Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Terus Berusaha Mendapatkanmu


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Xander kucing - kucingan dengan Kamisha. Ia selalu menemui Axel dan Enzio ketika ia tidak ada. Apalagi Enzio selalu tenang dalam dekapannya. Bayi itu tidak rewel dan akan langsung tidur begitu digendong oleh Xander.


Pagi ini ia memutuskan akan menemui mereka secara terang - terangan. Ia ingin keluarganya bersatu kembali. Ia sudah koordinasi dengan Axel sebagai rekan satu tim dalam misi penyatuan kembali.


"Mommy, mobil siapa itu? keren banget?"


"Mommy tidak bisa melihatnya Axel. Kau tahu kan adikmu sedang menyusu. Mungkin pelanggan yang mau order kuenya mommy."


"Aku baru melihatnya."


Kamisha akhirnya memanggil mbok Sri. "Mbok, tolong lihat siapa yang datang. Sepertinya Axel penasaran."


"Nggih mbak." mbok Sri melihat ke jendela sama seperti Axel. Mereka berdua yang sudah tahu skenarionya pura - pura saja kaget.


"Siapa mbok?" Kamisha menanyakan lagi karena mbok Sri lama tidak memberikan jawaban.


"Anu.. itu.. eee.."


"Kok bingung? siapa yang datang mbok?" Kamisha mendesak mbok Sri. Tiba - tiba saja..


"Daddy!" teriak Axel kegirangan.


Seketika Kamisha terdiam mematung mendengar teriakan Axel. Dari teriakannya ia tahu siapa yang datang.


Axel berlari ke dalam pelukan Xander. Mereka berdua masuk. "Pagi, Misha."


Kamisha hanya diam terkejut melihat kedatangan Xander yang tiba - tiba. Itu artinya mau tidak mau ia harus menerima kehadirannya lagi di tengah - tengah mereka. Karena pasti Axel akan bertanya - tanya mengapa daddynya tidak tinggal dengan mereka.


"Mommy lihat, daddy sudah sembuh."


"Ya sayang dan daddy bisa bermain lagi dengan mu."


"Tidak hanya denganku daddy tapi dengan Enzio juga."


Xander memandang bayi mungil yang sedang menyusu. "Hai boy." panggil Xander. Sontak membuat Enzio mengalihkan perhatiannya. Dengan cepat ia melepas pucuk bukit kembar yang selalu menjadi senjata Kamisha untuk menenangkannya.


Hal yang tidak disengaja itu membuat Xander menelan ludahnya beberapa kali. Sadar akan dirinya yang sekarang, Kamisha segera memalingkan badannya dan menutupi bukit kembarnya itu.


Enzio bergerak - gerak seakan ingin juga digendong oleh Xander. "Axel kau turun dulu. Sepertinya Zio ingin daddy gendong. Kau tidak keberatan kan?"


"Tentu saja tidak daddy, aku sekarang menjadi kakak harus bersikap dewasa."


"Good, that's my son."


Xander mengambil alih Enzio dari pangkuan Kamisha. Bayi itu tertawa senang. Sementara Kamisha hanya diam. Terus terang saja ia masih syok dengan kehadiran Xander yang begitu tiba - tiba. Setelah beberapa hari tidak muncul di depannya.


"Mbak Misha."


"Eh mbok Sri mengagetkanku." Kamisha seolah tersadar dari lamunannya.


"Mau sarapan sekarang apa nanti?"


"Sekarang saja." Kamisha menghela napas panjang. Mau tidak mau ia harus berkompromi dengan keadaan sekarang. "Axel ayo kita makan dulu sayang."


"Baik mommy." jawab Axel. "Ayo daddy kita sarapan."


Xander memandang ke arah Kamisha. Dan seperti tahu akan arti tatapan itu Kamisha hanya mengangguk.


"Makanlah bersama Axel, biar Zio aku yang pegang." Kamisha mengambil alih Enzio dari gendongan Xander tapi sepertinya bayi itu tidak mau lepas dari gendongannya.


