Keterikatan Cinta

Keterikatan Cinta
Hamil Lagi


__ADS_3

Kamisha segera keluar dari cafe. Ia sudah membuat janji dengan dokter kandungan. Setelah menjemput Axel dan makan siang bersama Xander ia akan ke rumah sakit. Ia memang merahasiakan ini dari suaminya karena tidak mau membuat Xander heboh sebelum memastikan apakah ia hamil atau tidak.


Ia memesan boba untuk take away. Setelah pesanan boba untuk Axel selesai ia segera keluar. Ketika sampai di depan pintu, seorang wanita tanpa sengaja menabraknya.


"Ups sorry."


"Oh, tidak apa - apa." Kamisha membersihkan kakinya yang terkena tumpahan boba. Wanita itu segera membantunya dan memanggil petugas cleaning service untuk membersihkan lantai.


"Aku benar - benar tidak sengaja. Tunggu disini sebentar akan aku pesankan lagi"


"Oh tidak perlu. Nanti aku pesan sendiri."


"Aduh, jangan di tolak ya. Please."


"Baiklah."


"Oke tunggulah sebentar."


Wanita itu segera memesan boba untuk mengganti milik Kamisha yang terjatuh tadi. Dan tak perlu menunggu lama ia kembali menghampiri Kamisha dengan membawa boba ditangannya.


"Nih."


"Terima kasih."


"Oya aku Siena, kamu?"


"Aku Kamisha."


"Oke Kamisha aku benar - benar minta maaf."


"Tidak apa - apa."


"Kalau begitu aku pergi dulu."


Kamisha melihat kepergian Siena dengan rasa kagum. Hmm gadis yang cantik, tinggi, bodynya bak seorang model dan juga orang yang ramah pujinya dalam hati. Seakan tersadar, Kamisha segera menjemput Axel dan membawanya ke hotel untuk makan siang bersama.


"Kau tidak mengajak Zio?"


"Tidak sayang, tadi dia tidur."


"Ya sudah. Oya mana pesananku."


"Ini dia, gurame asam manis dengan potongan nanas yang segar."


"Hmm, aku sudah tidak sabar ingin mencicip masakan istri cantikku ini."


"Oh common sayang, kau memujiku terlalu tinggi. Aku bisa lupa diri nanti."


"Tapi betul kata daddy, masakan mommy tiada duanya." Axel ikut menimpali.


"Sudah.. Sudah.. Kalian berdua ini memang pintar memuji."


Mereka bertiga makan siang bersama. Tumben kali ini Xander makan sangat banyak. Kamisha senang melihat mereka begitu menyukai masakannya.


"Axel ayo kita pulang."


"Aku masih ingin bersama daddy di sini."


"Tidak bisa Axel. Daddy harus bekerja."


"Aku berjanji tidak akan mengganggu kerja daddy. Please mommy."


"Tidak apa - apa sayang, biarkan saja dia disini. Aku tidak merasa terganggu."


"Kau terlalu memanjakannya."


"Ayolah, sekali - kali." Xander memeluk tubuh Kamisha dan menciuminya berkali - kali.


"Stop Xander! Stop sayang! Ada Axel." Kamisha tahu jika sudah seperti itu takutnya Xander akan meminta jatah lagi. "Iya.. Iya aku ijinkan Axel disini."


"Yeeaayy..!" teriak Axel senang.


Kamisha berpamitan, ia melihat ini sudah waktunya temu janji dengan dokter kandungan. Walaupun ia masih ragu kalau hamil.


"Selamat siang, dokter Yuni sudah datang?"


"Sudah, dengan nyonya siapa?"


"Nyonya Xander."


"Baik tunggu sebentar, setelah ini anda masuk."


Kamisha dengan setia menunghu sambil berbalas pesan dengan karyawannya di toko kue miliknya. Omzet yang dihasilkan cukup besar. Hampir setiap hari mereka menolak pesanan karena sudah over. Yah walaupun penghasilannya tidak sebanyak Xander tapi ia merasa puas dan senang bisa mandiri.


"Nyonya Xander, silahkan masuk."

__ADS_1


Kamisha mengikuti arahan dari perawat. Ia duduk berhadapan dengan dokter.


"Bagaimana, anda sudah datang bulan?"


"Belum dok."


Dokter melihat riwayat kesehatan. "Wah hampir dua minggu ya?"


