Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Kegilaan Kyara


__ADS_3

Sore itu Norman duduk di teras sambil termenung. Ia sudah berada di Bandung sejak dua hari yang lalu.


Drrrtt... drrrtt.. handphonenya berdering.. Ada nomor tak di kenal sedang menelepon.


Dengan ragu Norman mengangkat panggilan tersebut.


"Halo."


"Oh, akhirnya kau punya nyali juga mengangkat telepon dariku."


"Kkyara?"


"Ya, aku. Siapa lagi?"


"Kkenapa kau meneleponku?"


"Wow, berani bertanya kau sekarang. Aku meneleponmu untuk melakukan penawaran denganmu."


"Penawaran?"


"Aku tahu kau sekarang melarikan diri dari kejaran Xander dan polisi."


"Kau tahu?"


"Heh, walaupun kau bersembunyi di lubang semut pun aku akan tahu." ucap Kyara. "Kau ingin selamat bukan?"


"Yah benar, demi keluargaku."


"Itu semua bisa kau wujudkan asalkan kau mengikuti kata - kataku."


"Baiklah, aku turuti perintahmu. Asalkan aku dan keluargaku selamat."


"Baiklah Norman, bawa semua barang bukti yang ada pada dirimu dan serahkan padaku."


"Barang bukti itu aku simpan dengan aman kau jangan khawatir."


"Bagus, kita bertemu di gudang besi bekas nanti malam, bawa serta barang bukti itu."


"Dimana lokasinya?"


"Nanti akan aku beritahu jika sudah waktunya."


Panggilan diakhiri.


Norman menghela napas panjang, mudah - mudahan apa yang dilakukannya benar.


Sore berganti dengan malam. Matahari berganti dengan bulan. Norman masih menunggu telepon dari Kyara.


Ting.. suara notifikasi pesan masuk ke handphone Norman.


Pesan itu dari Kyara, yang memberitahu letak lokasi dimana mereka akan bertemu. Dengan mengendarai sepeda motor Norman menuju lokasi dimana ia akan bertemu dengan Kyara. Gudang itu terletak di pinggir kota Bandung dan jauh dari perumahan.


Setelah sampai Norman memarkirkan sepeda motornya. Ia mengedarkan seluruh pandangan di setiap sudut. Tempat itu sangat sepi dan sepertinya tidak ada orang yang menjamahnya.


Tak lama kemudian datanglah sebuah mobil. Kyara dan beberapa orang pria turun menghampiri Norman.


"Kau datang sendiri?" tanya Kyara.


"Seperti yang kau lihat."


"Bagus." ucap Kyara. "Kau bawa buktinya?"


"Ada di dalam jok motor." jawab Norman.


"Mana?"


"Tunggu! aku ingin ada perjanjian hitam di atas putih bila kau menjamin keselamatanku dan keluargaku."


"Oh kau mulai tidak percaya padaku rupanya. Berani kau ya bernegosiasi padaku." Kyara tersenyum licik.


"Aku hanya mengamankan diriku. Jadi aku butuh kepastian untuk menjaminnya."


Kyara diam dan kemudian tertawa terbahak - bahak. "Hahahahahhh..!"


Plok.. plok.. plok.. ia bertepuk tangan. "Hebat.. hebat kamu. Tapi juga sekaligus bodoh!" umpatnya


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Mau datang kesini sendiri sambil membawa bukti adalah wujud kebodohanmu! Hahahahhhh..!!!"


"Jja__ jjadi kau__!"


"Yah aku berhasil menjebakmu, Norman sayang." ucap Kyara. "Bobby bawa dia masuk ke dalam gudang!" perintahnya kemudian.


Bobby dan beberapa orang pria menyeret tubuh Norman masuk ke dalam gudang.


"Kyara! brengsek kamu! kurang ajar!" umpat Norman. Ia berusaha melepaskan ikatan tangannya.


"Simpan tenagamu Norman." ucap Kyara. "Sekarang serahkan kunci motormu."


"Tidak! tidak akan kuberikan!"


"Hei cepat kalian geledah sakunya!"


Bobby bersama beberapa pria menggeledah saku dan jaket Norman tapi ternyata nihil. Mereka tidak menemukan apa - apa.


Mereka mengangkat tangan.


"Sialan! cepat katakan dimana kunci itu!" bentak Kyara yang mulai emosi.