"Biar saja, aku sarapan nanti."


Kamisha hanya menghela napas. Di keluarga ini kenapa tidak ada yang membelaku semuanya lengket dengan daddynya.


Ia mengambil nasi goreng dengan telur mata sapi dan menaruhnya dipiring. Ia mendekati Xander. "Buka mulutmu."


"Apa?"


"Aku suapin, Axel sudah memintamu untuk sarapan bersamanya, aku tidak mau mengecewakannya."


Xander tersenyum penuh kemenangan, kalau sudah menyangkut anak - anak Kamisha akan berubah menjadi lembut.


"Daddy, mana kopermu?"


"Koper?" Xander balik bertanya.


"Bukankah kau dari Singapore dan akan tinggal bersama kami lagi kan?"


"Hmm, koper daddy ada di Bandung sayang." sahut Kamisha.


"Ya.. ya.. benar."


"Tapi nanti malam kau akan tidur disini kan?"


Xander memandang Kamisha, dengan tatapan meminta bantuan untuk ikut membantunya menjawab pertanyaan Axel.


"Eee.. daddy ada pekerjaan di sini sayang, setelah sarapan daddy juga akan kembali ke kantor kan?" Kamisha balik menatap Xander, agar ikut meyakinkan Axel.


"Iya betul." jawab Xander membenarkan alasan Kamisha, ia tidak ingin terburu - buru.


"Daddy punya kantor di sini juga?"


"Iya punya."


"Kalau begitu setelah pulang jam kerja daddy pasti akan kembali ke sini kan? aku kangen, sudah lama kita tidak main bersama." Axel memohon dengan tatapan penuh harap.


Mata Kamisha berkaca - kaca melihat keinginan putranya tapi disisi lain ego menguasai hatinya.


Xander tahu Kamisha sedang bingung, ia berperang dengan hatinya dan Xander kasihan melihatnya.


"Axel, daddy kerja dulu cari uang oke." bujuk Xander.

__ADS_1


"Daddy kan sudah kaya buat apa cari uang?"


"Daddy ingin membangun sebuah rumah untuk kalian, dan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Daddy harus bekerja keras."


"Tapi aku akan tetap menunggu daddy pulang."


"Axel sayang jangan keras kepala, daddymu sedang sibuk. Masuklah ke kamar dan belajar oke." Kamisha memerintah Axel sembari mengambil Zio dari tangan Xander karena bayi gembul itu sudah tertidur. "Pergilah."


"Tapi bagaimana dengan Axel?"


"Akan menjadi urusanku, bukankah selama ini aku sudah terbiasa hidup sendiri tanpamu."


"Sha."


"Kamu tenang saja, sebentar lagi ia tidak akan marah. Kamu urus saja karyawatimu di perusahaan, mereka mungkin lebih butuh perhatianmu.


"Hei, apa hubungannya dengan mereka. Ini masalah Axel, masalah anak kita. Ia sedang kecewa saat ini."


"Dulu dia juga kecewa, sangat kecewa malahan ketika kau mengusir kami. Apa bedanya dengan sekarang?"


Xander terdiam. "Baiklah."


Wajah Xander tampak kecewa dan Kamisha tahu itu. Perkataannya pasti sangat menyakitkan buat Xander. Tapi egonya mengalahkan semua akal sehatnya.


Xander pergi, tapi ia tidak pantang menyerah masih ada hari - hari esok untuk memenangkan lagi hati Kamisha. Bukankah dulu ia juga seperti itu.


🌸🌸🌸🌸


Sore itu Kamisha sedang duduk santai mengawasi Axel dan Enzio yang sedang bermain di ruang tengah. Axel sedang asik bercanda dengan Enzio. Handphonenya berdering. Sebuah panggilan dari Sofi sahabatnya.


"Halo, Sof."


"Aku dengar Xander sudah pulang, kau sudah bertemu dengannya?"


"Sudah."


"Duh senangnya, kapan kalian kembali ke Bandung lagi?"


"Entahlah."