"Betul dokter. Kira - kira saya hamil atau tidak ya"


Dokter tersenyum mendengar perkataan Kamisha. "Kita cek dulu. Tapi anda tidak perlu khawatir. Sepertinya suami anda senang kalau anda hamil."


Kamisha hanya tersenyum malu.


Dokter mulai melakukan USG. "Hmm, sepertinya keinginan suami anda terkabulkan."


"Maksud dokter?"


"Yah, selamat nyonya Xander. Anda saat ini tengah mengandung anak kedua."


"Benarkah?"


"Benar, lihat ini." dokter menunjukkan ada satu titik yang merupakan satu kehidupan baru di dalam perut Kamisha.


"Tapi saya baru saja melahirkan apa tidak berbahaya?"


"Tidak berbahaya, anda tenang saja. Apalagi waktu itu anda melahirkan secara normal."


"Tapi kenapa saya tidak merasakan mual atau sakit kepala seperti waktu saya hamil anak pertama dok."


"Setiap kehamilan berbeda - beda, karena itu pengaruh hormon. Kalau pada tri semester pertama anda tidak merasakan mual itu bagus karena gizi janin dalam kandungan akan terpenuhi."


"Terima kasih atas informasinya dokter."


"Akan saya resepkan vitamin. Cek kandungan sebulan sekali. Jangan lupa olah raga dan makan makanan yang bergizi."


"Baik dokter."


Setelah menerima resep Kamisha segera keluar, ia mengelus perutnya beberapa.kali. Xander pasti senang mendengar kabar ini. Aku akan memberitahunya dirumah nanti pikir Kamisha.


Drrrtt.. Drrtt.. Drrttt.. Handphonenya berdering


"Halo."


"Mommy, cepat pulang. Daddy sakit."


Dengan segera Kamisha keluar dari rumah sakit tanpa menebus resep dari dokter. Kamu kenapa sayang? Padahal kamu tadi baik - baik saja. Kamisha mengendarai mobilnya dengan cepat sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke rumah.


"Kamu kenapa sayang?" Kamisha datang tergopoh - gopoh masuk ke dalam kamar. Sudah ada mama Attalia yang memberikan minyak kayu putih karena Xander mengeluh mual. Xander hanya diam terkulai lemas ia masih mencium aroma minyak untuk mengurangi rasa mualnya.


"Mama juga nggak tahu. Tadi kan kalian makan siang, apa dia keracunan."


"Aku rasa tidak ma, karena aku dan Axel juga ikut makan dan kami baik - baik saja." jawab Kamisha.


"Tadi setelah makan daddy main sebentar ke taman bersamaku, setelah kembali ke ruangan langsung daddy muntah." Axel menjelaskan.


Pandangan Kamisha beralih ke Alex seolah mencari pembenaran.


"Ya betul apa yang dikatakan Axel."


"Sayang kerumah sakit ya." Kamisha duduk di samping Xander. Dengan segera Xander memeluknya manja.


"Aku nggak mau Misha."


"Atau aku panggilkan dokter ke sini?"


"Nggak."


"Tapi kamu muntah terus sayang, bisa dehidrasi lo."


"Aku mau makan asinan, kalau makan itu kayaknya aku nggak muntah lagi."


"Aduh.. Aduh kamu jangan aneh - aneh Xander." sahut mama. "Kamu ini seperti orang ngidam saja. Muntah - muntah tanpa sebab terus mau makan yang seger - seger." mama menghela napas, pandangannya beralih pada menantunya. "Misha jangan hamil dulu, ingat Zio masih kecil."


"Terlambat ma, anak kesayanganmu ini sudah menghamili aku." ucap Kamisha.


"Apa! Kamu hamil sayang?" Xander bangun dari tidur dan menatap jauh ke dalam mata Kamisha. Takutnya istrinya itu mengerjainya.


Kamisha mengangguk. Ia mengambil hasil USG dari dokter yang ia taruh di dalam tasnya.


"Yeeaayy!!!" teriak Xander. "Aku akan jadi daddy lagi ma. Axel kamu akan jadi kakak."


"Ya.. Ya.. Bagaimana tidak hamil lagi, kalian bekerjanya terlalu keras." sindir mama yang membuat Kamisha malu. "Selamat ya Misha, aku senang jadi oma lagi." mama Attalia memeluk Kamisha. "Dan sepertnya kehamilanmu kali ini menguntungkanmu."


