kembali ke depan dengan alat pel di tangannya. Ia masih saja berdiri mematung sambil terus melihat jejak itu.


"Kenapa mbok? kok melamun."


"Eh mbak Misha, boten nopo - nopo mbak (nggak apa - apa mbak)." jawab mbok Sri. "Mbak Misha di dalem saja, lantainya basah takut kalau terpeleset."


"Ya sudah, jangan kebanyakan melamun mbok." pesan Kamisha sambil memakan cemilan di tangannya.


"Eh iiya mbak."


"Oya mbok, nanti habis bersih - bersih ikut aku ke rumah sakit ya. Hari ini mau kontrol ke dokter kandungan."


"Nggih, baik mbak."


Kamisha masuk kembali ke dalam. Mbok Sri kembali melanjutkan membersihkan lantai. Nanti malam aku harus mengintai siapa yang sudah masuk ke dalam rumah. Kalau maling sudah pasti ada barang yang hilang pikir mbok Sri dalam hati. Ia segera membersihkan semua dan memastikan sudah tidak ada lagi genangan air di teras.


Sekitar pukul sembilan Kamisha dan mbok Sri menuju ke rumah sakit dan pulangnya sekalian menjemput Axel.


"Nyonya Xander silahkan masuk ke dalam." panggil seorang perawat.


Kamisha bergegas masuk ke dalam. Ia memang menggunakan nama Xander karena dalam pendaftaran harus mencantumkan nama suaminya.


"Selamat pagi nyonya Xander, hari ini suami tidak ikut?"


"Eh, maaf dokter kebetulan suami saya masih sakit jadi belum bisa ikut mendampingi saya periksa." jawab Kamisha sambil tersenyum kikuk. Tidak mungkin ia mengatakan masalah rumah tangganya pada dokter.


"Baiklah, tidak masalah. Saya pikir kalau ada suami dia bisa ikut mendengarkan penjelasan saya mengenai proses melahirkan. Mengingat usia kandungan anda sudah memasukki bulan ke tujuh."


"Hmm.. nanti pembicaraan akan saya rekam dokter, biar suami saya bisa mempelajarinya di rumah."


"Baiklah, mari silahkan tidur di sana kita akan melakukan pemeriksaan rutin."


Kamisha segera menuju ke tempat tidur untuk USG. Dokter memulai pemeriksaan.


"Wow bayi anda ternyata sangat aktif. Ini menandakan gizi yang anda konsumsi sudah tepat." ucap dokter. "Apa kalau malam tidur anda terganggu karena gerakannya sangat aktif?"


"Awalnya dulu iya dokter, tidur saya kurang nyenyak karena dia sering menendang. Tapi entah kenapa satu bulan ini kalau malam dia sangat tenang dan tidur saya bisa nyenyak."

__ADS_1


"Yah itu bisa juga karena sentuhan atau belaian dari ayahnya. Hal itu bisa membuat bayi anda tenang."


Kamisha terdiam, sentuhan dari mana. Suaminya saja berada di Bandung dan tidak memperdulikannya.


"Nyonya Xander.. nyonya Xander." panggil dokter beberapa kali.


"Eh iya dok." panggilan itu membuyarkan lamunannya.


"Pemeriksaan susah selesai. Semuanya baik dari detak jantung, berat badan bayi bahkan gerakan bayi. Anda tidak perlu khawatir, pola makan dan olah raga masih tetap harus dijalankan sampai melahirkan nanti. Jangan lupa belaian suami anda pada perut akan membuat bayi menjadi lebih tenang sehingga kualitas tidur anda menjadi baik."


"Baik dokter nanti akan saya sampaikan ke suami." jawab Kamisha terpaksa berbohong.


"Sampaikan juga, karena kandungan anda yang sebentar lagi akan melahirkan agar mempersiapkan semua keperluan jika sewaktu - waktu anda mengalami kontraksi. Ini ada videonya silahkan untuk dipelajari."


"Terima kasih dokter."


Kamisha pamit dan keluar dari ruangan. Ia dan mbok Sri segera meninggalkan rumah sakit.


"Mbok kita ke makam bapak dulu." ucap Kamisha. "Entah kenapa aku tiba - tiba kangen dengan bapak." mata Kamisha selalu berkaca - kaca jika teringat akan bapaknya.


"Baik mbak."


Tidak.membutuhkan waktu yamg lama akhirnya.mereka sampai ke tempat di mana pak Amir di makamkan.


Kamisha segera mendekati makam bapaknya dan beberapa kali menyentuh gundukan tanah itu.


"Bapak, hari ini Kamisha ke dokter dan sebentar lagi akan melahirkan. Sedih rasanya bapak tidak bisa melihat dan menggendong bayiku. Bayiku ini sangat sehat, ia sama sekali tidak pernah menyusahkan aku. Walaupun saat ini tidak ada Xander di sini, aku berusaha tegar untuk hidup bertiga bersama anak - anakku. Maaf jika selama ini belum bisa membahagiakan bapak." Kamisha menitikkan air mata. Dan sesekali mengusapnya dengan tangan. Setelah berdoa ia segera meninggalkan tempat peraduan bapaknya yang terakhir.


"Mbak Misha tidak usah sedih, saya yakin bapak itu bangga memiliki mbak Misha."


"Terimakasih sudah membesarkan hati ku mbok."


"Sudah ayo kita jemput Axel mbak, keburu telat."


"Ayo."


Kamisha dan mbok Sri segera berangkat menjemput Axel. Mereka mampir ke toko perlengkapan bayi untuk membeli beberapa perlengkapan. Menurut orang jawa kalau kandungannya sudah masuk bulan ke tujuh baru boleh membeli perlengkapan bayi.