"Kok entahlah. Ada apa Sha? kok kau kurang bersemangat."


"Dia tidak minta maaf padaku. Dan kau tahu pertama kali bertemu dia sudah main mata dengan Dewi anak buahnya."


"Ah, yang benar? setahuku Xander bukan tipe seperti itu."


"Dewi sendiri yang cerita, banyak cewek - cewek disana yang mengidolakan dia. Bagaimana aku bisa tenang."


"Oh.. kau cemburu rupanya."


"Nggak.. aku nggak cemburu."


"Sudah ngaku saja, tidak perlu gengsi di depanku."


"Heleh, aku tahu kamu masih sangat mencintai suamimu itu, kamu pasti rindu padanya kan? dan kamu cemburu karena dia tiba - tiba datang tanpa minta maaf padamu, kau jadi galau ditambah dengan keterangan Dewi yang sangat menggandrungi suamimu itu."


"Nggak."


"Misha kita bersahabat sudah sangat lama, aku sudah tahu jika kamu mencintai seorang pria aku yakin kamu pasti bucin parah. Apalagi pria sebaik Xander."


"Nggak, yang ada aku justru marah."


"Marah itu karena kamu cinta, kamu perhatian."


"Siapa bilang."


"Eh sekarang aku tanya, penampilannya sekarang bagaimana? tampan atau jelek."


"Hmmm menurutku dia tambah tampan."


"Apakah sekarang hatimu masih berdebar bila bertemu dengannya, masih salah tingkah?"


"Ya iyalah."


"Nah sudah jelas kan, kalau kamu tidak cinta kamu tidak akan merasakan perasaan seperti itu, Sha."


Kamisha terdiam mendengar penjelasan Sofi.


"Kamu itu hanya gengsi, jual mahal. Seharusnya jika kamu mau baik - baik membicarakan ini dengannya pasti deh aku jamin kalian akan bersatu lagi."


"Tapi dia tidak minta maaf padaku, Sof."


"Laki - laki itu memang terkadang tidak bisa mengungkapkan melalui kata - kata tapi lebih ke tindakan atau perbuatan." Sofi berusaha terus membuka jalan pikiran sahabatnya itu untuk tidak mengedepankan ego nya. "Apa kamu tidak kangen dengan itunya?"


"Itu apa?"


"Yah barang pribadinya lah yang bisa bikin kamu hamil Enzio."


"Ah Sofi jangan ngaco!"


"Sudah ngaku saja, daripada itunya jadi rebutan cewek gatel diluar sana."


"Eh jangan harap ya itu terjadi. Tidak akan aku biarkan! dia sudah punya dua anak."


"Nah panik kan."


Kamisha seperti terjebak dengan perkataan Sofi.


"Pikirkanlah lagi, Sha. Dengan kepala dingin dan hati yang tenang."


"Akan aku coba."

__ADS_1


"Nah gitu dong."


Tiba - tiba Axel menghampirinya..


"Mommy kenapa daddy belum pulang?"


"Sebentar sayang, mommy matikan telepon dulu ya." jawab Kamisha. "Eh Sof, Axel sepertinya sedang kesal, aku tutup teleponnya ya. Kapan - kapan kita sambung lagi."


Panggilan diakhiri.


"Sabar Axel, tunggu sebentar lagi."


"Ini sudah jam setengah lima mommy. Ayo telepon daddy kapan dia pulang dari kantor."


Kamisha menghela napas panjang, kalau sudah begini pasti susah dibujuk.


"Sebentar mommy telepon dulu ya."


Kamisha melakukan panggilan ke handphone Xander, ia lakukan demi Axel. Ia berharap Xander tidak mengangkat teleponnya.


"Nah kau lihat sendiri kan sayang, daddy pasti baru sibuk. Tunggu sebentar lagi."


"Baiklah." jawab Axel masih dengan muka masam.


"Oya mommy mandi dulu ya, biar Zio mommy taruh di box."


"Baiklah aku akan ke kamar."