"Maksud mama?"

__ADS_1


"Tuh lihat saja, dia yang ngidam dan mengalami morning sick." mama Attalia tersenyum. "Biar dia merasakan beratnya menjadi seorang ibu, biar menghargai perjuangan wanita."


"Ma, Xander selalu menghargai aku, mencintaiku dengan tulus. Terima kasih sudah mengijinkan aku menikah dengan pria luar biasa ini."


"Misha sayang, mama jadi terharu." mama Attalia memeluk menantu kesayangannya itu.


🌸🌸🌸🌸


Sepanjang perjalanan Matteo merasa gelisah. Pikirannya selalu fokus pada Sofi yang saat ini sedang marah dengannya. Tadi waktu mereka papasan di lorong kantor Sofi hanya diam seribu bahasa.


Matteo sudah terbiasa dengan Sofi yang cerewet, sewot dan juga periang.


"Sial!" umpatnya tiba - tiba dalam mobil.


"Ada apa pak?" tanya sekretarisnya.


"Tidak.. Tidak.. Aku hanya sedang kesal."


"Rapat hari ini berjalan dengan lancar, anda banyak memenangkan beberapa tender."


"Aku kesal masalah lain." jawab Matteo. "Martha pernahkah kau marah dengan suamimu?"


"Sering pak."


"Apa yang suamimu lakukan jika kamu marah? Bagaimana caranya mengambil hatimu?"


"Dia minta maaf dan memberikan aku hadiah. Beberapa hari ke depan ia yang melakukan tugas rumah untukku."


"Kenapa begitu mudah?"


"Kedengarannya mudah, tapi sebenarnya sulit."


"Maksudmu?"


"Wanita itu memiliki jiwa pemaaf sedangkan pria sulit mengatakan maaf, terkadang mereka mementingkan ego sendiri. Merasa jika mengucapkan kata maaf akan merendahkan harga diri mereka dihadapan wanita."


"Yah kamu benar."


"Bapak sedang marahan dengan siapa?"


"Oh, tidak. Bukan aku."


"Oh."


Keheningan kembali tercipta di dalam mobil.


"Martha." panggil Matteo tiba - tiba.


"Ya pak."


"Kau punya alamat penanggung jawab EO di acara kita."


"Maksud bapak, Sofi?"


"Yah benar."


"Ada. Sebentar." Martha berkutat dengan handphonenya dan ting.. "Saya sudah mengirimnya di handphone anda."


"Aku hanya bertanya, tidak minta."


"Maaf, saya hanya berjaga - jaga. Siapa tahu lain waktu bapak membutuhkannya."


Matteo hanya diam, Martha sekretaris yang sudah bekerja hampir sepupuh tahun dengannya itu sepertinya sudah bisa membaca isi pikiran Matteo.


Mereka tiba di apartemen. Matteo langsung masuk. Ia segera membersihkan diri dan keluar lagi untuk menemui Sofi. Masalah ini harus diselesaikan pikirnya.


Dengan mengenakan kaos warna coklat tua dengan model turle neck ia segera ke rumah Sofi dengan mengendarai mobil. Tak lupa ia membawa sekotak coklat.


Cukup lama ia mencati alamat Sofi yang memang terletak di sebuah perkampungan. Setelah dirasa yakin alamatnya benar, Matteo segera pergi masuk ke dalam.


Pintu rumah dalam.l keadaan terbuka, itu artinya Sofi ada di rumah. Huh dasar gadis ceroboh pintu dibiarkan terbuka. Bagaimana kalau ada pria jahat masuk atau maling pikir Matteo.


"Permisi." Tok.. Tok.. Tok..


Tidak ada respon dari dalam. Matteo mengetuk lebih keras lagi. Tok.. Tok.. Tok " Permisi!"


Hasilnya sama saja tidak ada respon dari dalam rumah. Karena pintu terbuka Matteo berusaha melangkah ke dalam sambil terus berteriak permisi.


Dan sampailah ia dikejutkan dengan pemandangan yang luar biasa. Sofi keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk saja.


"Aacchhh!!! Orang cabul!" teriak Sofi sambil melempar barang yang ada di dekatnya.


"Hei! Hei! Ini aku Matteo."


"Pak Matteo?"

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


__ADS_2