"Aku tidak akan mengatakannya padamu."


Kyara mengepalkan tangannya. Dan tiba - tiba plak! plak! plak! dengan penuh emosi ia memukul Norman bertubi - tubi. "Kalian rusak saja motornya! aku mau bukti itu segera ada di depanku!"


"Baik."


Beberapa pria itu mengambil palu, tongkat, besi dan alat - alat yang ada disana untuk membuka jok motor milik Norman. Sedangkan Bobby dan Kyara hanya diam di tempat itu saja bersama Norman.


"Kenapa kau tega melakukan semua ini?" tanya Norman.


"Aku benci Kamisha! aku benci Xander! aku benci Axel! aku muak dengan mereka!"


"Kau membenci tanpa alasan."


"Siapa bilang tidak ada alasan. Kamisha selalu unggul dalam semua hal dan aku tidak menyukai hal itu." jawab Kyara. "Kau tahu aku selalu berusaha membunuhnya tapi selalu gagal."


"Kau mau membunuhnya? kau sudah gila!"


"Apa yang kau lakukan dengannya?" tanya Norman penuh selidik.


"Banyak, aku menyuruh orang mendorongnya ke kolam karena aku tahu dia tidak bisa berenang. Aku juga menjatuhkan lampu gantung, menyuruh orang mengawasi rumahnya." jawab Kamisha. "Tunggu kenapa kau ingin tahu?"


"Aku yakin pasti kau akan membunuhku setelah mendapat bukti itu. Jadi wajarkan jika aku bertanya tentang kebenaran yang akan aku bawa mati."


"Baguslah jika kau sudah bisa membaca langkahku."


"Kenapa kau bunuh om Dimas?"


"Dia menghalangi rencanaku, dia mengejar - ngejar aku."


"Tapi kenapa juga kau membunuh Heny, apa salahnya? dia sahabatmu bukan?" tebak Norman.


"Heny selalu membela Kamisha dan itu aku tidak suka." jawab Kyara. "Kau tahu nasib Xander? "Sssttt.." ia menaruk telunjuknya di depan bibir. "Aku telah menyuntiknya dengan obat pelemah saraf dan sekarang dia lumpuh. Kau tahu kenapa? karena dia terlalu membela istrinya yang munafik itu."


Norman terdiam, ia tampak sangat terkejut mendengar fakta bahwa Xander sebenarnya tidak lumpuh akibat kecelakaan tapi karena suntikan obat pelemah saraf.


"Kau benar - benar wanita kejam!" kutuk Norman.


"Aku kejam karena mereka. Seandainya mereka mau mengerti aku, mau mencintaiku, mau menghargaiku tentu saja aku akan memperlakukan mereka dengan cara yang sama." ucap Kyara dengan nada tinggi dan penuh penekanan. "Bobby kenapa mereka lama sekali membukanya. Aku sudah ingin membunuh pria tengik ini!"


"Aku akan kesana." ucap Bobby


Baru beberapa langkah Bobby berjalan, ia terhenti.


"Kenapa?!" teriak Kyara yang melihat Bobby diam tak bergerak. Tiba - tiba saja wajahnya menjadi pucat.


"Kau terkejut melihatku Kyara?" tanya Xander. Dia di dorong oleh Alex mendekati Kyara.


"Kau menjebakku Norman?!" ucapnya geram.


"Itu yang sudah seharusnya aku lakukan." ucap Norman santai. "Sekarang siapa yang bodoh."


"Kyara menyerahlah!" teriak Xander. "Kamu harus mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatanmu! dan aku pastikan kau akan lama mendekam dipenjara atau di rumah sakit jiwa!" dengan suara lantang Xander mengancam Kamisha. Karena perbuatannya sangat keji, membunuh, membuatnya lumpuh dan memisahkan dua orang yang sangat saling mencintai.


"Rrumah ssakit jjiwa.. tidak! aku tidak mau!brengsek kalian semua!!!" teriak Kyara histeris. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Dan itu pisau lipat. Dengan segera ia menaruh pisau itu dileher Norman.

__ADS_1


"Jangan mendekat kalian!" ancamnya. Ia menekan pisau itu ke leher Norman dengan kuat. Tangannya gemetar. Bahkan terlihat sedikit darah mengalir di leher Norman.