"Axel sayang, jangan warna biru semua." Kamisha memperingatkan.


"It' baby boy mommy, harusnya pakai warna biru."


"Iya, tapi warna hijau, grey atau brown, mommy rasa juga bisa dipakai."


"Baiklah, aku akan memilih warna lain juga." ucap Axel yang sedikit kecewa karena beberapa pilihannya ada yang dikembalikan. Kamisha hanya tersenyum melihat tingkah putranya. Seandainya ada Xander disini ia pasti tidak akan kalah hebohnya dengan Axel.


"Mommy! mommy!" panggil Axel sambil melambaikan tangannya.


Kamisha bergegas menghampiri. "Ada apa sayang?"


"Lihat ini." tunjuk Axel pada sebuah stroller bayi yang sangat bagus. "Bagus kan, pasti cocok untuk adik."


"Iya sayang, ini bagus sekali." mata Kamisha tampak berbinar. Ia melihat ke harga yang ada pada stroller, ia tampak terkejut. Harganya mahal sekali pikir Kamisha. "Hmm ini memang bagus sayang tapi kita beli lain kali saja."


"Why mommy?"


"Stroller ini kan untuk bayi yang sudah lahir, sedangkan adik belum lahir. Nanti kita beli jika adik sudah lahir, bagaimana?"


"Baiklah." ucap Axel. Bertambah lagi kekecewaan dimatanya. Kamisha tahu anaknya sangat kecewa.


"Axel, mommy dan adik bayi lapar. Bagaimana kalau kita makan dulu setelah itu beli eskrim dan coklat?"


"Benarkah?"


Kamisha mengangguk. Senyum mengembang di wajah polos Axel. "Ayo mommy, kali ini aku akan makan es krim yang banyak."


"Aduh jangan, nanti batuk pilek lo." mbok Sri memperingatkan.

__ADS_1


"Ah mbok Sri nggak asyik." ucap Axel kesal.


"Sudah, tidak apa - apa. Sekali - sekali boleh, ya kan sayang."


"Yes, ayo mommy." Axel menarik tangan Kamisha. Setelah membayar barang yang di beli Mereka segera menuju ke sebuah cafe dikuti oleh mbok Sri yang membawa barang belanjaan.


Sepasang mata memperhatikan kegiatan dan keceriaan mereka, sesekali ia mengusap matanya yang berkaca - kaca.


"Alex."


"Ya pak."


"Kau beli stroller dan semua perlengkapan bayi yang ada." perintahnya.


"Baik pak."


Alex segera menjalankan perintah Xander. Dan untuk sementara barang itu berada di rumah sewa Xander selama ia di Jogja.


Sementara itu...


Setelah melalui aktifitas yang melelahkan bagi Kamisha dan mereka akhirnya memutuskan untuk pulang dan beristirahat.


Sesampai di rumah setelah mandi dan memastikan pesanan untuk besok Kamisha bergegas untuk beristirahat. Badannya sangat capek.


Seperti biasa Xander menunggu sampai lampu rumah dipadamkan dan semuanya tertidur lelap. Malam itu langit terang dan tidak mendung. Akan tetapi berbeda dengan suasana hati Xander. Ia merasa sangat berat malam itu karena akan berpisah sementara dari Kamisha.


"Ayo kita masuk Alex."


"Baik pak." Alex segera mendorong kursi roda Xander dan membuka pintu. Ia memiliki kunci duplikat karena memang rumah itu dia yang mencarikan tanpa.sepengetahuan Kamisha.


"Aku masuk ke kamar Kamisha dulu."


Seperti rutinitas biasa Xander selalu mengajak putranya dalam kandungan untuk mengobrol, membelai sehingga baby boy sangat tenang dan membuat Kamisha tidur nyenyak.


Setelah hampir satu jam ia di sana akhirnya ia pamit akan meninggalkan mereka untuk sementara.


"Hei, boy. Daddy akan pergi sebentar. Jaga mommy mu oke. I love you." cukup lama Xander mencium perut Kamisha.


"Misha sayang, setelah kakiku sembuh aku akan dengan percaya diri menemuimu, menerima hukuman darimu. Aku tahu aku salah, aku tahu aku pengecut. Ijinkan aku membentuk kepercayaan diriku lagi untuk berani bertemu dan bertanggung jawab atas semua kesalahanku. Selamat tinggal sayang." Xander mengecup kening Kamisha. Tak lama kemudian ia segera keluar.


Xander menutup pintu kamar kembali. Alex membantunya mendorong dan tiba - tiba lampu menjadi terang benderang


"Tttuan?" pekik mbok Sri terkejut.


"Sssttt. Jangan keras - keras mbok."


"Jadi selama ini jejak yang ada di depan itu punya tuan."


"Kita bicara diluar mbok. Aku takut akan membangunkan Kamisha dan Axel."


Mereka bertiga akhirnya keluar. Xander menjelaskan semua perbuatan dan maksudnya pada mbok Sri.


"Tolong jangan bilang masalah ini pada Misha."


"Baik, tuan."


"Satu lagi mbok."


"Nggih tuan."


"Tolong kabari aku jika Kamisha melahirkan nanti."


"Nggih tuan, pasti saya akan telepon."


"Terima kasih bantuannya mbok."


"Cepat sembuh tuan." doa mbok Sri.

__ADS_1


Xander segera pergi dari rumah Kamisha. Besok ia akan melakukan perjalanan ke Singapore. Berjuang untuk bisa berjalan lagi. Sampai jumpa lagi Kamisha.


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2