"Anak pintar." Kamisha mencium kening Axel dan kemudian bergegas membawa masuk Zio dan menaruhnya di box agar tidak was - was ketika ia tinggal mandi.


Kamisha melepas bajunya satu persatu dan mulai menyalakan shower. Dibawah guyuran air segar Kamisha menikmati mandinya yang terkadang tidak sempurna karena tiba - tiba saja Zio menangis.


Dan itu benar terjadi. Oek.. oek.. oek..


"Aduh Zio nangis." gumam Kamisha. "Iya sayang sebentar ya mommy akan keluar."


Oek.. oek.. oek.. tangisnya makin keras.


"Iya.. iya.. tunggu mommy pake handuk dulu." Kamisha menyambar handuk dan membelit ke tubuhnya. Karena itu di dalam kamar tidak masalah jika ia keluar hanya mengenakan handuk. Dengan cepat ia membuka pintu kamar mandi dan alangkah terkejutnya ketika ia melihat siapa yang sudah ada di sana, yang sedang berusaha menenangkan dan menggendong Zio.


"Xander? apa yang kau lakukan disini?"


"Aku dengar Zio menangis sayang. Aku takut dia kenapa - napa."


"Bukan masalah itu, kenapa kamu disini?"


"Axel yang meneleponku terus, maaf jika tanpa ijinmu aku kesini."


"Oh jadi karena Axel." sebenarnya Kamisha sedikit kecewa dengan jawaban Xander. Ia pikir itu karena dirinya. Dasar wanita lain dimulut lain dihati.


"Bawa sini, mungkin Zio haus."


Xander mendekat dan menatap tajam pada Kamisha. Mungkin istrinya itu lupa jika ia hanya mengenakan handuk saja. Sesuatu di bawah sana sudah meronta.


"Kau ingin menggodaku?"


"Tidak, siapa yang ingin menggodamu? aku masih marah padamu." Kamisha mengambil Zio dari gendongan Xander. Dan segera membalikkan badan, membawa Zio ke kursi untuk memberikan Asi.


Tiba - tiba saja Xander memeluknya dari belakang. Ia mencium pundak dan leher Kamisha berkali - kali. "Aku anggap ini menggodaku Misha. Kau tahu kan betapa aku merindukanmu."


Kamisha memejamkan mata menikmati sentuhan dan ciuman dari suaminya. Itu yang selalu ia rindukan.


Tangan Xander mulai aktif, ia mulai meremas dua bukit kembar yang sekarang menjadi milik Enzio putranya. Hampir saja lenguhan lolos dari mulut Kamisha, tapi ia tahan. Xander mulai membuka handuk yang melilit tubuh istrinya dan tiba - tiba saja kesadaran Kamisha kembali.


"Stop Xander."


"Tapi aku menginginkanmu sayang."


"Please tolong hargai aku. Kau tidak ingin aku tambah membencimu kan?"


"Tapi___."


"Tolong keluarlah!"


Xander segera melepas pelukannya dan bergegas keluar.


Airmata Kamisha mengalir pelan membasahi pipinya. Kenapa akhir - akhir ini kata yang keluar dari mulutnya selalu menyakiti Xander.


"Maaf Xander.. maaf." ucap Kamisha lirih. Ia mencium pucuk kepala Zio.


Sementara itu di Bandung..


"Halo ."


"Selamat sore tante."


"Ada apa Sof? tumben telepon tante."


"Hmm begini tante terus terang ini memang bukan ranah saya buat ikut campur rumah tangga Kamisha, tapi terus terang saya merasa kesal karena mereka berdua mementingkan ego masing - masing dan juga gengsi yang tinggi."


"Iya tante juga gemes dengan sikap mereka yang seperti anak kecil."


"Jadi aku menelepon tante karena ada sebuah ide untuk menyatukan mereka."


"Benarkah?"


"Benar tante, kira - kira kapan kita bisa ketemu?"


"Bagaimana kalau besok pagi jam sepuluh? tante tunggu di rumah."


"Baik tante."

__ADS_1


Panggilan diakhiri.


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2