"Kyara tenang." ucap Xander. "Itu hanya akan memperberat hukumanmu."


"Tidak!!! aku tidak mau masuk rumah sakit!!! aku__ aku__ aku tidak gila!" ucapnya seperti orang kebingungan.


Alex dan beberapa polisi mendekat dan berusaha membuatnya tenang.


"Kyara, tolong lepaskan Norman. Serahkan pisau itu pada kami. Aku jamin kau tidak akan masuk dalam rumah sakit." bujuk Alex.


"Bohong! kalian pasti bohong!" teriaknya lagi. Pandangannya liar. "Ibu__ ibu__ aku tidak gila iya kan." Kyara mulai berbicara sendiri dan tersenyum. Ia sepertinya memang harus segera mendapat perawatan.


"Kyara, dengarkan aku." ucap Xander. "Kemarilah, aku berjanji akan selalu ada untukmu." Xander berusaha membujuk tapi hasilnya nihil. Kyara tetap belum mau menyerahkan pisau itu. "Kasihan Norman, lihat itu lehernya berdarah."


"Darah? aku__ aku takut darah." ucapnya terbata - bata, ia tampak linglung. "Heheheehhh.." ia tertawa sangat menakutkan. "Aku__aku harus melenyapkan orang jahat dari muka bumi ini." dengan sekali gerakan ia menggorok leher Norman.


Semua orang terkejut dengan tindakan Kyara yang tiba -.tiba. Kesempatan itu digunakan oleh Alex untuk meringkusnya.


"Hihihihiii.. lihat itu ibu, aku sudah membunuhnya. Dia jahat padaku. Hihihihihi.." ucapnya berulang kali. "Aku anak.baik, aku anak penurut." apa yang diucapkan oleh Kyara bukan lagi hal yang normal, itu dilakukan oleh orang gila. Kyara segera dibawa ke kantor polisi.


Beberapa medis datang untuk menyelamatkan Norman. Tapi di dalam perjalanan Norman menghembuskan napas terakhirnya karena kehabisan darah. Lokasi kejadian sangat jauh dari fasilitas umum.


🌸🌸🌸🌸


Pagi itu Kamisha terbangun di rumah barunya. Rumah itu di beli dari hasil tabungan dan juga pemberian mama Attalia. Rumah itu cukup besar jika dihuni oleh dirinya, Axel dan mbok Sri. Halamannya juga luas. Ia membuka toko roti yang sederhana di situ


Mertuanya itu sangat perhatian seminggu sekali ia pasti menyempatkan datang ke Jogja menjenguknya.


Drrtt.. drrtt.. drrtt.. handphonenya berdering.


"Mommy, ada telepon." teriak Axel.


"Tolong angkat sayang. Mommy baru mandi."


Axek segera memgangkat telepon dan itu dari mama Attalia.


"Halo oma."


"Mana mommy mu?"


"Baru mandi."


"Baiklah nanti oma akan telepon lagi."


Panggilan diakhiri bersamaan dengan Kamisha keluar dari kamar mNdi.


"Telepon dari siap sayang?"


"Dari oma."


"Ada apa?"


"Aku tidak tahu, katanya nanti akan telepon mommy sendiri."


Kamisha seger mengambil handphonenya. Ia duduk di sofa sambil mengeringkan rambutnya.


"Halo, ma."


"Misha, mam ingin menyampaikan sesuatu."


"Apa itu ma?"


"Kyara di tangkap oleh polisi karena melakukan pembunuhan terhadap Dimas, Heny dN Norman."


"Apa! ya tuhan." Kamisha sampai tetkejut dengan berita yang ia terima dari mama.


"Kamu harus ke Bandung, memberi beberapa kesaksian."


"Baiklah besok aku akan ke Bandung."


"Mama tunggu kedatanganmu."


Kamisha mengakhiri panggilan nya. Ia termenung sejenak, sebenarnya ia merasa kasihan dengan mbak Ayu. Ia memiliki Kyara yang mungkin salah dalam melangkah. Kalau saja mbak Ayu dari awal betcerita kalau Kyara memiloki ganggungan jiwa, tentu saja perlakuannya akan berbeda.


Apakah nanti aku akan bettemu Xander di Bandung. Apakah ia tidak merindukanku beragai pertanyaan betkecamuk dalam pikiran Kamisha


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2